Sebisa mungkin Bella berusaha mengobrol dengan Ibu-ibu kompleks untuk menghindari Nathan. Sementara Dian malah mencari perhatian ke Nathan dengan cara terus mendekatinya.
Biarkan saja. Dia kan janda.
Begitulah tanggapan yang terbesit di hati Bella meski terselip perasaan tidak rela. Percintaan paksaan yang terjadi semalam seakan menjadi bayang-bayang di dalam otak Bella.
"Apa itu pacarnya Bu Dian ya." Ujar salah satu Ibu kompleks.
"Hm iya. Dari tadi Bu Dian mepet terus."
"Syukurlah kalau sudah punya pacar. Biar tidak kegenitan sama Suami-suami kita." Bella hanya tersenyum tanpa ikut berkomentar. Dia tidak ingin tahu dan mencoba acuh.
Fikirannya malah tertuju pada ucapan Bu Rita yang mengatakan kalau Lisa menginap di sana. Bella ingin membuktikannya agar fikiran buruk bisa hilang.
Sebaiknya ku periksa setelah pesta. Semoga tidak hujan.
"Bu Bella kok malah melamun."
"Eh tidak Bu." Bella meminum sisa es buahnya. Segar dan dingin namun tidak mampu memperbaiki sistem otaknya yang panas akibat cemburu.
"Em maaf Bu. Bukannya saya julit tapi kata Suami saya ada pengobatan alternatif untuk pasangan yang belum di karuniai momongan. Kalau Bu Bella mau, nanti saya kasih alamat prakteknya."
"Saya tergantung Suami Bu. Kalau mau ya berangkat saja. Tapi dia sibuk akhir-akhir ini."
"Seharusnya kalau mau cepat punya anak, jangan terlalu lelah. Pakai weekend untuk berlibur berdua. Sekarang banyak destinasi yang menyediakan paket honeymoon Bu." Tutur lainnya menimpali.
Bella tersenyum simpul. Masalah makanan saja Bu Rita sudah memprotesnya habis-habisan. Sehingga wajar jika Bella tidak pernah meminta Leo mengajaknya berlibur. Dia takut di sebut menghabiskan uang Leo.
"Mungkin lain kali saya bicarakan."
"Jangan tersinggung ya Bu. Kita doakan yang terbaik untuk Bu Bella agar cepat mendapatkan momongan."
Sedikitpun Bella tidak pernah merasa tersinggung ketika ada seseorang memberikan saran. Tapi semua itu tidaklah berguna tanpa dukungan dari Leo.
Bukan sekali atau dua kali Bella mengajak ke dokter kandungan. Namun Leo selalu punya alasan untuk menolak apalagi semenjak Lisa hadir di tengah keluarga mereka.
"Sama sekali tidak. Em saya duluan ya Bu. Ada sedikit perkerjaan setelah ini."
"Iya Bu Bella. Hati-hati di jalan."
Bella tersenyum sejenak kemudian menuju kedua mempelai untuk mengucapkan selamat. Sepulang pesta, dia berniat pergi ke rumah Bu Rita dan ingin membuktikan kebenaran soal Lisa.
Pak Sapto dengan ramah mempersilahkan Bella berfoto. Awalnya Bella menolak tapi Bu Sapto memaksanya. Tepat saat cahaya lampu foto terlihat berkedip. Bella baru sadar jika Nathan tengah berdiri di samping mempelai wanita.
Ah dia lagi? Bukankah tadi dia duduk bersama Bu Dian. Sebaiknya aku cepat.
Bella memanfaatkan keadaan untuk pergi, di saat Nathan tengah berbincang dengan Pak Sapto. Cepat-cepat Bella berjalan keluar area pesta menuju rumahnya untuk mengambil motor.
.
.
.
.
Singkat waktu, setibanya di rumah. Bella bergegas mengganti baju setelah memastikan pintu dan jendela tertutup. Dia meraih tas kecil berisi dompet juga kunci mobil lalu mengalungkan menyamping.
Dengan langkah terburu-buru, Bella menuruni anak tangga dan keluar menuju motornya. Dia sempat melirik ke rumah Nathan yang tertutup.
Uh. Untung saja.. Mungkin Bu Dian tidak membiarkannya pergi.
Batinnya sambil memasukkan kunci motor lalu memacunya keluar pekarangan. Bella sempat berbelok ke mini market untuk memberi makanan kesukaan Lisa. Dia ingin menjadikan itu alasan agar bisa datang ke rumah Bu Rita.
.
.
.
Cukup lama Bella berdiri di depan pintu pagar setelah menombol bell beberapa kali. Ingin rasanya dia menerobos masuk tapi Bella tidak ingin tersandung masalah apalagi sampai menyulut kemarahan Bu Rita.
"Oh Non Bella. Silahkan masuk." Beruntung sebab si pembantu yang membukakan pintu untuknya.
