Bertemu seseorang

Di hantui rasa penasaran akan sosok Senja membuat Dirga terpancing untuk semakin mencari tahu tentang gadis itu.

Hari berikutnya Dirgantara kembali mencoba menemui Senja di pantai. Supir pribadinya sampai heran karena tuan mudanya punya kebiasaan baru sekarang, yaitu bermain di pantai.

Setiap datang ke pantai, yang pertama kali di carinya pasti Senja. Dan bibirnya akan langsung tersenyum setiap melihat sosok gadis yang baginya sangat misterius itu. Dirga sendiri juga tidak tahu kenapa dia jadi begitu ingin tahu.

Suasana pantai sore ini cukup sejuk, namun sayangnya tak mampu menyejukan hati Dirga yang tidak bisa menemukan sosok yang di carinya. Meski sudah berkeliling mencari, dan bahkan juga sudah mencari ke bawah- bawah pohon nyiur yang berjejer, tapi tetap saja netra Dirga tak bisa melihat apa yang ingin di lihatnya.

"Mencari seseorang? "

Sebuah pertanyaaan menghentikan aktifitas kepala Dirga yang sedang celingukan mencari.

Dirga langsung mencari sumber suara dan untuk sesaat sempat melongo melihat siapa yang di lihatnya.

"Arya? " ucapnya tak percaya pada sosok tinggi tegap berambut sedikit gondrong yang baru saja menyapanya.

"Haha, masih mengingatku rupanya. Ku pikir sudah lupa. " Entah sedang mengejek atau bicara yang sebenarnya, tapi yang jelas pria yang di panggil Arya itu tampak senang bisa bertemu Dirga.

"Tentu saja, kau apa kabar? " Dirga mngulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Arya bahkan di iringi dengan pelukan atau tepukan di pundak.

" Aku baik, kau sendiri? Ohya sudah cukup lama juga ya kita tidak bertemu? "

"Hmm, terakhir kita bertemu saat aku baru pulang kesini. " Dirga membenarkan ucapan Arya.

"Dan itu juga merupakan pertama kalinya kita bertemu setelah kau hijrah ke luar sana. " Arya menambahkan.

Arya adalah anak dari sepupu Ibunda Dirga. Dulu sebelum Dirga pindah ke luar negara keduanya adalah teman kecil yang cukup dekat. Tapi setelah keduanya terpisah jarak, mereka sudah jarang berkomunikasi.

Mereka baru bertemu lagi saat Dirga baru sampai di kota ini, karena memang Arya sendiri yang menjemputnya ke bandara. Tapi kemudian karena kesibukan masing-masing mereka sudah tidak pernah bertemu lagi, dan baru sekaranglah bisa bersua. Dan itupun secara tak sengaja.

"Ohya, ngomong-ngomong apa yang kau buat disini, aku perhatikan sejak tadi kau seperti sedang melihat seseorang " Arya mengingatkan Dirga akan tujuannya datang ke pantai dengan ombak laut yang memukau itu.

"Kau memperhatikanku sejak tadi? "

"Hmm," Angguk Arya

" Sebenarnya sejak pertama datang tadi aku sudah melihatmu, tapi aku tidak yakin apa itu benar kau atau bukan. Tapi setelah benar-benar ku perhatikan ternyata memang benar kau. Kau sedang mencari seseorang? " Arya kembali bertanya

Dirga mengangguk angguk.

"Benar, aku memang sedang mencari seseorang, dan---"

Dirga berhenti sejenak

"Tunggu dulu, kau pernah bilang kalau kau penjaga pantai di pantai ini kan? " tanya Dirga dengan raut wajah yang tiba-tiba menjadi sumringah begitu mengingat kalau Arya adalah penjaga pantai disini.

"Hmm sebenarnya bukan penjaga sih.Ayahku yang dulunya penjaga pantai, dia sering membawaku kesini, itulah sebabnya aku jadi suka main di pantai. "

"Yah apapun itu yang jelas karena kau sering ke pantai maka sudah bisa di pastikan kalau kau pasti mengenal orang yang sedang kucari"

"Memangnya siapa yang kau cari? "Tentu saja pertanyaan itu yang akan keluar dari lisan Arya

Dirga meringis kemudian menggaruk kepalanya.

"Hmm sebenarnya aku sedang mencari gadis yang suka berselancar di pantai ini. "

Arya tampak berfikir sesaat lalu

"Senja? "

Dirga langsung tersenyum mendengar nama yang di sebut Arya.

" Sudah ku duga, kau pasti mengenal gadis itu. "

"Tentu, siapa yang tidak meneganlnya disini. Tapi ngomong-ngomong untuk apa kau mencari gadis aneh itu? "

Dirga kembali menggaruk kepalany yang tak gatal. Ia bingung harus menjawab apa karena ia sendiri tak tahu untuk apa dia mencari Senja.

"Aku hanya penasaran saja, Arya." Dirga berusaha menjawab jujur

"Benar seperti yang kau bilang tadi, Senja itu gadis yang aneh. Tapi justru keanehannya itulah yang membuatku jadi penasran dan ingin tahu tentang dia. "

"Tunggu, tunggu. " Arya menjeda ucapan Dirga

"Kau tidak sedang jatuh cinta padanya kan? "

"Hah ! tidak, tidak. Mana mungkin aku jatuh cinta padanya, aku bahkan belum mengenalnya. Aku, aku hanya penasaran saja. " Entah kenapa Dirga menjadi gugup di tanya begitu

"Cih penasaran, " Cibir Arya

"Hati-hati, rasa penasaran biasanya berujung cinta. "

"Sial ! Kenapa kau malah jadi mengejek ku? Ayolah, Arya. Aku hanya ingin tahu. "

"Iya, baiklah baiklah. " ucap Arya akhirnya karena melihat Dirga mulai kesal.

"Apa yang ingin kau ketahui tentang gadis itu? "

"Hmm apa kau juga merasa kalau dia itu aneh? " Dirga melontarkan pertanyaan pertama.

"Ya dia memang begitu."

"Kau benar mengengenalnya atau hanya sekedar tahu saja. "

Arya menghela nafasnya. Untuk sesaat dia merasa seperti terdakwa yang sedang di interogasi. Tapi berhubung yang menginterigasi adalah saudarnya sendiri. Jadi mau tidak mau diapun buka suara. Tapi sebelumnya dia mengajak Dirga duduk sambil menikmati kelapa muda di salah satu gazebo sekitar pantai.

"Aku tidak mengenal Senja secara pribadi. Dan aku yakin tidak ada satu orangpun disini yang kenal dekat dengannya, karena Senja memang tidak pernah dekat atau berteman dengan siapapun. Mungkin temannya hanyalah ibu nya "

Dirga mengangguk angguk, tapi tidak menimpali ucapan Arya, seolah memberi kesempatan pria itu untuk melanjutkan bicaranya.

"Tapi kalau ibunya Senja aku kenal, karena dia adalah teman ibuku."

"Ibunya Senja teman ibumu?

" Hmm. "

"Bukankah seharusnya kau cukup mengenal Senja, atau setidaknya berteman begitu? "

"Ya Tuhan, Dirga. Kau tidak dengar ucapan ku tadi? bukankah sudah ku bilang Senja tidak berteman drngan siapapun." Intonasi suara Arya sedikit meninggi. Kesal karena Dirga tak bisa mencerna maksud ucapannya.

"Dulu memang waktu masih lajang Ibuku dan ibunya Senja cukup dekat, tapi semenjak masing-masing berkeluarga hubungan mereka tidak sedekat dulu. mereka sudah sangat jarang bertemu. dan lagi ibuku bilang kalau temannya itu menjadi cenderung tertutup setelah berkeluarga. "

Dirga kembali mengangguk-angguk.

"Aku mulai paham sekarang. Sepertinya keluarga Senja itu memang sangat tertutup yaa, lalu? " Mempersilahkan Arya melanjutkan informasinya

"Senja itu peselancar yang sangat hebat. Dan semua orang pasti mengakui itu. "

"Ya, akupun mengakui. " Sahut Dirga langsung karena memang dia sudah petnah melihat sendiri kehebatan Senja.

