Beberapa pekan sejak pertemuannya dengan Senja, hati Dirgantara selalu saja merasa tidak tenang. Ada saja hal yang membuatnya selalu teringat gadis itu. Bayangan wajah polos gadis itu selalu saja memenuhi ruang pikirnya. Dan yang membuat Dirga terkadang merasa kesal sendiri, Senja sering mampir di ingatannya saat dia tengah fokus bekerja. Saat konsentrasinya seharusnya hanya tertuju pada pekerjaan.
Seperti sore ini. Eksekutif muda itu nampak tersenyum saat melihat dengan jelas sosok Senja berdiri di sudut ruangan. Bahkan senyumnya makin melebar saat melihat gadis itu melambaikan tangan ke arahnya. Entah sadar atau tidak, Dirga juga ikut mengangkat tangannya dan melambai pada sosok di sudut ruangan.
"Tuan..? "
Nayra sang sekertaris memandang heran sambil melihat ke sudut yang sedang di lihat oleh atasannya.
Tidak ada siapa-siapa, tapi kenapa Dirga tersenyum dan melambaikan tangan. Tentu saja itu yang ada di pikiran Nayra.
Dan ternyata bukan hanya Nayra saja yang heran melihat tingkah Dirga. Seluruh orang yang ada di ruangan itu pun di buat heran.
"Tuan..? "
Melihat atasanya menjadi pusat perhatian, karena memang ia berdiri di kursi paling depan, Nayra pun kembali memanggil. Namun tetap saja tak di hiraukan.
"Tuan..! "
Kali ini suaranya sengaja ia keraskan.
"Eh, iya, iya, kenapa? "
Dirga menjawab gugup sambil melihat sekelilingnya. Di situlah dia sadar kalau semua mata sedang memperhatikannya dengan raut heran.
"Anda baik-baik saja kan? " Nayra bertanya hati-hati
"Yah, tentu saja, " Masih dengan mimik gugup Dirga kembali menatap ke sudut ruangan, memastikan kalau gadis manis itu masih berdiri disana. Tapi ternyata---.
'Sial ! ternyata aku hanya berhalusinasi' Rutuk nya dalam hati karena melihat Senja sudah tak ada di sudut sana, dan itu berarti yg dia lihat tadi hanyalah khayalanya saja.
'Ya Tuhan, kenapa aku jadi begini'
Dirga mengusap wajahnya sambil menghela nafas. Tak habis pikir kenapa dia bisa sampai sebodoh ini. Menghayalkan Senja disaat dia seharusnya fokus pada persentase yg sedang di jelaskan bawahan nya.
"Bisa kita lanjutkan, Pak? " Pria yg tadi membacakan presentasi bertanya hati hati.
Dirga kembali melihat ke sekeliling. Anggota meteengnya masih melihatnya dengan pandangan tidak mengerti.
"Ehm, kita pending saja meteeng kali ini. Aku sedang tidak fokus, kita lanjut besok saja. "
"Baik, Pak. " Meski masih saja merasa heran. Tapi semua anggota meteeng kompak menjawab. Tentu saja, memangnya siapa berani melawan Dirgantara. Daripada mereka di pecat, lebih baik mengangguk tanpa banyak tanya.
Sedangkan bos muda langsung buru-buru meninggalkan ruangan tanpa berkata apa-apa lagi.
"Nayra, ada apa dengan si Bos? Dia aneh sekali hari ini?" Salah satu anggota meteeng bertanya heran setelah memastikan atasannya benar-benar sudah keluar.
"Entahlah, aku juga heran. Akhir-akhir ini si Bos memang sering begitu, sering tidak fokus," jawab Nayra sambil mengemasi berkas-berkas di hadapannya, begitu juga dengan yang lain. Mereka bersiap hendak meninggalkan ruang meteeng.
Sementara itu Dirgantara langsung mengambil mobilnya dan meluncur ke suatu tempat.
"Senja, kau yang membuatku jadi seperti ini. Kau harus bertanggung jawab. " Mengomel sendiri sambil berusaha fokus mengemudi.
Dirga melirik arlojinya begitu sampai di tempat tujuannya. Pantai berpasir putih.
"Baru jam segini, apa mungkin gadis itu sudah ada disini.?
Pandangan Dirga berkeliaran mencari ke setiap sudut. Ia juga sempat melihat ke udara. Matahari tidak bersinar cerah hari ini. Bahkan sejak tadi pagi bola raksasa itu tidak menunjukan keganasan. Atau boleh di bilang cuaca hari ini tidak begitu cerah.
Senyum Dirga langsung mengembang saat pandangannya menangkap sosok misterius yang kerap mengganggu hati dan fikirannya.
