Nathan tersungging ketika dengan jelas teropong miliknya menunjukkan adegan panas antara Leo dan Lisa. Sungguh keberuntungan baginya sebab dia memiliki alasan untuk membuat Bella bercerai.
Sementara yang terjadi dengan Bella malah berbanding terbalik. Bella hanya duduk memantung sambil sesenggukan. Ada perasaan kesal pada Nathan. Sebab akibat ulahnya, Bu Rita dan Leo semakin menilainya buruk. Apalagi sebuah tamparan sempat di tujukan ke muka umum, membuat Bella semakin di hatam rasa geram pada Nathan.
Mungkin dia sekarang sudah puas dan tertawa bahagia. Sebaiknya aku pulang saja.
Baru saja Bella beranjak, pintu kamarnya terbuka. Bu Rita menerobos masuk sambil memasang wajah masam.
"Kamu sudah mencoreng kotoran pada Leo dan Mama. Sebaiknya untuk sementara waktu kau tidak keluar rumah untuk menghindari gosip." Pinta Bu Rita kasar.
"Mama dan keluarga masih terjaga kehormatannya. Yang tercoreng nama baiknya adalah saya." Menepuk-nepuk dadanya.
"Oh. Kau bersalah tapi berdalih menjadi korban."
"Saya memang korban Ma." Jawab Bella tegas dengan suara meninggi. Dia merasa muak atas sikap Bu Rita yang di rasa selalu memojokkannya.
"Kau berselingkuh Bella!!" Sebaiknya ku sibukkan dia. Agar kebersamaan Leo tidak terganggu. Mereka pasti sedang membuatkan cucu untuk ku.
"Tidak Ma. Saya tidak berselingkuh! Tapi jika Mas Leo ingin berpisah, ya sudah terserah. Saya tidak mau merendahkan diri untuk memohon. Saya akan pulang ke rumah." Bella menurunkan tas besar. Segera saja Bu Rita merebut tas tersebut dari tangannya.
"Beruntung Leo masih mempertahankan mu."
"Saya tidak merasakan keberuntungan apapun. Sejatinya saya muak berada di sini! Setiap hari anak tercinta Mama selalu mempertontonkan perbuatan yang tidak pantas! Sementara saya yang jelas-jelas tidak berbuat apapun, malah di kambing hitamkan!"
Bu Rita menghela nafas panjang. Perbuatan yang di lakukan Lisa atas persetujuan darinya. Leo tidak tahu menahu soal hal itu. Ketertarikan memang terbangun alami sebab paras Lisa memang sangatlah cantik.
Bagaimana mungkin Leo tidak tergoda kalau Lisa kerapkali menggodanya dengan sentuhan lembut juga suara manja nan mendayu-dayu.
"Oh baik. Akan ku telfon Mama mu dan menjelaskan semuanya." Bu Rita mengambil ponsel dari tasnya dan hendak menelfon.
Tentu saja Bella langsung frustasi di buatnya. Dia ingin pulang tanpa membawa kabar buruk dan membuat sang Ibu merenggang nyawa karena kaget.
"Jangan Ma. Hiks, saya mohon jangan libatkan orang tua saya atas ini." Pinta Bella pelan. Dia tidak berkutik ketika Leo dan Bu Rita mengancam mengunakan alasan kedua orang tuanya.
"Mangkanya nurut. Anak ku sudah baik memberikan hidup layak tapi kau tidak tahu diri!!" Bella kembali terisak seraya menundukkan wajahnya. Sesekali tangannya mengusap air mata yang jatuh." Tetap di kamar. Awas saja jika kau keluar kamar apalagi keluar rumah. Dasar!!" Bu Rita melemparkan tas ke arah Bella lalu mencabut kunci yang tergantung. Dengan tega dia mengurung Bella hanya untuk menutupi kebohongan.
Bella sendiri kembali tidak mampu melawan. Dia mengembalikan tas ke tempatnya lalu duduk lemah di sisi ranjang.
🌹🌹🌹
"Untuk apa Tuan?" Tanya Eldar ketika Nathan menyuruhnya mencari informasi soal hubungan Lisa dan Leo.
"Agar mereka bercerai, apalagi? Pokoknya aku tidak mau kalah taruhan. Aku tidak mau mereka mengolok-olok ku apalagi aku Bos besar di sini." Eldar menghela nafas panjang. Perintah Nathan menurutnya tidaklah penting. Dia masih berharap Nathan sadar akan perbuatannya dan berhenti.
"Anda yakin Tuan?"
"Maksud dari pertanyaan mu itu apa?!"
"Menurut saya, Tuan tertarik pada Nona Isabella. Akan lebih baik Tuan memberikan kejelasan seperti mengikat dengan pernikahan?" Tanya Eldar menimbang. Dia merasa iba pada Bella. Kesan pada sosok itu sangatlah kental dengan kebaikan meski sikap acuh mencoba di tunjukkan.
Bella tidak seperti sebagian wanita yang selalu menjual murah harga diri. Sikap acuh yang di tunjukkan Bella semata-mata ingin melindungi harga dirinya dari para lelaki yang berusaha merendahkan.
Ketika Bella berbincang dengan Eldar atau atasan yang lain. Bella bisa bersikap ramah dan sopan. Tidak ada kata acuh apalagi sombong sehingga Eldar merasa berat melakukan perintah Nathan yang di rasa gila.
"Setelah aku menang taruhan. Semuanya akan berjalan normal. Dia bisa melanjutkan hidup begitu pula aku. Dan lagi, bukankah perbuatan ku baik. Aku ingin menunjukkan bagaimana buruknya Suami tercintanya itu."
"Lebih baik menunggu dengan alami agar nantinya Tuan tidak menyesal."
Entah kenapa Eldar merasa jika kekesalan yang di tunjukkan Nathan bukan semata-mata karena dendam. Eldar melihat setitik ketertarikan di balik kekesalan juga dendam yang kini menyelimuti hati Nathan.
"Lakukan saja perintah ku! Jangan sok mengatur kamu!!" Jawab Nathan geram.
"Baik Tuan." Eldar berjalan ke arah jendela untuk menghubungi kontak seseorang. Kasihan Nona Isabella. Meski Pak Leo curang, tidak seharusnya Tuan ikut campur.
.
.
.
Singkat waktu. Nathan sengaja memulai meeting lebih awal. Dia ingin menjatuhkan Leo dengan caranya. Nathan yakin jika sekarang Leo masih menikmati percintaan panasnya. Hal tersebut di gunakan sebagai senjata agar Nathan bisa membalas perbuatan Leo tadi.
Tepat di saat meeting selesai, Leo terlihat baru saja masuk. Dia memasang wajah panik sambil berjalan perlahan ke arah Nathan dan Eldar. Sungguh sejatinya dia tidak ingin melakukannya. Leo masih kesal atas perbuatan Nathan.
"Kenapa sudah selesai Pak." Tanya Leo pelan. Cukup merasa bersalah meski terbesit rasa geram.
"Memangnya anggota meeting harus menunggu kedatangan mu! Memangnya kau siapa?!" Jawab Nathan menunjuk kasar ke wajah Leo. Berusaha menunjukkan pada semua orang jika Leo tidak sepadan dengan nya.
"Kata Pak Eldar, meeting di mulai..."
"Aku yang berhak menentukan bukan Eldar!!" Bara menghela nafas panjang begitupun Eldar.
Kurasa Nathan punya dendam pribadi pada Leo. Kasihan tapi seru juga. Aku harap mereka tidak bercerai, lumayan dapat lima puluh juta kalau aku menang taruhan.
"Tadi ada sedikit masalah di rumah." Jawab Leo menjelaskan.
"Oh. Ikut aku." Pinta Nathan seraya pergi di ikuti oleh Eldar.
Leo duduk lemah sejenak untuk mengatur nafas yang memburu. Setelah pelepasan terjadi rasanya ada sesal terbesit sebab dia kembali tidak bisa berlaku adil. Seharusnya dia merajuk Bella, bukan malah melakukan percintaan panas dengan Lisa.
"Kau habis dari mana Le." Tanya Bara menepuk pundak Leo lembut.
"Nathan berusaha merebut Istriku. Dia tinggal di depan rumahku sekarang." Jawab Leo lemah.
"Astaga." Bara terkekeh di ikuti teman lainnya. Taruhan yang awalnya di anggap bercanda kini berubah menjadi lebih serius.
"Hati-hati Le. Kau jangan terus melakukan kesalahan. Sepertinya Nathan mengincar mu."
"Ku fikir ini sudah selesai." Eluh Leo kembali berdiri.
"Bos besar mana mungkin mau kalah."
"Ya. Aku pergi dulu." Leo berjalan keluar ruangan sambil mencoba menghubungi Bella. Dia berniat menanyakan keadaannya namun panggilan tidak di respon padahal kontak Bella sedang aktif.
🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Wiwin Vivo
di tunggu lanjutannya kakak
2023-02-23
1