Setelah benar-benar yakin dengan perasaannya. Dirga memutuskan untuk segera menyatakan cintanya. Ia tidak ingin terlalu lama membuang-buang waktu lagi.
Karena kenyataannya dia memang sudah jatuh hati pada gadis peselancar itu dan merasa tidak tenang kalau belum bisa mendapatkannya.
Malam nanti Dirga berencana ingin bertandang ke rumah Senja lalu kemudian mengajak gadis itu makan malam di sebuah kafe. Ia ingin membuat pernyataan cinta semanis dan seromantis mungkin supaya Senja terkesan dan langsung menerimanya.
Namun sayangnya, Senja menolak keinginannya. Dia bahkan melarang Dirga untuk datang ke rumahnya.
'Kalau mau bertemu denganku, datang saja ke pantai. Hampair setiap sore aku pasti ada disana.'
Jawabnya saat Dirga menyatakan niatnya.
Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya Dirga pun mengiyakan. Daripada tidak bisa bertemu sama sekali, pikirnya.
Keluar dari kantornya Dirga sudah berpakaian santai. Tak lagi memakai pakaian dinasnya. Pria itu tampil keren dengan setelan kaos oblong yang luarnya di lapisi kemeja setengah lengan dan di padukan dengan jeans belel yang sedikit robek di bagian lututnya.
Tampan, sangat tampan. Dan memang begitulah penampilan asli seorang Dirgantara di luar jam kerjanya. Sangat casual. Di tunjang dengan postur nya yang tinggi menjulang dan kulit bersihnya. Ayolah, gadis mana yang tidak akan takluk di buatnya. Dan jangan lupa, karir dan jabatannya di dunia bisnis juga tidak main-main. Presiden direktur. Jabatan tertinggi di sebuah perusahaan. Tentu saja itu akan semakin melengkapi kesempurnaannya.
Beberapa pasang mata tampak melihat heran dengan penampilan Bosnya. Terutama karyawatinya. Ada yang bahkan sampai melongo saking takjubnya.
Namun meski begitu, tidak ada satupun yang berani bertanya. Tentu saja, memangnya siapa mereka sampai berani bertanya urusan pribadi Bos.
Kalaupun ada yang berani bertanya, itu pasti Nayra orangnya. Sekertatis yang sudah cukup dekat dengan Bos.
"Apa Anda acara sore ini, Tuan? sepertinya terburu-buru sekali? "
Nayra berpikir kalau Dirga tidak terburu-buru pasti dia akan menyempatkan diri untuk pulang dan mengganti pakaian dulu, tapi atasan super tampannya itu memilih berganti pakaian di kantor berarti kan dia sangat terburu-buru sampai tidak sempat pulang.
"Aku mau ke pantai. "
Jawaban singkat namun cukup mengejutkan sang sekertaris.
"Pantai lagi? "
"Kenapa Nayra? " Dirga seperti mendengar sekertarisnya bergumam tapi tidak jelas.
Rupanya Nayra terkejut sekaligus heran mendengar atasannya lagi-lagi mau ke pantai. Sudah kesekian kalinya setiap di tanya pasti jawabannya selalu ke pantai.
'Memangnya ada apa sih di pantai? '
"Oh tidak ada, Tuan. Saya hanya heran kenapa anda jadi sering ke pantai. "
ucap Nayra hati-hati takutnya Bos nya tersingggung karena di anggap terlalu ingin tahu.
Dirga tersenyum tipis. Ia tahu sekertarisnya itu sekarang di hantaui penasaran karena akhir-akhir ini terlalu sering mendengar kata pantai. Tapi Dirga tentu tidak ingin memeberitahunya. Lagipula itu bukan urusan Nayra.
"Nanti kau juga tahu. "
Berucap dingin lalu berlalu dari hadapan Nayra.
