Pengalih Perhatian

...[KRINGGGGG]...

Bel pulang telah berbunyi. Sebelum kami pulang, aku sedikit memberi saran kepada Leo mengenai ancaman itu. Aku menyuruhnya agar tidak dibawa cemas dan panik atau ketakutan. Aku ingin agar dia mencoba mengamati apa yang terjadi kepadanya selama seminggu ini.

Dia paham apa yang kukatakan, dan ia juga menjelaskan beberapa kejadian aneh yang menimpanya sebelumnya. Ia pernah dibuat tidak bisa tidur seharian oleh seseorang yang menerornya, dengan cara mengetuk pintu kamar selama semalaman. Hal itu membuat ia jelas sangat tidak bisa tidur dan ketakutan secara bersamaan.

Tetapi kali ini kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Karena sekarang kami membayar seseorang untuk mengamati sekitar rumahnya Leo untuk menemukan siapa yang berani meneror orang sepertinya. Orang yang kubayar itu adalah seseorang dari kelas lain yang merupakan temannya Sagi dari kelas 1-C. Rumahnya sangat berdekatan dengan rumah Leo, maka itu ia ditugaskan untuk mengamati dan memantau sekitar rumah Leo.

Pada akhirnya semua beres kuberi tahu apa yang akan dilakukan oleh orang ini selama seminggu. Yaitu membantu memantau sekitar rumah Leo sampai menemukan siapa yang berani mengganggu orang ini.

"Terimakasih Nico, aku sangat terbantu. Aku pasti sangat merepotkan kalian" Leo berterimakasih.

Aku tersenyum dan mengangguk dengan memegang bahunya. Lalu aku dan Hana pulang ke apartemen bersama. Sementara Sagi menemani Leo pulang bersama dengan temannya Sagi yang akan menjadi mata-mata sementara itu.

"Yah, aku berharap rencana ini berhasil. Aku setengah yakin dengan apa yang kulakukan ini" harapanku.

"Tapi apa kau harus membayar sampai segitunya hanya untuk membuat hidup seseorang nyaman?" tanya Hana.

"Oh tentu. Aku senang membantu, meski orang itu menyakiti ku. Tapi jika sudah berlebihan, maka jangan harap untuk melihat matahari besok" tegas ku.

"Hahahahaha" Hana tertawa.

Aku melirik wajahnya yang tertawa itu. Ia sangat manis sekali jika sedang bahagia, tampangnya sangat imut sehingga membuatku lumayan deg-degan ketika dekat dengannya.

"Apa yang kau lihat?" Hana menyadari bahwa aku sedari tadi mengamatinya.

"Ahh tidak. Hanya melihat rumah di sekitar huhuhuhu" aku berpaling secepat mungkin karena menahan rasa malu.

"Oiya, apa kau tahu rumahnya Sagi?" tanya Hana.

"Pertanyaan aneh. Berteman seminggu saja juga belum, apalagi tahu lokasi rumahnya."

"Yaaa . . . itu benar" Hana tersenyum.

Lalu aku melihat ke wajahnya, "apa kau menyukainya?"

"Pertanyaan bodoh, tentu tidak" Hana memukul bahuku.

"Aww, iya iya" aku menghela nafas.

Akhirnya kami telah tiba di apartemen kami. Kami masuk ke dalam lift setelah seseorang keluar dari lift itu. Setelah masuk, kami kembali basa-basi dan membuka topik.

"Oiya Nico, apa aku boleh bertanya?"

"Selama bisa dijawab, silahkan."

"Kenapa kau pindah kemari?" Hana akhirnya bertanya sesuatu yang penting.

Aku berpikir sebentar, "mungkin jawabanku sama denganmu."

"Karena menjauh dari orang tua?" tebak Hana.

"Oh tidak, tentu tidak tidak tidak. Apakah kau seperti itu?"

"Tidak, tadi hanya tebakanku saja" Hana tertawa.

"Oh kupikir kau seperti itu, syukurlah" aku menghela nafas.

"Syukurlah?" Hana kembali bertanya.

"Ya, aku pikir kau tinggal disini karena menjauh dari orang tua. Nyatanya . . . ."

"Benar, aku tinggal disini karena aku ingin belajar mandiri. Mencari penghasilan sendiri jika bisa, atau berbagai hal yang bisa kulakukan sendiri."

Aku tersenyum, "ya, itulah jawabanku."

"Ehhh???" Hana memasang wajah kesal yang imut.

...[TING]...

Akhirnya kami telah sampai di lantai 7. Aku hendak berjalan duluan tetapi,

"Ehhh, apa apaan--"

Hana menarikku kembali ke dalam lift.

"Wanita terlebih dahulu" ternyata Hana ingin lebih keluar duluan.

"Tch" untung saja dia wanita.

Lalu kami berjalan menuju apartemen kami. Setelah di depan pintu, aku berpamitan dengan Hana. Kemudian aku langsung merapihkan diri dan membersihkan kamar ku. Setelahnya aku langsung tidur untuk menunggu hasil besok.

Sebelum tidur, aku tidak akan lupa untuk menyetel lagu di headphone agar aku tertidur dengan nyenyak. Sampai akhirnya aku mengantuk dan lelah.

Tetapi ada 1 pesan masuk dari seseorang "Loh, sudah jam segini, siapa?" tanpa pikir panjang, aku langsung membuka sosmed ku yang ternyata . . .

"Oh" itu adalah beberapa pesan dari seseorang yang merupakan temannya Sagi yang sudah melakukan pantauan di sekitar rumahnya Leo.

"Baguslah" aku tidak sabar untuk besok untuk memberi tahu informasi yang baru saja didapatkan ini.

Lalu aku langsung tidur dengan ketidaksabaran menunggu hari esok, "gawat, aku harus tidur."

...[CLICK]...

Setelah mematikan lampu kamar, akhirnya aku tertidur dengan nyenyak. Maka itu, aku akan menyuruh mereka untuk kembali berkumpul di keesokan harinya kembali. Aku ingin memberitahu tentang laporan dari temannya Sagi ini kepada teman-teman yang lain agar mereka tahu jika pemantauan ini tidak sia-sia.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!