Bukan untuk cinta tapi dendam

Bella menutup korden jendela setelah Elena pergi. Tanpa sepengetahuan Nathan, dia mengintip untuk menjawab rasa penasarannya.

Untuk apa? Entahlah, Bella sendiri tidak mengerti tentang perasaan tersebut. Mungkin saja ketertarikan masih tersisa? Atau Bella mulai menginginkan Nathan memperjuangkan nya setelah kejadian kemarin? Yang pasti kehadiran Nathan sangat mengusik perasaannya.

Baru saja Bella tiba di kamar. Ponselnya berdering memenuhi ruangan. Dia berjalan untuk mengambil dan menerima panggilan dari Leo.

📞📞📞

"Ya Mas.

"Aku tidak bisa pulang malam ini.

"Em ya. Tadi Mama sudah bilang.

"Apa kamu datang ke pesta pernikahan tadi?

"Iya. Terpaksa datang sendiri. Kamu tidak bisa di hubungi.

"Maaf ya. Perkerjaan ku sangat banyak. Itu kenapa aku tidak mengajak mu.

"Entahlah Mas.

Nada bicara Bella seakan tengah mengungkapkan kekhawatirannya. Sementara yang di rasakan Leo, hanya perasaan kesal karena kecurangannya takut terendus.

"Kamu tidak percaya padaku?

"Memangnya aku bilang begitu? Tidak kan?

"Aku bekerja. Hei Bella!

"Jabatan mu sudah sangat bagus.

"Aku ingin posisi tertinggi di sana.

"Terus saja kejar targetmu agar kita tidak pernah memiliki keturunan. Sudah ya Mas. Aku mau mandi.

Tut... Tut... Tut...

📞📞📞

Bella mengakhiri panggilan namun matanya masih menatap layar ponsel. Dia berharap Leo menghubungi lagi untuk merajuk. Namun beberapa menit berlalu, layar ponsel Bella tetap terlihat mati.

Tentu saja!

Sudah lama Leo berubah. Meski sikap lembut sesekali di tujukan tapi Bella merasakan Leo sudah tidak seperti dulu. Kemarahan tidak lagi bisa menghentikannya apalagi menakutinya.

"Apa aku di larang curiga? Astaga!!" Umpat Bella menyerah. Dia berniat menghubungi kontak Leo yang malah kembali tidak aktif." Terserah saja!" Bella menyimpan ponsel ke dalam nakas. Dia duduk lemah di sisi ranjang dan tidak sengaja melihat ke seberang jalan.

Sontak Bella mendengus seraya berdiri ketika menyadari Nathan tengah memperhatikannya. Dia memastikan pintu terkunci juga jendela lalu menarik korden sehingga ruangan kamar terlihat gelap.

"Sudah memiliki pacar tapi mengganggu kehidupan orang! Apa maksudnya begitu!" Umpat Bella menyambar handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Dia berusaha mendinginkan otak yang memanas dengan berendam di bathtub. Berbagai aroma terapi di tuang dan berharap perasaannya bisa membaik.

Nyaman sekali.

Bella menghela nafas panjang sambil memejamkan mata. Kegiatan satu-satunya yang mampu membuatnya rileks. Beberapa menit terdengar hening sebab rumah miliknya berada di gang buntu. Ukuran rumah yang besar membuat tanah lapang itu hanya bisa di bangun empat rumah saja.

Rumah di samping Nathan masih kosong. Katanya pemiliknya pergi ke luar negeri. Sementara di samping rumah Bella hanya ada tanah kosong yang katanya milik pengusaha kaya. Sekelilingnya bertembok tinggi padahal di dalamnya hanya ada semak belukar.

Braaaakkkkk!!!

Seketika Bella berjingkat ketika mendengar suara jendela di dobrak.

Jangan-jangan..

Bergegas saja Bella berdiri lalu memakai handuk kimono nya. Jantungnya berdegup kencang sambil memandangi tuas pintu kamar mandi.

Setelah menyiapkan diri, Bella membukanya sedikit lalu mengintip lewat celah pintu. Terlihat jendela miliknya terbuka tapi ruangan terlihat kosong.