"Oh Baiklah, Tuan. Apapun tujuan anda saya doakan semoga anda berhasil. " Nayra mengangguk hormat sambil memberi suport, tapi sayangnya tak di gubris oleh si Bos. Ia tetap melenggang tanpa menjawab sepatah katapun. Tapi dalam hati ia mengamini ucapan sekertarisnya.
Berbeda dengan Nayra, supir pribadi Dirga sudah paham dan tidak lagi terkejut saat tuannya mengatakan hendak ke pantai. Ia juga sepertinya sudah tahu kalau ada gadis yang membuat tuan Dirga jadi menyukai pantai.
Saat tiba di pantai Rupanya Senja sudah berada disana dan bahkan sudah berselancar. Padahal hari masih lumayan terik tapi sepertinya gadis itu sama sekali tidak takut kulitnya akan terpanggang sinar matahari. Dan anehnya meskipun sering terpanggang juga kulit Senja tetap putih bersih.
Mungkin memang sudah bawaan dari lahir, atau memang dia memakai perawatan kulit super bagus, entahlah.
Dirga menunggu dengan gusar. Ia ingin cepat -cepat menyampaikan niatnya agar hatinya lega, tapi Senja tak ku jung menghentikan permainannya. Padahal dia sudah melihat Dirga, pria itu juga sudah melambaikan tangannya sebagai isyarat agar Senja segera menghampirinya. Tapi sepertinya gadis itu masih asyik dengan permainannya.
Akhirnya setelah kurang lebih lebih dua puluh menit menunggu. Senja berhenti juga.
Gadis itu berjalan perlahan mendekati Dirga. Dirga sendiri langsung sigap memberikan air minum begitu Senja sampai di hadapannya. Ia tahu Senja pasti haus. Sebotol air mineral dingin sudah ia persiapkan sejak tadi.
"Aku ganti baju dulu yaa?" pamit Senja setelah meneguk minumannya.
Dirgantara mengangguk. Ia juga tidak mungkin membiarkan Senja mengobrol dengan pakaian basah kuyup begitu.
Dirgantara menunggu dengan gelisah di salah satu gazebo. otaknya terus berfikir tentang kallimat apa yang akan dia pakai untuk menyatakan cintanya.
Padahal ini adalah untuk kesekian kalinya dia menyatakan cinta pada seorang gadis. Seharusnya dia tidak perlu gelisah karena memang biasanya juga begitu. Ia akan dengan begitu mudah dan lancar saat mengatakannya. Bahkan tanpa perasaan takut sedikitpun. Tapi kali ini entah mengapa pria itu merasa cukup gugup. Tangannya bahkan terasa cukup dingin. Hey ada apa dengannya?
Senja datang dengan rambut basahnya yg sudah tersisir rapi. Blouse berwarna gelap dan celana jenas ketat menjadi outfit nya hari ini. Sepatu kets putih membuat penampilannya semakin enak di lihat. Sederhana tapi sangat manis.
Dirga bahkan sampai senyum-senyum sendiri melihatnya.
"Duduklah, kau mau makan sesuatu? biar aku pesankan. "
"Tidak, aku tidak lapar. " Menjawab sambil mendudukan badannya di hadapan Dirga.
"Baiklah kalau begitu. " Padahal sebenarnya Dirga ingin berbincang sambil menikmati sesuatu, supaya dia tidak terlalu gugup. Tapi sayang Senja selalu menolak di ajak makan. Kedepannya Dirga bertekad akan mencari tahu apa makanan favorit Senja, agar kelak bisa mentraktirnya makan. Agak aneh rasanya duduk berdua dengan seorang gadis tapi tak ada satupun makanan yang terhidang. Seolah olah dia itu pria kikir yang tidak mau mentraktir teman wanitanya, padahal memang Senja sendiri yang tidak pernah mau makan.
"Oh ya, Senja. Kau datang sendiri atau bersama ibumu? " Sebenarnya sejak tadi Dirga memang tidak melihat keberadaan ibunda Senja. Tapi dia hanya ingin memastikan, supaya tidak ada yang mengganggu waktunya dengan gadis itu.
