Nathan oh Nathan

Bella mencoba menghubungi kontak Leo untuk mengetahui kabar. Apalagi sore ini mereka harus menghadiri pernikahan anak Pak Sapto. Sungkan rasanya jika tidak datang sebab keduanya berhubungan cukup baik mengingat Pak Sapto orang yang ramah.

"Kemana sih Mas Leo? Apa aku datang sendiri saja?" Gumam Bella bingung." Sebaiknya aku bersiap. Sudah lama juga tidak berbaur dengan Ibu-ibu kompleks." Bella beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah lemari. Dia mengambil setelan kebaya modern untuk pesta.

Terlihat, lekuk tubuhnya masih sangat sempurna. Selama ini Bella menjaga diri dengan berolahraga meski tidak di lakukan setiap hari.

Wajahnya di poles sederhana. Bella tidak suka riasan mencolok apalagi menor. Selain wajahnya terasa tebal, dia tergolong wanita yang tidak suka berdandan.

Tepat di saat Bella mengambil tas pestanya. Suara ketukan pintu terdengar. Cepat-cepat Bella keluar kamar dengan perasaan was-was. Dia takut jika itu Nathan.

Namun alangkah terkejutnya Bella ketika melihat Bu Rita dan Pak Salim berdiri di balik pintu. Senyum Bella berubah canggung saat Bu Rita menatapnya dari atas sampai bawah dengan tajam.

"Mau kemana kamu? Walaupun Suami mu tidak ada, jangan berpergian sembarangan tanpa izin!!" Tentu saja sapaan ketus langsung Bu Rita suguhkan.

"Saya mau menghadiri acara pernikahan. Em saya tadi sudah menghubungi Mas Leo tapi nomernya tidak aktif." Pak Salim memilih duduk di teras. Dia malas harus melontarkan kebohongan.

"Pernikahan siapa? Dekat tidak tempatnya?"

"Dekat kok Ma. Tetangga komplek." Menunjuk ke arah timur.

"Mungkin yang tadi kita lewati Buk." Sahut Pak Salim menimpali.

"Awas ya! Jangan terlalu menor kalau dandan. Jaga harga diri dan jangan terlalu genit." Dengusan seketika berhembus di sertai mimik wajah menegang. Bella mengingat percintaan panasnya dengan Nathan semalam.

"Ya Ma." Jawabnya singkat.

"Leo pulang besok pagi." Bella menatap Bu Rita penuh tanya.

"Bagaimana Mama bisa tahu?"

"Leo kan anakku. Pasti Mama tahu." Bella berusaha sabar walaupun ingin rasanya mengumpat mertuanya habis-habisan.

"Nomernya tidak aktif Ma. Em.."

"Kamu tidak perlu bertanya bagaimana Mama bisa tahu!" Sahut Bu Rita cepat.

"Em ya sudah Ma. Nanti malam Lisa akan pulang jadi saya tidak sendiri."

"Lisa menginap di tempat Mama. Dia tadi datang ke sana." Bella mencoba tersenyum meski terlihat aneh. Lagi lagi kecurigaan terselip. Dia semakin yakin akan hubungan tidak sehat yang di perbuat Leo dan Lisa.

"Kenapa bisa kebetulan?" Gumam Bella pelan.

"Apa yang kebetulan."

"Oh tidak Ma." Jawab Bella panik.

"Tidak apa kan kalau Lisa menginap di tempat Mama?"

"Tidak masalah Ma."

"Ya sudah. Mama pulang ya. Ingat untuk tidak menerima tamu sembarangan."

"Saya ingat." Bella hendak meraih tangan Bu Rita namun di urungkan. Bu Rita tidak merespon dan langsung berjalan menuju mobilnya. Sabar. Sabar.

"Bapak pulang ya Nak Bella. Baik-baik di rumah."

"Iya Yah, hati-hati." Bella mencium punggung tangan Pak Salim sebelum masuk mobil.

Setelah mobil pergi, Bella berdiri mematung di ambang pintu sambil memikirkan kekhawatirannya. Rasa cemburu seketika menjalar Ketika bayangan tentang kemesraan Leo dan Lisa melintas.

Sungguh pemandangan tersebut mampu menyayat hati Bella. Protesan tidak pernah Leo dengar. Bella kerapkali di sudutkan juga di salahkan atas kecemburuannya. Padahal menurutnya itu hal yang wajar mengingat Leo merupakan Suami syah nya.

"Ah sudahlah." Eluh Bella seraya menutup pintu lalu menguncinya. Dia memasukkan kunci ke dalam tas pesta yang di bawa.

Bella berjalan pelan seraya memperhatikan rumah Nathan yang hening meski mobil masih terparkir di garasi. Dia takut jika tiba-tiba Nathan muncul lalu mengajaknya pergi ke pesta berdua.

Takut atau Bella sedang berharap? Entahlah. Yang pasti Bella berjalan mengendap-endap sambil memastikan pintu Nathan tetap tertutup.

"Bisa jadi masalah kalau dia ikut. Semoga saja Nathan tidak datang. Oh mungkin begitu. Dia kan tidak mengenal Pak Sapto."

"Aku selalu menghormati undangan." Sahut Nathan.

"Hah!" Sontak Bella menoleh dengan wajah panik. Nathan sudah berjalan di sampingnya." Ka kau!" Imbuhnya terbata.

"Hehehe. Kenapa sepanik itu bertemu pacar sendiri." Bella mencoba menatap lurus ke depan meski rasanya ingin berteriak untuk berprotes.

"Tutup mulutmu!!" Jawabnya pelan namun penuh penekanan.

"Kamu akan suka ketika mulutku terbuka dan menjelajahi setiap inci.."

"Berhenti!!" Pinta Bella setengah berbisik.

"Aku lebih pantas menjadi pasangan mu daripada si pendek itu." Nathan tersenyum simpul. Terlihat tampan, tentu saja. Dia keturunan keluarga terpandang. Satu-satunya pewaris Asian group yang hobi kabur-kaburan dan sulit di atur.

"Sudahlah Mas. Ini area komplek. Kalau sampai mereka dengar bagaimana?"

"Terserah Baby. Aku malah senang kalau Leo menceraikan mu." Sepertinya kau memang salah memilih. Leo tidak bisa menjaga mu dari pedasnya mulut wanita tua itu. Lelaki macam apa dia. Kenapa membiarkan Istrinya di umpat habis-habisan.

Nathan kembali melihat kenyataan soal buruknya sikap Bu Rita. Seharusnya dia berniat mengajak Bella namun terhalang kedatangan Bu Rita. Nathan menyaksikan adegan dari balik jendela rumahnya.

"Aku sungguh minta maaf atas kejadian masa lalu."

"Tidak ku maafkan. Kamu membuat hidupku tidak tenang." Bella menghela nafas panjang. Menatap sekitar dengan wajah tertunduk. Dia takut kebersamaan mereka akan menjadi gosip terpanas Ibu-ibu komplek.

"Eh Bu Bella." Sontak Bella menoleh seraya tersenyum aneh. Tangannya memberi isyarat pada Nathan untuk menjauh namun tentu saja Nathan tidak mau.

Sialan lelaki ini? Bagaimana kalau Bu Dian mengadu pada Bu Rita? Bisa jadi masalah besar nanti.

"Iya Bu Dian. Mau pergi ke rumah Pak Sapto juga." Jawab Bella canggung.

"Kenapa tidak sekalian Bu Bella? Terus Bu Bella bersama siapa?" Dian menatap ke arah Nathan sambil memasang senyum semanis-manisnya. Status janda yang di sandang membuatnya bebas bersikap apapun terhadap lawan jenis.

"Oh itu Bu. Em Mas Leo sedang sibuk jadi saya datang sendiri. Terus ini, tetangga baru di depan rumah saya. Dia tidak tahu rumah Pak Sapto jadi sekalian berangkat bersama."

"Saya tahu rumah Pak Sapto. Saya memang sengaja ingin pergi ke sana dengan nya." Nathan malah menjawab begitu sehingga membuat Bella menelan salivanya kasar. Senyumnya kian terlihat aneh di sertai degup jantung tidak beraturan.

"Tidak masalah sesama tetangga. Kenalkan, saya Bu Dian." Dian mengulurkan tangannya ke arah Nathan yang langsung di sambut hangat.

"Saya Nathan. Jonathan." Jabatan tangan bergegas Nathan lepas padahal Dian termasuk janda muda tanpa anak. Parasnya juga sangat cantik dengan tubuh langsing.

Keanehan kembali Nathan rasakan. Dia tidak tertarik pada sosok yang berusaha mencuri pandang padanya. Padahal biasanya Nathan merespon godaan tersebut dan selalu berakhir di adegan ranjang.

"Ya sudah kita pergi bertiga saja biar lebih sopan." Sindir Dian tersenyum simpul. Menatap Bella dari atas sampai bawah.

Dian memendam perasaan iri pada kehidupan Bella semenjak dulu. Suami yang kaya raya juga tampan menurutnya. Tapi setelah melihat Nathan, Dian merasa jika Nathan lebih berkelas dan juga gagah.

"Iya Bu mari." Bella berjalan lebih dulu di ikuti oleh Nathan yang terlihat mengganti posisi yang tadinya di tengah lalu beralih ke samping Bella.

"Beruntung ya Bu Bella masih punya Lisa. Jadi kalau Pak Leo tidak ada bisa jadi teman di rumah."

"Saya sendirian Bu. Em Lisa sedang menginap di rumah Mama." Jawab Bella menjelaskan.

Aku ingin tahu siapa Lisa? Apa dia Adik Bella atau Adik Leo? Kalau anak? Mustahil. Mana mungkin Bella punya anak sebesar itu.

"Setiap weekend mereka pergi ya Bu. Bukankah Minggu kemarin juga begitu. Jangan-jangan Pak Leo pergi berlibur berdua dengan Lisa." Gleg! Bella tersenyum aneh menatap Dian yang tengah terkekeh seakan menertawakannya. Tebakan itu juga yang bersarang di otak. Bella merasa jika Leo dan Lisa kerapkali menghabiskan waktu bersama.

"Tidak masalah Bu. Em Lisa memang tanggung jawab Suami saya."

"Awas loh Bu. Nanti di tikung. Lisa kan hanya anak angkat." Nathan tersenyum simpul sambil mengangguk-angguk. Dia mendapatkan jawaban tanpa harus bertanya.

"Bu Dian bisa saja."

"Saya dulu juga begitu. Pembantu saya kelihatan sangat baik dan patuh. Tapi eh tapi, Suami saya malah di ambil hehehe." Bella menghela nafas panjang. Sangat panjang sampai dadanya membusung.

"Tenang saja. Kalau Bella di tikung biar saya yang mengurus." Jawaban Nathan sontak membuat Dian dan Bella menoleh secara bersamaan.

"Di dia suka bercanda Bu." Ujar Bella menimpali.

"Hahahaha iya saya tahu. Selera Pak Nathan pasti sangat tinggi. Cantik dan juga elegan." Tidak seperti Bella yang berwajah pas-pasan. Huh! Kenapa Nathan berkata seperti itu? Tidak mungkin kan dia suka Bella. Cantikan juga aku.

"Selera saya adalah wanita yang menolak saya mentah-mentah."

"Astaga. Jadi Pak Nathan pernah di tolak?"

"Ya. Beberapa tahun lalu."

"Bodoh sekali wanita itu? Saya ingin tahu secantik apa dia." Bella memasang wajah geram tapi tidak ikut angkat bicara. Langkahnya terlihat di percepat sebab dia malas mendengar obrolan tidak masuk akal tersebut.

"Saya duluan ya Bu. Sepertinya akan ada badai petir." Sahut Bella ketus sambil mempercepat langkah. Nathan malah terkekeh dan menikmati momen tersebut.