Ia lalu berlari kecil menghampiri.
"Senja." sapanya pada gadis yg tengah berdiri di tepi pantai.
"Dirga? " Senja tertegun heran. Seseorang yang baru saja hinggap di fikirannya ternyata sekarang sudah ada di dekatnya. Ternyata sejak tadi gadis itu mematung sambil memikirkan Dirga.
"Yah, ini aku. Apa aku mengganggumu? " Dirga tersenyum di sela-sela basa-basinya.
"Tidak, aku hanya terkejut tahu-tahu kau sudah ada disini. "
Dirga melongo di tempatnya. Ia hampir tak percaya kalau gadis di depannya yang biasanya tak banyak bicara sekarang mau menjawab dengan lancar ucapannya.
"Kau sudah dari tadi? " Tak membuang-buang waktu. Mumpung Senja sedang mau bicara, Dirga langsung melanjutkan basa-basinya.
"Lumayan." senja mengangguk
"Cuaca hari ini tidak begitu terik, makanya aku datang lebih cepat. "
'Oh ya Tuhan, dia benar-benar mau bicara sekarang. ' Pria maskulin itu bersorak dalam hati.
"Iya benar, cuaca hari ini sangat sejuk. Cocok untuk main di pantai. Apa kau mau berselancar? "
"Tidak." Kali ini hanya itu yang keluar dari mulut Senja.
"Ooh, akhir-akhir ini aku lihat kau jarang berselancar, apa kau sedang sakit? "
Dirga ingat ucapan Arya kalau Senja tidak berselancar itu berarti dia sedang sakit.
Dirga berharap jawaban Senja akan ramah seperti tadi. Tapi di luar dugaan, gadis itu menoleh dengan tatapan tajam dan mata merahnya. Dan menurut Dirga mata Senja juga lebih merah dari biasanya.
Dirga langsung pafam kalau Senja tidak suka dengan pertanyaanya. Pria itupun langsung berusaha meralat.
"Maaf, kalau aku salah bicara. Kau tidak perlu menjawab. " Sambil menelan ludahnya.
'Sepertinya harus hati-hati sekali bicara pada gadis aneh ini'
"Oh ya, kau mau minum air kelapa, Senja? " Berusaha mengalihkan obrolan di samping karena Dirga juga merasa kerongkongannya terasa sangat kering.
Senja hanya mengangguk, sama sekali tak menatap pada Dirga, sepertinya ucapan Dirga tadi benar-benar telah membuat suasana hatinya berubah. Padahal Dirga hanya bertanya apa dia sakit.
Dirga langsung bergerak. Tak ingin lagi bertanya apapun, takut salah bicara lagi. Namun sambil berjalan pria itu terus berfikir tentang topik apa selanjutnya yg akan dia jadikan bahan untuk mengobrol dengan Senja nanti. Pria berahang kokoh itu merasa sulit mengajak Senja bicara santai. Gadis itu gampang sekali tersinggung.
Setelah mendapatkan kelapa muda Dirga bermaksud kembali menemui Senja. Namun langkahnya terhenti beberapa meter dari tempat Senja berdiri. Dirga sangat terkejut dengan apa yang baru saja di lihatnya. Senja sedang berpelukan dengan seorang pria.
"Apa ini? Ku pikir dia tidak punya kekasih. Dia bahkan tidak pernah berteman dengan siapa pun. Tapi kenapa sekarang dia berpelukan mesra begitu. Siapa pria itu? "
Hati Dirga langsung panas melihat Senja sedang di peluk oleh orang lain. Gadis yang selama ini ia kira polos ternyata berani berpelukan mesra begitu di tempat umum. Yah walaupun pantai masih sangat sepi, tapi tetap saja tidak seharusnya dia beradegan begitu
Dirga ragu apakah akan meneruskan langkahnya atau tidak. Di satu sisi dia sangat kesal dan ingin langsung meninggalkan pantai, tapi di sisi lain hatinya penasaran dan ingin tahu siapa ptia itu.
Akhir nya setelah berperang melawan hati, Dirga memutuskan untuk tetap mendekat. Ia akan mencari tau siapa pria yang sudah berani memeluk gadis incarannya itu.
"Senja.. "
Suara panggilan Dirga membuat Senja melepaskan pelukannya dari pria itu.
"Eh Dirga, kau sudah datang? "
"Hmm, ini air kelapa mu, " Menyodorkan kelapa muda seraya melirik pada pria tinggi besar di samping Senja. Pria itu terlihat cukup gagah dan kalau Dirga boleh menebak, usianya pasti hanya selisih beberapa tahun dari dia.