"Apa benar dia tidak mau bicara dengan orang asing? "

"Ya, setahuku memang begitu. Bahkan denganku yang notabene sudah saling kenal saja dia tidak bnyak bicara. Paling kalau di tanya hanya mengangguk. Kalau di ajak bicara hanya menyahut sepatah dua kata saja, atau hanya menjawab iya atau tidak. "

"Hmm apa dia punya kekasih? " Hati hati sekali Dirga bertanya soal itu, takut Arya berpikir yang bukan-bukan.

Tapi untung saja Arya tidak berpikir demikian meski tetap saja dia merasa aneh dengan pertanyaan Dirgantara.

"Kau ini aneh, kan sudah ku bilang tadi kalau dia tidak pernah dekat dengan siapapun, jadi bagaimana bisa dia punya kekasih. Lagipula memangnya siapa yang mau punya kekasih yang aneh begitu. " Arya menggelengkan kepalanya seolah tidak bisa membayangkan kalau punya kekasih seperti Senja.

Kembali Dirga mengangguk, ada banyak hal yang tidak ia mengerti sejak mengenal Senja. Seperti saat ini, iapun tidak mengerti kenapa tiba-tiba merasa senang mendengar Senja tidak punya kekasih.

"Ada lagi yang ingin kau tahu? " tanya Arya demi melihat Dirga yang hanya bisa terdiam.

"Hay ! " ucapnya lagi sedikit kencang karena Dirga tak menjawab tanyanya. Pria itu justru melongo menatap ke satu arah dan membuat kepalanya juga serta-merta menoleh ke arah pandangan Dirga.

"Oh pantas saja kau tidak mendengarku, rupanya orang yang membuatmu penasaran sudah ada disini. "

"Ya, itu Senja sudah disini, " Mendengar cibiran Arya membuat Dirga akhirnya menyahut.

Senja dan perempuan yang sering bersamanya baru saja tiba di pantai. Senja berjalan terlebih dahulu dan perempuan itu menyusul di belaknnganya.

Saat Senja melewati gazebo yang di duduki Dirgantara dan Arya, Arya mencoba menyapa Senja. Tapi gadis itu tidak menjawab, hanya sedikit mengangguk saja, itupun hanya pada Arya, sedangkan pada Dirga, gadis itu tak melihat sama sekali

Namun lain halnya saat perempuan yang sering bersamanya lewat dan di sapa oleh Arya, perempuan itu meyahut dengan ramah.

"Sore, Bibi." Sapa Arya sambil tersenyum dan mengangguk. Sedangkan di sampingnya Dirga nampak terkejut.

'Bibi? Bukankah dia masih terlalu muda untuk di panggil Bibi? '

"Ya Arya, kau disini juga? Lama tidak melihatmu?" Si wanita menjawab ramah.

"Iya, Bi. Akhir-akhir ini aku lumayan sibuk jadi jarang ke pantai."

"Ooh, bagaimana kabar---? "

"Ibuuu, ayolah. Kenapa lama sekali. " Ucapan si perempuan terjeda karena teriakan Senja. Teriakan yang membuat Dirga keget bukan kepalang.

'Ibu? jadi perempuan ini ibunya Senja? bukan kakaknya? ' Bathin Dirga bertanya-tanya tak percaya.

"Iya, Senja. Ibu segera menyusulmu. "

'Benar, dia menyebut dirinya Ibu. ' lagi-lagi Dirga hanya bisa membatin heran.

"Ya sudah, Arya. Bibi jalan dulu ya. " Pamit perempuan itu akhirnya karena Senja sudah tak sabar menunggunya.

"Ibu? dia ibunya Senja? " Setelah perempuan itu berlalu Dirga langsung bertanya pada Arya. Pria itu benar-benar tak percaya pada apa yang baru saja di dengarnya.

"Ya, seperti yang kau dengar tadi. Senja memanggilnya ibu karena memang dia ibunya. "

"Ibu kandung? " Masih saja tidak percaya.

"Tentu.kau tidak bisa lihat kalau mereka berdua mirip? " Sungut Arya meminta Dirga melihat sendiri kebenarannya.