"Tidak, " Senja menggeleng
"Sebenarnya tadi Ayah dan ibu mau ikut, tapi setelah ku bilang Dirga ingin bertemu denganku mereka tidak jadi ikut. "
"Ohya, kau bilang pada mereka kalau aku ingin menemuimu? "
"Ehm, aku bilang pada mereka kalau ada yang ingin kau sampaikan padaku. "
"Kau bilang begitu? " Dirga tidak percaya kalau Senja dengan begitu polosnya memberitahu kedua orang tuanya tentang niatnya menemui Senja sore ini.
'Ternyata gadis ini benar-benar polos, bahkan hal se pribadi inipun ia ceritakan. '
"Lalu apa kata mereka? " Antusias Dirga ingin mengetahui reaksi orang tua Senja.
"Mereka saling pandang lalu saling tersenyum. Entahlah, aku juga tidak tahu apa maksudnya. "
Dirga refleks membuang mukanya sambil menarik nafas mendengar penuturan senja.
Dirga yakin orang tua Senja sudah bisa menebak apa yang ingin di katakan Dirga, itu sebabnya mereka hanya tersenyum.
'Apa itu berarti mereka akan menyetujui hubunganku dengan Senja, ya'
"Dirga kenapa membuang muka? tidak suka melihatku? " Gadis polos itu tidak paham kalau Dirga sebenarnya hanya sedang membuang rasa malunya.
"Oh tidak, tidak. Mana mungkin aku tidak suka melihatmu. Aku hanya merasa malu pada orang tuamu, untung saja mereka tidak ada disini. "
"Malu kenapa? "
"Hah, malu kenapa, kanapa ya? " Dirga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bingung harus menjawab apa. Berhadapan dengan Senja tiba-tiba dia juga merasa jadi pria polos.
"Hehe, tidak apa-apa. Lupakan. " Sepertinya itu jawaban yang paling pas supaya Senja tidak lagi bertanya.
Dirga menutupi rasa canggungnya dengan menyeruput air kelapa muda. Sekedar untuk menetralkan rasa tidak biasa yang sedang ia alami saat ini.
'Sebenarnya aku ini kenapa yaa, hanya berhadapan dengan Senja tapi kenapa aku jadi gugup dan bingung begini. '
Sementara Senja cuek saja, tidak terlihat gugup sedikitpun, seolah memang benar-benar tak tahu apa maksud Dirga mengajaknya bicara.
"Huuff." Dirga menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Berusaha kembali mengatur emosinya supaya lebih tenang.
"Senja.. " Panggilnya lembut
"Yaa? "
"Kau ingatkan kalau tadi pagi aku bilang ada yang ingin ku sampaikan? "
"Ingat. memangnya apa yang ingin kau sampaikan? " Senja masih tetap terlihat tenang. Benar-benar gadis ini.
"Lihat aku. " Pinta Dirga dengan mimik wajah yang sangat serius. Sepertinya keberaniannya sudah mulai muncul. Sifat aslinya sebagai pemain wanita juga sudah kembali.
Senja menurut, ia menatap Dirga dengan mata kemerahanya. Mata merah yang justru saat ini membuat Dirga menjadi tergila-gila.
"Aku menyayangimu, Senja. "
Mata Senja membelalak. Antara terkejut dan juga tidak percaya.
"Apa maksudmu? "
"Senja Wulan Samudra. Aku mencintaimu. "
Kali ini intonasi Dirga berubah lebih tegas. Agar Senja percaya bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.
Senja terdiam. wajahnya tiba-tiba berubah pucat. Mata merahnya menjadi semakin merah, tapi sepertinya bukan karena marah. Tapi lebih kepada orang yang sedang menyimpan kesedihan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Fatonah Fatonah
Dirga nya harus setia jangan bikin senja kecewa..
2023-03-07
1