🌹🌹🌹

Terpopuler

Comments

Putri Cikal

Putri Cikal

haha lucu banget si natan

2023-07-21

0

Yunita Indriani

Yunita Indriani

duh tetangga julid, iri ya
ditunggu kelanjutannya kak Ojo sui² Yo😁

2023-02-19

2

Wiwin Vivo

Wiwin Vivo

di tunggu lanjutannya kakak

2023-02-19

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Sapaan tetangga baru
3 Niat Lisa
4 Si penyelinap handal
5 Kepanikan di pagi yang tenang
6 Kehilangan selera
7 Pengkhianatan Suami dan Mertua
8 Nathan oh Nathan
9 Kebohongan yang terungkap
10 Bukan untuk cinta tapi dendam
11 Ancaman Leo
12 Jonathan sang pewaris tunggal
13 Ketertarikan Lisa
14 Kecemburuan Leo
15 Hasutan Lisa
16 Satu atap dua rasa
17 Persekutuan yang gila
18 Kutukan Bella
19 Titik temu
20 Hanya kebencian
21 Cium aku
22 Pertanda jodoh
23 Rencana Eldar
24 Kunjungan Bu Rita
25 Terendusnya kebohongan
26 Gagalnya penyamaran
27 Pernyataan rasa
28 Dusta di balik janji
29 Tamparan untuk Leo
30 Pacar Bella
31 Syarat dari Pak Bisri
32 Lisa hamil
33 Untuk pembuktian
34 Rahasia hubungan terlarang
35 Bu Marta
36 Harapan yang pupus
37 Hati yang luluh
38 Tamparan untuk Lisa
39 Mulai yakin
40 Lamaran palsu
41 Kenyataan pahit
42 Tuan depresi
43 Ana adalah Bella
44 Jiwa perebut
45 Desakan dari Pak Bisri
46 Berhenti
47 Kesempatan
48 Kekecewaan Bastian
49 Luapan emosi
50 Tinggal bersebelahan
51 Pesta kejutan
52 Penolakan
53 Musim hujan pertama
54 Tawaran perkerjaan
55 Target baru
56 Berdebat
57 Bertemu Elena
58 Hanya di manfaatkan
59 Ajakan kencan
60 Godaan Nathan
61 Isyarat
62 Salah faham
63 Hasutan
64 Keinginan terakhir
65 Pertimbangan
66 Satu kekhawatiran
67 Undangan pernikahan
68 Ungkapan kecemburuan
69 Hampir hancur
70 Happy ending/ Tamat
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Prolog
2
Sapaan tetangga baru
3
Niat Lisa
4
Si penyelinap handal
5
Kepanikan di pagi yang tenang
6
Kehilangan selera
7
Pengkhianatan Suami dan Mertua
8
Nathan oh Nathan
9
Kebohongan yang terungkap
10
Bukan untuk cinta tapi dendam
11
Ancaman Leo
12
Jonathan sang pewaris tunggal
13
Ketertarikan Lisa
14
Kecemburuan Leo
15
Hasutan Lisa
16
Satu atap dua rasa
17
Persekutuan yang gila
18
Kutukan Bella
19
Titik temu
20
Hanya kebencian
21
Cium aku
22
Pertanda jodoh
23
Rencana Eldar
24
Kunjungan Bu Rita
25
Terendusnya kebohongan
26
Gagalnya penyamaran
27
Pernyataan rasa
28
Dusta di balik janji
29
Tamparan untuk Leo
30
Pacar Bella
31
Syarat dari Pak Bisri
32
Lisa hamil
33
Untuk pembuktian
34
Rahasia hubungan terlarang
35
Bu Marta
36
Harapan yang pupus
37
Hati yang luluh
38
Tamparan untuk Lisa
39
Mulai yakin
40
Lamaran palsu
41
Kenyataan pahit
42
Tuan depresi
43
Ana adalah Bella
44
Jiwa perebut
45
Desakan dari Pak Bisri
46
Berhenti
47
Kesempatan
48
Kekecewaan Bastian
49
Luapan emosi
50
Tinggal bersebelahan
51
Pesta kejutan
52
Penolakan
53
Musim hujan pertama
54
Tawaran perkerjaan
55
Target baru
56
Berdebat
57
Bertemu Elena
58
Hanya di manfaatkan
59
Ajakan kencan
60
Godaan Nathan
61
Isyarat
62
Salah faham
63
Hasutan
64
Keinginan terakhir
65
Pertimbangan
66
Satu kekhawatiran
67
Undangan pernikahan
68
Ungkapan kecemburuan
69
Hampir hancur
70
Happy ending/ Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!