Masalah Dimulai

...[Di suatu gedung]...

Langkah kaki berjalan menuju suatu ruangan. Seorang pria yang menggunakan setelan jas berwarna hitam dan berdasi merah, ditambah dengan arloji yang sepertinya mahal. Ia berjalan ditemani dengan 2 bodyguard nya. Sampai didepan pintu ruangan, asisten penghuni gedung itu membukakan pintu untuknya.

"Pak, dia sudah datang." dia berbicara menggunakan alat komunikasi dengan menekan tombol di telinganya.

Ketika pria itu sudah masuk, dia menyuruh bodyguard nya menunggu di luar. Lalu ia masuk dan menemui seseorang di dalam ruangan itu.

"Mr. Mikhail, sudah lama tidak bertemu." Pria itu menyapanya.

"Alfredo, bagaimana kabarmu?" mereka saling menyapa.

"Ya, seperti biasa, masih mengurusi sekolah."

"Silahkan duduk dulu disini."

Kemudian mereka berdua saling duduk di sofa dengan pemandangan kota di jendela besar itu.

"Tidak banyak berubah ternyata dirimu Mikhail"

"Begitu juga denganmu Alfredo."

"Baiklah mau to the point atau . . . .?"

"Silahkan." Mr. Mikhail mempersilahkan Alfredo berbicara.

Kemudian Alfredo mengeluarkan kertas yang berisikan surat yang sudah di print, lalu diberikan kepada Mr. Mikhail untuk dibaca.

"Oh ya, sudah setahun ternyata."

"Bahkan anakmu sendiri masuk ke sekolah itu kan? keduanya?"

"Itu benar, aku tidak menyangka dia akan masuk ke sekolah itu juga."

"Jadi kau menelantarkan Nico?"

"Tidak, aku masih memberinya uang perbulannya. Aku hanya sibuk dengan pekerjaan ku saja."

"Itu benar, kau adalah donatur terpercaya yang pernah kutemui" Alfredo tertawa.

Mr. Mikhail menandatangani surat yang diberikan oleh Alfredo, setelah itu diberikannya lagi kepadanya.

"Murid tahun ini ternyata lebih banyak dari yang kukira" kata Alfredo.

"Oh benarkah? syukurlah kalau begitu bukan?"

"Jelas, aku akan mendapatkan lebih banyak keuntungan dari sponsor dan donatur tahun ini" Alfredo tersenyum menyeringai.

"Baiklah bagaimana festival tahun ini?" tanya Mr. Mikhail

"Tenang saja, festival ini harus lebih meriah dari sebelumnya" Alfredo mengambil kertasnya kembali.

"Bulan apa sekarang?" Mr. Mikhail mengecek kalender, "Oh, 5 bulan lagi."

"Berharap saja festival ini tidak seperti tahun lalu" Alfredo memijit dahinya, ia mengingat kejadian tahun lalu.

"Ya, aku harap festival kali ini tidak akan buruk" seketika ekspresi Mr. Mikhail berubah.

"Senang bekerjasama denganmu Mr. Mikhail" Kemudian Alfredo berdiri dan mengulurkan tangannya,

"My pleasure" Mr. Mikhail menjabat tangannya.

Tapi Alfredo menarik tangannya untuk berbisik di telinganya, "kau masih ingat dengan perjanjian kita kan?"

Setelah itu Alfredo melepaskan tangannya dan meninggalkan ruangan. Ketika Alfredo keluar dari ruangan, seseorang masuk ke dalam ruangan.

"Ada apa dengan wajahmu ayah?"

"Tidak, Akira. Hanya akan ada kabar baik kembali."

Ternyata itu adalah anak perempuannya, Akira.

"Apa kau sudah bertemu dengan Nico?" ayahnya berjalan ke jendela untuk melihat pemandangan kota.

"Tidak, sulit untuk mencarinya. Muridnya terlalu ramai, sehingga aku tidak berani mendekatinya."

"Itu kan adikmu sendiri. Apa kah salah setidaknya untuk menyapa?"

"Bukan begitu maksudku ayah, aku kan juga masih sibuk. Tidak ada waktu untuk bertemu dengannya juga!" Akira memasang wajah sedikit kesal.

"Hahaha," Mr. Mikhail mengecek arlojinya, "lagipula sudah jam segini, apa kau tidak pulang?"

"Tidak, untuk sementara aku akan menginap disini." Lalu Akira berjalan dan duduk di sofa.

"Lagi?" ayahnya menghela nafas, karena mungkin kejadian ini bukan yang pertama kalinya.

"Kenapa tidak ayah sendiri saja yang bicara dengan ibu sana?" Akira tiduran di sofa.

Kemudian Mr. Mikhail terdiam menunduk sembari bersandar di lengannya menopang dahinya di jendela, "huh, Jennie mungkin belum memaafkan ku."

Akira mendengarnya, kemudian ia kembali bangun dan melihat ayahnya, "ayah, kenapa ayah tidak berbaikan dengan ibu lagi?"

Mr. Mikhail hanya diam saja dengan merenung.

...[Kembali ke kafe]...

"Oalah, ternyata ini kakakmu toh" Hana sedang melihat akun sosmed kakaknya Nico di ponselnya.

"Hmm" aku meminum kopi yang dibeli tadi.

"Mikhail Akira, seorang Vlogger termuda dengan followers terbanyak di dunia untuk saat ini." Hana membaca berita yang di post oleh Akira, kakaknya Nico.

"Tunggu, dia sekolah di sekolah kita juga???" Hana terkejut lalu melihat ku.

"Dia masih kelas 12" responku.

"Pantas saja dia bisa masuk, followersnya saja mencapai 132 juta di sosmed." Hana terpukau.

"Lihat saja, nanti aku akan melampauinya."

"Mungkin saja disini aku bisa melihat akunmu dari orang yang diikuti oleh kakakmu" Hana menghiraukan apa yang baru saja kukatakan.

"Tidak akan, dia tidak mengikuti ku di platform sosmed manapun."

"Eh mengapa??" Hana terkejut.

"Aku sendiri yang bilang kepadanya untuk jangan mengikuti ku, atau aku sendiri yang menghapus followers ku sendiri di sosmed."

"Eh bukannya itu justru bagus? itung-itung tambah followers juga loh, sekalian promosi juga."

"Tidak tertarik untuk dipromosikan oleh dia. Lebih baik aku berjuang sendiri untuk melampaui followers nya." tegas ku.

Kemudian Hana tersenyum, "heeee, ada yang ingin menjadi seleb sosmed terkenal di dunia nih . . . "

"AKU SUDAH MENGATAKANNYA TADI!!" lalu aku menghabiskan seluruh minuman ku.

Hana tertawa terbahak-bahak, "andai aku bisa seperti dia yaa . . ." Hana kembali menatap ponselnya.

Aku yang melihat wajah imutnya seketika kembali sadar bahwa aku sedang berdua bersamanya disini.

"Ah gawat, sudah jam 6. Acaranya mau tayang." Hana seketika panik setelah mengecek jam di ponselnya.

"Eh, acara apa?" tanyaku.

"Sinetron yang biasanya ku tonton di jam 7. Apa kau tahu? salah satu aktornya itu berasal dari kelas kita loh."

"Hmm, siapa?"

"Erika Violet, dia adalah tokoh pacarnya si Aktor yang juga berasal dari sekolah kita juga, kelas 12 Hugo Seiba" Hana menjelaskan.

"Keren, tapi aku tidak mengenalnya."

"Aku bingung kenapa kau bisa tidak tahu banyak seleb di sekolah kita." Hana keheranan.

"Aku tidak suka influencer, artis, aktor ataupun seleb muda. Yang kukenal hanyalah," sembari menghitung menggunakan jari, "Justin Bieber, Cristiano Ronaldo, Tobey Maguire, Aaron Taylor Johnson, lalu . . . "

"Sudahlah, ayo kita pergi." Hana menarik kerah belakang ku dan berjalan ke luar kafe.

"Aaa . . . sakit . . . lepaskan . . . Hei . . ." Lalu kami berdua akhirnya pulang menuju apartemen dengan berjalan kaki.

Setelah sampai di depan pintu apartemen, aku memasukkan kunci untuk membuka pintu.

"Nico, tunggu sebentar" Hana memanggilku dari sebelah.

Aku melirik ke wajahnya, "hmm?"

"Anu begini . . . ." Hana menempelkan jari-jarinya sembari tersenyum, "apa kau mau menonton sinetron ini bersamaku?"

"Kesempatan!" dalam hati aku girang, "kenapa memangnya?"

"Kalau kau tidak mau tidak apa-apa, aku hanya mengaj--"

"Eh tidak, tentu saja boleh. Aku luang kok" hampir saja aku menolaknya.

"Baiklah, nanti mampir ke sini ya?" Hana senang, lalu masuk ke dalam dan menutup pintu.

Aku memandanginya, "inilah saatnya, Mikhail Nico!"

Lalu aku masuk ke dalam dan menutup pintu. Setelah aku masuk, dengan cepat aku merapikan diri dan mandi.

"Sial, aku tidak bisa tenang" aku tidak bisa berhenti berpikir, bahkan disaat mandi juga.

Setelah selesai mandi, aku mengganti baju yang kasual saja. Lalu menggunakan hoodie yang biasanya kupakai ketika ingin bikin konten.

"Baiklah, sepertinya seperti ini sudah rapih" aku menyisir di cermin.

Kemudian aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 6:56, "duh, sudah mau mulai."

Lalu aku keluar dari pintu dan bersiap untuk ke kamar sebelah. Setelah itu aku menekan tombol bel kamarnya dan berdiri di depan pintu untuk menunggu.

...[TINUNGGG TINUNGGG]...

"Bersiaplah, Nico." semangatku.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!