“Tempat ini terlihat aman,” komentar Neil saat ketiganya berjalan menyusuri hutan.
“Padahal katanya kau adalah prajurit bayaran. Tapi instingmu lemah sekali. Tidak bisakah kau merasakan tekanan energi yang jaul lebih berat di tempat ini? Makhluk-makhluk kuat berkumpul di hutan,” cela Aerin sambil menggenggam erat belatinya.
Neil mendengkus. “Tentu saja aku tahu. Tapi bagiku, kekuatan monster-monster itu sama sekali tidak mengancam,” ujarnya dengan seringai menggantung.
Aerin balas berdecih. “Dasar arogan,” gumamnya pelan.
Entah sejak kapan kedua orang itu menjadi saling bermusuhan. Neil membuat sikapnya jelas bahwa ia tidak setuju Aerin menjadi bagian dari rombongan. Di sisi lain, Aerin juga tidak memiliki tempat tujuan lain. Namun, karena sejak awal, perjalanan itu adalah milik Nick, sementara dua orang lainnya hanya terus mengikutinya, maka tidak ada yang bisa memprotes kehadiran satu sama lain. Nick sendiri tidak mempermasalahkan siapa pun yang ingin mengikutinya. Hidupnya sudah selalu kesepian. Karena itu, mendapat teman seperjalanan rasanya tidak buruk juga.
Setelah berjalan selama beberapa saat membelah hutan, matahari pun akhirnya benar-benar terbenam. Keadaan hutan kini benar-benar gelap. Meski begitu, Nick sama sekali tidak kehilangan arah. Hutan itu sudah seperti rumah baginya. Akan tetapi, ketika hari gelap, saat itulah bahaya yang lebih besar menanti mereka.
Ketiganya pun berjalan dengan lebih waspada. Sesuatu sedang mengintai mereka di balik kegelapan. Semua menyadari ancaman tersebut dan bersiap dengan senjata masing-masing. Tinggal menunggu waktu hingga monster yang lapar menyergap mereka.
Tepat saat mereka berada tepat di jantung hutan, bunyi keresak dedaunan langsung terdengar di sekeliling, seolah ada banyak makhluk yang tengah menyergap mereka. Sontak, Nick dan Neil pun menghunus pedang mereka. Aerin bersiap dengan dua belati di tangan. Belati elf, yang berpendar kebiruan akibat energi sihir yang mewujud menjadi cahaya.
Detik berikutnya, selusin monster kera berbulu emas melompat heboh ke arah mereka. Kera-kera itu bertubuh dua kali lebih besar daripada ukuran mereka seharusnya. Dengan suara menggericau riuh, kera-kera bermata merah menyala itu menyerang rombongan Nick.
Cakar-kacar mereka sangat tajam, dan gerakannya pun lincah. Di tengah kegelapan, Nick, Neil serta Aerin tidak bisa sembarangan menebas dengan bebas karena pepohonan yang tumbuh rapat di sekitar mereka. Pada akhirnya, selama beberapa waktu, mereka pun menjadi bulan-bulanan kawanan monster kera.
Seluruh tubuh Nick tercabik-cabik oleh kuku tajam kerja bulu emas. Pemuda itu masih harus mengayunkan pedangnya sambil melindungi Aerin yang tidak terlalu fasih bertarung. Di tengah kondisi yang terdesak itu, mendadak Aerin menyerukan sesuatu dalam bahasa elf yang samar-samar bisa dimengerti oleh Nick.
“Jiak urdan lat ve dajo my liwo. Pulgoruz bliss!” seru Aerin sambil mengatupkan dua tangannya di depan dada.
Seketika sebuah cahaya biru terang menyeruak di area tersebut, seluas sepuluh kaki. Cahaya yang mendadak muncul itu pun mengejutkan kawanan monster kera yang menyerbu mereka. Lusinan monster itu pun lantas berteriak-teriak dengan suara melengking lalu kabur begitu saja, meninggalkan tubuh beberapa teman mereka yang mati ditebas oleh pedang Nick dan Neil.
Sihir cahaya yang dilontarkan Aerin bertahan selama beberapa menit. Tubuh Nick dan Neil dipenuhi luka cakaran yang meski tidak terlalu dalam, tetapi cukup banyak.
“Mereka tidak ada habisnya,” komentar Neil sedikit tersengal. “Kemampuanmu boleh juga, Elf,” imbuhnya sambil menoleh ke arah Aerin.
