Ada adegan sensitif! Harap di skip tanpa meninggalkan jejak komentar 🥰
Sambil menghela nafas panjang, Bella meletakkan makanan pemberian Nathan di atas meja. Bu Rita memperhatikan dari tempat duduknya. Terdengar decakan keluar dari bibir. Merasa kecewa pada Bella yang sampai saat ini tidak bisa memberikan keturunan.
"Mama menginap?" Tanya Bella basa-basi. Dia duduk di samping Bu Rita.
"Tidak. Mama hanya mampir sebentar." Jawabnya ketus.
"Mama tahu kalau Mas Leo pergi?"
"Ya jelas Mama tahu. Memangnya dia pamit sama kamu saja." Lagi lagi Jawaban tidak sedap nan ketus kembali terdengar.
Beberapa menit kemudian. Tidak ada obrolan, hanya suara televisi saja yang terdengar menggema.
"Maaf Ma."
"Maaf untuk apa?"
"Tolong bilang pada Mas Leo agar menyewakan tempat untuk Lisa. Dia sudah dewasa dan tidak baik juga kalau terus tinggal di sini." Bu Rita memalingkan wajahnya sambil memasang wajah masam.
"Cemburu lagi?" Bella tidak bergeming. Selama ini kecemburuannya selalu menjadi bahan ledekan. Keluarga Leo menganggap jika itu berlebihan." Lisa itu tanggung jawabnya Leo. Beruntung Suami mu tidak di penjara karena insiden itu." Imbuhnya membela.
"Mama berkata begitu karena tidak tahu bagaimana kelakuan mereka."
"Mama tahu. Itu wajar. Leo kan menganggap Lisa anaknya sendiri."
"Lisa tetap orang lain Ma. Dia juga sudah dewasa dan bisa menjaga diri sendiri. Tidak perlu bermanja-manja seperti itu." Kerapkali Bella di pertontonkan sikap manja Lisa yang di rasa tidak wajar.
"Memang kolot pemikiran mu. Itu kenapa kamu belum juga punya anak." Bella menghembuskan nafas berat. Pernikahan yang terjalin bertahun-tahun belum di karuniai momongan. Entah siapa yang bermasalah, sebab Leo selalu menolak ketika Bella mengajaknya konsultasi ke dokter kandungan." Sudah ya. Mama mau tidur sebentar. Nanti sore Mama pulang. Awas. Jangan sembarangan menerima tamu lelaki seperti tadi. Itu tidak baik, Suamimu kan tidak ada." Bella mengangguk patuh, menatap kepergian Bu Rita yang sudah menghilang di balik pintu kamar tamu.
"Selalu saja aku yang di salahkan." Eluh Bella menyandarkan punggungnya ke sofa. Ketika dia menyadari bungkusan pemberian Nathan, cepat-cepat dia duduk tegak dan berniat memeriksa.
Di dalam bungkusan terdapat kotak kue brownies dan sebuah amplop berwarna biru. Bella meletakkan kotak kue lalu mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop.
Persiapkan diri mu.
Dari. Nathan.
Bella mengerutkan keningnya lalu menyobek secarik kertas menjadi potongan-potongan kecil. Isi dari pesan Nathan terlihat tidak wajar dan terasa seperti sebuah ancaman.
"Kenapa kita bisa bertemu lagi. Jujur saja aku malu dengan perbuatan ku dulu. Bagaimana mungkin aku salah mengirimkan pesan dan berakhir seperti itu."
Eluh Bella mengingat kebodohan di masa lalu yang tanpa sadar menjadi awal tumbuhnya obsesi pada otak Nathan. Kini rasa itu semakin membesar. Memaksa Nathan untuk senantiasa memikirkannya dan mencari keberadaannya.
🌹🌹🌹
Sementara di tempat lain, tepat nya di sebuah Villa. Mobil Leo baru saja terparkir di halaman. Sebuah pemandangan cukup mencengangkan sebab Leo keluar dari dalam mobil bersama Lisa.
Selama ini kecemburuan Bella bukan sekedar omong kosong. Lisa memang mencoba merayu Leo, Ayah angkatnya. Itu kenapa dia selalu bersikap manja dan menginginkan perhatian Leo sepenuhnya.
Sungguh miris. Lisa mewarisi sifat Almarhum Ibunya yang hobi merebut pasangan wanita lain. Dia menjadi janda akibat ulahnya sendiri yang tidak bisa setia dengan satu lelaki.
"Serius Pa. Ini Villa untuk ku?"
"Hm iya sayang. Kamu bisa menempatinya ketika sudah menikah nanti."
Leo belum juga sadar jika perhatian yang di berikan untuk Lisa sudah di salah artikan. Sesuai tebakan, Lisa berusaha menghancurkan biduk rumah tangga Leo bersama Bella.
"Aku hanya akan menikah dengan mu Pa." Jawabnya manja. Leo menganggapnya sebagai candaan.
"Iya." Jawab Leo asal.
"Hm aku sudah siap sekarang." Leo menoleh ke arah Lisa.
