Terkadang jika seseorang yang tampan itu mendapatkan pujian dan berbagai macamnya, pasti orang itu sangat senang dan bahagia sekali. Yang pertama ia tampan, pasti selalu dikerumuni dan dikelilingi banyak wanita yang cantik-cantik. Yang kedua pasti selalu beruntung karena ia pasti mudah untuk mendapatkan pekerjaan seperti influencer atau seleb sosmed maupun lokal.
Tetapi kali ini sangat berbeda sekali jika seseorang tidak menyukainya mulai mengancamnya. Padahal dia yang tampan tidak bersalah apa-apa dan hanya menjalankan kehidupannya sebagai manusia biasanya, kini diteror oleh seseorang yang membencinya.
Sama seperti orang ini yang bernama Leo Heisenberg, kini ia sedang diancam dan diteror oleh salah satu hatersnya. Aku mencoba berinteraksi dengannya, namun sialnya kini sekarang aku harus membantu dia secara tidak langsung. Itu memang kemauanku sendiri untuk menolongnya, tapi aku masih merasa kasihan kepadanya. Maka itu aku bersedia menolongnya.
"Leo, bisakah kau jelaskan tentang ini?" aku memulai pembicaraan.
"Tidak ada, tinggalkan aku" Leo mencoba menghindar dari pembicaraan ku.
Dia masih menangis karena sangat takut dan cemas apa yang akan terjadi kepadanya. Aku berpikir keras agar dapat menolongnya, namun aku masih terlalu dini untuk ikut-ikutan menjadi detektif dadakan.
"Leo, tenanglah. Kau tidak sendiri. Meski kita memang tidak terlalu dekat, setidaknya aku masih dapat menolong kamu. Jadi percayakan kepadaku" aku memegang bahunya.
Dia diam tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menatapku dengan tatapan kosong. Diiringi dengan air matanya yang mengalir, membuat dirinya sangat terlihat menyedihkan sekali.
"Leo ayo ikut aku ketika waktu istirahat!" aku mengajaknya.
Dia masih diam dan tidak berbicara. Kemudian dia menundukkan kepalanya, "berikan hp ku."
"Eh? o . . ini" aku memberikan ponselnya.
"Tinggalkan aku" Leo mengusirku.
Aku nurut saja apa yang dia katakan. Mungkin dia butuh merenung untuk menentukan nasibnya. Lalu aku meninggalkan dia sendirian di kamar mandi untuk sementara. Entah aku akan kembali lagi atau tidak, yang pasti aku masih khawatir kepadanya.
Selang waktu aku sudah kembali ke kelas dengan wajah cemas. Beberapa murid melihatku dengan wajah kebingungan dan sedikit berbisik-bisik kepada temannya.
Aku duduk di tempat dudukku kembali. Sagi dan Hana juga kebingungan apa yang terjadi denganku.
"Wajahmu terlihat berbeda dari biasanya. Apa ada yang terjadi denganmu? atau Leo?" Tanya Hana.
Aku terdiam sebentar untuk berpikir kembali apa yang akan kulakukan, lalu aku mencolek badannya Sagi.
"Saat istirahat aku ingin berbicara denganmu."
"Eh denganku?" Sagi bingung.
"Denganmu juga, Hana" aku menunjuk Hana.
"Eh, aku juga?" Hana menunjuk dirinya.
"Ya. Ini tentang Leo" seketika wajah mereka menjadi cemas, "sudahlah untuk sekarang jangan dipikirkan. Semoga saja ia kembali kemari" aku mendinginkan suasana.
Hana dan Sagi mengangguk, kemudian kami kembali menyimak pelajaran yang sedari tadi Bu Ellie sedang menjelaskan pelajaran di papan tulis.
Setelah beberapa saat, Leo akhirnya ke kelas untuk kembali mengikuti pelajaran. Wajahnya terlihat biasa saja seperti tidak ada masalahnya.
Bu Ellie yang menyadarinya kemudian bertanya, "darimana saja kau Leo?"
"Panggilan alam ibu, ahahahahaha" Leo tertawa, kemudian murid-murid yang lain ikut tertawa.
Kecuali aku, Sagi dan Hana. Aku tahu kalau dia menyembunyikan masalahnya dan pura-pura baik saja, padahal itu tidak baik untuk dirinya sendiri.
"Nico . . . " Sagi menyebutku.
"Ya, aku tahu" aku paham apa yang ingin dikatakannya.
Lalu kami kembali menyimak pelajaran sampai waktu istirahat. Disitu aku masih mencoba fokus ke pelajaran, namun aku masih khawatir dengan keadaan Leo yang sedari tadi kulihat . . . . ia masih tersenyum seolah-olah tidak ada masalah.
...[KRINGGGGG]...
Bel istirahat berbunyi, akhirnya aku berhasil untuk fokus kepada pelajaran. Setelah itu aku kembali berdiskusi kepada Sagi dan Hana mengenai Leo.
"Ayo kita temui Leo" ajak ku.
"Tapi kemana dia?" Tanya Hana.
"Loh?" kemudian aku melihat sekitar untuk mencari keberadaan Leo.
Ia tidak ada di kelas, padahal dia sudah bilang ingin membicarakan masalah ini.
"Baiklah ayo kita cari dia" ajak ku kembali.
Sagi dan Hana mengangguk. Lalu kami keluar dari kelas untuk mencari keberadaan Leo yang menghilang dari kelas. Dimulai dari menanyakan kepada murid lain kemana ia terakhir kali terlihat sampai ke murid kelas lain.
Berjam-jam kami sudah mencari kemana ia pergi. Murid-murid lain juga sibuk dengan kesibukannya sendiri bermain dengan sosmed mereka, jadi tidak ada waktu untuk melihat keberadaan Leo. Sejauh dari yang kita cari, hasilnya nihil. Lalu aku kembali berdiskusi dengan yang lain.
"Sagi, Hana."
"Tidak ada di lantai bawah" lapor Sagi
"Tidak ada juga di lantai ini" lapor Hana.
"Jadi satu-satunya tempat yang belum dikunjungi . . . . " kami berpikir sejenak, "Atap!"
Dengan berpikir cepat, kami langsung bergegas menuju atap sekolah. Sembari berjalan menuju atap, beberapa orang juga baru sadar ada yang melihatnya pergi ke atap.
Sebelum membuka pintu atap, aku memperingati yang lain. "Ingat, jangan membuat dia ketakutan."
Semuanya mengangguk dan paham apa yang kukatakan, "bersiaplah" kemudian aku membuka pintu.
Disana aku melihat Leo yang berdiri di atas pagar atap yang sepertinya hendak bunuh diri.
"Leo!" Hana meneriakinya.
"Sial" Sagi panik.
Leo tidak mendengarkan, ia mencoba untuk melompat dari atap sekolah. Dengan cepat aku tidak akan membiarkan itu terjadi, aku langsung berlari dengan kecepatan ku yang atletis dan berhasil menariknya kembali ke atap.
"Jangan bodoh hanya karena hal itu" aku khawatir kepadanya.
"N . . . Nico. . . ." Leo terkejut.
Kemudian dia memelukku, "aku juga tidak mau melakukan ini!" ia menangis dengan ekspresi takut.
"Aku tahu, aku tahu. Kita pasti bisa menyelesaikan masalah ini bersama-sama" aku menenangkannya.
Sagi dan Hana ikut cemas kepadanya.
...[Di kelas]...
Aku, Sagi, Hana, dan Leo sedang membahas masalah yang terjadi kepada Leo. Aku mulai menjelaskan apa yang terjadi kepada Leo kepada teman-teman yang lain. Mereka mulai menyimak apa masalahnya, dan mereka juga mendengarkannya sembari makan siang.
Aku menjelaskan kalau Leo sedang diancam dan diteror oleh salah satu hatersnya yang sangat membencinya pastinya. Leo diancam untuk berhenti menjadi influencer sosmed Jika tidak berhenti, orang yang mengancamnya akan membunuhnya. Dimulai dari meneror rumahnya secara perlahan dengan membuat Leo takut secara perlahan.
Hal seperti itu terjadi berulangkali dialami oleh Leo sehingga membuatnya trauma. Sepertinya yang meneror Leo juga kesal karena ia bersekolah di sekolah seleb ini. Sehingga orang itu ingin sekali jika hidup Leo disini berantakan.
"Itu mengerikan sekali."
"Jelas.
Tanggapan mereka berdua malah ikut takut.
"Jadi ini adalah misi yang lumayan sulit" aku kembali meluruskan.
Sagi dan Hana berpikir-pikir untuk melakukan tugas ini, "sudahlah kalian tidak perlu ikut campur. Ini akan merepotkan kalian" Leo sangat pasrah sekali.
"Tidak Leo, kami bertiga akan membantu memecahkan masalahmu dan menguak siapa yang orang yang meneror mu ini" akhirnya Sagi membuka pikiran.
"Ya Leo, kau tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ikuti saja apa yang kami katakan, dan kau pasti akan selamat" Hana ikut bersimpati.
"Sepertinya kau malah seperti mengancamnya" aku mendadak mengerti apa yang dikatakan oleh Hana.
"Baiklah, semuanya setuju. Kita akan membantu Leo dan menyelamatkannya dari orang ini" Sagi semangat.
Kami bertepuk tangan dan bersemangat untuk menemukan siapa yang berani mengancam salah satu influencer yang terkenal satu ini.
"Aku tidak ingin kalian repot" Leo hanya bisa mengikuti alur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments