Wabah Kutukan

“Apa ibu akan baik-baik saja jika aku pergi meninggalkanmu sendiri?” tanya Nick sekali lagi.

Calada tersenyum keibuan. Meski telah berusia ribuan tahun, tetapi wujud manusia naga tersebut masih terlihat begitu muda. Ia sama sekali tidak menua dan terlihat seumuran dengan Nick. Hanya telinga runcing dan sepasang tanduk naga di kepalanya yang membedakan Calada dari manusia biasa.

Naga tersebut mengusap kepala putra angkatnya dengan lembut. “Sebelum kau datang, aku memang sudah sendirian. Sebelumnya aku memutuskan untuk memulai kultivasi dan menyusul kaumku yang sudah lebih dulu berada di dimensi cahaya. Namun karena aku menemukanmu, aku memutuskan untuk tetap tinggal sampai kau sudah cukup mampu untuk hidup sendiri.

“Sekarang adalah saatnya kau menjalani petualanganmu sendiri, Nick. Dunia ini begitu luas, dan hidupmu akan sia-sia jika hanya dihabiskan di tempat usang ini. Pergilah kemana hatimu menuntun. Aku akan menunggumu kembali jika kau merindukanku. Namun kalau kau sudah bahagia bersama kaummu, maka aku bisa pergi ke dimensi cahaya dengan tenang,” ucap Calada meyakinkan Nick.

Pemuda itu pun mengangguk pelan. Dipeluknya sang ibu dengan hangat lantas ia pun berbalik pergi. Nick tidak punya siapa pun yang bisa dia ajak bicara selain Calada. Karena itu perjalanannya menuju desa manusia terdekat begitu sunyi dan sepi. Turpin, pedangnya tersarung dengan rapi di punggungnya. Nick juga mengenakan satu set armor perang yang ditempanya sendiri selama hidup bersama naga.Rambut perak panjangnya dia ikat ke belakang agar tidak mengganggu perjalanan.

Nick menyusuri hutan monster hingga mencapai gua dangkal tempatnya dulu ditemukan oleh Calada. Sekuntum bunga lily putih ia letakkan di sebuah pusara tua yang ada di dalam gua tersebut. itu adalah tempat ibu kandung Nick disemayamkan. Calada sendiri yang menguburkan jasad Ratu Celestia.

Nick meletakkan lily putih itu di atas makam ibunya lantas berlutut dan meletakkan Turpin di sebelahnya.

“Ibu, aku mungkin tidak punya banyak kenangan tentangmu. Akan tetapi kasih sayangmu selalu menyertaiku hingga aku bisa bertahan hidup sampai sekarang. Ibu angkatku, Calada, telah merawatku dengan baik, hingga aku bisa menjadi cukup kuat untuk hidup mandiri.

“Kini, Calada telah melepasku untuk melihat dunia kita, Ibu. Dunia manusia. Aku berjanji akan mencari tahu asal usul kita, dan alasan kenapa kita berada di tempat ini. Orang-orang yang telah membuat ibu menderita, hingga meninggal, aku akan mencari mereka dan membalaskan dendam ini.

“Karena itu, mohon berkatilah perjalananku, Ibu. Kaulah yang melahirkanku di dunia, kau juga yang telah melindungiku hingga kehilangan nyawa. Demi hal itu, aku akan berjuang untuk membuatmu tenang di dunia sana.” Nick berdoa dalam bisikan lirih.

Setelah selesai melakukan ritual sederhana itu, ia pun kembali meraih pedangnya dan melanjutkan perjalanan menyusuri padang gersang. Nick mengikuti arah yang diberikan Calada menuju desa manusia terdekat yang jaraknya kurang lebih lima hari perjalanan dari tempat itu.

Sepanjang perjalanan, Nick berburu monster dan memakan daging mereka untuk bertahan hidup. Alam liar tidak lagi menakutkan bagi pemuda itu. Alih-alih para monsterlah yang tidak berani mendekatinya karena aura Nick yang mengintimidasi.

Tepat pada hari kelima, ia pun akhirnya sampai di sebuah pemukiman manusia di seberang sungai yang kering. Sungai itu terjal dan dalam, nyaris membentuk jurang karena tidak ada air yang mengalirinya. Tidak ada jembatan di sunga tersebut, sehingga Nick terpaksa memanjat tepiannya yang serupa tebing.

Akhirnya, setelah perjuangan selama beberapa menit, Nick pun mencapai seberang sungai dan menemukan peradaban manusia pertama yang dia lihat. Sudah lama sekali ia tidak melihat manusia, tetapi kesan pertama Nick adalah: menyedihkan.

Pemukiman itu begitu kumuh dan miskin. Rumah-rumah semi permanen dari jerami dan kayu lapuk yang terlihat usang dan nyaris roboh. Orang-orang di desa itu terlihat begitu muram, kurus, kumal dan tidak memiliki daya hidup sama sekali. Bahkan di jalanan ia melihat beberapa orang tergolek lemah dengan tubuh penuh luka koreng.

Kedatangan Nick di desa tersebut mengundang perhatian para penduduk. Orang asing dengan armor dan pedang besar tiba-tiba muncul dari balik sungai, perbatasan tempat para monster hidup. Sontak orang-orang itu pun berlari menghindari Nick. Mereka yang masih sehat segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Sementara yang tergolek sakit hanya bisa mengerang sambil merangkak menjauh.

Nick berinisiatif untuk mendekati salah satu pria paruh baya yang kakinya dipenuhi bisul bernanah. Seluruh tubuhnya menguarkan aroma tidak sedap. Namun Nick tidak terlalu terganggu dengan bau itu karena darah monster jauh lebih busuk daripada aroma apa pun.

“Permisi, bolehkah aku bertanya? Apa yang terjadi dengan desa ini?” tanya Nick sembari berlutut di dekat pria itu.

Sang pria sontak merintih ketakutan sembari menutupi kepalanya. Orang itu bahkan sampai menangis gemetaran saat melihat Nick berlutut di dekatnya.

“Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin bertanya apa yang terjadi di tempat ini? Kenapa kalian hidup begitu menderita?”

“Kutukan … tanah ini sudah dikutuk … . Sang Raja yang serakah menebarkan kegelapan di tanah ini. Kami … semua orang … penduduk tanah ini sudah dikutuk,” rapal pria itu sambil masih gemetar ketakutan.

“Dikutuk?” gumam Nick sembari menyapukan pandangannya.

Nick akhirnya mengerti apa yang terjadi. Wabah penyakit ini sama persis seperti yang pernah dia baca di buku perpustakaan Calada. Sungai yang kering menandakan bencana kekeringan dan mengakibatkan kelaparan turut melanda. Semua bencana besar telah melanda desa ini dan membuat semua orang hidup menderita.

“Siapa raja kalian? Kenapa dia bisa membawa kutukan yang mengerikan ini dan membuat rakyatnya menderita?” desak Nick dengan darah mendidih. Entah kenapa situasi tersebut membuatnya begitu marah. Padahal Nick sama sekali tidak mengenal orang-orang itu. Namun penderitaan mereka seolah menggerakkan sesuatu di dalam diri Nick. Mungkin hati nuraninya.

“Ra, raja … ,” kalimat pria itu terputus. Mendadak ia terbatuk-batuk hingga mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.

Nick segera meraih tubuh pria itu dan mencoba membaringkannya dengan posisi yang aman hingga seluruh tubuh Nick turut terkena cipratan darah. Sang pria terus terbatuk-batuk dan tak lama kemudian, pria itu pun mati.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!