Gadis elf itu hanya mendengkus pelan.
“Terima kasih atas bantuanmu, Aerin,” ucap Nick kemudian.
“Kau yang lebih banyak melindungiku, Nick,” sahut Aerin tersenyum. “Jadi, aku sekarang sudah bisa dipertimbangkan untuk masuk dalam tim ini, kan?” lanjutnya beralih pada Neil.
Neil mengangkat bahunya sambil lalu. “Yah, tidak buruk,” jawabnya sambil meringis.
Aerin pun balas tersenyum. “Sini, biar kusembuhkan luka-luka kalian,” tukasnya sembari mendekat pada Nick.
Aerin kembali menangkupkan kedua tangannya sambil membaca mantra dengan bahasa elf. Kini pendar cahaya keemasan melingkupi telapak tangannya yang kemudian dia arahkan pada Nick. Sensasi hangat terasa di kulit pemuda itu ketika cahaya emas tersebut mulai merambat naik. Hanya dalam beberapa detik, seluruh luka-lukanya pun tertutup begitu saja, tanpa meninggalkan bekas sama sekali. Hal serupa Aerin lakukan pada Neil.
Setelah selesai melakukan penyembuhan, ketiga orang itu pun memutuskan untuk beristirahat sambil makan malam. Mereka menyalakan api unggun dan mulai memasak daging monster yang barusan mereka bunuh.
Esok paginya, mereka pun melanjutkan perjalanan. Tiga hari tiga malam lamanya mereka berjalan tanpa lelah. Beberapa monster lain sempat menghadang perjalanan mereka. Akan tetapi semuanya berhasil dihadapi dengan baik. Hingga akhirnya, gunung besar tempat tinggal Calada pun sudah tampak di kejauhan.
Rasa rindu menyapa hati Nick. Padahal belum ada satu tahun ia meninggalkan tempat itu. Namun rasanya seperti sudah lama sekali. Tempat itu pun tidak banyak berubah. Nick benar-benar tidak sabar untuk bisa segera bertemu sang ibu sambung yang telah membesarkannya.
“Energi di tempat ini punya level yang jauh berbeda dari pada di luar sana. Pantas saja tidak banyak monster yang berkeliaran di sini. Jadi kita benar-benar akan bertemu dengan satu-satunya naga yang masih tinggal di dunia ini?” tanya Neil tampak terkesiap menatap gunung tinggi yang menjulang, tempat tinggal Calada sang naga terakhir.
Nick tersenyum penuh kerinduan. “Ibu mungkin sudah mengetahui kedatangan kita. Ia akan menyambut kita dengan baik,” ucap pemuda itu sembari melangkah ke depan. Kedua temannya pun mengikuti di belakang.
“Aku belum pernah bertemu dengan naga, tapi ayah dan kakekku sudah. Sejak dulu kaum naga biasanya hidup terpisah dengan ras-ras lain. Tapi sesekali mereka berinteraksi dengan elf untuk melakukan transaksi sihir,” terang Aerin tak kalah terkesima merasakan energi sihir naga yang luar biasa.
“Para elf hidup lebih lama dari pada manusia. Meski begitu, era para naga sudah berlalu sejak ratusan tahun yang lalu. Ayah dan Kakekmu pasti berumur panjang,” tukas Neil menanggapi.
“Ayahku berusia hampir lima ratus tahun. Kakekku tentu sudah lebih tua, tapi beliau sudah lebih dulu pergi ke tempat cahaya. Aku hanya pernah bertemu dengannya saat kecil dulu,” kisah Aerin kemudian.
Neil mengangguk-angguk paham. “Ngomong-ngomong, berapa usiamu Aerin?” tanyanya penasaran.
Aerin tampak berpikir sejenak. “Masih muda. Aku anak kelima, dan empat kakakku jauh lebih tua dariku. Kalau dihitung-hitung sekarang, mungkin usiaku sekitar seratus … dua puluh tiga? Yah, sekiar itu,” jawab gadis elf itu kemudian.
Sontak Neil pun memasang ekspresi terkejut yang tidak dibuat-buat. Ia ternganga begitu mendengar jawaban Aerin yang tidak terduga. Sementara itu, Nick hanya melirik ke arah teman-temannya sambil menahan tawa geli. Aerin tampak tidak terganggu dengan hal itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments