Ada adegan sensitif 🙏Harap di skip jika tidak suka tanpa meninggalkan jejak komentar.
Sejak tadi siang Bella tidak membuka pintu kamarnya. Dia takut pada ancaman Nathan. Hatinya bahkan merasa was-was jika tiba-tiba Nathan bertamu padahal Bu Rita belum pulang.
Bella tentu tidak ingin menambah daftar keburukannya di mata si mertua. Selama ini dia di klaim sebagai menantu pembangkang. Bangun selalu kesiangan dan tidak becus mengurus keperluan Suami.
Leo selalu mengeluh soal Bella yang jarang memasak dan selalu membeli makanan di luar. Hal itu bertolak belakang dengan Bu Rita yang senantiasa menyajikan hidangan sedap untuk keluarganya.
Aku bukan pembantu Mas. Gaji mu juga besar. Untuk apa berhemat dalam hal makanan. Kita bisa membelinya.
Ucapan Bella tidak patut di salahkan. Posisi Leo dalam perusahaan cukup tinggi. Gajinya mencapai 60 juta rupiah per bulan. Wajar jika Bella memilih membeli daripada lelah memasak tapi hasil masakannya tidak sedap.
Namun permasalahan berasal dari Leo sendiri. Dia belum sepenuhnya bisa terlepas dari Mamanya. Apapun permasalahan rumah tangga, selalu di ceritakan secara rinci. Sehingga memicu terjadinya perbedaan pendapat antara menantu dan mertua.
Tok... Tok... Tok..
Bella berjingkat ketika pintu kamarnya di ketuk. Terdengar suara Bu Rita tengah memanggilnya dari balik pintu.
Sambil mengeringkan rambut, Bella membuka pintu dan melihat wajah masam mertuanya.
"Kamu tadi tidak masak Bell?"
"Tidak Ma. Em Mas Leo juga akan pergi."
"Terus tadi Leo sarapan apa?!" Tanyanya ketus.
"Bubur ayam."
"Astaga Bell. Kalau kamu memasak kan bisa lebih hemat. Padahal dulu Leo tidak pernah beli makanan di luar tapi semenjak menikah, dia jadi sering jajan di luar. Itu tidak baik. Boros. Uangnya bisa di tabung untuk anak-anak mu kelak."
Membosankan. Padahal membeli makanan tidak menghabiskan separuh dari gaji anaknya. Kenapa dia mempermasalahkan itu? Sebenarnya yang berumah tangga aku atau Mama Rita sih?
Bella fikir jika permasalahan dengan Bu Rita akan selesai setelah keduanya tinggal terpisah. Tapi ternyata tidak segampang itu, sebab Bu Rita seringkali mampir dan mengomentari kebiasaannya.
"Mas Leo kurang selera dengan masakan saya."
"Harusnya kamu yang berusaha belajar memasak. Bagaimana nanti kalau punya anak? Apa anak-anak mu tidak kamu masakkan?" Bella hanya mampu terdiam dan mendengar. Ingin melawan namun dia masih berusaha menghormati Bu Rita." Mama bosen bicara sama kamu. Sudah ya. Mama pulang takut kehujanan. Ingat untuk mengunci pintu rapat." Imbuhnya berpamitan.
"Ya Ma. Hati-hati."
"Hm." Bu Rita berjalan menuju tangga di ikuti oleh Bella. Setelah kepergian Bu Rita, Bella sempat bersandar lemah pada daun pintu sebelum menguncinya.
Bella memeriksa kamar tamu. Dia berniat membereskan jika mungkin Bu Rita belum sempat melakukannya. Tapi kamar tampak rapi. Tentu saja, sebab Bu Rita sosok Ibu mertua yang disiplin juga pengatur.
Tok.. Tok.. Tok..
Sontak Bella menoleh dengan raut wajah cemas. Lagi lagi takut jika seseorang yang mengetuk adalah Nathan. Apalagi setelah membaca pesannya tadi yang seakan berisi ancaman.
Sebaiknya ku periksa dulu.
Bella menutup pintu kamar tamu, lalu berjalan ke arah jendela samping untuk mengintip. Dia bernafas lega ketika melihat Pak RT berdiri di balik pintu tersebut. Motor bututnya bahkan terparkir di halaman rumah.
Oh syukurlah. Kalau Mas Nathan. Tidak akan ku buka pintunya apapun yang terjadi.
Setelah menghela nafas panjang. Bella membuka pintu sambil tersenyum ramah.
"Maaf menganggu Bu Bella."
"Oh tidak Pak. Ada apa ya? Em Mas Leo sedang tidak ada di tempat."
"Tidak ada Bu Bella. Saya hanya mengantarkan undangan pernikahan anaknya Pak Sapto." Bella menerima surat undangan.
"Terimakasih ya Pak."
"Sekalian titip untuk tetangga depan." Bella tersenyum aneh. Melirik sebentar ke rumah Nathan yang terlihat tertutup rapat.
"Saya tidak seberapa kenal Pak. Sebaiknya Bapak yang mengantar."
"Sudah Bu. Saya sampai balik dua kali. Pak Sapto tidak mau ada tetangganya yang terlewat jadi undangan ini menyusul, namanya saja tidak ada." Menunjukkan undangan tanpa nama.
Duh merepotkan! Kalau tidak tahu nama nya kenapa di undang.
"Kembalikan saja undangannya sama Pak Sapto. Saya tidak enak mengantarkannya Pak. Kalau Mas Leo ada di rumah, mungkin saya suruh."
"Ya sudah Bu Bella. Biar saya ketuk lagi rumahnya. Semoga orangnya mau keluar."
"Ya Pak. Maaf."
"Tidak apa-apa Bu Bella. Permisi."
Bella tersenyum ramah sambil memperhatikan Pak RT yang keluar pekarangannya menuju rumah Nathan. Entah kenapa Bella melakukan itu. Seharusnya dia masuk jika memang tidak ingin bertemu Nathan hingga harus mengingat kesalahan konyol di masa lalu.
Dari tempatnya berdiri, Bella melihat pintu Nathan terbuka. Keduanya berbincang sejenak kemudian Pak RT kembali dengan kertas putih di tangan.
Masih saja Bella tidak beranjak sampai Nathan mengetahui kehadirannya tepat di saat motor butut Pak RT pergi.
"Kamu menerima pesan ku?" Teriak Nathan tersenyum simpul seraya mengedipkan sebelah matanya. Tangan kanannya melambai kemudian memberikan ciuman dari jauh.
Bella tidak merespon, cepat-cepat dia masuk dan menutup pintu serta menguncinya.
"Huft." Eluh Bella membuang nafas kasar. Kenyataannya yang terlihat indah. Sosok yang ingin di hindari memiliki bentuk fisik lebih sempurna.
Bella menyadari itu sejak dulu. Nathan memang tampan bahkan dia kerapkali memperhatikan dalam diam. Meski dalam pekerjaan di haruskan memakai kemeja, tapi cara berpakaian Nathan dulu cenderung tidak rapi. Namun siapa sangka, karena penampilannya itu menambah poin dalam penilaian Bella. Menurutnya, lelaki bergaya acak-acakan lebih terlihat menarik.
Satu fakta mengejutkan yang sampai saat ini tersimpan. Bella suka di perjuangkan. Sementara Nathan tidak melakukan apapun setelah kesalahan konyol di masa lalu. Padahal Bella berharap Nathan tidak berhenti mengejarnya meski saat itu dia menunjukkan sikap untuk setia pada satu nama.
"Untuk apa dia bersikap begitu? Kata temannya dia pergi ke luar negeri? Kenapa malah kembali lagi?"
Setelah perasaan Bella membaik, dia menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Bersamaan dengan itu, hujan terlihat turun. Bella sempat menghentikan langkahnya sambil memastikan jendela dan pintu terkunci.
Sudah aman. Setelah ini menonton film dan makan malam dengan mie instan.
