Masih siang dan banyak waktu. Kami berempat berencana pergi ke bioskop untuk menikmati liburan ini. Dikarenakan Kiera ada sedikit masalah dengan taman, maka rencana yang melintas di otakku adalah ke bioskop.
"Yah tidak masalah jika tidak ingin ke bioskop. Tapi apakah tidak ada pikiran lain untuk ke tempat lain?" kata Sagi.
Aku menarik Sagi ke tepi sebentar sembari membisikkan nya, "dengar Sagi, aku tahu ini rada aneh. Tetapi mereka sudah setuju juga, apa kau yakin ingin melewatkan kesempatan ini?"
"T . . . tentu tidak . . . " ragu Sagi.
"Baiklah, ikuti saja alurnya. Aku juga tidak tahu kenapa aku kepikiran soal bioskop. Lagipula . . . ." kami berdua melihat ke arah Hana yang sedang berbicara kepada Kiera, "apa kau yakin akan melewatkan kesempatan ini, Sagi?" sembari tersenyum.
"i got your back, bud" Sagi melakukan tos denganku.
"Aku harap kalian tidak sedang membicarakan kami" kata Hana dari belakang.
Aku melepas Sagi dan mendorongnya, "Oh tidak tidak tentu tidak haha."
...[Sampai di sana]...
Kami sedang melihat poster film yang dipajang di sekitar bioskop.
"Hmm, romantis, horror, action . . . . eum" sembari menyebutkan genre.
"Aku akan pulang jika menonton film horror" gemetar Hana.
"Tapi film horror ini tidak buruk juga. Ini adalah seri ketiga dari film sebelumnya" semangat Kiera.
"Oh, kau suka film horror?" tanya Sagi pada Kiera.
"Tidak semua" katanya.
"Hana . . . . " aku menyebut Hana.
"Tidak, aku akan pulang sekarang jika menonton itu!" gemetar Hana dengan tatapan tajam ke wajahku.
"Huh, katanya pemberani. Bisa lawan preman-preman, tapi takut nonton ini? hahahaha" ejek ku padanya.
Hana yang kesal dan takut secara bersamaan lalu dia berbalik menghadap ku, "baiklah, kita akan menonton itu."
"Aku tidak memaksa loh ya" peringatan ku.
"Diam lah, aku akan membeli tiketnya" Hana berjalan dengan grogi untuk membeli tiketnya.
"Kita lihat apa yang akan dilakukannya" kata Sagi dari jauh.
"E . . em . . .emp . . . . 4 tiket untuk film yang itu" Hana memesan tiket dengan gemetar.
"Baiklah 4 tiket untuk film ini, silahkan pilih kursinya."
Setelah memilih kursi, Hana langsung kembali kepada kami lagi. "Lihat kan? aku berani membelinya!" bangga Hana.
"Apa yang kau banggakan?" heran Kiera.
"Woopps, baru saja kau diejek Kiera" ejek Sagi juga.
Aku berniat untuk ikut mengejek, tetapi mata tajamnya sudah menatap kepada ku sehingga membuatku membatalkan apa yang ingin kukatakan. Yang aku hanya bisa lakukan hanyalah tersenyum sedikit tertawa, "haha."
"Baiklah mulai jam berapa filmnya?" Sagi merebut tiketnya.
Kiera mendekati Sagi untuk melihat tiketnya juga, "15 menit lagi, apa kau mau beli cemilan dulu Sagi?" ajak Kiera.
Wajah Sagi memerah, "B . . . b . . . bersamamu?" Sagi mendadak grogi.
"Ya sudah kalau tidak mau aku saja yang beli" Kiera meninggalkan Sagi.
"Hei hei tunggu!" Sagi menyusulnya untuk membeli cemilan bersama dengannya.
Kami berdua ditinggalkan oleh mereka berdua yang sedang membeli cemilan.
"Kau puas?" kata Hana.
"Maksudmu?" aku bingung.
"Tidak" dia memalingkan wajahnya.
"Sial, aku baru saja membuat kesalahan besar sepertinya" aku memegang kepalaku.
Dari belakang ada seseorang yang sepertinya berjalan mengarah kepadaku.
"Nico?" seseorang bermasker, berkacamata, dan bertopi menyapaku.
"Hah? siapa kau?" aku berbalik menghadap kepadanya.
Hana yang juga kaget, ia ikut melihat orang itu.
"Astaga jahat sekali. Masa kamu lupa sih" dia membuka kacamata dan maskernya.
"Hahhhhh??" aku terkejut melihat wajahnya.
"Loh, kamu kan . . . ." Hana kembali mengingat-ingat, "Mikhail Akira!"
"Ssshhhtttt, jangan berisik" Akira menutup mulutnya Hana.
"Apa aku harus senang atau mengusir mu?" canda ku.
"Ih jahat sekali sama kakakmu sendiri" Akira menampar kepalaku.
"Ahh sakit, hentikan" sembari menghindari tamparannya.
"Sudah-sudah, apa yang senior lakukan disini?" tanya Hana.
"Aku ingin menonton film horror yang ada seri ke 3 nya itu, dan sebuah kebetulan bertemu kalian disini" penjelasan Akira.
"Hebat juga kau bisa tahu wajahku" kata ku.
"Mana mungkin aku melupakan wajah adikku sendiri, hahahaha" Akira tertawa kecil.
"Lalu senior, kebetulan kami juga ingin menonton itu" kata Hana.
