"Aku tidak menyalahkan siapapun, Bayu. Aku hanya sedang rindu. "
Bayu langsung merengkuh Wulan dalam peluknya. Iba melihat istrinya harus terus merasakan kesendirian seperti ini.
"Ohya, ada yang ingin ku ceritakan padamu, " ucap Wulan masih dalam pelukan Bayu
"Soal Senja? " tebak Bayu
"Kau sudah tahu? " Wulan balik bertanya sambil melepaskan diri dari pelukan Bayu.
"Hmm." Bayu mengangguk.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Tidak ada, kita hanya perlu mengamati. Selama pemuda itu tidak punya niat buruk padanya, aku rasa tidak ada yang perlu di khawatirkan. Lagipula Senja sudah dewasa, kita tidak bisa terus menyembunyikannya dari dunia. Pada akhirnya, dia pasti akan merasakan yang namanya jatuh cinta. "
Wulan mengangguk-angguk mendengar penjelasan Bayu. Apa yang di sampaikan oleh suaminya sama persis dengan apa yang ada di pikirannya.
"Tadi aku juga sudah bicara pada Senja. Dia sepertinya masih ragu, tapi dari sorot matanya aku bisa melihat dengan jelas kalau putri kita sedang jatuh cinta. " Wulan tersenyum membayangkan ekspresi Senja tadi.
"Tentu saja, kau ibunya. Kau pasti tahu setiap prilaku dan gelagat Senja. "
"Tapi aku takut, Bayu. Aku takut kalau pemuda itu hanya mempermainkan Senja. Senja kita masih sangat polos. Dia tidak tahu apa-apa tentang cinta. " Raut wajah Wulan langsung berubah. Bagaiamana tidak, membayangkan anaknya akan di sakiti oleh orang lain. Ibu manapun pasti akan merasa khawatir.
Bayu sendiri cukup paham kekhawatiran istrinya. Ia lalu mengusap kepala Wulan sekedar untuk memberi dukungan.
"Stt, jangan berpikir macam-macam. Kita kan belum mengenal pemuda itu. Dan lagi aku juga tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anak kita. "
"Kalau sebaliknya bagaimana? "
"Maksudmu kalau Senja yang menyakiti pria itu? " Bayu memperjelas maksud pertanyaan Wulan.
"Iya." Angguk Wulan
"Kau tahu kan kalau Senja itu temperamen, Dia mudah sekali marah. Sama persis sepertimu. "
Bayu tersenyum mendengar ucapan jujur Wulan. Tidak berusaha menyangkal karena memang kenyataannya begitu.
"Yah kalau memang Senja yang menyakitinya berarti dia memang pantas mendapatkan itu."
"Hah? Apa kau sedang membiarkan putri kita menyakiti orang lain? " Wulan menautkan alisnya. Heran dengan pembelaan Bayu.
"Bukan begitu, Sayang. " Ralat Bayu cepat karena mendengar nada tinggi istrinya.
"Aku tahu Senja kita itu temperamen, sama persis sepertiku. Tapi kau juga harus tahu kalau baik aku maupun Senja tidak pernah menyakiti siapapun selama orng itu juga tidak menggangu kita. "
Wulan langsung menatap Bayu dengan tatapan serius. Ia merasa ucapan suaminya itu sangatlah benar. Dia sudah puluhan tahun menikah dengan Bayu dan sekaligus menjadi ibu bagi Senja, tapi kenapa dia bisa lupa akan hal itu.
"Kau benar. Bayu. Kalian berdua tidak akan menyakiti siapapun selama mereka tidak mulai duluan. "
"Hmm, itu yang kumaksud. " Bayu mengacungkan telunjuknya.
"Tapi bukan berarti kita membiarkan Senja menyakiti orang lain kan?" kali ini timbul pemikiran baru. Pemikiran yang jauh lebih bijak tentu saja.
"Tentu, Sayang. Aku juga tidak mau Senja kita menjadi monster sepertiku. Aku ingin dia menjadi gadis yang lembut sepertimu. Karenanya kita harus selalu mendampinginya dan membantu mengontrol emosinya. "
Wulan kembali mengangguk.
"Iya, Bayu. Aku juga sudah bicara padanya tadi. "
"Bagus. Aku tahu kau ibu yang sangat baik. " Sambil mengusap puncak kepala Wulan.
"Tentu." Wanita berwajah lembut itu mengibaskan ujung rambutnya yang seketika langsung membuat suaminya tergelak. Sikap Wulan yang seperti inilah yang membuatnya kerap merasa sesak saat harus berpisah dengannya.
"Oh ya, Bayu. Apa kau sudah tahu wajah pemuda itu? Entah kenapa aku merasa sangat familiar dengan wajahnya."
"Ohya? tapi aku tidak merasa begitu. Wajahnya asing bagiku. Lagipula kita kan memang belum mengenal dia sebelumnya. " Pungkas Bayu
"Iya, memang. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Eh tapi ngomong-ngomong dia itu sangat tampan kan? sangat cocok dengan Senja kita yang manis? " puji Wulan sambil tersenyum membayangkan Dirga dan Wulan berdampingan. Namun pujiannya malah justru mendapat cibiran dari Bayu.
"Ya dia memang cukup tampan, tapi tetap tidak setampan aku kan? " Bayu memasang wajah paling tampan yang di punyanya membuat Wulan langsung tertawa.
"Tentu saja, kau adalah makhluk paling tampan bagiku, " Wulan membenarkan asumsi Bayu sembari mengucek rambut makhluk itu.
Keduanya lalu tertawa bersama. Meski tak lagi muda dan sudah menikah cukup lama, tapi percayalah keromantisan mereka tetap terjaga. Apalagi keduanya masih terlihat tampan dan cantik, jadi tidak pernah bosan untuk saling memandang.
"Hmm ngomong-ngomong apa kita akan terus membahas sola Senja dan temannya itu? apa tidak ada yang ingin kau lakukan? kau bilang tadi rindu padaku. " Bayu mengedipkan sebelah matanya.
Wulan yang tahu betul maksud Bayu langsung merona di buatnya. Itulah bukti nyata bajwa mereka memang masih tetap jatuh cinta, tak peduli berapa lama sudah bersama.
"Hmm seperti nya tidak ada, aku mengantuk. Aku mau langsung tidur saja. " Wulan pura pura menguap
"Benarkah, kalau begitu akan membuatmu tertidur karena kelelahan. " Tanpa menunggu jawaban Wulan, Bayu langsung memegang leher Wulan dan mencium bibirnya. Wulan tidak menolak karena jujur dia juga sangat merindukan itu.
Dia juga membiarkan Bayu mengigit beberapa bagian lehernya sambil melepas satu persatu pakiannya.
Mereka sudah lama tak bertemu jadi setiap kali bertemu pasti akan ada suara nafas yang memburu memenuhi ruangan kamar mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments