Malam ini Senja sulit memejamkan mata. Gadis itu gelisah di a tas tempat tidurnya. Berulang kali bertukar posisi namun tetap tak bisa terlena. Bayangan wajah tampan Dirga menari-nari di kepalanya.
Ajakan Dirga untuk berteman dengannya juga terus terngiang di telinga.
Gadis itu bingung harus menjawab apa. Di satu sisi ia ingin menolak. Tapi sebelah hatinya mengatakan berbeda
Senja tak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Ia merasa ada yang aneh dengan hati dan pikirannya. Hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Dan kegelisahan Senja malam ini rupanya juga di rasakan oleh ibunya. Wanita paruh baya itu melihat lampu kamar Senja masih menyala. Itu artinya putri cantiknya itu belum tidur.
"Senja, " panggilnya sambil mengetuk pintu.
Senja yang sedang gelisah langsung terlonjak mendengar panggilan ibunya. Tapi ia tak langsung menjawab. Ia tampak berpikir akan menyahut atau pura-pura tidur.
"Senja, " Panggilan kedua dari ibunya membuat Senja tak punya pilihan lain selain menyahut. Lagipula dia juga yakin kalau ibunya tahu dia belum tidur.
"Ya Bu. Masuklah. "
Nawang Wulan ibunda Senja langsung membuka pintu begitu mendapat izin.
"Belum tidur, nak? sudah malam? "
"Belum, Bu. Aku belum bisa tidur. "
"Kenapa? Apa ada yang menganggu pikiranmu? " Wulan duduk di tepi ranjang.
Senja menatap ibunya sejenak. Bimbang mau menceirtakan atau tidak.
"Ada apa, Nak. Kalau ibu perhatikan sejak beberapa hari ini kau nampak berbeda dari biasanya. Kau lebih banyak diam. "
"Benarkah? "
Senja kembali menatap ibunya. Tak menyangka kalau ibunya ternyata menyadari ada yg aneh dengan dirinya, padahal dia sendiri tidak menyadari nya.
"Hmm, ada apa. Ayo ceritakan pada ibu. "
"Hmm itu, Bu. Pemuda yang kita jumpai di pantai kemarin---"
"Kenapa? Apa dia mengganggumu lagi? " Mendengar kata pemuda Wulan langsung tahu siapa yang di maksud putrinya.
Senja menggeleng
"Tidak, tapi dia bilang ingin berrteman dengan ku." jawabnya sambil tertunduk, takut ibunya marah atau menunjukan rasa tidak sukanya.
Wulan sendiri langsung menghela nafas mendengar penuturan putrinya. Ia cukup sadar kalau putrinya itu memang masih sangat lugu. Gadis cantiknya itu tidak paham kalau seorang pria mengatakan ingin menjadi teman pada seorang perempuan, itu berarti dia punya maksud lain.
"Apa kau merasa terganggu oleh pemuda itu? atau kau merasa tidak nyaman dengannya? "
Senja makin tertunduk. Kembali bimbang harus menjawab apa.
"Kalau memang kau merasa terganggu, biar besok ibu yang akan bicara padanya. "
"Tidak, Bu." Kali ini Senja menggeleng dengan cepat.
"Aku hanya merasa takut. Aku tidak pernah punya teman sebelumnya, " ucapnya hati-hati
Wulan kembali tersenyum lalu mengusap kepala putrinya.
"Kau sudah besar, Nak. Mungkin sudah saatnya kau punya teman."
Senja langsung mendongak menatap ibunya, dan ibunya sendiri langsung menangkap binar bahagia dari wajah putrinya.
"Maksud ibu, aku boleh berteman dengannya? "
"Yaah, selama dia tidak menyakitimu. "
Mendengar itu Senja kembali menunduk. Ia tersadar akan siapa dirinya.
"Tapi aku takut nantinya dia akan tahu tentang siapa aku dan tidak bisa menerima ku, "
Wulan faham sekali, selama ini hal yang paling di takutkan Senja adalah kalau orang-orang tahu siapa dirinya. Itulah sebabanya dia selalu menutup diri untuk siapapun. Meski tidak pernah menyalahkan keadaan, tapi ibundanya paham betapa putrinya selama ini cukup menanggung beban karena mempunyai orang tua yang berbeda dari yang lainnya.