Bella membuka pintu kamar lalu masuk. Ketika dia menutup pintu, alangkah terkejutnya Bella saat melihat Nathan sudah berdiri di samping pintu. Dia hanya mampu terdiam ketika kunci pintu di ambil.
"Suasana di luar mendukung kita." Sapa Nathan tersenyum simpul. Terlihat sangat tampan, begitulah pendapat Bella.
"Ka kau!!!" Menunjuk ke arah Nathan." Keluar!!!" Imbuhnya memasang wajah panik.
"Suami mu tidak ada. Biar ku temani malam ini." Dengan gilanya Nathan langsung menghimpit tubuh Bella tanpa peduli pada statusnya.
"Ti tidak! Lepas!!"
"Kau harus merasakan betapa tanggung nya aku. Lelaki itu tidak ada apa-apanya. Aku akan memuaskan mu sampai kau memilih aku dan meninggalkan lelaki itu." Bella tidak mampu bergerak. Tubuh kekar Nathan menempel tanpa celah.
"Aku minta maaf untuk masa lalu."
"Nyatanya perasaan itu terbawa sampai sekarang. Sudah ku katakan, kau harus bertanggung jawab."
"Apa salahnya setia! Aku hanya ingin jujur pada pasangan ku. Lepas! Ku mohon!"
"Tidak ada yang salah jika aku lelaki yang ingin kau pertahankan! Kau tahu! Aku berusaha merebut mu karena ingin memenangkan tantangan. Sungguh aku tidak menyangka kalau perbuatan ku itu malah membuat otakku terobsesi padamu! Mana ada wanita sebodoh dirimu!"
"Aku memang bodoh! Lepaskan Mas! Aku Istri orang!"
"Persetan! Kau harus jadi milikku! Akan ku hancurkan hubungan pernikahan mu! Mari kita nikmati malam ini Baby. Setelah kau tahu bagaimana rasanya, aku pastikan kau bertekuk lutut di hadapan ku. Kau akan terus memikirkan aku dan hanya aku!!"
Nathan meraih tengkuk Bella dan melummat nya kasar. Walaupun suara Nathan terdengar buruk. Namun sikapnya ketika bercinta sungguh melenakan.
Belaian tangan kekarnya terkontrol, lembut dan mampu merangsang lawan mainnya.
Sekeras apapun Bella melawan dan berteriak. Nathan tidak berhenti dan terus saja merangsang. Hujan di luar yang semakin lebat, membuat Bella sadar jika suaranya tidak akan terdengar dari luar.
Dalam beberapa menit, Nathan mampu menundukkan Bella yang tadinya melawan menjadi menikmati. Nafasnya mulai memburu tatkala tangannya mengusap tubuh berotot di hadapannya.
Ini berdosa tapi..
Tubuh Bella di angkat lalu di hempaskan ke ranjang. Nathan tersenyum simpul, melucuti pakaian Bella juga pakaian miliknya.
"Jangan, ku mohon." Pinta Bella merasa takut meski dirinya sangat menikmati.
"Apa Baby? Telingaku mendadak tuli. Aku hanya bisa mendengar dessahan mu setelah ini."
Nathan memasukkan cacing berotot miliknya yang sudah terpasang pengaman. Dengan brutal dia menggerakkannya sampai ranjang mengeluarkan decitan.
Awalnya Bella berusaha menahan dessahan. Dia tidak ingin Nathan tahu jika ternyata dia menikmatinya. Namun hantaman cacing berotot milik Nathan terasa memuaskan.
Dessahan seketika lolos. Dosa tidak lagi Bella fikirkan. Nathan begitu tangguh, bukan hanya soal durasi tapi ukuran cacing miliknya lebih besar daripada Leo.
Malam itu, Bella tenggelam dalam dosa yang terasa begitu manis. Sosok Nathan mampu mengembalikan gairahnya yang sempat menghilang.
🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Neng Ipeh
next
2023-08-30
0
Putri Cikal
balasan buat si leo
2023-07-20
0
Yunita Indriani
duh Nathan gelo
2023-02-19
3