"Saya hanya sebentar Bik. Em ini ada makanan untuk Lisa."
"Baik nanti saya sampaikan." Bella membaca ketegangan pada mimik wajah si pembantu yang tengah menerima bungkusan darinya.
"Mama ada Bik?"
"Sedang keluar Non. Hanya ada Bapak."
"Bersama Lisa?" Si pembantu menggelengkan kepalanya pelan. Bu Rita lebih dulu memberikan perintah sehingga dia tidak bisa berkata jujur." Maaf Bik. Saya boleh bertanya?" Tanya Bella pelan.
"Ada apa Non?"
"Lisa benar-benar menginap atau tidak?" Tanya Bella berbisik.
"Ada kok Non."
"Jangan berbohong Bik. Saya berjanji tidak akan melibatkan Bibik."
"Em itu Non anu, sebenarnya Non Lisa tidak ada di sini."
Sontak Bella menghela nafas panjang. Dia tidak tahu menahu kenapa Bu Rita sampai berbohong padanya. Apa yang sedang di tutupi dan di rahasiakan? Tentu saja pertanyaan itu terbesit di hatinya.
"Terimakasih ya Bik atas informasinya."
"Jangan bilang Nyonya ya Non. Saya takut."
"Iya Bik tenang saja. Makanan itu untuk Bibik saja. Em saya permisi."
Bella kembali menaiki motor lalu melajukan nya dengan rasa penasaran. Tentu ada alasan kuat kenapa sampai orang sedisplin Bu Rita melontarkan kebohongan.
Apa maksudnya? Apa karena aku terlalu cemburu sampai Mas Leo pergi berlibur secara diam-diam? Ya Tuhan. Kenapa fikiran ku malah was-was seperti ini?
Bella memarkir motornya di garasi. Dia keluar dan hendak menutup pintu namun sedikit terhenti ketika melihat seorang wanita cantik keluar dari taksi.
Bukan si wanita yang menarik perhatian. Bella malah bertanya-tanya soal mobil Nathan yang terlihat baru saja terparkir di bahu jalan.
Bukankah tadi dia tidak membawa mobil ke pesta?
Bella menghembuskan nafas berat ketika tersandar dari lamunannya. Perasaan tidak rela kembali ada ketika si wanita menghampiri Nathan dan langsung menyerbunya dengan mesrah.
Bukan urusan ku.
Nathan sempat melirik ke arah Bella sambil menyingkirkan tangan Elena dari lengannya.
Rumah siapa yang di datangi?
Rupanya Nathan mengikuti Bella tadi. Rasa penasarannya semakin menggebu sejak kemarin. Nathan ingin mengetahui alasan Bella menolaknya hanya untuk setia dengan Leo, lelaki yang menurutnya tidak sebanding dengan nya.
"Sudah ku katakan untuk tidak datang ke sini." Pinta Nathan dengan nada bicara ketus. Ketika rasa bosan datang, dia selalu membuang bekas pacarnya selayaknya sampah.
"Aku rindu." Nathan tersenyum kecut. Maniknya masih memperhatikan rumah Bella yang tertutup.
"Kau tahu akibatnya kalau kau terlalu mengatur?" Elena menghembuskan nafas berat. Dia sudah sangat jatuh cinta pada Nathan sejak lama. Mati-matian dia berusaha bertahan sambil berharap suatu saat Nathan bisa melihat ke arahnya.
"Aku hanya datang berkunjung. Apa salah?"
"Sudah ku katakan untuk tidak datang berkunjung ke sini."
"Ingat Nath. Kedua orang tuamu sudah merespon hubungan kita." Nathan terkekeh kecil. Selama ini dia tidak pernah serius dalam menjalin hubungan. Dia membenci pernikahan karena suatu hal.
"Kau ingin mengadu pada Mak lampir itu? Bilang saja padanya tentang kelakuan ku. Kau fikir aku takut hah!!" Nathan mendorong kasar tubuh Elena." Persetan dengan mu. Sekarang aku bisa berbuat apapun sebab Asian group sudah menjadi milikku. Orang tua itu sudah tidak berhak mengatur apalagi mengurus soal perjodohan ku. Pergilah jallang!!" Umpat Nathan berjalan masuk meski mobil masih terparkir di bahu jalan.
Bukan tanpa alasan Nathan pergi ke luar negeri. Ada beberapa hal yang perlu di pelajari sebagai syarat sebagai penerus Asian group.
Berpura-pura menjadi staf biasa berhasil dia lalui. Bisma merasa bangga akan kinerja Nathan meski untuk terlalu mengatur, tetap saja tidak bisa.
🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Putri Cikal
ternyata natan serius suka sm bella
2023-07-21
0
Yani Yani
Lanjuuut cerita yg menarik💪💪💪💐💐
2023-02-20
2
Wiwin Vivo
di tunggu lanjutannya kakak
2023-02-19
2