"Ayahmu masih muda ya? "
Dirgantara membuka kembali obrolannya saat Ayahanda Senja sudah pergi. Pria itu memang hanya sebentar singgah ke pantai. Ia sengaja menemui anaknya karena tadi pagi ia belum bertemu.
Saat ia dan Nawang wulan berangkat ke butik Senja belum bangun, itulah sebabnya dia belum sempat bertemu putri cantiknya itu. Dan saat ia dan istrinya pulang, ternyata Senja sudah tidak di rumah, karena saking rindunya Bayu memutuskan untuk menemui putrinya kepantai.
Meski sebenarnya tujuan utamanya bukan itu. Ia ingin bertemu dengan Dirgantara, orang yang menurut Wulan sedang berusaha mendekati putrinya.
"Ya begitulah. "
Tak banyak menjawab, hanya itu yang keluar dari mulut Senja. Ia tak tahu harus menjelaskan apa. Ia juga tak mungkin mengatakan siapa Ayahnya sebenarnya sehingga membuat beliau masih tetap awet muda meski sudah mempunyai anak gadis yang sudah dewasa.
"Ayah dan Ibumu pasti pandai merawat diri makanya selalu terlihat awet muda. "
Sebenarnya maksud Dirga ingin memuji kedua orang tua Senja, tapi reaksi gadis itu sungguh di luar dugaan. Ia menoleh dengan tatapan tajamnya. Sepertinya ucapan Dirga barusan sudah sangat mengusiknya.
"Oh ya aku sudah memesan beberapa makanan untukmu, kau mau makan sekarang? Pesanan nya pasti sudah jadi."
Sadar kalau Senja tidak nyaman dengan ucapannya, Dirga buru-buru mengalihkan topik yang memang sangat pas dengan situasi. Begitulah, entah di sengaja atau tidak, Dirga mulai terbiasa dengan sikap Senja yang sangat mudah tersinggung.
Kalau gadis itu sudah menunjukan tanda-tanda demikian, maka Dirga pasti akan langsung tanggap dan berganti topik.
Senja menanggapi ajakan Dirga dengan anggukan. Gadis itu kemudian berjalan terlebih dahulu menuju tempat yang di maksud Dirga.
Beberapa makanan memang sudah tersaji disana
keduanya lalu duduk santai sambil menikmati pemandangan pantai dari gazebo yang di dududki keduanya. Yang tepat menghadap kelautan lepas.
Jangan di tanya bagaimana rasanya, sudah pasti sangat menyenangkan. Terlebih bagi Dirga yang memang jarang sekali menghabiekan waktu di tepi pantai. Hanya sejak mengenal Senja lah pria maskulin itu jadi kerap melakukannya.
Tapi sayangnya Senja tidak menyentuh apa yg tersaji di depannya, ikan bakar dengan bumbu kuning serta seafood saus tiram yang sangat menggoda sama sekali tidak membuat Senja tertarik untuk mencicipinya.
Bahkan saat Dirga sudah memulai mencicipi salah satunya, Senja masih tak bergeming.
"Kau tidak makan, Senja? "
Senja hanya menggeleng.
"Kenapa? kau tidak suka makanan ini? "
Memandang Dirga sejenak lalu kembali menggeleng.
"Aku tidak makan ikan dan sejenisnya."
"Ooh kau vegetarian rupanya? "
"Hmm tidak juga. "
"Lalu..? "
"Aku hanya tidak suka saja, lagipula mana mungkin aku memakannya, mereka itu sahabatku." Sambil memandang ikan bakar dan makanan laut di depannya.
"Hah..! "
Tentu saja jawaban Senja membuat Dirga terkejut heran.
"Mereka sahabatmu? maksudnya kau bersahabat dengan ikan dan sejenisnya? "
Spontan saja pertanyaan aneh itu terucap dari mulut Dirga. Bagaimana tidak, Mendengar jawaban Senja barusan siapapun pasti akan berpikiran sama dengan Dirga.
"Oh, eh, itu, eum, bukan itu maksudku. "
Tergagap Senja menyadari dirinya telah keceplosan bicara.
"Aku, aku kan sudah biasa bermain di laut, jadi aku sudah menganggap mereka seperti temanku sendiri. Lagipula aku kan tidak punya teman, jadi apa salahnya aku menganggap mereka teman. "
Dirga melongo dengan sejuta rasa herannya. Mencoba mengerti tapi tetap saja itu terlalu sulit di mengerti. Senja tidak mau memakan ikan dan sejenisnya hanya karena dia merasa mereka itu temannya.
Pada akhirnya pria itu hanya mampu menelan ludahnya. Mencoba kembali pada kenyataan awal bahwa Senja itu memang gadis aneh dan misterius. Setiap bertemu dengannya ada saja hal-hal aneh yang akan dia lihat atau temui. Keterkejutannya akan sosok ayah Senja saja belum hilang, dan sekarang dia seperti menemukan sebuah fakta baru yang semakin memperjelas tentang keanehannya.
"Baiklah, kau tidak mau memakan mereka karena mereka itu temanmu. "
Dirga mengangguk-angguk, berpura-pura paham meski di kepalanya masih di penuhi tanda tanya.
"Kalau begitu apa kau mau makanan lain, biar aku pesankan? "
"Tidak, tidak perlu. " Senja menggeleng cepat.
"Kau teruskan saja makanmu, aku minum air kelapa saja sudah cukup. Lagipula aku memang tidak terlalu lapar. "
"Baiklah kalau begitu. " Dirga juga menyudahi acara icip-icipnya. Mana mungkin dia makan sendiri sementara gadis di depannya hanya melihatnya. Lagipula entah mengapa selera makannya juga mendadak hilang. Mungkin karena di hantam badai terkejut yang tak berkesudahan. Entahlah !
Dirga kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ada beberapa pesan masuk, tapi di abaikannya. Ia tak ingin siapapun mengganggu waktunya dengan Senja. Senja sudah sangat komunikatif sekarang, dan itu di jadikan Dirga sebagai kesempatan untuk semakin mendekati gadis itu. Peduli setan dengan semua keanehannya. Dirga sudah terlanjur tertarik padanya.
"Oh ya, Senja. Apa kau punya sosial media? Instagram atau apa? "
Entah dapat ide dari mana, tiba-tiba Dirga tertarik untuk menanyakan itu. Kemampuannya dalam mengalihkan ataupun membuka obrolan audah semakin teruji semenjak bersama Senja.
"Hmm." Sambil mengangguk.
Dirga sendiri sudah dapat mengira, meski Senja sangat tertutup, tatapi taetap saja gadis itu hidup di era milenial dimana sosial media tak lagi hanya sekedar hiburan, melainkan suatu kebutuhan. Dan gadis itu juga ternyata tidak se primitif yang ia pikir sebelumnya.
"Boleh aku tahu namanya? "
Senja terdiam sejenak, seperti berfikir akan memberitahu atau tidak.
"Senja Wulan Samudra. "
Akhirnya setelah sempat berperang dengan hatinya, Senja menjawab juga.
"Wow, bagus sekali, apa itu nama aslimu? " Antusias Dirga
Lagi-lagi Senja hanya mengangguk.
Dirga langsung membuka akun sosial medianya dan mencari nama yang di sebut Senja. Beberapa muncul dari hasil pencarian. Tapi yang paling mirip dengan nama tadi cuma ada satu. Tapi akun itu tanpa foto propil pengguna, yang terpampang hanya sebuag foto papan seluncur atau ski air.
"Apa ini akunmu? " Sambil menunjukan ponselnya kepada Senja. Dan senja langsung membenarkan.
"Benar, kau kan sangat menyukai selancar, wajar kalau profil mu gambar papan selancar. " Dirga mengangguk-angguk dan langsung memfollow akun Senja. Tapi Dirga sempat kembali heran, akun itu tidak memiliki followers dan juga tidak memfollow siapapun. Juga tidak memposting apapun.
Tapi baiklah, Dirga mencoba menebak mungkin gadis itu punya akun hanya untuk sekedar melihat-lihat saja. Sebuah pembuktian bahwa Senja memang tidak berteman dengan siapapun, bahkan di dunia maya sekalipun.
Dirga tersenyum. Entah mengapa dia sangat senang mengetahui itu. Hatinya sedikit berbunga karena ternyata memang dialah satu-satunya teman Senja.
"Sudah ku follow, Dirgantara Sanjaya, itu aku. Follback ya. "
Senja tidak menjawab, tapi sedikit tersenyum dan itu di artikan Dirga sebagai persetujuan.
"Hm, Senja. Maaf kalau aku lancang, tapi bolehkan aku juga meminta nomor mu. "
Hati-hati sekali Dirga mengatakan itu. Dadanya berdebar, ia takut Senja menolaknya dan menganggapnya lancang karena terus menerus meminta sesuatu, meski itu hanya sekedar nomor telepon.
Respon Senja sedikit mengecewakan. Gadis itu tak menjawab, malah membuang mukanya ke arah lain. Sepertinya benar dugaan Dirga, gadis itu tidak suka atas permintaannya.
"Senja.. "
Karena Senja terus memalingkan mukanya, Dirga akhirnya buka suara.