'Atau jangan-jangan dia ini kakaknya? ' bathinya menerka nerka.
Sementara pria di samping Senja tersenyum santai seolah tak peduli dengan lirikan sinis Dirga.
"Terimakasih. " Senja menerima air kelapanya.
"Oh ya, Dirga. Kenalkan ini Ayahku. "
Dirga hampir terlonjak oleh ucapan Senja. Dia juga hampir saja menjatuhkan kelapa mudanya, saking terkejutnya
'Ayah? jadi pria ini Ayahnya? kenapa masih muda sekali? '
Lagi-lagi Dirga di buat terkejut oleh hal baru tentang Senja. Tapi meski hatinya masih di penuhi tanda tanya, ia tetap berusaha tersenyum dan mengangguk pada Ayah Senja.
"Selamat, sore---Ayahnya Senja. " Bingung harus memanggil apa, akhirnya Dirga menyapa dengan panggilan yang menurutnya sendiri sangat konyol.
Bayu samudra tak menyahut, hanya sedikit tersenyum dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Ayah, ini Dirga. Teman baruku. " Dengan sumringah Senja memperkenalkan Dirga pada Ayahnya. Raut wajah bahagia nya tak bisa di sembunyikan. Dan itu bisa terbaca jelas oleh Ayahnya. Dan dengan mudah dapat di artikan olehnya kalau putrinya sedang jatuh cinta.
"Ooh, putri ayah sudah punya teman sekarang? "
Berusaha antusias menanggapi supaya putri cantiknya tidak merasa di abaikan.
"Iya, Ayah. Aku baru saja berteman dengannya. Boleh kan Ayah? "
"Tentu saja, sayang. Selama dia tidak mengganggumu, dan apalagi menyakitimu. " Ucapan Bayu terdengar sangat lembut tapi bagi Dirga itu adalah ancaman yang sangat mengerikan. Terlebih Bayu mengatakan itu sambil menatap tajam ke arahnya. Tatapan yang jauh lebih mengerikan dari yang biasanya dia lihat dari mata Senja.
Dengan matanya yang tiba-tiba berubah sangat merah, tatapan Bayu seperti sebuah belati tajam yang seolah langsung merobek robek tubuh Dirga. Membuat pria itu gemetar ketakutan di tempatnya.
"Tidak, Ayah. Dirga itu baik kok. " Senja memang gadis yang masih sangat polos. Dia tidak cukup paham maksud Ayahnya.
"I-iya, Ayahnya Senja. A-aku akan selalu berusaha bersikap baik pada Senja. "
"Bagus lah kalau begitu, jadi aku tidak perlu lagi merasa khawatir."
"Hmm." Dirga hanya bisa mengangguk sambil tersenyum menanggapi.
"Tapi ngomong-ngomong panggilan mu padaku sangat tidak enak di dengar. Terdengar sangat sungkan. Bagaimana kalau panggil Paman saja, biar lebih akrab. "
Sebenarnya ucapan Bayu terdengar cukup ramah dan bersahabat, tapi tatapan matanya mengisyaratkan lain. Makhluk itu bahkan tak tersenyum sedikitpun saat mengatakan itu. Ia hanya melirik sekilas pada Dirga dengan lirikan setajam silet yang seolah tengah menyayat wajah Dirga.
Dan untuk kesekian kalinya Dirga hanya mampu menelan ludah. Demi Tuhan kesan maskulin dan garang yang biasanya selalu terpancar dari wajah tampannya kini mendadak lenyap seketika. Ia merasa saat ini tengah berhadapan dengan monster pembunuh yang siap menghabisinya saat itu juga, hanya dengan tatapan mata.
"I-iya, Pa-man. " Terbata-bata mengucapkan itu. Dirga benar-benar tak menyangka kalau Ayahnya Senja ternyata berkali-kali lipat lebih mengerikan dari pada putrinya. Dan mata merah yang tadi di perlihatkan olehnya, di rasa Dirga benar-benar tidak seperti mata manusia. Lebih mirip mata---
Dirga menggelengkan kepala nya sesaat, mengusir pikiran buruk yang tiba-tiba bersarang. Ia kemudian berusaha berpikir jernih bahwa apa yang di lakukan Ayahnya Senja hanya bentuk kasih sayang nya pada putri cantiknya yang tidak ingin di sakiti oleh siapapun.
Wajar saja, Ayah manapun pasti akan bersikap demikian. Yaah meskipun ini cukup berlebihan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Fatonah Fatonah
aku Baca nya dari eps 10 ini soal nya eps 1 sampi 9 dah baca di FB.. smngat author aku suka cerita nya bagus...❤️❤️
2023-03-07
1