Resort mewah di pusat kota menjadi tempat yang dipilih Dirga untuk tempat makan siangnya kali ini. Ia juga sudah men share lokasi tersebut pada Senja.
Dan saat ini pria tampan itu sudah duduk menunggu teman makan siangnya.
Entah kenapa ada perasaan gugup melanda. Seolah ini adalah kencan pertamanya dengan seorang gadis.
Padahal Senja adalah gadis ke sekian yang pernah menaminya makan siang.
Dirgantara mengetuk-ketuk meja dengan telunjuknya seolah sedang membunuh gugup yang di rasa.
Ia sengaja datang lebih cepat karena tak ingin membuat Senja menunggu. Ini kencan pertamanya dengan gadis itu, ia tak ingin membuatnya kesal karena harus menunggu.
Untungnya dia sendiripun tak harus menunggu lama karena Senja datang tepat waktu.
"Kau datang sendiri ? " tanya Dirga sembari menarik kursi untuk Senja.
"Tidak, dengan pak supir. "
Dirga tersenyum. Ia lupa kalau gadis di depannya sangat polos. Nampaknya ia harus terus terang kalau bicara dengan Senja.
"Maksudku, kau tidak datang dengan ibumu kan?" Dirga memperjelas maksudnya.
"Tidak, Ibu di butik dengan Ayah. Kalau Ayah di rumah Ibu jarang menemaniku keluar. "
"Ooh, memangnya Ayahmu jarang di rumah yaa? "
"Ya begitulah, kadang ia harus meninggalkan ibu untuk waktu yang lama. "
"Oh ya, kemana? "
Senja terdiam. Nampak terkejut dengan pertanyaan Dirga dan tak tahu harus menjawab apa. Ia kemudian menatap Dirga dengan pandangan bingung
"Eum Ayahku--"
Senja tak melanjutkan kalimatnya. Benar-benar tak tau harus bicara apa. Untung saja Dirga cepat tanggap. Ia tahu Senja tak nyaman dengan pertanyaannya barusan.
"Lupakan, Senja. Kau tidak harus menjawab nya." Sambil mengibaskan tangannya.
"Lagipula aku juga tidak terlalu ingin tahu. Aku hanya sekedar ingin mengobrol tadi. "
Senja mengangguk. Merasa lega karena ia tak harus menjelaskan apapun pada Dirga.
"Oh ya, kau mau makan apa? " Dirga berusaha mengalihkan topik sambil menyodorkan menu makanan ke hadapan Senja. Meminta gadis itu memilihnya sendiri. Namun sepertinya gadis itu tidak tertarik untuk memilih.
"Terserah kau saja. Yang penting bukan seafood."
Dirga tersenyum. Cukup paham kenapa Senja tak makan seafood. Meski tetap saja baginya alasan Senja tak mau makan seafood sangat tidak masuk akal.
"Steak daging mau? "
"Boleh." sahut Senja tanpa berfikir terlebih dahulu. Karena memang daging adalah makanan favoritnya.
Keduanya lalu menikmati santap siang dengan tenang. Dirga sesekali memperhatikan Senja makan sambil tersenyum, membuat yang di perhatikan menjadi salah tingkah dan akhirnya menunduk.
Selesai makan mereka baru kembali melanjutkan obrolan. Berbincang ngalor-ngidul tentang ini dan itu.
Dirgantara senang sekali. Senja sekarang sudah makin banyak bicara. Meski tetap saja dia hanya bicara saat Dirga bertanya. Kalau Dirga tidak memancingnya terlebih dahulu pasti gadis itu lebih memilih diam.
Pada satu kesempatan Dirga mencoba bicara sedikit serius.
"Senja.. " panggilnya dengan tatapan langsung menghujam ke bola mata Senja. Mata merah yang terkadang membuatnya ngeri tapi juga sekaligus rindu kalau sebentar saja tak melihatnya.
"Ya? "
"Apa boleh aku menganggap bahwa makan siang kita ini adalah jawaban kalau kau juga mencintaiku? " Dengan sangat hati-hati dan dada berdebar Dirga mencoba menanyakan itu.
Senja cukup terkejut dengan pertanyaan Dirga. Tapi gadis itu langsung berusaha menguasai diri. Kembali dia teringat pesan Ayahnya untuk membuat Dirgantara tergila-gila padanya.
Dan tanpa berpikir panjang lagi gadis itu langsung mengangguk.
"Benarkah? "
Senja kembali mengangguk saat Dirga menanyakan kesungguhannya.
"Apa itu juga berarti kau mau jadi kekasihku? "
Untuk ketiga kalinya Senja mengangguk. Sepertinya Ia sudah mantap betul dengan keputusannya.