Rupanya di luar sedang turun hujan. Angin kencang mungkin mendorong jendela tersebut. Begitulah tebakan yang bersarang di hati Bella.

Syukurlah hanya angin.

Dengan sangat berhati-hati Bella melangkah keluar menuju jendela dan berniat menutupnya lagi. Namun ketika dia sadar akan kerusakan, salivanya tertelan kasar.

Sangat tidak mungkin angin bisa menghancurkan ini.

Bella berusaha berfikir positif sebab kamar Nathan tidak ada pergerakan. Tangannya menarik jendela agar tertutup lagi tanpa menguncinya. Bella mundur perlahan sambil mengatur nafas. Namun ketika dia berbalik badan, Nathan sudah duduk di sofa seraya tersenyum simpul ke arahnya.

"Kau!" Tunjuknya kasar.

"Seharusnya kamu tidak menguncinya agar aku bisa masuk tanpa harus mencongkel." Nathan mulai berjalan menghampiri dengan rambut setengah basah akibat hujan.

"Jangan mendekat Mas! Aku mohon hentikan kegilaan ini!!" Teriak Bella berjalan mundur.

"Kita berpacaran sejak semalam."

"Anggap sebagai kesalahan! Kau juga sudah punya kekasih kan? Untuk apa melakukan ini?" Nathan terkekeh kecil sambil memperhatikan Bella dari atas sampai bawah.

"Itu urusan ku bukan urusanmu. Sekalipun aku memiliki Istri! Kau tidak akan bisa hidup tenang." Bella menghela nafas panjang sambil memasang wajah tegang. Dia takut kejadian kemarin terulang lagi.

"Aku sudah minta maaf."

"Maaf saja tidak cukup!!" Nathan menghimpit tubuh Bella ke dinding. Kepalanya mulai menjelajahi leher dan berusaha memberikan rangsangan.

Bella berteriak seraya mendorong tubuhnya kasar. Tentu tidak mudah baginya mengingat postur tubuh Nathan lebih tinggi dan tegap.

"Cukup!!!" Teriak Bella sambil mengerakkan lututnya ke atas sampai tidak sengaja mengenai cacing berotot milik Nathan.

"Agh!!!" Hal itu membuat Nathan melepaskan himpitan. Dia memegang cacingnya untuk memeriksa keadaan. Keanehan yang terjadi tadi siang membuatnya setengah mati ketakutan.

"Keluar kau!!!" Meski berucap demikian. Bella menatap Nathan yang masih fokus memeriksa. Dia takut benda pusakanya lecet.

"Jangan sembarang melawan dan sampai melukainya." Menunjuk cacing berotot nya.

"Peduli apa aku." Jawab Bella ketus.

"Kalau sampai terjadi sesuatu. Akan ku buat perhitungan dengan mu!!" Bella menghela nafas panjang. Dia menyadari jika Nathan tidak selembut dugaannya.

Semua lelaki sama saja. Ku fikir dia lelaki yang lembut.

"Sebaiknya kamu pergi Mas. Jangan membuat masalah."

"Aku datang untuk membuat masalah. Semua orang menertawakan ku karena penolakan mu dulu."

"Gila! Kenapa kau malah menyalahkan ku. Untuk apa kau memikirkan pendapat orang lain." Eluh Bella menyilangkan kedua tangannya ke bagian depan tubuhnya untuk menghindari serangan Nathan.

"Kau tidak seberapa cantik tapi kau menolak ku." Bella terdiam sesaat. Perkataan Nathan cukup menyinggung perasaan apalagi rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja.

Mungkin fisik memang menjadi tolak ukur mengingat Lisa memang jauh lebih cantik darinya. Sangat sering tebakan itu terlintas. Bella menyadari kekurangannya namun tidak membenarkan perbuatan Leo yang terlihat lebih memperhatikan Lisa daripada dia.

"Aku sudah minta maaf." Jawab Bella pelan. Seketika dadanya terasa sesak meski di sembunyikan rapat.

"Maaf saja tidak bisa menebus rasa malu itu." Kenapa dia berekspresi begitu?

"Ya terserah." Bella berjalan melewati Nathan lalu duduk di kursi rias. Dia menghindari bertatap muka untuk menyembunyikan mimik wajahnya." Sebenarnya apa mau mu? Kenapa tidak dari dulu saja kau mengejar ku seperti sekarang." Nathan kembali terkekeh. Berusaha menyingkirkan perasaan kasihan sebab tujuannya mencari keberadaan Bella hanya untuk membuktikan pada teman-temannya jika dirinya mampu membuat Bella jatuh hati.

"Aku kesal padamu."

Ku fikir cinta? Tapi rasanya Nathan hanya dendam karena kesalahan masa lalu. Ah.. Apa yang ku harapkan? Mana mungkin lelaki setampan dia menggilai aku?

"Aku punya seseorang. Itulah masalahnya. Apalagi sampai mertuaku tahu." Bella menghela nafas panjang." Ini akan jadi masalah besar." Nathan tersenyum simpul lalu duduk di sofa.

"Akan ku buat masalah ini menjadi besar sampai-sampai Leo meninggal mu."

"Itu tidak sepadan dengan kesalahan yang ku perbuat dulu." Protes Bella tentu merasa kesal.

"Aku tidak perduli."

Bagaimana ini?

Fikiran Bella terasa semakin keruh. Persoalan soal Lisa belum terpecahkan sementara Nathan malah menambah beban dengan ancaman. Sungguh Bella tidak memahami atas apa yang terjadi pada hidupnya.

"Kau membuatku pusing." Eluh Bella beranjak dari tempatnya menuju lemari." Nama baik mu akan tercoreng kalau sampai tetangga komplek memergoki kita. Apa itu yang kamu inginkan?" Bella berbalik badan ke arah Nathan dengan membawa baju di tangannya.

"Hanya itu satu-satunya cara agar teman-teman ku percaya kalau aku lebih unggul daripada si pendek itu." Nathan berdiri dan mulai berjalan mendekat. Dia menjelajahi lekuk tubuh Bella dengan maniknya. Cacing berotot miliknya seketika meronta. Membayangkan percintaan panas yang terjadi semalam.

Dia merespon lagi. Syukurlah..

"Kamu memang lebih unggul. Itu sudah terlihat." Bella memundurkan tubuhnya sampai membentur lemari.

"Nyatanya kamu memilih nya."

"A aku lebih dulu mengenal Mas Leo. Tolong jangan lakukan lagi." Tidak ada daya apapun untuk melawan. Bella hanya berusaha merajuk dan berharap Nathan bisa di ajak berkerjasama.

"Itu merendahkan ku." Braaaakkkkk! Tubuh Bella di hempaskan kasar lalu di himpit. Kepala Nathan menunduk dan memulai rangsangan lagi.

"Kau juga sedang merendahkan ku!!" Teriak Bella kembali tidak bisa di buat berkutik. Dia mencoba menggerakkan kakinya namun gagal.

"Ah Baby tubuhmu wangi sekali." Nathan tidak mendengar protesan, bibirnya sibuk menjelajah sambil sesekali menghirupnya kuat.

"Apa kau tidak punya Ibu!! Apa kau lahir dari batu Nath!!!" Sontak mata Nathan melebar. Wajahnya berubah tegang saat sosok Ibunya melintas di fikiran.

Kamu boleh memacari banyak wanita tapi jangan sekali-kali merendahkan mereka. Kalau kamu sampai melakukannya, sama halnya kamu merendahkan Ibu mu sendiri.

Selama ini Nathan berhubungan atas dasar suka sama suka. Bella satu-satunya wanita yang menolak keinginannya. Keangkuhan yang bertengger di otak Nathan membuatnya lupa diri sampai melupakan pesan terakhir almarhum Ibunya.

🌹🌹🌹

Terpopuler

Comments

Wiwin Vivo

Wiwin Vivo

di tunggu lanjutannya kakak semangat

2023-02-20

2

Yunita Indriani

Yunita Indriani

duh Nathan sini deh pengen tak karungin kepasar tu cacing mu. kesel bngt rasanya.

