Apa itu tadi..?

"Senja, kau baik-baik saja? "

Senja diam saja, tak mempedulikan panggilan Dirga yang mulai khawatir melihatnya.

"Senja, ada apa? "

Kali ini gadis itu mendongak. Mata merahnya yang redup benar-benar menunjukan kalau gadis itu memang sedang sedih.

"Maaf kalau aku lancang. Tapi memang itulah perasaanku yang sebenarnya, dan kau tidak harus menjawabnya sekarang. Kau boleh memikirkannya dulu. Tapi aku sangat berharap kau mau menerimaku dan menjadi kekasihku. "

Dirga yakin diamnya Senja karena gadis itu masih takut untuk berkata iya, itulah sebabnya pria itu mencoba menjelaskan.

"Bukankah kau bilang hanya ingin berteman denganku? "

Senja mulai buka suara. Ia bingung bagaimana harus memberi jawaban. Di satu sisi ia senang mendengar pernyataan cinta Dirga, tapi di sisi lain ia juga takut kalau Dirga akan menjauhi nya setelah tahu siapa dia sebenarnya.

"Eum tadinya iya, " jawab Dirga

"Tapi semakin mengenalmu, aku jadi semakin suka, dan akhirnya jatuh cinta padamu."

Senja tak berani menjawab. Ia hanya menatap Dirga dalam-dalam seolah mencari kesungguhan melalui bola mata Dirga.

Pandangan mereka kembali beradu, dan lagi-lagi ada genderang cukup kencang yang membersamainya. Genderang yang tak hanya berasal dari dada Senja, tapi juga dari jantung Dirga.

Dirgantara tersenyum semanis mungkin. Bola mata kemerahan milik Senja. Akh entahlah, kenapa ia sekarang justru sangat menyukainya. Padahal dulu ia sempat takut melihatnya.

Di tengah suasana yang mendebarkan itu, Senja tiba-tiba bangkit. Tentu hal itu membuat Dirga terkejut.

"Kau mau kemana, Senja? "

"Sudah sore, aku harus pulang. " Mengambil tas lalu berjalan cepat meninggalkan Dirga.

Karena saking terburu-buru nya saat berjalan, Senja sampai tidak sengaja menabrak seorang ibu yang menggendong anak kecil.

Bruuk !

"Aduh..! " Si Ibu terkejut karena tahu-tahu ada yang menabraknya.

"Maaf, maaf, aku tidak sengaja. " Senja yang juga terkejut buru-buru meminta maaf.

"Maaf, maaf, lain kali kalau jalan pake mata !" Bentak si ibu yang sepertinya tidak terima permintaan maaf Senja.

"Tidak lihat apa orang sebesar ini main tabrak saja! " Maki si ibu lagi yang membuat Senja hanya mampu tertunduk.

Namun Senja tertunduk bukan karena merasa bersalah. Tetapi karena menahan marah. Awalnya memang dia merasa bersalah, itulah sebabnya dia langsung meminta maaf. Tapi reaksi si Ibu berlebihan membuat gadis yang kadar kesabarannya sangat tipis itu menjadi marah.

"Aku kan sudah minta maaf, kenapa ibu kasar sekali? " Namun meski amarahnya sudah mulai membuncah Senja tetap berusaha tenang.

"Tentu saja aku marah, kau menabrakku seenaknya saja, untung aku dan anakku tidak sampai jatuh. Kalau jatuh bagaimana? " Si ibu masih saja ngotot, padahal dia dan anaknya baik-baik saja. Tidak terluka sedikitpun.

Dirgantara yang memang berada disitu dan melihat Senja sedang di intimidasi mencoba menenangkan si ibu.

"Bu, sudah ya. Dia kan sudah minta maaf. Kenapa anda berlebihan sekali. "

Si ibu memperhatikan Dirga dengan raut wajah tidak bersahabat.

"Kau pasti kekasihnya kan? makanya kau membelanya. Atau jangan-jangan kalian ini sedang bertengkar makanya dia jadi tidak fokus berjalan. "

Ya Tuhan si ibu benar-benar menguji kesabaran Senja, sedangkan Dirga hanya bisa menghela nafasnya. Tidak tau bagaimana harus menghadapi ibu-ibu super bawel ini.

"Lain kali kalau bertengkar jangan di tempat umum, Merepotkan saja. "

Senja mendongakkan kepalanya dan menatap ibu muda itu dengan pandangan mautnya. Mata kemerahannya menjadi semakin merah. Bahkan wajahnya juga menjadi kemerahan menahan amarah.

Melihat penampakan Senja yang mengerikan itu barulah si ibu terdiam. Wajahnya juga langsung berubah pucat. Anak kecil yg di gendongnya bahkan langsung menangis melihat wujud Senja.

Dan tak hanya ibu dan anak itu. Dirgantara juga terkejut bukan main. Ia tak percaya melihat Senja yang tiba-tiba berubah se menyeramkan itu.

"Se-Senja, " ucapnya terbata.

Namun Senja sepertinya memang sudah benar-benar kehilangan kesabarannya. Ia tidak peduli lagi kalau wujud aslinya sudah menakuti banyak orang.

Gadis itu mulai melangkah mendekati si ibu yang banyak bicara tadi membuat wajahnya kian pias.

"Aku sudah minta maaf kan tadi ? kenapa kau malah mancing emosiku? "

Si ibu gemetar mendengar ucapan Senja yang pelan tapi cukup seram di dengar.

"Ka--ka--kau." Bibirnya bergetar menahan takut sementara anaknya terus saja menangis.

Tangan Senja mulai terulur hendak mencekik leher si Ibu.

"Sssenja." Suara Dirga yang juga bergetar menghentikan pergerakan tangan Senja.

Gadis itu kemudian menoleh pada Dirga. Dia tahu Dirga pasti ingin mencegahnya menyakiti si ibu. Ia kemudian kembali menoleh pada ibu muda yang makin ketakutan dan anaknya yang terus saja menangis.

"Aaakkhh..! " Senja mengurungkan niatnya untuk mencekik, tapi ia menjerit kencang tepat di wajah si ibu membuat wanita itu nyaris pingsan. Terlebih melihat bola mata Senja yang berkobar dan nyaris keluar membakar dia dan juga putrinya. Rupanya seruan Dirga sedikit banyak telah mampu meredam emosi Senja sehingga mengurungkan niatnya untuk menyakiti si ibu.

Setelah berteriak, Senja lalu berlari kencang meninggalkan mereka bertiga yang masih syok tak percaya melihat wujud Senja.

Setelah Senja pergi si Ibu muda langsung terduduk lemas. Ia seperti orang linglung yang baru kehilangan kesadarannya. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa gadis cantik itu berubah wujud laksana monster.

Dirga yang juga cukup syok langsung mengusap wajahnya.

"Apa itu tadi ? kenapa Senja bisa berubah menakutkan begitu? "

Untuk kedua kalinya kembali mengusap wajah nya. Kemudian menggelengkan kepalanya yang tiba-tiba memikirkan hal buruk perihal Senja.

'Senja menjadi seperti itu pasti karena sangat marah' Bathinnya terus berusaha meyakinkan diri

Setelah merasa cukup tenang, Dirga kemudian mendekati ibu muda.

"Anda baik-baik saja? " tanyanya memastikan karena melihat si ibu yang masih melongo.

Si ibu tak sanggup menjawab. Hanya mengangguk-angguk kan kepalanya.

"Baguslah. Lain kali bersikapleh lebih sopan. Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita berhadapan."

Dirga tidak tahu kenapa dia jadi sebijak itu menasehati si ibu. Tapi dia hanya merasa Senja jadi berubah begitu karena memang sikap si ibu yang berlebihan. Meski tetap saja dia sendiripun tak percaya pada apa yang baru saja di lihatnya.

Pria berahang kokoh itu lalu mengusap kepala anak kecil yang mulai berhenti menangis setelah Senja pergi. Terbukti kalau dia memang benar-benar takut melihat Senja.

Setelah itu pria itu memutuskan untuk pergi dari pantai. Sebenarnya ia ingin mencari Senja, tapi bayangan wajah menyeramkan Senja tadi masih lekat di ingatannya. Ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu.

Terpopuler

Comments

Fatonah Fatonah

Fatonah Fatonah

ayo Dirga jangan tinggalin senja

2023-03-07

0

lihat semua
Episodes
1 01. Tentang Dirga
2 02. Pertemuan kedua
3 Semakin penasaran
4 Bertemu seseorang
5 Kecewa
6 Di hantui bayangan
7 Dia menyebut namaku
8 Kegelisahan Senja
9 Bayu samudra pulang
10 Lagi-lagi terkejut
11 Semakin komunikatif
12 Penjelasan Queenzi
13 Merasa bodoh
14 Menyatakan Cinta
15 Apa itu tadi..?
16 Ada apa dengan Senja
17 Ada apa dengan Senja, 2
18 Membuka hati
19 Kejadian tak terduga
20 Aku harus apa sekarang?
21 Serangan mendadak
22 Mencoba melupakan
23 Sama-sama tersiksa
24 Tak sanggup lagi
25 Semakin banyak tahu
26 Rasa penasaran Queen
27 Di terima dengan baik
28 Tamu istimewa
29 Kencan pertama
30 Tak sengaja bertemu
31 Bertukar energi
32 Melihat secara langsung
33 Pesan Ayah
34 Interogasi yang menyudutkan
35 Tentang restu orang tua
36 Tegas tapi bijaksana
37 Paus terdampar
38 Khawatir
39 Makan malam yang menegangkan
40 Perdebatan sengit
41 Lolongan panjang
42 Bekerja sama
43 Nostalgia
44 Cemburu
45 Rahasia masa lalu
46 Berjuanglah, Nak.
47 Dress hitam pembunuh rindu
48 Kesabaran ku setipis tisu
49 Bayu samudra sakit
50 Gazebo
51 Tak canggung lagi
52 Melemaskan otak
53 Lama tak bertemu
54 Operasi plastik
55 Sebelum pergi
56 Pagi yang indah
57 Senja yang bijaksana
58 Bertemulah dengannya
59 Bicara baik-baik
60 Kepergian Bayu Bamudra
61 Akhirnya mengalah
62 Bekerja sama lebih solid
63 Senja yang makin bijaksana
64 Senang melihatmu bahagia, Nak
65 Hiburan tersendiri
66 Maaf, Ibu
67 Menahan emosi
68 Maaf dan terimakasih
69 Realita tak seindah ekspektasi
70 Ambisi tingkat tinggi
71 Bukan hal yang mudah
72 Hanya pertanda
73 Sakit yang kian menggigit
74 Mencari bantuan
75 Tentang mistis
76 Energi positif
77 Teman masa kecil
78 kenang-kenangan
79 Fakta mengejutkan
80 Dukungan penuh
81 Bukan urusanku
82 Memberi peringatan
83 Dia bukan manusia
84 Lolongan kesakitan
85 Hilang kendali
86 Antara hidup dan mati
87 Pengorbanan terbesar
88 Dewa penolong
89 Cakrawala Leonil Aksa
90 Usaha yang sia-sia
91 Teman baru
92 Kembali menghangat
93 Merindu
94 Melepas rindu
95 Wulan sakit
96 Meminta restu
97 Telepati
98 Perundungan
99 Semakin parah
100 Telepati, 2
101 Tertangkap basah
102 Janji suci
103 Semangat baru
104 Kabar baik dan buruk
105 Selamat jalan, Ayah ... Ibu
106 Pengumuman
Episodes

Updated 106 Episodes

1
01. Tentang Dirga
2
02. Pertemuan kedua
3
Semakin penasaran
4
Bertemu seseorang
5
Kecewa
6
Di hantui bayangan
7
Dia menyebut namaku
8
Kegelisahan Senja
9
Bayu samudra pulang
10
Lagi-lagi terkejut
11
Semakin komunikatif
12
Penjelasan Queenzi
13
Merasa bodoh
14
Menyatakan Cinta
15
Apa itu tadi..?
16
Ada apa dengan Senja
17
Ada apa dengan Senja, 2
18
Membuka hati
19
Kejadian tak terduga
20
Aku harus apa sekarang?
21
Serangan mendadak
22
Mencoba melupakan
23
Sama-sama tersiksa
24
Tak sanggup lagi
25
Semakin banyak tahu
26
Rasa penasaran Queen
27
Di terima dengan baik
28
Tamu istimewa
29
Kencan pertama
30
Tak sengaja bertemu
31
Bertukar energi
32
Melihat secara langsung
33
Pesan Ayah
34
Interogasi yang menyudutkan
35
Tentang restu orang tua
36
Tegas tapi bijaksana
37
Paus terdampar
38
Khawatir
39
Makan malam yang menegangkan
40
Perdebatan sengit
41
Lolongan panjang
42
Bekerja sama
43
Nostalgia
44
Cemburu
45
Rahasia masa lalu
46
Berjuanglah, Nak.
47
Dress hitam pembunuh rindu
48
Kesabaran ku setipis tisu
49
Bayu samudra sakit
50
Gazebo
51
Tak canggung lagi
52
Melemaskan otak
53
Lama tak bertemu
54
Operasi plastik
55
Sebelum pergi
56
Pagi yang indah
57
Senja yang bijaksana
58
Bertemulah dengannya
59
Bicara baik-baik
60
Kepergian Bayu Bamudra
61
Akhirnya mengalah
62
Bekerja sama lebih solid
63
Senja yang makin bijaksana
64
Senang melihatmu bahagia, Nak
65
Hiburan tersendiri
66
Maaf, Ibu
67
Menahan emosi
68
Maaf dan terimakasih
69
Realita tak seindah ekspektasi
70
Ambisi tingkat tinggi
71
Bukan hal yang mudah
72
Hanya pertanda
73
Sakit yang kian menggigit
74
Mencari bantuan
75
Tentang mistis
76
Energi positif
77
Teman masa kecil
78
kenang-kenangan
79
Fakta mengejutkan
80
Dukungan penuh
81
Bukan urusanku
82
Memberi peringatan
83
Dia bukan manusia
84
Lolongan kesakitan
85
Hilang kendali
86
Antara hidup dan mati
87
Pengorbanan terbesar
88
Dewa penolong
89
Cakrawala Leonil Aksa
90
Usaha yang sia-sia
91
Teman baru
92
Kembali menghangat
93
Merindu
94
Melepas rindu
95
Wulan sakit
96
Meminta restu
97
Telepati
98
Perundungan
99
Semakin parah
100
Telepati, 2
101
Tertangkap basah
102
Janji suci
103
Semangat baru
104
Kabar baik dan buruk
105
Selamat jalan, Ayah ... Ibu
106
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!