Dirgantara tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia bisa menaklukan Senja dan menjadikan Senja kekasihnya.
Pria itu merasakan sesuatu yang berbeda. Rasanya seperti perasaan berbunga yang sulit di jelaskan. Ia seperti melayang-layang di buai rasa senang. Seolah ini pertama kali seorang wanita menerima cintanya.
Kalau saja bukan di tempat umum, Dirga pasti langsung berjingkrak kegirangan. Entahlah kenapa sekarang pria maskulin itu menjadi budak cinta seorang Senja.
Meski dengan segala keanehan yang selalu saja nampak saat ia bersama gadis itu, tapi tetap tak menyurutkan niat Dirga untuk menjadikan Senja kekasihnya.
Dan karena sekarang Senja sudah menyetujuinya, Dirga langsung mengekspresikan perasaannya dengan memegang tangan Senja.
Dingin ! raut wajah Dirga sempat berubah saat menyentuh tangan Senja yang sedingin mayat. Tapi ia cepat mengambil kesimpulan bahwa mungkin Senja gugup berhadapan dengan Dirga, apalagi mereka baru saja resmi menjadi sepasang kekasih. Itulah sebabnya suhu badan Senja menjadi turun beberapa derajat sehingga membuat kulitnya terasa sangat dingin.
Percayalah. Meski setiap saat melihat kejanggalan Senja, Dirgantara tak pernah berpikir macam-macam. Rasa sukanya sudah mampu menepikan segala kejanggalan itu.
Senja membiarkan saja tangannya di genggang oleh Dirga. Meski dia sangat gugup dan bahkan sampai tubuhnya bergetar karena ini memang pertama kalinya dia di sentuh oleh lawan jenisnya, tapi gadis itu tak sedikitpun berusaha menepis tangan Dirga.
Dirga sendiri bisa dengan jelas merasakan getaran tangan Senja. Getaran yang sama hebatnya dengan getaran di hatinya.
Pria itu tersenyum. Getaran itu menandakan kalau Senja memang benar-benar belum pernah tersentuh oleh siapapun. Dan dia adalah pria pertama yang berhasil menyentuhnya. Dan entah mengapa ada perasaan bangga tersendiri saat menyadari itu.
"Terimakasih sudah mau menerimaku."
Dirgantara mempererat genggaman tangannya. Seolah ingin menenangkan Senja supaya tak lagi gugup.
Sementara Senja meski tetap saja merasa gugup tapi tetap berusaha tersenyum. Namun senyum itu mendadak lenyap saat--.
"Dirga.. !"
Panggilan keras seseorang membuat Senja cepat-cepat menarik tangannya.
"Oh jadi rupanya gadis ini yang sudah membuatmu berpaling dariku? "
Queenzi entah dari mana datangnya tahu-tahu sudah berdiri di hadapan mereka.
"Queen?"
Dirga tak kalah terkejutnya. Dia tidak menyangka kalau mantan kekasihnya itu tiba-tiba ada disini.
Queenzi sendiri tidak menyangka akan melihat Dirga di tempat ini. Tadi dia hanya ingin makan siang sekaligus bernostalgia karena ini memang tempat makan favorit ia dan Dirga dulu.
"Siapa dia, Dirga. Apa dia yang sudah membuatmu berpaling? "
"Dia, dia--"
"Sejak awal aku sudah menduga, mana mungkin kau bisa berubah secepat itu hanya karena aku salah bicara." Queen tak memberi kesempatan Dirga bicara. Emosinya sudah terlanjur naik melihat Dirga sedang menggenggam tangan gadis lain.
"Aku yakin pasti ada yang sudah mengganggumu. Dan ternyata benar, gadis ini yang sudah mengganggu hubungan kita. "
Queen menunjuk wajah Senja dengan sangat marah. Sedangkan Senja hanya terdiam dengan dada bergemuruh menahan marah.
"Dasar gadis murahan !"
Dada Senja seperti mau meledak di caci maki begitu, namun gadis itu masih memilih untuk menahannya.
"Queen, cukup ! jangan menyalahkan Senja. Dia tidak tahu apa-apa. "
Tentu saja Dirga juga tidak terima gadis yang baru saja jadi kekasihnya di permalukan di depan umum. Pria itu langsung berusaha membela. Namun sayangnya Queen tetap saja dengan anggapannya.
"Oh ya, lalu kenapa kau berubah sikap padaku, kalau bukan karena dia memangnya karena apa?"
Queen mendekat lalu melayangkan tangannya
"Dasar gadis busuk !"
Plak..!
Sebuah tamparan yang cukup keras menghantam pipi kanan Senja. Suaranya bahkan cukup mampu membuat orang-orang yang ada di situ menoleh dan memperhatikan mereka.
"Queenzi ! apa yang kau lakukan? " protes Dirga sambil mendekati Senja. Benar-benar tak menyangka Queen akan senekat itu.
"Jangan membelanya, Dirga. Dia pantas mendapatkan itu. Dia--"
Sebelum Queen sempat melanjutkan makiannya, Senja dengan sigap langsung menangkap tangan Queen yang kembali tengah menunjuk-nunjuk wajahnya.
Senja memutar tangan itu lalu mendorong badan Queen kebelakang. Dorongan yang cukup kuat dari Senja membuat Queen terhempas ke belakang dan jatuh menimpa salah satu kursi resort.
Gubrak !
Queen terkejut bukan main. Tak mengira akan mendapat serangan balasan dari Senja. Dan yang membuatnya heran. Tenaga Senja saat mendorongnya tadi. Kuat sekali, lebih mirip tenaga bodyguard berbobot di atas seratus kilogram. Padahal badan Senja kecil tapi kenapa tenaganya besar sekali.
Dan satu hal yang membuat Queen semakin heran dan bahkan bercampur ngeri adalah wajah Senja. Wajah gadis itu berubah menjadi kemerahan dan matanya juga jadi seperti menyala, persis seperti mata iblis pencabut nyawa.
Queen meringis menahan sakit. Salah satu sikunya lebam karena benturan yang cukup kuat. Untung tidak sampai patah. Tapi rasa sakitnya tak seberapa di banding rasa heran sekaligus ngeri nya.
"Senja.. "
Ternyata bukan hanya Queenzi, Dirgantara juga tak percaya pada apa yang baru di lihatnya. Lagi-lagi Senja menunjukan amarahnya. Bahkan kali ini lebih brutal dari kemarin. Wajah mengerikan saat dia marah juga kembali terlihat.
"Senja, kau--kau baik-baik saja? " terbata-bata Dirga mengucapkan itu. Rasa syok masih saja menggerogotinya.
Senja tak menjawab. Gadis itu memilih pergi dengan amarah yang masih membuncah. Ia meninggalkan Dirga begitu saja sambil menutupi wajah nya dengan tas. Tak ingin orang lain melihat wujud aslinya.
"Senja tunggu. " Dirgantara ingin mengejar tapi langkahnya terhenti karena Queenzi memanggilnya.
"Dirga, tolong aku. Kau tidak kasihan padaku? "
Dengan berat hati Dirga akhirnya mendekat dan mengulurkan tangannya membantu Queenzi bangun.
"Aduuh, sakit. " Keluh Queenzi. Badannya terasa sakit semua. Seperti habis di di pukuli orang satu kampung, padahal dia hanya di di dorong oleh satu orang.
"Hey, Nona. Itu tadi siapa, kenapa dia menyerangmu begitu. Mengerikan sekali? " salah seorang yang dari tadi memperhatikan heran akhirnya memberanikan diri bertanya, demi membunuh rasa penasarannya.
"Aku tidak tahu. Yang jelas dia bukan perempuan baik-baik. Dia sudah merebut kekasihku. Dan benar katanu tadi. Dia memang mengerikan sekali, seperti monster. "
"Jangan menyalahkannya. Kau yang mulai. Kau yang duluan menyerangnya. " Dirga berusaha membela Senja. Karena memang kenyataannya Queen duluan yang menyerang dan memancing amarah Senja.
"Aku tidak akan menyerangnya kalau dia tidak merebutmu dariku. Lagi pula kau kenapa bisa punya hubungan dengan perempuan mengerikan itu sih? "
"Queen sudahlah, " sahut Dirga cepat. Sudah jengah dengan omelan Queenzi.
"Tidak ada yang merebut dan tidak ada yang di rebut. Senja itu tidak tahu apa-apa tentang hubungan kita. Jadi berhenti menyalahkannya dan aku mohon mulai sekarang kau juga berhenti menggangguku. "
"Dirgaa.. " Queenzi tak terima dengan ultimatum Dirga. Juga tak terima karena Dirga terus membela gadis itu. Namun Dirga sepertinya sudah tak ingin lagi mendengar protes Queen. Ia memilih melangkah meninggalkan gadis yang pernah sangat di cintainya itu.
Queenzi geram bukan main dengan semua kejadian yang baru saja menimpanya.
"Senja, jadi namanya Senja." Queen bergumam pelan sambil mengepalkan tangnnya.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu mengambil Dirga dariku. Kau lihat saja, Senja. Aku akan membalasmu! " Seringai tajam menandakan kemarahan Queenzi yang cukup dalam akan sosok Senja yang di anggapnya sebagai perusak hubungannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Ujung Harapan
semangat senja❤️😍
2023-07-03
0