Luka-luka di tubuh Nick memaksanya bergerak lebih lambat untuk kembali ke desa. Kakinya yang patah ia bebat sementara dengan ranting pohon tebal agar tidak menjadi semakin parah. Sementara luka di bahunya hanya ia tutup dengan selembar kain dari pakaiannya yang disobek. Nick membuang armornya yang sudah rusak. Kini pemuda itu berjalan dengan bertelanjang dada sembari memanggul pedang besarnya.
Tubuh Nick yang kekar dengan otot-otot liat tampak sangat gagah sekalipun ia tidak mengenakan armornya. Setelah sampai di aliran sungai yang membatasi desa, Nick pun membasuh wajahnya sembari memeriksa kandungan racun yang mungkin masih tersisa. Akan sangat berbahaya jika para penduduk meminumnya.
Akan tetapi, air itu sudah jernih. Sepenuhnya aman untuk dikonsumsi. Pemuda itu pun membasuh seluruh luka di tubuhnya dan mulai menyeberang ke desa. Kedatangannya disambut kerumunan orang yang bersorak-sorai di pinggir sungai. Mereka menyerukan rasa terima kasih kepada Nick yang telah menyelamatkan desa mereka dari ancaman kekeringan. Sang kepala desa pun mendekati Nick dengan ekspresi haru.
“Terima kasih, wahai anak muda pengembara. Berkat bantuanmu, kami bisa melanjutkan hidup kami di desa ini. semua warga akan selalu mengingat kebaikanmu,” ucap sang kepala desa tersebut.
Nick hanya tersenyum tipis. Ini pertama kalinya Nick melakukan sesuatu untuk orang lain. Ia begitu dipuja-puja oleh para manusia yang baru dia kenal. Rupanya perasaan itu cukup menyenangkan.
Setelah itu, para penduduk pun segera memulai membangun kehidupan mereka lagi. Nick diberi sebuah pondok yang cukup besar di desa tersebut. Setiap hari orang-orang desa datang silih berganti untuk membantu merawat luka-luka Nick hingga pulih sepenuhnya. Orang-orang sakit lainnya juga berangsur membaik dan wabah tidak lagi menjadi masalah.
Nick tinggal di desa tersebut selama enam bulan penuh. Ia membantu membangun rumah-rumah baru bagi para warga, termasuk mengajarkan cara menempa pedang. Pedang-pedang yang sudah jadi diberikan pada anak-anak muda di desa tersebut dan Nick juga melatih mereka dengan baik.
Berkat kedatangan Nick, kehidupan di desa pun menjadi semakin maju dan sejahtera. Orang-orang bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka, dan para anak muda yang sudah bisa berpedang berperan melindungi desa dari serangan monster di seberang sungai.
Tinggal di tempat itu membuat Nick merasa damai dan tenang. Akan tetapi ia merasa bahwa sudah waktunya bagi dia untuk pergi. Petualangannya masih panjang, dan Nick juga ingin menjelajah ke daerah yang lebih luas lagi di dunia manusia. Maka, tepat saat datangnya musim semi, Nick pun akhirnya meninggalkan desa tersebut diam-diam.
Pemuda itu kembali menyusuri hutan. Kepala desa pernah memberitahu Nick bahwa di balik hutan itu ada sebuah kota tempat tinggal orang-orang kaya. Tempat itulah yang dituju oleh Nick. Ia melesat cepat menyusuri hutan dan di tengah-tengah perjalanan tersebut, mendadak Nick bertemu dengan iring-iringan kereta kuda yang membawa barisan prajurit lengkap.
Nick pun menghentikan langkahnya. Kereta kuda tersebut terlihat mewah di tengah siang hari yang terik. Seluruh badan kereta dicat warna putih dan ornamen emas. Setidaknya ada delapan orang ksatria kuda yang mengiringinya. Seluruh ksatria tersebut berseragam hijau dan bersenjatakan pedang.
Tidak ada yang aneh dengan barisan tersebut. Mereka tampak sudah melakukan perjalanan panjang. Para pengawal itu sedang melindungi seseorang penting dalam kereta kuda. Entah siapa pun itu. Namun yang membuat Nick merasa terusik adalah karena ia merasakan kehadiran satu orang lain dari balik hutan di seberang jalan setapak itu. Orang tersebut memiliki niat membunuh yang sangat kuat, dan jelas bukan berasal dari salah satu dari iring-iringan.
Meski begitu Nick tidak mencoba mengintervensi. Ia hanya berdiri mengamati sembari bersembunyi di balik rerimbunan hutan. Hingga pada akhirnya, seseorang berbaju serba hitam dengan penutup wajah mendadak muncul dari balik pohon besar.
Pria misterius itu langsung menyerang para ksatria pengawal hingga pecahlah pertempuran kecil di antara mereka. Desing pedang beradu mewarnai tempat tersebut. Pria berpakaian hitam itu sendirian melawan delapan ksatria kuda dengan armor lengkap. Hebatnya, sang pria misterius itu mampu menandingi delapan ksatria yang menyerangnya dengan tangkas.
Dalam waktu cepat, lima ksatria berhasil dibunuh hanya dengan beberapa kali tebasan. Tiga lainnya terluka hingga terjatuh dari kuda. Kuda-kuda mereka juga meringkik ketakutan dan segera lari ke dalam hutan. Kereta mewah itu pun terjungkal jatuh saat sang kusir dibunuh dan kuda penariknya lepas. Dari dalam sana keluar seorang anak laki-laki kecil, mungkin masih berusia delapan tahun, yang meringkuk ketakutan dalam pelukan seorang pelayan wanita.
Nick tidak bisa membiarkan pembantaian ini terjadi. Setelah sang pria misterius itu berhasil membunuh semua ksatria, Nick pun keluar dari persembunyiannya. Ia menangkis pedang pria bepakaian hitam yang diarahkan kepada bocah laki-laki kecil dan pelayannya.
Denting besi beradu memekakkan telinga. Turpin berhasil menghalau percobaan pembunuhan terhadap seorang anak kecil yang tidak bersalah. Sementara itu sang pria misterius yang sedikit terkejut, kembali mengarahkan serangannya kepada Nick. Mereka berdua pun mulai berduel.
Selama ini Nick tidak pernah berduel dengan orang lain. Ia hanya melatih kemampuan pedangnya sambil menghabisi monster-monster raksasa. Karena itu, secara teknik berpedang, Nick tidak bisa mengimbangi sang pria misterius. Pria tersebut bisa melakukan manuver-manuver tangkas yang efisien menyerang titik lemah lawannya. Sementara serangan Nick fokus pada kekuatan besar dengan jangkauan luas.
Nick bisa saja langsung membunuh orang tersebut dengan satu tebasan. Akan tetapi ia tidak ingin melukai sesama manusia. Terlebih yang lebih lemah darinya. Setidaknya harus ada alasan yang masuk akal bagi Nick untuk memutuskan membunuh seseorang. Padahal dia sekarang hanyalah orang lewat yang tidak tahu duduk permasalahan di tempat tersebut.
Pada akhirnya, setelah selama beberapa waktu Nick melayani sang pria misterius bermain pedang, orang itu pun kewalahan. Dia berniat kabur dan menghentikan pertarungan, tetapi Nick segera mencegahnya. Nick melancarkan satu serangan pamungkas dan membuat pedang pria misterius itu terlempar. Turpin terhunus tepat di leher orang berbaju hitam itu.
“Siapa kau? Kenapa kau ikut campur? Apa kau ksatria bayangan Duke?” sergah pria tersebut sembari tersungkur di atas tanah.
“Aku hanya pengembara yang kebetulan lewat,” jawab Nick ringan.
“Pengembara? Lantas kenapa kau ikut campur! Kau bahkan tidak mengenalku ataupun anak kecil itu.” Sang pria misterius berseru gusar.
“Apa kau tidak malu telah berusaha membunuh seorang anak dan wanita tak berdaya?” geram Nick tajam.
Pria itu diam saja. Ia melempar pandangan ke arah kereta kuda yang terguling. Anak kecil tadi sudah menghilang bersama pengasuhnya. Mereka pasti kabur ke kota. Sambil berdecih, pria itu pun bangkit berdiri, lalu melepas penutup wajahnya. Pedang Nick mengikuti pergerakan pria tersebut, tetapi tidak berusaha menyerangnya lagi.
“Baiklah. Turunkan pedangmu. Kita tidak punya masalah apa-apa. Jadi sekarang biarkan aku pergi,” ujar pria tersebut. Ia memiliki bekas luka besar di dekat bibirnya. Melintang dari telinga hingga dagu. Luka yang pasti sangat parah hingga membekas sebesar itu.
“Aku tidak bisa membiarkanmu pergi dan mengejar anak kecil itu. Sebagai seorang ahli pedang, seharusnya kau malu dengan sikap ini,” sahut Nick kembali menyarungkan Turpin.
Pria misterius itu mendengkus pendek. “Benar-benar orang yang menjengkelkan. Kau sudah mengganggu pekerjaanku. Jadi apa maumu sekarang?”
Nick tersenyum simpul menanggapi. “Antar aku ke kota,” ujarnya kemudian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 29 Episodes
Comments