Bella melakukan aktivitas seperti biasa. Membersihkan rumah dan mencuci baju kotor. Tapi ada yang berbeda hari ini, setiap kali lebam pada pipi terasa, air mata terlihat lolos meski mencoba di tahan.
Pernikahan yang masih berjalan dua tahun, tengah terombang-ambing badai hidup. Terbesit pertanyaan di hati akan kenyataan yang di rasakan. Apa umur pernikahan berakhir singkat atau semua kesakitan hanya untuk menguatkan hubungan? Entahlah. Yang pasti tamparan Leo tidak hanya membekas di pipi tapi hatinya.
"Seharusnya aku bisa banyak bersantai mengingat gaji Mas Leo sangatlah besar." Eluh Bella sambil mengangkat keranjang kotor yang tadinya penuh pakaian. Dia sempat menoleh ke celana dallam Lisa sebelum akhirnya masuk." Haus sekali. Rasanya lemas." Setelah meletakkan keranjang, Bella berjalan menuju meja makan lalu menuang air putih dan meneguknya satu kali nafas. Hati yang sedang tidak baik-baik saja membuat tenaganya cepat terkuras.
Tok.. Tok.. Tok...
Bella menoleh cepat. Mimik wajahnya berubah tegang ketika fikirannya kembali tertuju pada Nathan. Dia takut jika Nathan berkunjung sembarangan.
Tidak mungkin. Aku yakin dia tersinggung dengan perkataan ku semalam.
Bella beranjak dari tempatnya dan berjalan ke depan. Sebelum membuka, dia mengintip dari jendela samping.
Lisa?
Tarikan nafas panjang berhembus. Rasanya sangat malas melihat sosok itu. Ingin rasanya Bella tidak membuka pintu tapi dia sadar jika perbuatannya nanti akan menjadi masalah besar.
Cklek..
"Aku tadi langsung kuliah Ma." Masih saja Lisa memasang wajah sok manis.
"Hm." Bella berniat pergi.
"Tunggu Ma. Em baju kotor ku." Menunjuk ke tas besar di samping kakinya.
"Urus sendiri. Aku bukan pembantu mu apalagi Mama mu." Lisa tersenyum simpul.
"Bagaimana kalau Papa tahu? Dia sendiri yang tidak memperbolehkan ku mencuci baju. Papa menyuruh ku fokus kuliah." Bella tersenyum lalu berbalik badan. Menatap Lisa yang memiliki postur tubuh lebih tinggi darinya.
"Ada laundry. Kau bisa membawa baju itu ke sana."
"Kurang bersih. Tidak seperti cucian Mama." Lisa tersenyum penuh hinaan.
"Aku tidak perduli. Urus sendiri baju milik mu."
"Bagaimana kalau Nenek tahu." Raut wajah Bella seketika berubah ketika Lisa menyebut nama Bu Rita." Mama boros dan menghamburkan uang Papa. Dia tentu akan marah." Bella menghembuskan nafas berat. Ingin meredakan emosi agar masalah tidak menjadi runyam.
"Aku baru selesai mencuci. Sebaiknya kau bawa masuk. Besok akan ku cuci." Terpaksa Bella menjawabnya begitu. Daftar kelakuan buruk akan bertambah jika dia berusaha memaksakan kehendaknya.
"Aku lelah Ma. Bawa sendiri." Lisa menendang sedikit tas di kakinya lalu berjalan melewati Bella yang masih berdiri mematung.
Lisa berubah menyebalkan ketika Leo tidak berada di rumah. Pekerjaannya hanya menatap laptop sambil sesekali menelfon teman-temannya. Bella pernah berprotes, tapi tentu saja Leo melontarkan pembelaan dan malah menyudutkannya.
"Sudahlah." Braaaakkkkk!!! Bella menutup kasar pintu sambil membawa tas berisi baju kotor dan meletakkannya ke atas keranjang. Langkahnya terhenti ketika dia melihat Lisa masuk dapur.
"Aku lapar Ma."
"Ada makanan di kulkas. Tinggal di panaskan." Jawab Bella ketus.
"Aku mau masakan yang fresh. Tolong belikan ya Ma." Meski nada bicara Lisa terdengar lembut namun Bella merasa jika Lisa sengaja memperlakukannya selayaknya pembantu.
"Nenek mu akan marah kalau makanannya di buang."
"Ya mau bagaimana lagi. Tolong belikan ayam krispi di depan gang ya Ma. Aku tunggu di ruang tamu. Banyak tugas yang harus ku selesaikan." Lisa tersenyum simpul kemudian keluar dapur duduk manis di ruang tamu.
"Terserah jika tidak di makan. Aku juga malas menyentuh makanan itu." Bella berusaha melapangkan hati. Dia membuka laci dan mengambil satu lembar uang seratus. Bella berniat keluar untuk membeli makanan untuk Lisa juga dirinya.
Baru saja dia mengeluarkan motor, terlihat mobil Nathan terparkir di garasi. Bella mencoba acuh dengan tidak memperhatikan apalagi melirik.
Aku fikir sudah pindah rumah. Aku harap dia waras setelah kemarin.
Bella berusaha menghidupkan mesin motornya namun gagal. Tidak biasanya motor miliknya bermasalah sebab Bella merawatnya dengan baik. Servis setiap tiga bulan sekali dan mengganti oli.
"Perlu bantuan?" Teriak Nathan dari depan pintu pagarnya. Bella Berpura-pura tidak mendengar sambil melirik ke arah Lisa yang tengah menatap lurus ke arah Nathan.
Wah? Siapa lelaki ini? Apa dia tetangga baru?
"Kenapa Ma." Tanya Lisa basa-basi. Padahal dia keluar karena merasa penasaran dengan sosok Nathan.
"Sayangnya aku tidak tahu." Jawab Bella ketus.
"Oh." Lisa tersenyum ketika melihat Nathan berjalan mendekat sementara Bella merasa was-was. Dia takut jika Nathan menceritakan soal hubungan mereka pada Lisa.
"Biar ku periksa." Tanya Nathan tidak juga menyerah. Dia tidak menyadari keanehan yang terjadi padanya semenjak percintaan panas di lakukan. Biasanya mata Nathan selalu jeli ketika ada sosok indah di sekitarnya. Namun kehadiran Lisa di sana, seakan tidak membuatnya tertarik.
"Tidak. Terimakasih." Tolak Bella sambil memarkir motornya kembali. Nathan memicingkan matanya ketika melihat memar pada pipi kiri Bella.
Apa dia terjatuh atau? Aku harus bersikap sok baik agar Bella tertarik padaku.
"Tolong bawa masuk kuncinya." Bella memberikan kunci motor pada Lisa tanpa melirik ke arah Nathan sedikitpun. Sungguh dia merasa terancam apalagi Nathan sudah menunjukkan ketidakwarasanya sejak kemarin.
"Hm baik Ma."
"Mau ke mana?" Tanya Nathan lagi. Bella tidak menjawab dan langsung berjalan pergi. Wanita itu benar-benar!! Terbuat dari apa matanya sampai-sampai dia tidak menyadari ketampanan ku.
"Kakak yang tinggal di sana." Menunjuk ke arah rumah Nathan.
"Ya."
"Aku baru melihatmu. Oh mungkin karena aku pergi selama dua hari."
"Begitu."
"Aku Lisa. Anak angkat Papa Leo dan Mama Bella."
"Nathan. Aku pergi dulu." Senyum Lisa seketika pudar ketika dengan jelas Nathan mengejar kepergian Bella. Perasaan iri kembali menyelimuti apalagi sosok Nathan memang terlihat lebih sempurna daripada Leo.
"Siapa sih?! Apa dia teman wanita itu! Awas saja! Ku adukan pada Papa." Lisa berlari kecil ke arah pintu pagar lalu merekam kegiatan Nathan yang terlihat tengah berjalan beriringan bersama Bella.
.
.
.
"Kenapa sih? Kau benci sekali padaku." Tanya Nathan sambil mengekor tanpa perduli pada sikap acuh Bella.
"Menurut mu kenapa?!! Lebih baik kau pulang! Jangan membuat masalah!!"
"Kalau saja kau menjawab pertanyaan ku sejak tadi. Mungkin aku sudah berada di rumah." Nathan sama sekali tidak perduli pada pandangan publik terhadapnya. Obsesi pada Bella memutus urat malunya.
"Membeli makan."
"Oh."
"Pulanglah?!! Aku tidak ingin menjadi gosip."
"Tidak. Aku juga lapar." Bella mendengus. Sejak tadi dia bertahan untuk tidak menatap ke arah Nathan." Aku tidak akan mempermalukan mu. Aku anggap kejadian malam itu tidak terjadi." Sontak Bella menoleh cepat. Dia beranggapan jika Nathan ingin melupakan kesalahan masa lalu. Langkahnya terhenti, begitupun Nathan. Sehingga keduanya berdiri saling berhadapan.
"Jadi? Kamu memaafkan ku." Tanya Bella memastikan.
"Hehe bukan begitu. Aku tetap akan merusak pernikahan mu dengan cara lain."
"Itu sama saja." Eluh Bella melirik malas.
"Tidak sama. Em ku rasa aku menyukai mu." Deg!! Terjadi gejolak aneh pada hati Bella. Ada rasa senang ketika Nathan melontarkan ucapan tersebut walaupun dirinya sadar tidak pantas. Setelah kalian bercerai. Perasaan ku akan membaik dan setelah itu, kau akan tahu jika ini semua kulakukan hanya untuk pembuktian.
🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Yunita Indriani
ya ampun Nathan Uda kaya obsesi gitu kamu, baek² kejebak SM obsesi mu sendiri nanti.
pengen bngt Jambak si Lisa,
2023-02-22
1
Wiwin Vivo
di tunggu lanjutannya kakak
2023-02-21
1
Yani Yani
Lanjuut... Bikin penasaran😁😁
2023-02-21
1