Kejadian Malam

Setelah pulang sekolah, kami dicegat oleh beberapa preman atau berandalan yang mengemis kepada kami. Tapi bukan karena aku pelit atau tidak mau memberikannya. Jika aku tidak memberi mereka pelajaran, maka mereka tidak akan berubah sikapnya sampai nanti.

Seseorang dari belakang yang bertubuh lumayan besar, mengunci ku dari belakang melalui kuncian leher. Kemudian aku menginjak pisau musuh yang terjatuh sebelumnya untuk ku jadikan senjata, lalu aku menusuk sedikit bagian lengan orang itu.

"ARKH" setelah dilepaskan, aku mencari kesempatan untuk kabur dari tempat ini, namun aku urungkan karena aku masih merasakan kesenangan ini.

"Majulah kalian semua!" tantang ku.

"Nico, hati-hati" Hana berlindung di belakang Nico.

"Tetap di belakang ku" aku menjaga Hana dari belakang.

Mereka berlima perlahan mendekati dari kiri 3 orang dan kanan sisanya. Aku mengatur strategi untuk mana yang harus ku serang terlebih dahulu. Kemudian salah satu orang di kiri mencoba memungut pistol yang terjatuh tadi.

"Tidak akan!" aku menendang tangan dan pistolnya agar menjauhkan senjata api itu.

Dia tangannya kesakitan, dibantu temannya dari samping dan melompatinya, lalu menendang ku setelah dibantu oleh punggung orang dibawahnya. Aku berhasil menggapai kakinya, lalu ku dorong badannya ke lantai dengan keras.

Setelah itu dari belakang ada yang hendak menghantam ku dari belakang. Dengan instingku, aku menggunakan sikut ku dan ditarik kebelakang untuk menghajar wajahnya itu. Setelah itu orang yang di depan yang menyerang ku secara langsung, aku menarik bajunya dan dilempar ke belakang untuk menghantam temannya yang lain.

Semua orang sudah terkapar. Kecuali salah satu orang ini, ia dengan cepat memungut pistol yang tertendang tadi di dekat Hana. Lalu Hana dijadikan tawanan oleh mereka yang membuatku gagal untuk menjaganya.

"Berhenti disana atau akan ku melubang kan kepala wanita ini" orang itu mencekik Hana dengan lengannya, ditambah dijadikan tawanan dengan menodongkan pistol ke kepalanya Hana.

"Sial, aku lengah" aku sangat emosi dengannya.

Lalu pelan-pelan ia giring dengan berjalan mundur ke samping, "jika kau ingin dia selamat, maka kau tahu kan?"

"Lepaskan dia" aku menurunkan tanganku dan menyuruhnya untuk tenang.

"Jawaban yang salah!" dia sekarang menempelkan pistolnya ke pelipisnya Hana.

"Nico, hentikan" Hana ketakutan, ia mengulurkan tangannya untuk menyuruhku untuk diam.

"Hahahaha, kau dengar perkataan wanita itu kan? hentikan!"

Aku hanya bisa terdiam sembari perlahan mendekatinya, tetapi ia tetap mundur ketika aku perlahan.

Ketika ia berbicara, aku merasa seperti ada seseorang yang berjalan di belakangnya.

...[TAKKKKK]...

Berandalan yang menahan Hana seketika jatuh tak sadarkan diri.

"Kalian tidak apa-apa?" Touré datang dan menghantam berandalan itu di lehernya sampai tidak sadarkan diri.

"Touré!" aku lega, lalu menghampiri Hana, "kau tidak apa-apa."

"I . . . iya" dia merasa lemas dan ketakutan.

"Terimakasih Touré, tanpamu pasti dia akan kenapa-kenapa" aku berterimakasih kepada Touré.

"Bukan masalah, aku hanya kebetulan lewat sini ingin ke supermarket" Touré menepuk bahuku.

"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan mereka?" aku menunjuk berandalan itu.

"Bantu aku ikat mereka, setelah itu kita lapor polisi" ajakan Touré.

Setelah itu, kami bertiga mengikat berandalan itu semua dan diikatkan di tiang yang berada di dalam gang ini. Kemudian polisi datang dan membawa berandalan itu ke kantor polisi untuk pembahasan lebih lanjut.

Sebelum itu, "Eh, apa kau Touré seorang petinju yang terkenal di sosmed itu?" salah satu polisi berbicara dengan Touré.

"Ah tidak, tidak terlalu terkenal" Touré menggaruk kepalanya meski ia botak.

"Seragam itu pasti dari sekolah seleb kan? sudah kuduga pasti kamu terkenal. Boleh minta tanda tangan mu?" polisi itu memujinya.

"I . . .iya boleh . . . " kemudian Touré menuliskan tanda tangannya di buku polisi itu.

Beberapa saat kemudian, polisi sudah pergi dengan membawa berandalan yang hampir saja membuat kami terbunuh.

"Baiklah Nico, aku pergi duluan ya?" Touré pamitan.

"Sekali lagi terimakasih" kami berdua berterimakasih.

Touré pergi ke supermarket.

"Ayo kita pulang? Han--" seketika, "eh?"

Hana memeluk lenganku, "aku takut."

"Perasaan apa ini?" mendadak aku sedikit kejang-kejang.

Kemudian aku bersikap santai dan berjalan meski melihat ke bawah, "Ayo."

Setelah itu kami berdua sama-sama kembali pulang ke apartemen. Dan kami bercerita cerita tentang tadi siang di sekolah.

...[Sementara malam itu]...

Touré sudah kembali ke spot dia memantau rumah Leo dari kejauhan menggunakan teropong kecilnya. Tapi kali ini ia merasakan keanehan dari biasanya.

"Hmm, tumben sekali jam segini belum ada orang yang lewat" Touré keheranan sembari memantau menggunakan teropongnya.

Lalu dari belakang,

...[BUGGGG]...

Seseorang memukul kepala Touré hingga berdarah menggunakan benda tajam hingga Touré tidak sadarkan diri.

"Tch, mengganggu kesenangan orang saja."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!