"Kami? bukannya kau secara terpaks--"
"Nah ini lokasi kursi kami, silahkan pesan kursinya di sebelah kami ya! kalau tidak salah masih ada slot lagi deh, haha" Hana menutup mulutku.
"Waahh bagus sekali, aku akan segera memesannya" Akira menarik tanganku, "ayo Nico, temani kakak memesan tiket."
"Haaaa??? memangnya tidak bisa sendiri?" aku terpaksa mengikutinya, "Hana ayo ikut aku" aku juga menarik tangan Hana.
"Hei hei lepaskan, waaaa" Hana ikut tertarik oleh kami.
Seseorang dari jauh melihat kelakuan kami, "hehh, bukankah itu seleb sosmed yang belakangan ini selalu muncul di beranda?"
"Wah beruntung sekali bisa melihatnya secara langsung"
"Aku mau minta tandatangannya ahh."
"Apa dia sudah punya pacar?"
"Hei siapa cowo itu? apakah dia pacarnya?"
"Tidak tidak, pasti adiknya."
Aku yang sepertinya sedikit mendengar ucapan itu seketika aku mendekati dan membisikkan kakak sesuatu, "kakak, sepertinya kita sedang dibicarakan."
"Ohoh, bukankah bagus?" katanya.
"Bagaimana kalau itu adalah om-om cabul yang sedang mengincar kakak?" kata ku.
"Hah, tidak tidak mungkin hahaha" dengan gemetar kakakku kembali memasang kacamatanya dan maskernya.
...[10 menit kemudian]...
Kakak sudah selesai membeli tiketnya. Kami semua duduk di bangku yang disediakan di bioskop ini.
"Astaga, siapa itu?" kaget Sagi yang datang membawa cemilan.
"Aku hanyalah seorang wanita yang numpang lewat" kata Akira.
"Dia adalah kakaknya Nico" Hana menjelaskan.
"Kakaknya? berarti . . . . " Kiera terkejut.
"Yah, seorang seleb yang nyasar dan sedang menguntit adiknya" canda ku.
...[BUGGGG]...
"Tidak tidak. Aku hanya kebetulan bertemu adikku disini, haha" ucap Akira setelah memukul kepalaku.
Sagi dan Kiera duduk, "berarti kamu adalah senior kami dari kelas 12?"
"Begitulah" Akira tersenyum.
"Wahhh aku tidak percaya aku bisa bertemu dengan kakaknya Nico yang merupakan seleb di sosmed" Kiera terpukau.
"Ya ampun, apakah aku seterkenal itu?" Akira menepuk jidatnya.
...[Pintu teater 4 telah dibuka, diharapkan untuk . . . ]...
"Hei, sudah waktunya. Ayo" Sagi beranjak dari kursinya.
"Sebentar, aku yang membawa cemilan" Kiera mengambil cemilan.
"Hana, berikan tiketnya" aku mengulurkan tanganku.
"Ini, sekalian punya kak Akira juga."
"Terimakasih haha" kakak tertawa.
Lalu kami semua masuk ke dalam teater dan duduk di kursi atas sesuai pilihan Hana yang penakut.
"Eum mau duduk dimana?" bingungku.
"Sudahlah, sini" kakak menarik ku dan menyuruhku duduk di sebelahnya.
Hana ikut duduk di sebelahku juga. Di sebelahnya Hana ada Kiera, dan disebelahnya Kiera ada Sagi yang sudah duduk semua.
"Baiklah, ambil ini semuanya" Sagi dan Kiera membagikan cemilannya kepada kami.
"Eh popcorn nya hanya 2?" heran ku.
"Tapi ini sudah ukuran paling besar loh, kamu bisa berbagi dengan kakakmu dan Hana" kata Sagi.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanyaku.
"Muehehehehe" Sagi tertawa jahat.
"Kau aneh Sagi" Kiera keheranan.
"Maaf, ini popcorn nya" Sagi memberikan popcorn nya kepada Kiera.
"Sial, beruntung sekali dia" iri ku padanya.
"Ssshhhtttt filmnya mau mulai" kakakku menenangkan yang lain.
Lalu film pun dimulai. Aku yang memegang popcorn nya, Hana dan kakakku yang memakannya sedari tadi. Aku yang ingin ikut memakannya merasa tidak enak jika harus menyela tangan mereka yang sedari tadi bolak-balik mengambil popcorn nya terus.
Aku melihat Sagi dan Kiera yang memakan popcorn nya dengan romantis sekali, "sialan itu beruntung" aku mengeluh.
Seiring berjalannya waktu. Aku merasa ada yang aneh dengan momen ini. Banyak momen seram di film ini sedari tadi. Tetapi aku tidak mendengar jeritan dari Hana maupun kakakku.
Aku yang terlalu fokus menonton filmnya sampai lupa untuk ikut makan popcorn nya, "kesempatanku!" dikarenakan masih banyak juga isinya, aku ingin memakannya.
...[PUKKKKK]...
"Eh?" aku terkejut karena seseorang seperti menyentuh bahuku.
Ketika aku melihat ke kiri, Hana ternyata tertidur dan bersandar kepadaku.
"Sial apa-apaan . . . ."
...[PUKKKKK]...
Dari sebelah lagi aku merasakan ada yang menyentuhku juga. Dan ketika aku melihat ke kanan, ternyata kakakku ketiduran dan bersandar kepadaku juga.
Sekarang mereka berdua tertidur di bahuku dan membuatku terjebak dalam situasi yang diluar ekspektasi ku sebelumnya.
"Apa apaan momen ini? aku hanya ingin memakan popcorn nya!!!" teriak dalam pikiranku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments