Kemajuan

Keesokan harinya aku terbangun dengan semangat. Langsung membersihkan diri dan merapikan kamar dan segalanya. Setelah itu aku sarapan dan bersiap-siap untuk ke sekolah.

"Baiklah, sudah waktunya" aku dengan cepat menggunakan sepatu dan mengikatnya.

Setelah itu aku langsung membuka pintu dan mengunci pintu kembali. Dengan cepat aku pergi ke pintu lift. Sembari menunggu lift nya naik, aku mengecek hp ku barangkali ada berita baru.

"Eh apa ini?" aku tiba-tiba dimasukkan ke dalam grup kelas dan grup sekolah oleh seseorang.

Setelah aku mengecek nomornya, ternyata ia adalah, "Tch, Sagi bodoh" tapi aku tidak akan keluar dari grup itu.

Akhirnya pintu lift terbuka, seperti biasanya pasti lift selalu sepi jika masih terlalu pagi.

Pintu mulai tertutup, "tungguuuu!!" seseorang berlari ke arah pintu lift.

Ketika hendak tertutup, aku menahannya dengan kakiku. Karena aku sedang memasukkan tanganku ke dalam saku celana, ditambah juga sedang mendengarkan musik di telinga menggunakan headset ku.

"Ahh terimakasih."

"Loh" aku terkejut.

"Ehhh" itu adalah Hana yang berangkat pagi-pagi juga.

"Apa yang membuatmu berangkat sekolah pagi-pagi?" tanya ku.

"Aku ingin menanyakan hal yang sama kepadamu" Hana malah bertanya balik.

"Heeee"

Pintu tertutup dan lift mengarah ke bawah.

"Aku ada pertemuan penting dengan seseorang. Yang pasti itu mengenai tentang Leo" penjelasan ku.

"Kalau aku ingin bertemu dengan temanku di perpustakaan" penjelasannya.

"Bersama laki-laki?" tanya ku kembali.

Hana terdiam sebentar, lalu ia melihat ke wajahku.

"Kalau iya bagaimana?" Hana tersenyum dengan ekspresi yang sangat mengesalkan.

Aku memasang wajah datar seolah-olah tidak peduli dengannya. Lalu aku berpaling darinya, "yah, aku tidak ada hak untuk mengatur mu sih" dengan nada pasrah.

"Hahahahaha" ia tertawa.

Aku kembali menatapnya.

"Tentu tidak Nico. Selain Sagi, lelaki yang kukenal adalah dirimu seorang" dia tersenyum dengan wajah manis.

"sial" aku berpaling untuk menyembunyikan wajah merahku.

...[TINGGG]...

Pintu lift kembali terbuka. Kami sudah berada di lantai bawah dan kami keluar dari lift. Setelah itu kami berjalan ke sekolah bersama.

"Huh, sampai kapan harus berjalan terus untuk ke sekolah?" keluh ku.

"Memangnya sampai segitunya kah kamu ingin mengendarai mobilmu?" Hana menampar bahuku.

"Yah, begitulah" aku berjalan dengan murung.

...[Sampai di sekolah]...

Akhirnya Aku dan Hana sudah sampai di sekolah. Kami berpisah untuk kesibukan masing-masing. Hana pergi ke perpustakaan untuk bertemu dengan temannya yang kuharap bukan lelaki, sedangkan aku pergi ke belakang sekolah untuk bertemu dengan temannya Sagi.

"Oh hai Nico, akhirnya kau datang juga" dia menyapaku.

"Hai juga, eum . . . ." aku bingung dengan namanya.

"Panggil saja Touré," Touré memperkenalkan diri, "aku tidak punya banyak waktu. Maka akan kuberikan sedikit informasi ini" kemudian dia menunjukkan ku beberapa foto hasil pemantauan nya semalam.

"Bisa kau sedikit jelaskan?" aku rada bingung.

"Baiklah, seperti yang kau lihat. Di sekitar rumah Leo ini ada orang yang mondar-mandir sedari tadi. Ia adalah orang yang sama dengan yang ku foto ini, sayangnya aku belum mendapatkan gambaran wajahnya."

"Tidak, tidak apa-apa. Selama ada kemajuan aku senang."

"Baiklah" dia kembali menunjukkan foto itu kembali, "dari tampang orang ini sepertinya ia masih kisaran berusia 20 ke bawah, atau kemungkinan ia masih sekolah juga."

"Tunggu," aku menatapnya dengan wajah serius, "apa maksudmu kemungkinan orang yang meneror Leo selama ini . . . ."

Dari belakang seseorang mengejutkan kami, "DORRRR."

