Permasalahan

"Hmm? tidak ada yang dicurigai?" heran ku.

"Ya, dari yang mendekati atau yang melihat Leo rata-rata gadis-gadis kelas lain yang ingin caper dengannya" Hana menjelaskan.

"1 laki-laki pun tidak ada?" tanyaku kembali.

Hana berpikir-pikir sebentar untuk kembali mengingat, "sepertinya ada satu orang . . . ."

Aku mendengarkannya.

"Entah aku yang berprasangka aneh atau bagaimana. Tetapi satu orang laki ini selalu menatap Leo dari kejauhan, tidak terlalu jauh" Hana mengingat-ingat.

"Bagaimana penampilannya?"

"Dia tinggi sepertinya, berambut pirang, dan menggunakan kacamata . . ."

"Loh, bukankah itu V?" seketika aku menyadari ciri-ciri orang itu.

"Wajahmu terlihat seperti mengetahui sesuatu" Hana memukul lenganku.

"Aww, ya, sedikit" aku memegang lenganku.

"Siapa kira-kira orang itu?"

"Aku harap bukan orang yang kupikirkan."

"Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin membantu Leo dari masalahnya itu?" tanya Hana.

Aku terdiam sebentar lalu memandang wajah Hana, "nasib dia hampir sama denganku, namun ia masih bisa tersenyum meski saat momen mengerikan."

"Seolah-olah semuanya baik-baik saja?"

Aku tersenyum, "ya."

Kami berjalan sampai ke apartemen melalui gang-gang kecil seperti biasanya. Namun kali ini ada seseorang mengikuti kami.

"Hana, kau menyadarinya kan?" aku berbicara berbisik.

"ssshhtt" Hana menyuruhku diam.

Ia pasti tahu kalau ada beberapa orang sedang mengikuti kami dari belakang entah apa tujuannya.

"Kita harus cep--"

Tiba-tiba dari depan, ada beberapa orang yang menghadang dari depan dan belakang.

"Sial, kita terjebak."

"Aku tahu itu."

Lalu seseorang yang sepertinya merupakan pimpinan dari berandalan itu maju beberapa langkah ke depan.

"Kau tahu kalau ini adalah distrik kami bukan?" tanya orang itu.

"Distrik mu? apakah kau punya sertifikat nya?" ejek ku.

Orang itu meludah dan diberikan senjata pipa besi oleh temannya.

"Kalian berasal dari sekolah seleb yang disana itu kan?"

"Lalu?"

"Pasti kalian adalah anak-anak orang kaya" orang itu menodongkan pisau.

"Tidak juga, apakah harus seperti itu?" jawabku.

"Berikan saja kami uang, maka kami akan membebaskan mu" dia memaksa.

"Bagaimana jika tidak?" tanyaku kepada mereka.

"Maka bersiaplah" dia menodongkan pistol dari belakang kepalaku.

"Hei!" Hana berteriak ingin menghentikan.

"Diam disana nona, nanti kita akan bersenang-senang setelah ini" hina orang itu.

"Sekarang, tran--"

...[BUGGGG]...

Aku menggunakan siku ku untuk menghajar wajah orang yang menodongkan pistol nya kepadaku dengan cepat. Lalu aku dengan cepat menjatuhkan pistol miliknya dan menendangnya sejauh mungkin.

"Argh" dia kesakitan memegang hidungnya, "tangkap dia!"

Mereka maju satu persatu untuk melawanku. Aku melindungi Hana agar tidak tertangkap oleh mereka.

"Hmp" aku memasang kuda-kuda ku untuk bersiap menangkis serangan mereka.

Lalu salah satu orang maju dan ingin menyerang ku dari belakang. Aku yang menyadarinya langsung melakukan straight front flip untuk menendang dagunya sampai ia terpental.

Disusul dengan orang yang menggunakan pisau yang mencoba menusukku. Dengan mudahnya aku menghindarinya menggunakan kelincahan ku yang sangat cepat. Lalu aku menarik tangannya dan memukul lengan bawahnya sekeras mungkin sampai ia melepaskan pisaunya. Setelah itu aku lompat dan melakukan 360° kick untuk menghajar wajahnya.

Seseorang dari belakang yang bertubuh lumayan besar, mengunci ku dari belakang melalui kuncian leher. Kemudian aku menginjak pisau musuh yang terjatuh sebelumnya, setelah ku pantulkan dengan kakiku, lalu aku menusuk sedikit bagian lengan orang itu.

"ARKH" setelah dilepaskan, aku mencari kesempatan untuk kabur dari tempat ini, namun aku urungkan karena aku masih merasakan kesenangan ini.

"Majulah kalian semua!" tantang ku.

...[Sementara itu di suatu tempat]...

Sebuah gedung yang berada di tengah kota, ada seseorang yang sedang duduk menulis sesuatu. Kemudian datang seseorang dari pintu berjalan menuju ke arahnya.

"Maaf mengganggu sebelumnya Pak, tetapi ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." salah satu asistennya melaporkan sesuatu.

"Jika tidak penting suruh dia keluar" kata orang itu.

"Dia adalah anak perempuan mu."

Kemudian orang itu menyuruh asistennya memanggil seseorang yang disebut anaknya itu. Setelah anaknya masuk, asistennya meninggalkan ruangan dan membiarkan mereka berbicara privasi.

"Tidakkah kau lihat ayah sedang kerja?"

"Apa kau tahu ayah?" dia mulai berbicara.

Kemudian ayahnya meliriknya sembari menulis.

"Nico juga masuk ke sekolah itu."

Kemudian ayahnya berhenti menulis, "bagaimana bisa?"

"Dia juga masuk kelas A, ayah."

"Bukankah itu bagus?" puji ayahnya.

"Apakah ayah menyuruhnya?"

"Tidak, aku tidak akan ikut campur urusannya lagi."

"Ayah tahu kan apa yang akan dilakukannya nanti jika festival selebritis dunia kembali digelar?"

"Ayah tahu nak" kemudian ayahnya berdiri berjalan ke arah jendela, "Nico juga anakku, dia juga tahu apa yang dilakukannya."

"Tch, adik yang menyebalkan."

"Kenapa kau malah ikut campur urusannya? kau kesini hanya untuk membicarakan hal itu?" tanya ayahnya kembali.

"Ya, tidak. Aku hanya ingin memberitahu kabar itu secara langsung."

Kemudian ayahnya mendekat, "maka kau harus menjaga Nico di sekolah." ayahnya mengelus kepalanya, "jika kau tidak sanggup, maka fokus saja ke luar negeri untuk melakukan vlog mu itu, ok?"

Ayahnya kembali duduk dan bekerja. Kakaknya Nico ingin berbicara lagi, namun tidak dihiraukan oleh ayahnya. Kemudian dia pergi ke luar ruangan dan pergi meninggalkan gedung itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!