Sudah sepuluh menit berjalan. Nathan masih tidak bergeming sambil menatap Leo yang tengah duduk di hadapannya. Eldar terlihat berdiri di sisi kiri Nathan untuk menjadi penengah jika mungkin terjadi perdebatan hebat.
"Aku semakin tidak berselera pada pernikahan." Ucap Nathan memulai pembicaraan.
"Maksud nya?"
"Kenapa kamu menikahi nya?" Tanya Nathan lagi.
"Siapa?"
"Isabella Anastasia."
"Tidak ada gunanya saya menjawab."
"Tentu ada."
"Ini tidak ada hubungannya dengan perkerjaan." Leo hendak pergi namun kata-kata Nathan membuatnya berdiri mematung." Tolong ulangi?" Imbuh Leo pelan. Ada perasaan takut terpatri di wajahnya.
"Kau berselingkuh dengan anak angkat mu. Aku bingung? Kenapa tadi kau semarah itu ketika melihat ku bersama Bella? Bukankah seharusnya kau mengerti karena kau juga melakukan nya." Nathan terkekeh nyaring. Keburukan Leo semakin tampak dan membuat perasaannya begitu senang.
"Jangan asal bicara?"
"Mau ku datangkan orang yang menikahkan kalian?" Saliva Leo tertelan kasar. Belum sempat kata maaf terucap pada Bella, tapi ancaman dari Nathan memojokkannya." Pilihannya ada dua. Ceraikan atau ku bongkar hubungan kalian." Imbuh Nathan mengancam.
"Anda bernaffsu sekali."
"Ya. Agar mereka mengakui keunggulan ku."
"Hanya untuk itu?"
"Hm ya. Aku ingin menang taruhan." Eldar menghela nafas panjang. Dia tengah di pertontonkan perdebatan gila antara dua lelaki yang sama-sama tidak waras.
"Saya tidak percaya hanya itu saja."
"Memang hanya itu. Setelah taruhan ku menangkan. Bella tidak akan jadi bayang-bayang ku. Kau mendapatkan jabatan tinggi dan aku mendapatkan pengakuan. Bagaimana Le?"
Tawaran Nathan terdengar sangat mengiurkan apalagi kini Leo merasa terpojok. Jika dia menolak, Nathan akan membocorkan kecurangannya. Namun jika Leo menerima, jabatan tinggi dan kecurangannya akan tetap aman meski terbesit rasa tidak rela.
"Lantas anda akan menikahinya." Tanya Leo pelan. Ingin memastikan kekhawatirannya.
"Mana mungkin. Semua ini ku lakukan hanya untuk taruhan bukan atas dasar cinta apalagi pernikahan." Leo tersungging. Ada niat buruk di balik senyumannya itu.
Setelah mereka mengakui keunggulan Nathan. Secara otomatis masalah ini terlupakan. Setelah itu terjadi, aku akan merajuk Bella untuk kembali dan meminta maaf. Hahahaha. Martabat keluarga ku tetap terjaga dan bonusnya, aku mendapatkan jabatan tinggi di perusahaan besar ini.
"Bagaimana? Aku tidak punya banyak waktu." Tanya Nathan mendesak.
"Hm. Beri aku waktu sampai besok."
Nathan tersenyum simpul. Tentu saja penawarannya akan menjadi senjata ampuh untuk memisahkan antara Bella dan Leo. Dia mulai membayangkan kemenangan dan sebuah pengakuan yang akan di dengar dari teman-temannya.
Rasa kasihan. Hanya itu yang bisa Eldar ucapkan dari dalam hati untuk Bella. Dia tidak mampu menghentikan kegilaan Nathan yang di rasa sudah keterlaluan.
Aku berharap ini akan jadi bumerang untuk anda Tuan. Saat anda menginginkan sebuah pernikahan, anda akan sulit meraihnya.
Eldar memilih pergi setelah kata mufakat tercapai. Dia berharap ini terakhir kali Nathan merusak hubungan seseorang hanya untuk pengakuan. Sebab Eldar merasa muak ketika sebuah kesakralan pernikahan di remehkan.
Kamu akan mendapatkan lelaki yang lebih baik daripada mereka Nona Isabella. Saya yakin.
🌹🌹🌹
Bella memilih berbaring seharian meski lambungnya terasa perih. Sejak tadi pagi dia belum menyentuh makanan akibat rentetan kejadian yang menimpanya.
Fikirannya melayang entah kemana, seakan-akan rasa lapar mulai mempengaruhi cara kerja otaknya.
Sesekali Bella duduk lalu meneguk air putih untuk mengurangi rasa lapar. Dia memang tidak berniat bunuh diri dan masih ingin hidup. Namun rupanya Bu Rita tidak juga membukakan pintu meski hari sudah hampir petang.
Sampai kapan pintu itu tetap terkunci. Apa yang Mama inginkan? Kenapa dia tidak melihat keadaan ku atau paling tidak memberi ku makan.
Eluh Bella dalam hati. Tatapan fokus ke gagang pintu dan berharap Bu Rita mengakhiri hukumannya.
Cklek..
Segera saja Bella duduk ketika gagang pintu bergerak. Namun mimik wajahnya terlihat kesal ketika melihat Leo masuk sambil membawa nampan.
"Makanlah." Pinta Leo canggung juga bingung. Sedikit berat untuk mengawali pembicaraan.
"Hm." Bella tidak banyak bicara dan langsung melahap makanan pemberian Leo.
"Maaf. Em.. Dia menginginkan mu." Sontak Bella menoleh.
"Lelaki itu?"
"Ya."
"Kamu salah faham Mas. Aku.."
"Perkerjaan ku jadi sasaran jika aku tidak segera menceraikan mu." Bella menelan makanannya kasar sambil menatap tidak percaya ke arah Leo. Lelaki pilihannya yang dulu begitu terlihat sempurna kini menorehkan luka sangat dalam.
"Jadi?" Sebisa mungkin Bella tidak memperlihatkan kekecewaan meski dirinya tahu ujung dari pembicaraan akan berlabuh pada kata pisah.
"Kamu tahu jawabannya."
"Hm cukup tahu Mas." Jawabnya pelan tidak terdengar.
"Aku terpaksa."
"Hm tidak apa. Aku juga tidak betah berlama-lama tinggal di sini. Kamu tahu bukan jika aku pencemburu." Bella berusaha tersenyum di tengah sakit hati yang menghantam kuat. Aku yakin ini jalan terbaik. Aku tidak mau lagi berurusan dengan lelaki tidak waras itu meski pernikahan ku harus..
Nafas Bella berhembus berat. Tidak percaya atas kenyataan yang terjadi namun dirinya juga sulit berbagi. Walaupun sampai saat ini Bella belum mengetahui hubungan pernikahan Leo dan Lisa. Tapi tidak dapat di pungkiri jika dia sudah tidak nyaman melihat perlakuan Leo pada Lisa.
"Dia hanya anak.."
"Katakan, lalu biarkan semuanya selesai." Sahut Bella tegas. Leo menatapnya sambil berusaha menyentuh jemari kiri Bella.
"Aku minta maaf."
"Jangan bertele-tele. Jadilah lelaki yang berprinsip." Jawab Bella mendesak. Dia menghindari sentuhan jemari Leo dengan menggeser tubuhnya menjauh.
"Mulai hari ini kamu bukan Istri ku lagi."
"Ya Mas."
Tubuh Bella terlihat bergetar, ketika Leo mengucapkan kata yang selama ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi dia berusaha tidak menunjuk kekecewaan dan berusaha melapangkan hati seluas-luasnya.
"Sore ini aku akan mengantarmu pulang ke rumah dan menjelaskan semuanya pada kedua orang tua mu." Akan lebih baik kamu pergi diam-diam agar Nathan tidak berubah fikiran. Aku masih takut dia ingkar janji lalu berputar haluan dan menikahi mu.
"Tidak perlu Mas. Aku masih belum siap pulang dan membuat kejutan untuk jantung Mama ku."
"Jadi? Kamu ingin ku carikan kontrakan?" Tanya Leo menawarkan.
"Tidak. Itu bukan lagi tanggung jawabmu. Aku masih memiliki perhiasan dari hasil kerja ku dulu." Bella meletakkan nampan sebab selera makannya runtuh.
"Tenang saja. Aku tidak akan berhenti mentransfer uang ke rekening mu untuk pengobatan Mama."
"Tidak." Bella berjalan menuju lemari untuk mengambil dompet. Dia mengembalikan kartu ATM pada Leo bahkan meletakkan kotak perhiasan setelah mengambil beberapa miliknya." Mereka orang tuaku dan tanggung jawab ku. Setelah ini aku akan mendapatkan perkerjaan." Leo menghela nafas panjang. Dia takut jika nantinya Nathan akan memberikan Bella perkerjaan.
"Mereka sudah ku anggap orang tuaku."
"Aku tidak bodoh Mas. Aku bisa membandingkan sikap ikhlas dan tidak. Selama ini kamu setengah hati memberikan bantuan. Tapi aku mencoba menerima sebab ingin mematuhi peraturan mu untuk tetap berada di rumah dan tidak berkerja. Tapi yang ku dapatkan..." Bella menghela nafas panjang sambil memasukkan baju ke dalam tas.
"Dia mendesak ku."
"Ya. Aku hanya kecewa karena pemutusan hubungan terasa begitu mudah."
"Mau bagaimana lagi."
"Keputusan yang benar. Aku juga merasa tidak di terima di sini." Bella mengulurkan tangannya ke arah Leo.
"Kamu akan tinggal di mana? Sebaiknya kamu tidak menolak bantuan. Akan ku carikan kontrakan." Bella menurunkan tangannya lagi.
"Ini sudah berakhir. Aku tidak mau bertemu dengan mu lagi." Bella berjalan keluar sambil menenteng tas besarnya.
"Besok saja Bella, ini sudah hampir petang." Teriak Leo berusaha mencegah. Dia mengikuti Bella yang sudah berdiri saling berhadapan dengan Lisa.
"Mama mau ke mana?" Tanya Lisa basa basi.
"Jangan berpura-pura. Kau suka kan melihat ini."
Seakan sudah lelah berfikir. Bella menganggap jika kecurigaannya selama ini benar adanya. Leo sudah berkhianat sampai-sampai pernikahan yang seharusnya tidak gampang terputus harus rusak dalam waktu singkat.
"Kenapa Mama menjawab begitu."
"Aku bukan Mama mu."
"Sudah ku katakan jangan libatkan dia Bella. Aku ingin berpisah karena ancaman lelaki itu." Pembelaan Leo semakin membuat fikiran Bella kian keruh.
"Kamu sekarang bebas Mas. Tidak perlu bersandiwara. Aku bukan lagi Istrimu dan itu berarti tidak akan ada wanita yang memprotes pembuatan menjijikan kalian."
"Aku masih mencintaimu." Lisa mengembuskan nafas berat. Dia kesal ketika Leo mengucapkan kalimat tersebut.
"Aku tidak."
"Semudah itu? Padahal aku berharap kita kembali bersama suatu hari nanti."
"Ya semudah ini." Bella mengambil tisu lalu meletakkannya ke telapak tangan. Dia meniupnya perlahan dan otomatis tisu jatuh ke bawah." Aku sudah kau buang ke bawah." Menunjuk selembar tisu yang tergeletak." Kau tahu kenapa benda itu sangat mudah terjatuh?" Leo mengembuskan nafas berat seolah mampu membaca kemarahan pada mimik wajah Bella.
"Kenapa?" Suara Leo hampir tidak terdengar.
"Setia mu setipis tisu. Mudah robek dan mudah terhempas. Aku pergi." Bella melanjutkan langkahnya sambil menahan air mata yang hampir tumpah. Meski Bella tahu ini bukan sepenuhnya kesalahan Leo, namun sejak lama dirinya sadar sudah di abaikan.
🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Wiwin Vivo
di tunggu lanjutannya kakak semangat
2023-02-24
0
Yunita Indriani
okelah klw kak Thor yg cantik dan rajin update ini bikin Bella menderita lahir dan batin TAPI tolong ya kak nanti balas kesakitan Bella dengan buat 2 lelaki lucknut dan emak mertua itu menangis darah.
nyesek aku bacanya🤬😩
2023-02-24
1
Yani Yani
Kasian sekali bella😭😭 lanjuuut.....
2023-02-23
1