"Iya, memang mirip. Tapi ku fikir dia itu kakaknya Senja. Bukankah dia masih terlalu muda untuk punya anak sebesar Senja. Dan mereka lebih mirip seperti kakak beradik. "

"Ya memang, mereka lebih mirirp kakak beradik, tapi kenyataannya Bibi Wulan itu memang ibunya Senja"

Arya kembali menegaskan. Sebenarnya ia sendiri maklum kalau Dirga tak percaya karena memang ibunda Senja masih terlihat sangat muda. Seperti hanya terpaut beberapa tahun saja dari anaknya.

"Namanya Wulan? "

"Hmm, kalau tidak salah namanya Nawang Wulan."

Dirga kembali mengangguk-angguk.

"Apa itu sudah cukup menjawab rasa penasaran mu? " Pancing Arya karena Dirga sudah tak lagi bertanya.

"Tidak. Aku justru jadi makin penasaran pada Senja" Jawaban Dirga membuat kening Arya berkerut.

"Kau ini seperti detektif saja. " ejeknya sembari menyeruput air kelapa muda yang sedari yang sudah terhidang sejak tadi.

Tapi Dirga nampaknya tidak tertarik sama sekali untuk ikut menyeruput air kelapa nya. Ia masih tertegun dengan fakta baru yang di dapatnya seputar Senja. Perempuan muda yang sering bersamanya ternyata ibunya. Sungguh sulit di percaya.

Dan sumpah demi apapun, Dirgantara noza sanjaya menjadi semakin tergelitik untuk semakin tau tentang Senja. Dan sore ini dia bahkan bertekad untuk bisa berkenalan dengan Senja. Gadis misterius yang akhir-akhir ini kerap mengganggu fikiran nya.

Terpopuler

Comments

Ujung Harapan

Ujung Harapan

lanjut Thor

2023-07-03

1

Raga Senja

Raga Senja

Hooh, apalgi kalo udh ketemu Bayu

2023-03-15

0

Anislin Jupe

Anislin Jupe

Bayu LG belum ketemu kmu Dirga

2023-03-14

0

lihat semua
Episodes
1 01. Tentang Dirga
2 02. Pertemuan kedua
3 Semakin penasaran
4 Bertemu seseorang
5 Kecewa
6 Di hantui bayangan
7 Dia menyebut namaku
8 Kegelisahan Senja
9 Bayu samudra pulang
10 Lagi-lagi terkejut
11 Semakin komunikatif
12 Penjelasan Queenzi
13 Merasa bodoh
14 Menyatakan Cinta
15 Apa itu tadi..?
16 Ada apa dengan Senja
17 Ada apa dengan Senja, 2
18 Membuka hati
19 Kejadian tak terduga
20 Aku harus apa sekarang?
21 Serangan mendadak
22 Mencoba melupakan
23 Sama-sama tersiksa
24 Tak sanggup lagi
25 Semakin banyak tahu
26 Rasa penasaran Queen
27 Di terima dengan baik
28 Tamu istimewa
29 Kencan pertama
30 Tak sengaja bertemu
31 Bertukar energi
32 Melihat secara langsung
33 Pesan Ayah
34 Interogasi yang menyudutkan
35 Tentang restu orang tua
36 Tegas tapi bijaksana
37 Paus terdampar
38 Khawatir
39 Makan malam yang menegangkan
40 Perdebatan sengit
41 Lolongan panjang
42 Bekerja sama
43 Nostalgia
44 Cemburu
45 Rahasia masa lalu
46 Berjuanglah, Nak.
47 Dress hitam pembunuh rindu
48 Kesabaran ku setipis tisu
49 Bayu samudra sakit
50 Gazebo
51 Tak canggung lagi
52 Melemaskan otak
53 Lama tak bertemu
54 Operasi plastik
55 Sebelum pergi
56 Pagi yang indah
57 Senja yang bijaksana
58 Bertemulah dengannya
59 Bicara baik-baik
60 Kepergian Bayu Bamudra
61 Akhirnya mengalah
62 Bekerja sama lebih solid
63 Senja yang makin bijaksana
64 Senang melihatmu bahagia, Nak
65 Hiburan tersendiri
66 Maaf, Ibu
67 Menahan emosi
68 Maaf dan terimakasih
69 Realita tak seindah ekspektasi
70 Ambisi tingkat tinggi
71 Bukan hal yang mudah
72 Hanya pertanda
73 Sakit yang kian menggigit
74 Mencari bantuan
75 Tentang mistis
76 Energi positif
77 Teman masa kecil
78 kenang-kenangan
79 Fakta mengejutkan
80 Dukungan penuh
81 Bukan urusanku
82 Memberi peringatan
83 Dia bukan manusia
84 Lolongan kesakitan
85 Hilang kendali
86 Antara hidup dan mati
87 Pengorbanan terbesar
88 Dewa penolong
89 Cakrawala Leonil Aksa
90 Usaha yang sia-sia
91 Teman baru
92 Kembali menghangat
93 Merindu
94 Melepas rindu
95 Wulan sakit
96 Meminta restu
97 Telepati
98 Perundungan
99 Semakin parah
100 Telepati, 2
101 Tertangkap basah
102 Janji suci
103 Semangat baru
104 Kabar baik dan buruk
105 Selamat jalan, Ayah ... Ibu
106 Pengumuman
Episodes