Dan kalau sudah begitu, Wulan hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri. Meski sekali lagi. Dia sendiri pun tidak pernah menyalahkan keadaan, karena sejatinya memang dialah yang menginginkan itu semua.
"Senja, dengarkan Ibu. " Wulan meraih tangan putrinya lalu menggenggamnya erat seolah ingin memegaskan bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan, kendati dia sendiri sebenarnya merasa khawatir.
"Kalau memang dia tulus ingin berteman denganmu. Maka dia pasti bisa menerima semua tentang dirimu. "
"Benarkah, Ibu? " Gadis polos itu masih saja merasa khawatir.
"Iya, Nak. Yang penting mulai dari sekarang kau harus mulai belajar mengontrol emosimu. "
Salah satu hal yang membuat Senja dan Ibunya menutup diri dari orang lain adalah karena Senja mempunyai temperamen yang sangat tinggi. Gadis itu mudah sekali marah. Dan kalau sudah marah ia bisa menghancurkan apapun atau bahkan menyakiti siapapun.
Pernah dulu waktu Senja masih kecil, Ibunya mencoba menyekolahkan dia. Tapi baru dua hari masuk sekolah, Senja sudah langsung menyakiti dua temannya sekaligus. Dia menghajar kedua temannya itu sampai sampai babak belur bahkan sampai masuk rumah sakit.
Saat di tanya kenapa, Senja menjawab karena teman-temannya itu mengejeknya dan mengatakan kalau mata Senja yang kemerahan itu seperti mata hantu. Meski memang kenyataannya seperti itu, btapi Senja tak terima dan langsung menyerang kedua temannya itu.
Semenjak itu, Wulan memutuskan untuk tidak menyekolahkan Senja di sekolah manapun karena takut kejadian yang sama akan terulang. Wulan sendiri sadar betul kalau putrinya memang berbeda dari anak lain.
Alhasil untuk mensiasati hal itu, Senja menempuh pendidikannya di dalam rumah dengan memanngil guru privat. Dan itupun selalu dalam pengawasan Wulan ataupun neneknya. Karena hanya mereka lah yang bisa mengendalikan kalau Senja sedang tantrum.
"Apa aku bisa, Bu? "
Rasa khawatir bercampur sedih kali ini mendominasi wajah gadis itu. Mengendalikan dirinya sendiri adalah hal yang sangat sulit di lakukannya hingga saat ini.
"Pasti bisa, Nak. " Wulan melepaskan genggaman tangannya lalu kembali mengusap kepala Senja.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Semuanya akan baik-baik saja. Bertemanlah kalau kau memang ingin berteman dengannya. "
Senja akhirnya tersenyum demi mendengar ucapan ibunya yang cukup menenangkan.
"Terimakasih, Bu. " Gadis itu kemudian memeluk ibunya. Ibu yang sangat di sayanginya. Ibu yang selalu melindungi dan menenangkannya. Ibu yang selalu mengajarkannya untuk tidak mengutuk keadaan, tak peduli seburuk apapun kenyataan itu.
"Sama-sama, Sayang. " Wulan menepuk-nepuk pundak putrinya lalu melepaskan pelukannya.
"Ya sudah, tidurlah. Sudah malam, Ibu sudah mengantuk."
"Baik, Bu. " Senja mengangguk sambil tersenyum.
Wulan kemudian keluar dari kamar putrinya setelah sebelumnya mematikan lampu kamar.
Ada perasaan aneh yang mendera. Antara senang dan juga khawatir.
Ia tahu putrinya sekarang sudah dewasa. Ia tidak bisa terus menyembunyiaknannya dari dunia. Ia tahu kelak suatu saat putri kesayangnya itu pasti akan merasakan apa yang di rasakan oleh semua makhluk di dunia, yaitu jatuh cinta. Karena jangankan manusia, bahkan makhluk tak kasat mata saja tidak bisa menolak kehadiran cinta.
Ia sudah membuktikannya sendiri. Dia jatuh cinta dan tak bisa lepas dari suaminya, Bayu samudra. Soaok yang tak sepenuhnya nyata. Sosok yang entah berasal dari dunia sebelah mana. Tapi yg pasti dia jatuh cinta padanya dan tak pernah ingin berpisah darinya. Tak peduli apapun yang terjadi.
Hal itulah yang membuatnya tak bisa terus menyembunyikan Senja, Kalau memang ada pria yang ingin dekat dengannya, tentu ia tak bisa melarangnya. Wulan hanya berharap siapapun pria itu, dia bisa menerima Senja lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangnnya. Harapan yang sama yang pastinya dimiliki oleh seorang Ibu di manapun tempatnya.
Wulan menghela nafasnya. Mulai dari hari ini, dia sendiri harus bersiap untuk lebih mendampingi Senja untuk memulai fase baru dalam hidup putrinya. Putri cantiknya yang bahkan tidak tidak mengerti apa itu cinta.
Perempuan paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dan mempesona itu berjalan pelan memasuki kamarnya, bermaksud hendak mengistirahatkan badannya. Namun
saat membuka pintu Wulan di buat terkejut oleh kehadiran suaminya. Pria itu tersenyum begitu sosok istrinya muncul dari balik pintu.
"Bayuu! kau sudah pulang sayang? " Berjalan cepat lalu langsung menghambur ke pelukan Bayu samudra.
"Hmm, aku tidak tega melihat istri cantik ku terlalu lama menunggu. " Baru saja sampai Bayu sudah langsung menggoda iatrinya.
"Benar. Kau sudah terlalu lama pergi. Dan entah kenapa kali ini aku merasa lebih lama dari biasanya. " Wulan melepas pelukannya setelah cukup puas melepas rindu.
Ia senang sekali rasanya, Bayu pulang di saat yang tepat. Saat ia ingin menceritakan tentang putri mereka.
"Maaf membuatmu selalu menunggu. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Ini satu-satunya cara supaya aku tetap bisa berrtahan disimu. "
Bayu tahu betul apa yang dia rasakan Wulan. Setiap dia pergi untuk bersemedi, Wulan pasti akan merasa kesepian. Kendati itu sudah berlangsung lebih dari seperempat abad, tapi tetap saja, rasa kehilangan saat Bayu tidak ada disisinya masih saja di rasa Wulan.
Tapi kembali pada kenyataan kalau Bayu samudra suaminya itu memang tak sama sepertinya. Makhluk itu berasal dari dunia gaib bawah laut yang tak kasat mata. Dan untuk tetap berada di dunia manusia dan tetap bisa bersanding dengan istri dan anaknya, maka setiap kondisi nya melemah Bayu harus kembali ke asalnya untuk bersemedi mencarger kekuatannya.
Hal itu terjadi hampir setiap seratus hari sekali. Jadi kehidupan Bayu terbagi menjadi dua bagian. Seratus hari di dunia Wulan, dan seratus hari di dunianya. Bayu tidak punya kekuatan untuk terus berada di dunia Wulan. Setiap kondisinya melemah, ia harus segera pulang. Kalau dia memaksakan untuk terap tinggal, maka dia akan menghilang dengan sedirinya dan tidak akan bisa kembali lagi.
Pelik memang. Tapi itulah yang terjadi. Wulan sudah tau itu sejak awal. Dan ia memutuskan untuk tetap bersama Bayu, jadi mau tak mau. Sekarang dia harus menerima kenyataan kalau suaminya tak bisa selalu ada untuknya.
Wulan tersenyum
"Ia aku tahu, kau tak perlu merasa bersalah begitu. Sejak awal kan kita sudah sepakat.
Bersambung
Bagi yang baru bergabung dan masih bingung tentang siapa Bayu dan Wulan, silahkan baca kisah mereka di novel LEMBAYUNG SENJA. Karena sekali lagi, kisah ini adalah lanjutan kisah LEMBAYUNG SENJA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Ujung Harapan
belum bisa move on dari pasangan Bayu Wulan ❤️
2023-07-03
0
Anislin Jupe
buat Lagi adik senja
2023-03-14
1