"Siap untuk apa?"
"Menjadi Istri muda mu Pa." Leo terkekeh seraya membuka pintu Villa. Kini keduanya berada di dalam tepatnya di ruang tamu." Umurku sudah 19 tahun." Imbuh Lisa lagi.
"Kamu akan menemukan lelaki baik suatu hari nanti."
"Tidak Pa. Aku ingin kamu." Lisa mulai melancarkan aksinya dengan merapatkan tubuh. Kedua tangannya menuntun tangan Leo agar melingkar ke pinggang.
"Papa tidak akan mengabaikan mu walaupun nantinya kamu menikah." Tentu tubuh Leo memanas ketika Lisa semakin merapatkan tubuhnya lagi dan lagi. Kepalanya bahkan di sandarkan tepat di leher Leo. Menghembuskan nafas berat seakan dirinya menahan hasrat." Ka kamu sedang apa?" Tanya Leo terbata. Ingin menolak tapi terlalu menyenangkan. Tubuh belia di hadapannya berhasil mengobrak-abrik kewarasannya. Cacing berotot milik Leo sudah mengeras saat hidung nakalnya mencium wewangian khas dari tubuh Lisa.
Obyek obsesi yang kerapkali Leo pakai untuk memuaskan kebutuhan hasratnya. Alasan dia kehilangan rasa pada Bella yang kini terlihat semakin buruk dalam pengelihatannya. Leo sering berfantasi liar tentang Lisa. Membuatnya kerapkali menonton video panas yang tersebar di internet dan membayangkan jika Lisa dan dia adalah pemerannya.
"Aku menyukaimu sejak awal Pa." Nafas Leo terbuang kasar di sertai nafas mulai memburu.
"Papa sudah terlalu tua untuk mu. Lebih layak di panggil Om." Dengan gemetaran, tangan Leo membelai punggung Lisa naik turun bahkan sesekali menekannya. Ah.. Aku ingin memasuki nya.
"Hanya terpaut puluhan tahun Pa."
"Ka kamu serius sayang." Tanya Leo terbata. Kontrol pada otaknya sudah melemah dan terkontaminasi oleh naffsu.
"Aku serius." Lisa mengangkat kepalanya lalu memandangi wajah Leo sambil terus menerus merapatkan tubuhnya. Tangannya juga tidak berhenti mengisyaratkan jemari Leo untuk membelai nya.
"Ini tidak boleh sayang. Masa depanmu masih panjang." Meski berkata demikian, namun nyatanya Leo semakin terbawa arus hasrat yang kian memanas.
"Aku rela memberikan itu untuk Papa." Lisa menempelkan bibir ke dagu milik Leo. Memberikan kecupan lembut sebelum akhirnya bibir keduanya menempel, saling menghirup nafas kuat sampai hasrat semakin tidak tertahankan.
Leo melahap bibir mungil itu, mellumat nya dengan nafas memburu. Lisa mengeluarkan keahliannya. Dia merespon sentuhan Leo. Sengaja meremas rambut tebal Leo agar permainan semakin memanas.
Kini baju keduanya sudah tergeletak di lantai. Koper bahkan masih berada di depan pintu namun pemiliknya sudah lebih dulu memenuhi naffsu.
Rintihan bahkan erangan terdengar menggema. Leo semakin bergerak cepat tatkala dia melihat darah keluar dari area sensitif Lisa. Menandakan jika segel berhasil dia dapatkan. Rasanya sangat bangga sampai-sampai Leo semakin menginginkan gadis yang sedang menddesah di bawahnya.
"Jangan langsung mengatakan nya. Mama mu belum siap. Sebaiknya kita rahasiakan dulu." Ada sedikit sesal terbesit sebab hari ini Leo menodai kesetiannya pada pernikahannya bersama Bella.
"Sampai kapan Pa? Kalau kita menikah, otomatis Mama tidak akan melarang ku berdekatan dengan Papa." Rajuk Lisa dengan suara manja.
"Semua butuh waktu sayang. Jangan gegabah."
"Padahal aku sudah rela memberikan segel ku." Enak saja! Papa harus menikahi ku besok.
"Iya Papa tahu."
"Kita menikah besok ya Pa."
"Mana mungkin sayang."
"Ayolah Pa. Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada Mama." Staminanya payah. Dia hanya bertahan beberapa menit. Tapi Papa sangat kaya. Aku harus bisa menguasai hatinya agar hartanya bisa jatuh ke tangan ku.
"Akan Papa fikirkan."
Hanya berselang beberapa menit, Leo terdengar sudah mendengkur. Lisa beranjak duduk lalu mengenakan dress nya sembarangan.
Terang saja Mama tidak bisa hamil.
Lisa menatap cacing berotot milik Leo yang sudah layu. Ada dessahan lembut sebelum akhirnya dia memilih duduk untuk menunggu Leo bangun.
🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Putri Cikal
haha mampus nanti di hianati sama lisa dan bella
2023-07-20
0
Yunita Indriani
Leo yg bermasalah si ini.
2023-02-19
2