Pagi itu Bella mengintip dari balik korden. Terlihat rumah Nathan sepi, mobil yang terparkir bahkan tidak tampak ada.
Semalam, Nathan pergi tanpa berkata sepatah katapun setelah Bella menyingung nama Ibu. Tidak adanya penjelasan tentu membuat Bella merasa bingung meski perasaannya sedikit lega.
Biarkan saja Bella. Untuk apa kamu fikirkan? Jika dia merasa tersinggung bukankah itu baik untukmu.
Bella menghela nafas panjang lalu kembali menutup korden. Jendela kamar terlihat masih rusak. Dia tidak tahu menahu soal kontak tukang kayu sehingga Bella memutuskan menunggu Leo untuk memperbaikinya.
"Apa Mas Leo tidak jadi pulang?" Eluh Bella berjalan keluar kamar menuju dapur. Dia hendak membuat mie instan dan masih tidak bernaffsu menyentuh masakan pemberian Bu Rita.
Baru saja Bella akan memasak air, suara mobil Leo terdengar. Dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk menyambut kedatangan Leo.
Semoga aku salah.
Terbesit ketakutan saat Bella hendak membuka pintu. Dia takut kekhawatiran menjadi kenyataan saat melihat Leo yang mungkin pulang bersama Lisa.
Ku mohon jangan.
Bella berusaha tersenyum namun rasanya sulit. Dia masih merasa kesal pada Leo semenjak teleponnya di abaikan semalam.
Syukurlah. Lisa tidak ada.
"Lisa sudah pulang?" Tanya Leo basa-basi padahal Lisa sengaja di turunkan ke rumah Bu Rita.
Untuk menghapus kecurigaan. Leo menyambut uluran tangan Bella bahkan memberikan kecupan singkat pada dahi.
"Belum Mas. Em mungkin langsung berangkat kuliah." Dengan cekatan Bella mengambil koper dari tangan Leo.
"Begitu?" Leo bernafas lega karena kebohongannya bisa di tutupi dengan sempurna.
"Kamu libur?"
"Tidak. Aku harus berkerja. Kamu siapkan jas hitamnya ya. Ada pertemuan penting pagi ini."
"Ya Mas baik. Aku letakkan pakaian kotornya dulu."
"Hm." Leo berjalan masuk meninggalkan Bella yang mematung sambil menatapnya.
Dia tidak berkata rindu padaku padahal sudah dua hari tidak bertemu.
Dengan gerakan malas Bella menutup pintu lalu menyeret koper ke belakang. Dia mengambil satu persatu baju kotor dan meletakkannya di keranjang untuk di cuci nanti.
Namun alangkah terkejutnya Bella ketika melihat sebuah celana dallam milik Lisa terselip. Nafas Bella seakan berhenti. Tangannya terlihat bergetar ketika memungut nya.
Aku yakin ini milik Lisa.
Bella mengenal semua baju kepunyaan Lisa sebab dia sering mencucinya. Bukan atas dasar kerelaan, namun Leo memintanya untuk sekalian mencuci baju milik Lisa agar listrik bisa lebih hemat.
Aku ingin tahu alasan apa lagi yang di lontarkan!!
Tanpa rasa jijik Bella membawanya lalu berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar utama. Dia masuk dan melempar celana dallam ke wajah Leo yang tengah menelfon.
"Apa ini?" Tanya Bella dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya terlihat bergetar sebab hantaman kuat tengah berkecamuk di hatinya.
Cepat-cepat Leo mengakhiri panggilan dan melihat celana dallam berwarna merah tergeletak di lantai.
Kenapa bisa teledor?
Leo tidak tahu jika Lisa sengaja melakukannya agar hubungan mereka cepat di akui. Tujuannya tidak lain ingin menjadi Nyonya Leo satu-satunya.
"Itu.." Plaaaaaakkkkkk!!! Seketika Leo mendengus ketika Bella melayangkan tamparan yang langsung di balas kontan sampai tubuh Bella terlempar ke samping." Kau selalu tidak mendengar penjelasan ku!!" Teriak Leo geram.
"penjelasan apa lagi? Katakan!" Panas pada pipi tidak lagi Bella rasakan. Hatinya lebih terasa sakit sehingga dengan cepat, dia kembali berdiri tegak.
"Kau yang salah. Celana itu terselip di koper. Aku sendiri tidak tahu kenapa ada di sana." Bella tersenyum simpul. Dia tidak bodoh sebab yakin jika celana dallam sudah terpakai. Sangat tidak mungkin Bella meletakkan celana kotor di selah tumpukan baju.
"Apa kamu menurunkan Lisa ke rumah Mama agar aku tidak curiga?"
"Kau bilang apa?"
"Setiap weekend kalian pergi berdua. Untuk apa? Untuk mempererat hubungan antara Ayah angkat dan Anaknya?! Bagus sekali." Leo menegakkan pandangannya, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
"Jangan membuat ku marah Bella! Aku lelah bekerja.."
"Terserah!!" Bella memotong ucapan Leo lalu berjalan menghampirinya." Pilih aku atau Lisa?! Jika kau tidak bisa memutuskan, biar aku yang pergi!!" Ancam Bella lantang. Dia membuka lemari dan mengambil tas besar miliknya.
"Dia anak angkat ku." Masih saja Leo melontarkan pembelaan meski dia tahu Bella tengah berderai air mata.
"Ku anggap itu pilihan mu!!" Leo menghela nafas panjang lalu merebut tas Bella dan melemparkannya sembarangan sampai baju berhamburan ke lantai.
"Kau tidak boleh pergi."
"Untuk apa Mas? Agar aku bisa melihat kalian mengumbar kemesraan. Jujur saja jika aku jijik melihat mu!!!" Bella mendorong kasar tubuh Leo.
"Kau memang tidak tahu terimakasih! Aku sudah membiayai pengobatan Ibu mu tapi kau malah bersikap seperti ini!! Pergilah jika kau ingin Ibumu mati!!! Apa menurutmu dia tidak bersedih saat mendengar pertengkaran kita." Bella duduk lemah di sisi ranjang seraya menangis terisak. Dia tidak percaya dengan apa yang di dengar.
Leo mulai berani mengancam padahal dia sendiri yang berjanji akan menanggung biaya obat-obatan. Leo ingin Bella senantiasa berada di rumah sementara dirinya mencari nafkah sehingga kala itu Bella memutuskan keluar dari perkerjaannya.
Janji yang terasa manis namun kini berubah getir. Leo seakan merasa keberatan untuk menyisihkan gajinya agar pengobatan Ibu Bella tidak terhenti.
"Carikan asrama untuk Lisa." Pinta Bella pelan.
"Pulang saja kalau kau bersikukuh." Ancam Leo lagi. Dia tahu serangan jantung bisa melenyapkan nyawa Ibu Bella.
"Tega kamu Mas." Leo menghela nafas panjang sambil memilah-milah kemeja. Dia berniat pergi langsung tanpa membersihkan diri daripada harus berdebat. Sungguh Leo masih mengharapkan Bella tetap tinggal walaupun kenyataannya dia mengkhianati pernikahannya.
"Memangnya aku melakukan apa? Semua fasilitas sudah ku berikan padamu termasuk rumah dan juga nafkah." Jawab Leo menyangkal.
"Rumah ini sudah seperti neraka! Kau paham bagaimana panasnya hatiku melihatmu bermanja-manja dengan Lisa!!"
"Aku harus pergi. Ada meeting pagi ini. Em kalau Lisa pulang. Tolong jangan mengumpat nya. Ini masalah rumah tangga kita, Lisa hanya anak-anak. Aku harap kamu mengerti dan bisa memposisikan kemarahan." Dengan gerakan canggung Leo mencium puncak kepala Bella lalu melangkah keluar kamar. Terbesit rasa sesal akan penghianatan yang terlanjur di lakukan.
Tentu saja tangis Bella pecah ketika sadar tidak di berikan pilihan. Apa yang di pertontonkan semata-mata ingin menggertak, tapi rupanya Leo malah menambahkan kesakitan.
Dia bahkan tidak meminta maaf.
Bella menyentuh pipinya yang mungkin memar. Dia berdiri dan berjalan menuju kaca rias. Warna merah terlihat menghiasi pipi kanannya. Sungguh ingin rasanya dia pulang ke rumah kedua orang tuanya. Namun penyakit jantung Ibunya tentu tidak akan mampu menerima kenyataan. Meski kata perpisahan belum terucap. Bella merasa jika pernikahannya tengah berada di ujung tanduk.
🌹🌹🌹
Ternyata Nathan berkunjung di pemakaman. Dia mengucapkan kata maaf di depan pusaran Ibu kandungnya paska kejadian semalam.
Nathan merasa menyesal sudah memaksakan kehendak dengan cara ekstrim. Seharusnya dia memikirkan cara lain untuk membalas dendam pada Bella tanpa merendahkannya.
"Maaf Ma. Aku terlalu bernaffsu sampai-sampai melupakan pesan mu. Hari ini aku berjanji tidak akan melakukannya lagi kecuali dia yang memintanya."
Mimik wajah Nathan terlihat penuh sesal. Ibunya merupakan orang yang paling di hormati juga di sayangi. Sudah bisa di pastikan jika wanita yang bersama sang Ayah adalah Ibu tiri sehingga Nathan merasa tidak nyaman tinggal di rumah dan memilih hidup sendiri.
"Tapi wanita itu benar-benar bodoh Ma. Aku jauh lebih baik daripada lelaki pilihannya. Itu yang membuat ku kesal." Nathan menaburkan bunga lalu berdiri. Dia sempat mengusap nisan Ibunya sebelum berjalan pergi.
Drrrrtt.. Drrrrtt.. Drrrrtt..
📞📞📞
"Maaf Pak. Em acara sebentar lagi akan di mulai.
"Setengah jam lagi aku sampai.
"Oh baiklah Pak.
📞📞📞
"Asal tidak merendahkan. Berbuat curang sedikit mungkin tidak ada salahnya." Nathan tersenyum simpul lalu masuk ke dalam mobil. Dia berniat menghadiri pertemuan untuk pertama kali di perusahaan pusat.
Bisma ingin memperkenalkan Nathan sebagai penerusnya agar segala urusan perusahaan di handle Nathan sendiri.
"Buuuum!!! Sebentar lagi kalian akan tahu siapa aku sebenarnya. Terutama kau Leo." Nathan melajukan mobilnya sambil tersenyum simpul seakan merasa sangat bahagia.
🌹🌹🌹
Minta dukungannya ya teman-teman. Jangan lupa meninggalkan ulasan 🥰 Terimakasih ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Yunita Indriani
klw boleh ngarep up nya jng 1 dong kak, lebihin kek 2,3 gitu
2023-02-21
2
Wiwin Vivo
di tunggu lanjutannya kakak semangat up nya jangan lama lama
2023-02-20
1
Yani Yani
Semangat thor aku setia menanti lanjutannya💪💐💐👍👍👍💓
2023-02-20
1