Updated 106 Episodes

1
01. Tentang Dirga
2
02. Pertemuan kedua
3
Semakin penasaran
4
Bertemu seseorang
5
Kecewa
6
Di hantui bayangan
7
Dia menyebut namaku
8
Kegelisahan Senja
9
Bayu samudra pulang
10
Lagi-lagi terkejut
11
Semakin komunikatif
12
Penjelasan Queenzi
13
Merasa bodoh
14
Menyatakan Cinta
15
Apa itu tadi..?
16
Ada apa dengan Senja
17
Ada apa dengan Senja, 2
18
Membuka hati
19
Kejadian tak terduga
20
Aku harus apa sekarang?
21
Serangan mendadak
22
Mencoba melupakan
23
Sama-sama tersiksa
24
Tak sanggup lagi
25
Semakin banyak tahu
26
Rasa penasaran Queen
27
Di terima dengan baik
28
Tamu istimewa
29
Kencan pertama
30
Tak sengaja bertemu
31
Bertukar energi
32
Melihat secara langsung
33
Pesan Ayah
34
Interogasi yang menyudutkan
35
Tentang restu orang tua
36
Tegas tapi bijaksana
37
Paus terdampar
38
Khawatir
39
Makan malam yang menegangkan
40
Perdebatan sengit
41
Lolongan panjang
42
Bekerja sama
43
Nostalgia
44
Cemburu
45
Rahasia masa lalu
46
Berjuanglah, Nak.
47
Dress hitam pembunuh rindu
48
Kesabaran ku setipis tisu
49
Bayu samudra sakit
50
Gazebo
51
Tak canggung lagi
52
Melemaskan otak
53
Lama tak bertemu
54
Operasi plastik
55
Sebelum pergi
56
Pagi yang indah
57
Senja yang bijaksana
58
Bertemulah dengannya
59
Bicara baik-baik
60
Kepergian Bayu Bamudra
61
Akhirnya mengalah
62
Bekerja sama lebih solid
63
Senja yang makin bijaksana
64
Senang melihatmu bahagia, Nak
65
Hiburan tersendiri
66
Maaf, Ibu
67
Menahan emosi
68
Maaf dan terimakasih
69
Realita tak seindah ekspektasi
70
Ambisi tingkat tinggi
71
Bukan hal yang mudah
72
Hanya pertanda
73
Sakit yang kian menggigit
74
Mencari bantuan
75
Tentang mistis
76
Energi positif
77
Teman masa kecil
78
kenang-kenangan
79
Fakta mengejutkan
80
Dukungan penuh
81
Bukan urusanku
82
Memberi peringatan
83
Dia bukan manusia
84
Lolongan kesakitan
85
Hilang kendali
86
Antara hidup dan mati
87
Pengorbanan terbesar
88
Dewa penolong
89
Cakrawala Leonil Aksa
90
Usaha yang sia-sia
91
Teman baru
92
Kembali menghangat
93
Merindu
94
Melepas rindu
95
Wulan sakit
96
Meminta restu
97
Telepati
98
Perundungan
99
Semakin parah
100
Telepati, 2
101
Tertangkap basah
102
Janji suci
103
Semangat baru
104
Kabar baik dan buruk
105
Selamat jalan, Ayah ... Ibu
106
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!