Festival Menanti

...[KRINGGGGGG]...

Bel pulang sudah berdering. Sesuai permintaan Bu Ellie, aku akan mendatangi kantor untuk dibicarakan sesuatu.

"Maaf Hana, aku tidak bisa pulang bersama. Kamu pulang saja duluan."

"Idih, siapa juga yang mau pulang bareng?" ejek Hana.

"Oke terimakasih, itu sedikit menyakitkan" aku hanya bisa tersenyum.

Sebelum itu aku memasang headset ku untuk menyetel musik. Lalu setelahnya aku berjalan menuju kantor.

Tetapi ketika aku keluar dari kelas, aku melihat Leo yang sikapnya lebih tenang dari biasanya. Seperti hidupnya baik-baik saja. Apakah dia sudah tidak diteror lagi? semenjak Touré masuk rumah sakit, ia malah semakin tenang belakangan ini. Atau harus aku sendiri yang memantau rumahnya secara langsung?

Baiklah lupakan sejenak. Aku masih ada janji lain dengan Bu Ellie. Aku berjalan menghiraukannya sembari membuka ponselku. Aku melihat beranda sosmed ku dengan menggunakan akun ke 2, akun ini belum diketahui siapa-siapa termasuk keluargaku sendiri.

Aku melihat sosmed nya Touré. Ia memposting fotonya yang masih di rumah sakit. Dan dia membuat story mengenai apa yang terjadi sebelumnya dengannya.

Lalu aku melihat sosmed nya Leo untuk mengecek keadaannya. Tapi dari yang kulihat, ia seperti sedang tidak ada masalah apa-apa di postingan maupun story nya. Aku malah balik curiga kepadanya mengenai kasus sebelumnya.

Setelah itu aku mengecek sosmed Sagi. Seperti biasa, ia adalah seorang gamer yang terkenal di kalangan sosmed. Followers nya sudah naik menjadi 2 juta. Cepat sekali orang ini naiknya, setahuku dia masih 1,4 juta minggu lalu. Mungkin karena ia rajin upload.

Aku berniat untuk mengecek sosmed nya Hana. Tetapi aku tidak menemukannya sama sekali, maupun itu terkait dengan orang lain ataupun satu koneksi se kontak denganku.

Semua orang yang kukenal sudah ku cek postingannya. Aku berniat untuk mengecek sosmed V dan Kiera juga, namun ku urungkan karena tidak ada waktu untuk itu. Karena aku sudah sampai di depan pintu kantor.

Ketika aku berniat untuk mengetuk, seseorang juga berniat untuk mengetuk pintu kantor.

"Eh?" kami berdua sama-sama terkejut.

Seorang gadis yang jika kuingat ingat, ia sepertinya berasal dari kelas B.

"Ups, aku tidak menyadari kalau ada orang lain. Headset ku masih terpasang di telinga" aku melepas headset ku.

"Oh, kamu yang membagikan brosur festival tadi pagi bukan?" tanya dia.

"Hebat juga daya ingat mu" puji ku.

"Ayolah, itu tadi pagi."

Tanpa diketuk, Bu Ellie sudah membuka pintu untuk kami.

"Sudah kuduga itu kalian. Ikut ibu" Bu Ellie berjalan menuju suatu ruangan.

Aku dan dia sama-sama bingung. Lalu ku ikuti saja Bu Ellie kemana ia menuju.

"Silahkan masuk" Bu Ellie membukakan pintu untuk kami ke suatu ruangan yang sepertinya adalah ruang kosong.

"He?" aku dan dia terkejut.

Aku melihat sekitar 24 orang yang berada di ruangan itu.

"Silahkan duduk, kalian berdua" Bu Ellie mempersilahkan kami.

Aku menuruti apa yang Bu Ellie katakan. Lalu aku melihat bangku kosong yang ketika ingin ku duduki, ternyata ada tulisan "A" yang kemungkinan itu memang kursi ku. Jadi apakah aku sedang duduk dengan salah satu murid dari masing-masing kelas mereka?

"Selamat datang di rapat yang tidak direncanakan ini" Bu Ellie duduk dihadapan kami semua.

"Loh, jadi rapat?" kaget ku.

"Saya Bu Ellie sebagai perwakilan atau pelaksana dari festival infamous menanti, akan meminta kalian untuk melakukan sesuatu."

Salah satu murid lelaki dari kelas F mengangkat tangan, "jadi kita semua dikumpulkan disini untuk membahas festival itu saja?"

"Begitulah."

Salah satu murid perempuan dari kelas D mengeluh, "apakah tidak bisa dibicarakan lain hari? beberapa dari kami semua memiliki kesibukan loh."

"Ibu tahu. Maka itu ibu memilih kalian bukan karena kalian orang biasa. Melainkan ibu memilih kalian karena kalian adalah orang yang terpilih sebagai pemimpin dari kelas kalian masing-masing."

Salah satu murid lelaki dari kelas C mengangkat tangan, "eum, tapi aku bukan ketua kelas."

Beberapa murid juga berkata yang sama, "struktur kelas kami juga belum dibuat."

"Oke diam sebentar. Ibu memang tahu juga akan hal itu. Maka itu kalian akan diresmikan sebagai ketua kelas dari kelas kalian masing-masing."

Lalu aku mengangkat tangan, "bukannya ibu sendiri yang minta untuk membuat struktur kelas kami masing-masing?"

"Tapi apakah kalian sudah membuatnya?"

Semua orang terdiam.

"Huh, baiklah begini . . . ." Bu Ellie menarik papan tulis roda di sebelahnya, lalu ia menuliskan sesuatu.

"OutFamous?" Bu Ellie menuliskan kata itu di papan tulis.

Salah satu murid perempuan dari kelas X mengangkat tangan, "eum, apa itu OutFamous?"

"Ini adalah tim yang akan mengatur keseluruhan festival ini menanti."

Salah satu murid perempuan dari kelas V mengangkat tangan, "Apa boleh mengundurkan diri?"

"Jika kalian mengundurkan diri atau tidak bertanggung jawab dengan tim ini. Maka kalian akan dikeluarkan."

Semua orang kecewa termasuk aku, "apa-apaan?"

"Tenanglah kalian semua" Bu Ellie memukul papan tulis.

Semua orang kembali tenang dengan ekspresi kecewa.

"Tenang saja. Di akhir festival kalian akan mendapatkan imbalan juga. Bertanya apa imbalannya? ya, mungkin saja meningkatkan followers atau subscribers kalian di sosmed."

"Menggiurkan, tapi bagaimana jika memang tidak butuh followers atau subscribers? karena mungkin punya kami sudah banyak?" tanyaku.

Beberapa murid menatap ku dengan tatapan sinis seperti merasa kalau aku sedang menyombongkan diri, "Tch, kenapa mereka?"

"Ya mengenai itu. Kalian bisa memilih hadiah apapun yang kalian mau. Apa itu sudah jelas Nico?" jelas Bu Ellie.

Aku mengangguk saja.

"Oiya btw, ibu belum mengenal kalian semua. Bukan ibu sih, tapi kalian harus saling berkenalan satu sama lain agar saling mengakrabkan diri. Ayo, semuanya perkenalkan diri kalian" semangat Bu Ellie.

"Haruskah seperti ini heuhhh" keluh ku dalam pikiran.

...[Sementara itu]...

Hana sedang berjalan bersama Sagi dan Kiera untuk pulang ke rumah. Dikarenakan aku tidak bisa pulang, Hana harus pulang sendiri dengan ekspresi murung. Sagi dan Kiera yang melihat Hana sedari tadi berwajah tidak senang, mereka berdua mencoba menghiburnya.

"Hei Hana, kenapa denganmu? sedari tadi kau murung saja" tanya Sagi.

"Tidak kok, aku hanya khawatir saja" jawab Hana.

"Apakah ini terkait dengan Nico?" tanya Sagi kembali.

"Oiya, dimana Nico?" Kiera juga baru sadar.

"Ia sedang ada panggilan dari Bu Ellie. Entah apa yang mereka lakukan. Tetapi aku memiliki firasat buruk" Hana overthinking.

"Hah? memang apa yang kau pikirkan?" heran Sagi.

"Bisa saja mereka berdua sedang melakukan yang aneh-aneh bukan?" Hana gemetar.

"Hei hei, tidak mungkin mereka melakukan itu." Kiera memeluk Hana dari samping.

"Iya, pasti dia sedang dihukum karena sesuatu. Pikir saja begitu" canda Sagi.

"Iya bisa saja haha. Sedikit menghibur" Hana tertawa.

Pada akhirnya Hana merasa tenang untuk perjalanan pulangnya tanpa memikirkan nasibku di sekolah. Suasana sudah sepi, tetapi ketua kelas murid dari kelas 10 dipanggil oleh Bu Ellie untuk merencanakan tentang festival itu menanti.

Rencana ini sangatlah dadakan, membuatku tidak terpikirkan akan terjadi hal seperti ini.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!