Bella menghembuskan nafas berat lalu mengintip di balik korden. Terlihat Nathan dan si wanita tidak lagi berada di lantai dua. Aneh! Begitulah pemikiran Bella. Dirinya yakin jika percintaan tengah memanas tadi.
Apa sudah selesai? Ah tidak mungkin.
Entah kenapa Bella memasang wajah kecewa seakan apa yang Nathan pertontonkan cukup menghibur hatinya yang sedikit membeku.
Sudah beberapa bulan terakhir Bella kehilangan selera pada Leo, Suaminya. Masalah percintaan ranjang menjadi salah satu pemicu.
Pemanasan yang begitu lama namun penyelesaiannya sangatlah singkat. Bella kerapkali tidak merasakan kepuasan dan hal itu berhasil mengikis selera. Apalagi di tambah dengan hubungan antara Leo dan Lisa. Menghadirkan perasaaan jijik sampai-sampai membuat Bella muak pada sosok Suami yang seharusnya mengayomi.
Cklek...
Cepat-cepat Bella memutar tubuhnya ketika pintu kamar terbuka. Leo masuk dan menurunkan koper yang ada di atas lemari.
"Malam ini aku jadi pergi. Mungkin besok malam aku kembali." Bella melirik malas lalu duduk lemah di sofa.
"Memangnya aku tidak boleh ikut ya Mas?" Tanyanya menimbang.
"Percuma saja kamu ikut. Aku akan sibuk di sana. Nanti kamu malah mengomel kalau ku tinggal sendirian di hotel."
Bella menatap Leo penuh selidik. Berusaha menghilangkan prasangka buruk namun sangat sulit.
"Lisa juga pergi kan? Katanya menginap ke rumah temannya dan dia juga akan kembali besok malam." Sindir Bella tersenyum simpul. Leo menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap tajam Bella.
"Kau masih saja menuduh ku macam-macam? Kami punya urusan berbeda. Daripada bertemu di luar, bukankah lebih baik di rumah saja! Dia anakku hei Bella!"
Bukan hanya sekali atau dua kali perdebatan seperti ini terjadi. Entah Bella cemburu buta atau terlalu peka. Setiap kali Leo berpamitan untuk dinas ke luar kota, sebanyak itu juga Lisa pergi ke rumah temannya untuk menginap.
"Anak angkat! Kau harus ingat itu Mas! Lisa juga sudah besar. Aku lebih setuju dia tinggal di asramah daripada di sini."
Sudah berbulan-bulan perasaan cemburu mengaduk-aduk perasaan Bella. Dia yang sejatinya seorang wanita pencemburu berat, harus di hadapkan dengan sikap berlebihan Leo pada Lisa.
"Aku membunuh Mamanya! Dia tanggung jawab ku sepenuhnya! Sangat tidak mungkin aku menyuruhnya tinggal di asramah. Pergaulan di sana pasti tidak sehat."
"Tanggung jawab untuk membiayai hidup dan pendidikan. Bukan berpegangan tangan, saling menyuapi seakan kalian pasangan pasutri!!" Jawab Bella lantang. Dia berdiri lalu keluar kamar sementara Leo tidak berniat merayu. Dia malah melanjutkan aktivitas berkemas.
Bella semakin di buat malas tatkala dirinya melihat Lisa tengah duduk menunggu kedatangan Leo. Keduanya berdalih berangkat bersama karena lokasi yang sejalan.
Bagaimana mungkin Bella bisa percaya alasan dinas Leo. Bukankah seharusnya hari Sabtu dan Minggu di peruntukan bagi keluarga? Namun sudah hampir empat bulan Leo sering berpergian ketika weekend datang.
"Papa belum siap Ma?" Tanya Lisa seraya memasang senyuman penuh ejekan.
"Kau lihat saja sendiri." Jawab Bella ketus.
"Temanku sudah menunggu. Tolong bilang pada Papa agar sedikit cepat."
"Apa kurang jelas Jawaban ku! Lihat dan bicaralah sendiri!" Lisa membuang muka sambil memasang wajah masam. Bersamaan dengan itu Leo turun dari anak tangga dan langsung berjalan menuju Lisa.
"Jangan dengarkan ucapan kasar Mamamu." Sungguh pemandangan yang menusuk. Hati Bella tertembus belati tajam melihat kenyataan bahwa Leo tidak lagi perduli pada kemarahannya.
"Aku tahu Pa. Em tolong bawa tasku ya, aku tunggu di luar."
Lisa tersenyum simpul lalu keluar menuju mobil. Leo mengangkat kedua koper, berjalan menuju Bella yang tengah berdiri di ambang pintu samping.
"Aku pergi dulu."
"Hm." Jawab Bella singkat. Kedua tangannya terlipat di perut padahal biasanya dia selalu mencium punggung tangan Leo ketika sosok itu meninggalkan nya.
"Nanti ku kabari kalau sudah sampai." Leo memeluk Bella sejenak dari belakang kemudian memberikan kecupan singkat pada puncak kepalanya.
Bella tidak bergeming apalagi membalas. Rasa sesak seketika menjalar di iringi manik miliknya yang mulai berkaca-kaca. Bella memilih berdiam dan tidak mengantarkan kepergian Leo. Toh air mata dan kemarahannya sudah tidak lagi membuat Leo mengurungkan niat untuk pergi.
Aku tidak ingin berfikir macam-macam. Tapi melihat mereka..
Tiba-tiba saja bel pintu berbunyi. Sangat mustahil jika itu Leo sebab pintu rumah belum terkunci. Cepat-cepat Bella berjalan untuk memeriksa.
Seorang lelaki berperawakan tinggi berdiri dengan posisi memunggungi. Bella memperlambat laju kakinya. Mencoba mengenali siapa sosok yang bertamu di rumahnya.
Tapi sampai hampir mencapai pintu, Bella tidak juga bisa menebak sebab rumah miliknya berada di gang buntu. Dia juga mengenal baik para tetangga sekitar dan sosok yang bertamu masih terlihat asing.
"Mencari siapa ya." Tanya Bella pelan. Bella sontak memundurkan tubuhnya ketika Nathan berbalik badan sambil membawa bungkusan di tangannya. Wajah nya cukup familiar tapi Bella tidak mengingatnya.
"Aku yang tinggal di depan rumah mu." Bahagia sekali bisa menemukan mu di saat hubungan kalian sedang tidak baik.
Nathan mendengar percekcokan yang terjadi barusan. Itu irama nada terindah. Tentu saja dia berbahagia sebab Bella tidak bahagia atas pilihannya.
"Oh." Wajah Bella berubah pucat pasi. Berarti sosok di hadapannya adalah lelaki yang mempertontonkan adegan panas di kamar seberang jalan.
"Senang bisa bertemu lagi." Nathan mengulurkan tangannya.
"Bertemu lagi? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Bella benar-benar melupakan sosok Nathan.
"Padahal aku mengingat mu." Nathan menarik kembali tangannya. Obsesinya semakin membesar saat dia kembali mendapatkan penolakan.
"Begitu."
"Hm ya. Aku Nathan. Kita pernah berkerja di PT Asian bersama-sama."
"Nathan?" Jawab Bella bergumam sambil memperhatikan Nathan dari atas sampai bawah. Nathan? Lelaki tinggi itu?
Bella tersenyum aneh mengingat nama tersebut. Apalagi momen memalukan yang terjadi di masa lalu ketika dirinya tidak sengaja salah mengirimkan pesan.
"Ya. Aku ingat." Ucap Bella pelan hampir tidak terdengar.
"Bagaimana? Kamu merasa puas dengan pilihan mu?" Bella menghela nafas panjang.
"Aku tidak mengerti maksud dari perkataan mu."
"Sepertinya kesetiaan mu tidak berbalas." Nathan terkekeh kecil seakan tengah mengolok-olok pilihan Bella.
"Itu hanya masa lalu."
"Sepertinya kita tidak sepemikiran. Penolakan itu membuatku terus memikirkan mu." Gleg! Saliva Bella tertelan kasar. Tatapan mata Nathan mampu meluluh lantakkan perasaannya.
Sejak dulu memang fisik Nathan jauh lebih baik dari Leo. Tapi saat itu Bella sudah terikat janji untuk setia sehingga dia hanya fokus ke arah Leo.
"Itu hal yang wajar. Aku ingin setia."
"Tidak wajar. Mana ada wanita sebodoh dirimu." Entah perkataan itu bertujuan untuk meledek atau apa. Tapi Bella ingin segera menutup pintu dan mengakhiri obrolan.
"Pergilah. Suami ku sedang tidak ada di rumah." Bella berniat menutup pintu tapi kaki Nathan menghalangi.
"Otakku sudah terkontaminasi oleh mu. Sekarang kamu harus bertanggung jawab." Tepat di saat tangan kekar Nathan akan meraih lengan Bella. Kedatangan seseorang membuat niatnya terhenti.
"Siapa Bell?" Sapa Bu Rita. Ibu Leo alias mertua Bella.
"Oh saya tetangga baru Bu." Jawab Nathan tersenyum simpul. Mengedipkan sebelah matanya ke arah Bella.
Benar-benar sinting lelaki ini.
"Tidak baik memasukkan lelaki kalau Suami mu tidak ada." Bella tersenyum aneh. Sedikit menegang paska perbuatan Nathan yang mencoba menyentuhnya.
"Iya Ma."
"Saya hanya ingin memberikan ini." Mengangkat bungkusan dari tangan nya.
"Hm. Mama masuk dulu ya." Bu Rita masuk terlebih dahulu meninggalkan Bella dan Nathan yang saling berhadapan.
"Kali ini kamu bisa lepas. Lihat saja. Aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapan ku." Nathan memberikan bungkusan seraya menyentuh sedikit kulit punggung tangan Bella.
"Dasar tidak waras!" Umpat Bella berbisik.
"Lelaki tidak waras ini yang akan membahagiakan mu nantinya. Sampai bertemu lagi Baby." Nathan memberikan kecupan dari jauh. Cepat-cepat Bella menutup pintu lalu menguncinya.
Dadanya bergetar hebat mendengar panggilan Nathan yang di anggapnya sebagai ancaman.
Apa dia dendam hanya karena masalah itu? Ah! Aku yakin dia tidak senekat itu. Sebaiknya aku menutup pintu rapat agar dia tidak menerobos masuk.
🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Chy Trian
makin agresif makin bagus Thor. lanjut 😅
2023-08-29
0
Yunita Indriani
ini beneran cinta atau cm obsesi mu SJ Nathan, nanti klw beneran cinta tp Bella taunya kamu cm balas dendam hmmm bisa jd bumerang nich.
tp aku suka yg begini nich.
lanjut lg lah kak😁
2023-02-19
2