Menunggu waktu sore terasa begitu lama bagi Dirga. Berulang kali dia melihat ke arlojinya, namun ia merasa hari ini putaran jarum jamnya terlihat sangat lamban.
Sang sekertaris Nayra, bahkan heran melihat atasannya yang terus mengecek waktu.
"Ada apa, Tuan. Apa anda acara hari ini? "
"Oh tidak ada. " Dirga menggeleng cepat
"Aku hanya ingin pergi ke suatu tempat. Tidak ada jadwal meeting kan hari ini? "
Nayra berusaha mengingat lalu kemudian menggeleng.
"Tidak ada, Tuan. Nanti setelah jam kantor anda bisa langsung pulang. "
"Hmm, baiklah. " Dirga menjawab sambil kembali melihat arlojinya.
"Tapi kenapa jam pulang masih lama sekali ya? "
"Ya, Tuan? " Nayra tak begitu jelas mendengar ucapan Dirga karena memang pria itu hanya bergumam sendiri.
"Tidak ada. Ya sudah kau boleh keluar. " Sambil mengibaskan telapak tangannya.
Sang eksekutif muda itu gusar dalam penantiannya. Entahlah apa yang terjadi padanya. Hanya karena ingin bertemu gadis misterius itu saja dia sampai sebegitu tidak sabarnya. Dan entah kemana pula hilangnya sosok Queenzi di hatinya. Hanya dalam hitungan hari saja dia sudah mampu melupakan gadis yang sebelumnya sangat di cintainya.
Apakah karena kehadiran Senja? Atau mungkin karena kadar cintanya yang sebenarnya memang tidak terlalu dalam? entahlah. Jangankan orang lain. Bahkan yang merasakannya sendiri saja tidak tau.
***
Dirga tersenyum senang beberapa jam kemudian karena akhirnya tugasnya hari ini selesai dan tanpa menunda lagi dia langsung meluncur ke pantai. Kali ini bahkan dia sengaja menyetir sendiri.
Setelah memarkirkan mobilnya Dirgantara langsung meluncur ke tepi pantai untuk mencari Senja. Tapi netranya tak menangkap sosok gadis misteruis itu.
Dirga melihat ke sekeliling. Masih belum terlalu ramai. Matahari juga masih bersinar lumayan terik. Mungkin itulah sebabnya Senja belum datang. Biasanya gadis itu datang saat matahari sudah benar-benar turun ke peraduan.
"Mungkin aku terlalu cepat datang. " Dirga bergumam sambil berjalan meninggalkan bibir pantai.
"Baiklah, aku akan menunggu di bawah pohon saja. "
Pria itu kemudian menuju salah satu gazebo lalu duduk bersantai di sana. Tak lupa dia juga memesan kelapa muda untuk sekedar menjadi teman menunggunya.
Lima belas menit menunggu. Akhirnya penantian Dirga finish. Gadis misterius yang di nantinya nampak berjalan mendekati bibir pantai. Dirga yang melihat itu langsung beranjak menghampiri.
"Senja ! "
Gadis itu menoleh. Ekspresi datar langsung tertangkap dari raut wajahnya. Raut wajah yang sebenarnya sangat cantik. Namun karena jarang tersenyum, membuat wajah itu jadi terlihat sangat angker.
"Kau datang sendiri? " tanya Dirga sambil melihat ke sekeliling mencari sosok perempuan muda yang biasanya selalu bersama Senja.
Senja mengangguk.
"Apa kau mau berselancar? "
Menggeleng.
Benar, gadis itu tudak membawa papan ski nya, jadi mana mungkin dia mau berselancar.
Dirga tersenyum menyadari pertanyaan bodohnya.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita duduk di sana" Menunjuk salah satu gazebo yang tadi di dudukinya.
" Aku sudah memesankan kelapa muda untuk mu. "
Senja tak menjawab, tapi dia langsung melangkah mendekati tempat yang di tunjuk oleh Dirga.
Dirga tersenyum senang lalu mengikuti langkah Senja.
"Ini air kelapa mu, minumlah, " Dirga menyodorkan kelapa muda berwarna hijau yang terlihat sangat segar.