Senja menoleh, tatapan mereka beradu membuat dada Senja berdegup lebih kencang. Bahkan jika tidak ada suara deboran ombak mungkin Dirga bisa mendengar degup jantungnya.
"Maaf kalau aku lancang, aku hanya ingin lebih mengenalmu. Tapi kalau kau keberatan, kau tidak perlu memberi tahuku. Aku sudah tahu aku sosmed mu saja sudah sangat senang. "
'Meskipun akun itu kosong. ' bathin Dirga menambahkan.
Pria itu tidak tahu kalau Senja bukannya tidak mau memberi nomornya. Ia hanya takut kalau Dirga semakin mengenalnya makan Dirga jadi semakin tahu tentang dirinya. Dan yang paling di takutkan Senja adalah Dirga akan menjauh setelah dia benar-benar tahu siapa Senja.
Senja tertunduk. Kalau tadi dia tidak butuh waktu lama untuk memberi tahu akun nya, tapi kali ini dia cukup lama berperang dengan pikirannya.
"Aku tidak pernah memberi nomorku pada siapapun, di kontak hanya ada nomor Ibu dan juga nenekku. "
"Ayah mu? " Tanya Dirga heran karena baru saja Senja memang tidak menyebut ayahnya. Padahal dia terlihat sangat dekat dengan ayahnya, mustahil dia tidak punya nomornya.
Sebenarnya Senja bisa saja berbohong dan menyebut kan Ayah nya tadi, supaya Dirga tidak curiga, tapi ya begitulah Senja. Gadis itu masih sangat polos
Pertanyaan Dirga di jawab Senja dengan tatapan datar tanpa ekspresi, sepertinya gadis itu tidak tahu harus menjawab apa, karena memang ia tidak perlu nomor ayahnya. Karena mereka memang berkomunikasi jarak jauh melalui telepati, jadi tidak perlu pake telepon.
'Ya baiklah, baiklah, tidak masalah kalau nomor ayahmu tidak ada, mungkin kalian memang tidak biasa bicara di telepon, tapi yg jelas nomorku harus ada di kontakmu. ' Dirga menenangkan hatinya sendiri. Dan berupaya untuk tidak lagi terkejut dengan semua yang ia tahu tentang Senja, meski tetap saja ia terkejut dan terheran-heran, tapi selalu berusaha memakluminya dan menetupinya di depan Senja.
"Hm baiklah, meski sebenarnya aku berharap nomorku bisa ada di kontakmu, tapi kalau kau memang belum bersedia ya tidak apa, yang penting kau tetap mau jadi temanku. "
Dirga tersenyum, berusaha menutupi kecewanya juga keherananya.
Senja menghela nafasnya, sepertinya gadis itu sangat sesak. Mungkin bingung antara mau memberi atau tidak. Sebenarnya ingin sekali memberi, tapi juga takut.
Dia menatap Dirga sekali lagi dan mendapati keseriusan di wajah pria itu kalau dia memang benar-benar ingin dekat dengan nya. Di tambah lagi senyum manis Dirga yang selalu saja membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
Senja akhirnya tidak punya pilihan lain. Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menunjukan nomornya pada Dirga.
Dirgantara girang bukan kepalang, ia buru buru mencatat nomor itu di langsung menyimpan nya.
"Terumakasih, Senja. Aku janji tidak akan memberikan nomor mu pada siapapun. " Sambil tersenyum semanis mungkin. Membuat keraguan Senja semakin memudar. Ia semakin yakin kalau Dirga memang tulus ingin dekat dan lebih mengenalnya.
Keduanya beradu pandang sambil saling senyum, dan untuk pertama kalinya Dirga bisa melihat dengan jelas rona merah dari pipi Senja.
'Ya Tuhan apa gadis ini sedang tersipu, kenapa dia jadi semakin manis saaat teraipu begitu'
Senja sendiri juga tidak bisa menutupu rasa bahagianya, ia bahkan sampai tersipu malu dan akhirnya menunduk menghindar dari pandangan Dirga yang di rasanya seperti menghujam ke jantungnya.
Reaksi malu-malu dari Senja benar-benar membuat Dirgantara gila. Dia geram bukan main. Ingin rasanya dia menggenggam tangan Senja saat itu juga dan menciumnya.
'Tapi tidak, ini belum saatnya, ini masih terlalu cepat, aku takut nantinya dia malah merasa tidak nyaman dan menjauhiku.' bathinnya lag-lagi berusaha menenangkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Ujung Harapan
semangat dirgantara senja ❤️❤️❤️😍😍😍😍
2023-07-03
0
Fatonah Fatonah
smngat terus nulis nya thor
2023-03-07
1