Saat aku menggendong Jiya pulang, rupanya senja sudah mulai tiba. Itu terlihat dari semburat rona merah kekuningan yang mulai terlihat di ufuk barat.
Mungkin hanya satu-satunya, suara derap langkahku yang mengiri kesunyian di antara kami. Bahkan jalanan yang aku lalui tampak begitu lengang hari ini. Lalu soal sepeda, aku akan menyuruh Pak Tarno untuk mengambilnya jika sudah sampai rumah nanti.
Lantas untuk si keparat itu, jangan kira aku akan tinggal diam saja. Aku akan membuat Om Lukman membalas tetes demi tetes air mata yang Jiya jatuhkan hari ini.
Oh, istri kecilku yang malang. Dia bahkan tak berhenti juga menangis. Jiya masih saja mengusel-usel punggungku dari belakang dengan permukaan wajahnya. Yang kutahu, pasti penuh air mata dan juga ingus.
Rip, kaos kesayangan huhuhu ...
"Kamu mau aku beliin es krim?" tawarku membuka percakapan.
Sejujurnya, aku mulai bosan mendengar suara isakan tangisnya itu. Bukan, bukan karena aku tak peduli. Hanya saja, aku merasa tak enak hati dan bersalah, jika si bocah itu menangis tanpa henti begini. Buat bingung dan keder sendiri tahu nggak!
Kulirik dari ekor mata, Jiya sedikit mendongakkan wajahnya. Perlahan bocah itu mendekatkan wajahnya ke arah telinga kiriku untuk berbisik.
"Nggak," katanya lemah.
Aku mengembuskan napas berat tanpa sadar. "Kalau gitu jangan nangis lagi, ingusmu keluar banyak tuh buat kotor bajuku."
Plak!
Satu pukulan keras mendarat dengan tiba-tiba di atas lengan tanganku. Dan sudah bisa dipastikan itu ulah Jiya.
"Om Ferdi, ih!" teriaknya kesal, mulai kembali pada jati diri yang asli.
"Apa?" sahutku cuek, yang langsung mendapat cibiran dari Jiya.
"Benar-benar deh, nggak ada sisi romantis-romantisnya. Kalau ada cewek nangis tuh jangan ditanya mau apa? Tapi didengerin, dipuk-puk terus dipeluk erat," jelasnya.
Seketika, aku menghentikan langkahku. Kemudian menolehkan kepala ini sedikit kebelakang. "Bilang aja kamu lagi ngode ke aku buat minta uwu-uwuan. Tenang, sampe rumah nanti aku peluk deh, kalau perlu tak jadiin bantal sekalian buat tidur."
Bukannya mendapat balasan, si bocah rese itu malah menjambak rambutku tanpa permisi sekarang.
"Aku salah apa lagi, sih Ji?"
"Salah Om Ferdi itu karena udah tua dan nggak peka. Pokoknya Jiya sebal sama Om!" balasnya ngegas.
Lagi-lagi aku hanya mengembuskan napas berat sembari melanjutkan langkah kakiku kembali. Hadeh, emang yah, istilah cewek selalu benar itu tepat banget.
Sesampainya di rumah, kulihat Momi dan Daddy sudah pulang juga. Itu terlihat dari mobil keluarga kami yang sudah terparkir di bagasi.
Jiya yang masih digendonganku, tiba-tiba meminta untuk turun saat kami baru sampai di teras depan. Dia bilangnya sih, malu kalau sampai dilihat Momi sama Daddy.
Apalagi mukanya udah bengkak banget gara-gara nangis sepanjang jalan pulang. Sudah begitu, kaosnya juga. Aduduh, kenapa aku lupa kalau bagian atas kaosnya robek begitu.
CK, selain pikun aku memang nggak peka ternyata. Pantesan aja, Jiya marah-marah selama pulang tadi.
"Tunggu!" cegahku saat melihat Jiya mau masuk rumah.
Mana mungkin, aku bakal biarin dia masuk dengan kaos yang mirip gembel begitu. Kalau ketahuan Momi, bukan Jiya yang malu. Tapi, aku yang pasti bakal kena bentak habis-habisan nanti.
Secepatnya, aku melepas kaos biru dongkerku. Terus menyerahkannya ke Jiya tiba-tiba.
"Pakai," perintahku cepat yang masih belum mendapat respon.