2023-02-20

1

Yani Yani

Yani Yani

Rasanya lama nunggu up lgi😑

2023-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Sapaan tetangga baru
3 Niat Lisa
4 Si penyelinap handal
5 Kepanikan di pagi yang tenang
6 Kehilangan selera
7 Pengkhianatan Suami dan Mertua
8 Nathan oh Nathan
9 Kebohongan yang terungkap
10 Bukan untuk cinta tapi dendam
11 Ancaman Leo
12 Jonathan sang pewaris tunggal
13 Ketertarikan Lisa
14 Kecemburuan Leo
15 Hasutan Lisa
16 Satu atap dua rasa
17 Persekutuan yang gila
18 Kutukan Bella
19 Titik temu
20 Hanya kebencian
21 Cium aku
22 Pertanda jodoh
23 Rencana Eldar
24 Kunjungan Bu Rita
25 Terendusnya kebohongan
26 Gagalnya penyamaran
27 Pernyataan rasa
28 Dusta di balik janji
29 Tamparan untuk Leo
30 Pacar Bella
31 Syarat dari Pak Bisri
32 Lisa hamil
33 Untuk pembuktian
34 Rahasia hubungan terlarang
35 Bu Marta
36 Harapan yang pupus
37 Hati yang luluh
38 Tamparan untuk Lisa
39 Mulai yakin
40 Lamaran palsu
41 Kenyataan pahit
42 Tuan depresi
43 Ana adalah Bella
44 Jiwa perebut
45 Desakan dari Pak Bisri
46 Berhenti
47 Kesempatan
48 Kekecewaan Bastian
49 Luapan emosi
50 Tinggal bersebelahan
51 Pesta kejutan
52 Penolakan
53 Musim hujan pertama
54 Tawaran perkerjaan
55 Target baru
56 Berdebat
57 Bertemu Elena
58 Hanya di manfaatkan
59 Ajakan kencan
60 Godaan Nathan
61 Isyarat
62 Salah faham
63 Hasutan
64 Keinginan terakhir
65 Pertimbangan
66 Satu kekhawatiran
67 Undangan pernikahan
68 Ungkapan kecemburuan
69 Hampir hancur
70 Happy ending/ Tamat
Episodes

Updated 70 Episodes

1
Prolog
2
Sapaan tetangga baru
3
Niat Lisa
4
Si penyelinap handal
5
Kepanikan di pagi yang tenang
6
Kehilangan selera
7
Pengkhianatan Suami dan Mertua
8
Nathan oh Nathan
9
Kebohongan yang terungkap
10
Bukan untuk cinta tapi dendam
11
Ancaman Leo
12
Jonathan sang pewaris tunggal
13
Ketertarikan Lisa
14
Kecemburuan Leo
15
Hasutan Lisa
16
Satu atap dua rasa
17
Persekutuan yang gila
18
Kutukan Bella
19
Titik temu
20
Hanya kebencian
21
Cium aku
22
Pertanda jodoh
23
Rencana Eldar
24
Kunjungan Bu Rita
25
Terendusnya kebohongan
26
Gagalnya penyamaran
27
Pernyataan rasa
28
Dusta di balik janji
29
Tamparan untuk Leo
30
Pacar Bella
31
Syarat dari Pak Bisri
32
Lisa hamil
33
Untuk pembuktian
34
Rahasia hubungan terlarang
35
Bu Marta
36
Harapan yang pupus
37
Hati yang luluh
38
Tamparan untuk Lisa
39
Mulai yakin
40
Lamaran palsu
41
Kenyataan pahit
42
Tuan depresi
43
Ana adalah Bella
44
Jiwa perebut
45
Desakan dari Pak Bisri
46
Berhenti
47
Kesempatan
48
Kekecewaan Bastian
49
Luapan emosi
50
Tinggal bersebelahan
51
Pesta kejutan
52
Penolakan
53
Musim hujan pertama
54
Tawaran perkerjaan
55
Target baru
56
Berdebat
57
Bertemu Elena
58
Hanya di manfaatkan
59
Ajakan kencan
60
Godaan Nathan
61
Isyarat
62
Salah faham
63
Hasutan
64
Keinginan terakhir
65
Pertimbangan
66
Satu kekhawatiran
67
Undangan pernikahan
68
Ungkapan kecemburuan
69
Hampir hancur
70
Happy ending/ Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!