"Oh ya apa kau mau makan sesuatu? biar aku pesankan. "
Senja hanya menggeleng. Dia bahkan tak melirik sama sekali pada kelapa muda yang di sodorkan Dirga. Pandangan gadis itu fokus ke arah lautan lepas.
Dirgantara menghela nafasnya. Ia bingung mau bicara apa lagi. Sejak tadi gadis di depannya hanya menggeleng dan mengangguk saja.
"Apa kau setiap hari ke pantai Senja? "
Akhirnya setelah beberapa detik berfikir Dirga menemukan topik yang mungkin tepat untuk membuka obrolan. Namun sayangnya, sama seperti tadi, Senja hanya menjawab melalui gerakan kepalanya. Dan kali ini gadis itu mengangguk.
"Permainan selancar mu hebat sekali. Apa kau memang pandai berselancar sejak kecil? "
Si gadis misterius kembali mengangguk.
"Kenapa kau tidak berselancar hari ini? padahal aku ingin sekali melihat aksimu. "
Dirga merasa tidak salah bicara. Tapi entah kenapa ucapannya barusan membuat Senja menoleh dengan tatapan tajam ciri khasnya yang mirip seperti harimau lapar.
Di tatap seperti itu barulah Dirga sadar kalau Senja sepertinya tidak senang dengan pertanyaannya. Ia buru-buru meralatnya.
"Maaf, kaalu kau tidak suka, tidak perlu di jawab. "
Dirga menelan ludahnya.
'Ya Tuhan gadis ini, kenapa kaku sekali'
Dirga menggaruk-garuk kepalanya sambil berfikir apa lagi yang akan di ucapkannya.
"Oh ya Senja, apa kau---? "
"Kenapa? "
Ucapan Dirga terpotong oleh suara Senja. Ya gadis itu mulai mau bersuara, meskipun hanya sepatah kata.
"Ya? "
Karena tak faham maksud Senja, Dirga mencoba bertanya
"Kenapa? " tanya Senja untuk yang kedua kalinya yang membuat Dirgantara menjadi semakin bingung.
"Kenapa apanya? "
Senja terdiam sesaat dengan pandangan masih lurus kedepan.
"Kenapa kau mau jadi temanku? "
Akh akhirnya bisa mendengar kosa kata dari gadis itu. Meski bingung harus menjawab apa, tapi Dirga senang karena setidaknya Senja sudah mau bicara.
"Aku--, aku hanya, ya aku hanya ingin berteman denganmu saja. Kalau alasannya kenapa aku juga tidak tahu. " Ketimbang bingung harus menjawab apa, Dirga akhirnya jujur. Karena mrmang dia sendiri tidak tau kenapa.
" Apa kau benar-benar tidak pernah punya teman sebelumnya? "
Dirga bertanya hati-hati. Entah kenapa sejak bertemu Senja tiba-tiba ia merasa jadi pria sopan yang terkesan sangat mengahargai lawan bicaranya.
Senja menggeleng.
"Tidak ada yang mau berteman denganku. Dan aku juga tidak ingin berteman dengan siapapun. "
Deg! ucapan Senja sukses membuat Dirga menelan ludahnya.
Tidak ingin berteman dengan siapa pun. Apa itu artinya dia juga tidak mau berteman dengan ku, fikir Dirga.
"Termasuk dengaku? "
Senja menoleh, namun kali ini tatapan nya sulit dia artikan. Dirga bahkan tidak tau itu artinya ya, atau tidak.
"Aku tidak punya niat buruk padamu, Senja. Aku hanya ingin berteman. Hanya ingin lebih mengenalmu. " Dirga memperbaiki posisi duduknya menjadi menghadap Senja.
Senja tak menyahut. Gadis itu juga sepertinya bingung mau menjawab apa. Ia ingin langsung bilang tidak bisa, tapi entah mengapa sebelah hatinya berkata. Ia juga ingin mengenal Dirga.
"Senja, kau mau kan jadi temanku? " tanya Dirga lagi karena melihat Senja hanya terdiam.
Senja tetap tak menjawab. Pikirannya berperang hebat antara menolak atau mengiyakan. Gadis itu tak berteman dengan siapapun terlebih dengan pria. Dia takut nantinya mereka akan menjauhinya setelah mengetahui siapa dia yang sebenarnya.
"Maaf aku tidak bisa. "
Setelah berperang dengan hati dan fikiarnnya, Senja akhirnya menolak permintaan Dirga.
Dirgantara terdiam. Sebenarnya ia tak terlalu terkejut dengan jawaban Senja. Gadis itu pasti tidak mungkin serta-merta akan menerima kehadiran sosok teman sementara selama ini dia tidak pernah punya teman.
"Aku paham Senja, kau pasti tidak terbiasa dengan kehadiran teman dalam hidup mu. Tapi percayalah, aku akan jadi teman yang baik untuk mu. "
Cuih ! entah rayuan macam apa yang saat ini sedang di lontarkan Dirga. Tapi entah kenapa Dirga merasa ucapannya kali ini sangat tulus. Tidak seperti dulu saat ia masih sering bertukar-tukar teman wanita.
Senja bungkam. Semakin bingung harus menjawab apa. Padahal dia sudah bilang tidak bisa, tapi makhluk tampan di depannya masih saja memaksa. Dan sejujurnya sejak pertama melihat Dirga gadis itu sudah merasa ada debaran aneh di dadanya. Hanya saja dia selalu berusaha mengabaikannya. Bahkan menutupinya dengan tatapan dan sikap yang seolah-olah sangat membenci kehadiran Dirga.
Karena tak tau lagi harus bicara apa, Senja akhirnya beranjak.
"Sudah petang, Dirga. Aku harus pulang. "
Dirga melongo. Bukannya menjawab gadis itu malah memilih untuk kabur. Tapi ada satu hal yang membuat Dirga senang. Hadis itu menyebut namanya. Ya, Senja baru saja menyebut nama Dirga. Hal yang selama ini tidak pernah di lakukannya.
'Dia menyebut namaku, benarkah' hati Dirga bersorak senang. Satu keanehan kembali terjadi. Biasnya pria itu bisa dengan mudah mendapatkan wanita manapun yang ia mau, dan tidak ada perasaan yang terlalu istimewa saat mendapatkannya. Tapi kenapa sekarang jadi beda. Hanya karena Senja menyebut namanya, pria itu jadi senang tak terkira. Saking senangnya ia bahkan tak sadar kalau Senja sudah berjalan meninggalkannya.
"Senja, tunggu. " Begitu sadar Dirga langsung mengejar gadis itu.
"Boleh aku meminta nomor mu? "
Senja tak menjawab, dia terus saja melangkah.
" Senja.. "
Panggilan kedua dari Dirga membuat Senja menghentikan langkahnya. Ia nampak berfikir sejenak lalu..
" Tidak untuk saat ini. "
Cukup tegas ucapan Senja membuat Dirga tak kembali mengejarnya saat gadis itu kembali melangkah. Tapi meski begitu Dirga cukup senang karena setidaknya Senja pasti akan memberikannya lain waktu.
Setelah mengatakan itu Senja kemudian meninggalkan Dirga sementara itu Dirga mengalihkan fokusnya pada ponselnya karena disaat bersamaan ponselnya berbunyi. Namun begitu melihat siapa yang memanggil Dirgan langsung mengabaikan panggilan itu dan kembali melihat Senja. Tapi sayang Senja sudah tidak nampak lagi.
"Hey kemana dia? perasaan tadi masih di depanku? " gumam Dirga heran. Dan kalau tidak salah ini untuk kedua kalinya Dirga melihat Senja lenyap begitu saja dari hadapannya.
"Cepat sekali larinya. " Kembali Dirga bergumam heran. Gadis yang ia sukai kembali menunjukan keanehannya. Berlari secepat kilat, bahkan Dirga yakin pemenang olimpiade lari pun tidak akan bisa lari secepat itu..
Namun terlepas dari semua keanehan Senja. Hari ini Dirga tetap merasa senang. Karena gadis itu sudah mau menyebut namanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 106 Episodes
Comments
Diana Tanggela
semangat thor💪💪😇
2023-08-14
0
Anislin Jupe
ciee ciee..ada debaran cinta
2023-03-14
1