Malah, si bocah rese itu berdiri diam begitu saja. Dengan tatapan mata lurus melihat ke arah bagian tubuh atasku. Tanpa berkedip pula.
"Ji?" tanyaku, sambil melambaikan tangan.
Kulihat Jiya menelan ludahnya susah payah, kemudian melihatku perlahan-lahan. Walaupun sebenarnya, matanya masih saja salah fokus ke hal lain.
"I-iya, Om?"
"Kamu ngelihatin apa, buruan pakai ini. Kalau Momi lihat nanti bisa tambah berabe yang ada."
Si bocah setan itu pun mengambil bajuku. Dengan tergesa, Jiya langsung memakainya di depan teras rumah.
"Loh Fer, kamu sama Jiya lagi ngapain di situ? Nggak pakai baju lagi."
Ah, hampir saja ketahuan. Untungnya, aku sama Jiya gerak cepat barusan.
Momi sendiri, masih menatap secara bergantian ke arahku dan Jiya. Tatapan matanya begitu tajam dan menelisik. Seolah-olah bisa menembus permukaan kulitku saat ini.
"Kalian abis ngapain? Kenapa Jiya pakai baju kamu?"
Nah kan, mata emak-emak itu emang lebih seram dari pada cctv. Tingkat kewaspadaannya ituloh, kadang buat geleng-geleng kepala. Apalagi soal kepekaannya. Beuh, jangan ditanya lagi. Kayak paling akurat deh.
Terkekeh sambil menggaruk bagian belakang kepala. Aku hanya menatap Momi pakai ekspresi malu-malu buat akting. Yah, biarin aja wanita yang melahirkanku itu tenggelam sama praduga dan fantasinya sendiri.
"Ah, Momi kayak nggak pernah jadi pengantin baru aja. Tentunya aku sama Jiya abis olahraga, ya kan Ji?" Sengaja kuseret tubuh Jiya semakin dekat padaku, agar tak membuat Momi makin curiga.
"I-iya, Jiya sama Om Ferdi abis olahraga. Ini juga baru selesai," tambah Jiya yang membuat Momi seketika tersenyum lebar.
"Daddy!" serunya mendadak. "Kayaknya udah saatnya, kita biarin Ferdi sama Jiya punya rumah sendiri. Ah, Momi jadi gemes dan nggak sabar nunggu anak mereka lahir hihihi ..."
Huft, menyebalkan. Kayaknya emang topik itu melulu deh, yang Momi sama Daddy pikirkan. Kalau nggak harus rajin pasti kapan nimang cucu.
Mereka berdua seolah lupa, kalau Jiya masih anak SMA. Dan aku? Aku nggak mungkin ngerusak masa depan Jiya.
Aku bukan cowok bejat dan brengsek. Kalau bisa aku pengin jadi seseorang yang bisa bocah setan itu andalkan. Entah jadi teman, sahabat, Abang, atau Om sekalipun. Kurasa itu tak masalah, asal cita-cita Jiya kelak bisa tercapai.
Lalu soal hubungan kami. Aku juga akan melihat mulai dari saat ini dan untuk kedepannya. Jika kami masih merasa nyaman satu sama lain. Mungkin bisa kulanjutkan. Namun, jika suatu saat nanti Jiya menemukan pria yang tepat dan lebih baik daripada aku. Sepertinya aku tak masalah jika harus melepaskan dirinya. Terlebih lagi, kalau hal itu dapat membuat dirinya bahagia.
Yah, pernah menjadi seseorang yang dibuang dan tak diharapkan membuatku tahu. Jika sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan selalu berakhir dengan baik. Jadi, cukup aku saja yang pernah merasakan hal itu.
Kemudian, soal Om Lukman. Mungkin aku akan menyimpan kejadian hari ini sebagai sebuah rahasia dari Momi dan Daddy. Selain tak mau membuat keduanya merasa bersalah karena telah ceroboh membiarkan si brengsek itu pergi dengan Jiya berdua.
Aku juga tak mau membuat masalah ini menjadi semakin rumit dan bisa membuat hubungan keluarga terpecah. Tapi, bukan berarti aku tak akan membalasnya.
Orang itu, akan kubuat hidupnya hancur perlahan-lahan tanpa seorangpun yang tahu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
atheina_ARA
hajarlah.....masak istri dilecehkan gak bales. aku padamu mas.....eh siapa namanya lupa
2023-11-22
3