Aku tidak kaget, tetapi setelah aku melihat ke belakang, "halo Touré, apa yang kalian berdua lakukan disini?"

Seseorang yang sepertinya temannya Touré tiba-tiba ikut nimbrung dengan kami.

"V, apa yang kau sendiri lakukan disini?" Touré mengenalnya.

"Tidak, aku hanya bosan saja. Apa yang sedang kalian bicarakan?" V penasaran.

Aku hanya diam saja, aku memasang wajah curiga dengan orang ini. Karena entah darimana ia bisa tahu keberadaan kami disini.

"Bukan urusanmu V, pergilah" Touré berusaha mengusirnya.

"Hei, bolehkah aku melihat itu?" tiba-tiba V merebut ponsel milik Touré.

"Huh menyeramkan siapa orang ini."

"Sudah kubilang, bukan urusanmu" Touré kembali merebut hp nya.

"Membosankan, aku hanya ingin ikut nimbrung dengan kalian" V menghela nafas.

"Terkadang kau harus tahu situasi kapan harus ikut nimbrung untuk berbincang-bincang maupun basa-basi dengan seseorang. Lagipula kita juga belum kenal seminggu tapi kau sudah sok akrab dengan orang lain." Touré kesal.

V diam saja, kemudian dia berjalan meninggalkan tempat ini.

"Aku hanya bosan. Ingat, aku hanya bosan, Touré" wajah V berubah 180° ekspresinya.

Hal itu membuat kami berdua sedikit terkejut apa yang baru saja dia katakan.

"Touré, apa kita bisa bertemu lagi ketika jam istirahat?" tanyaku.

"Ya, temui aku di atap sekolah ini nanti Nico."

Kemudian aku dan Touré kembali ke kelas kami masing-masing. Disaat aku berjalan ke kelas, aku masih kepikiran dengan sikap V yang sangat mencurigakan.

"Nico, selamat pagi" Sagi menyapaku di depan pintu kelas.

"Oh, selamat pagi juga Sagi" aku menyala kembali.

"Bagaimana dengan Leo?"

"Ya, aku sudah bertemu dengan Touré tadi pagi. Nanti kami akan bertemu dengannya lagi ketika jam istirahat" penjelasan ku.

"Hebat, sepertinya kau juga sudah dekat dengan Touré. Nanti aku akan ikut denganmu ketika kau ingin ke atap nanti" Sagi tersenyum.

"Ya ya terserah."

Dari belakang, aku merasa seperti ada yang memantau ku dari kejauhan. Tapi aku pura-pura tidak merasakannya.

"Ayo kita masuk Sagi" aku langsung menarik Sagi ke dalam kelas.

"Eeee oke oke tidak perlu menarik kerah ku juga kan?"

Setelah itu aku langsung duduk dan kembali menyetel musik di headset ku sembari menunggu bel masuk berdering.

Disaat itu sebenarnya aku tahu siapa yang memantau ku sedari tadi. Ketika aku menyadari siapa yang mengawasi ku sedari tadi, mungkin aku mulai mencurigai seseorang yang meneror Leo ini.

...[KRINGGGG]...

Bel masuk berdering. Hana juga sudah duduk di sebelahku setelah ia kembali dari perpustakaan. Kemudian aku melepaskan headset ku untuk kumasukkan kembali ke dalam tas.

"Hana" aku memanggilnya.

Ia melirikku dan mengangkat alisnya. Lalu aku menyuruhnya untuk mendekat karena ingin aku bisikkan sesuatu.

"Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?"

tanyaku sembari berbisik kepadanya.

"Selama itu tidak merugikan ku."

"Baiklah, jadi begini . . . ." aku membisikkan nya sesuatu.

Aku menyuruhnya untuk sedikit sedikit memantau orang-orang yang berada di sekitar Leo. Jika ia menemukan sesuatu yang mencurigakan, aku ingin dia melapor kepadaku.

"Lalu apa yang aku dapatkan?" dia ingin imbalan.

"Apa yang kau mau?" tawarku.

"Hahaha benarkah?" ia tertawa.

"Asal jangan sesuatu yang diluar nalar."

Kemudian dia berpikir-pikir sebentar, "nanti akan kukatakan jika sudah selesai."

"Terimakasih telah membuatku penasaran."

Setelah itu aku hanya menunggu waktu istirahat untuk bertemu dengan Touré. Kemudian aku akan mengambil laporan dari Hana mengenai orang-orang yang mencurigakan di sekitar Leo. Karena Leo untuk sementara hidupnya tenang, maka itu aku akan menunggu waktu sampai dia benar-benar tenang dalam kehidupan sehari-harinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!