Tidak kusadari sekarang sudah memasuki hari minggu. Minggu pertama sudah berlalu. Tidak ku sangka semenjak aku masuk sekolah itu, aku langsung memiliki kasus tentang peneroran rumah seseorang yang masih tidak logis sampai saat ini.
Ditambah, pengintaian di rumah korban teror tidak menghasilkan apa-apa. Malahan hanya membawa malapetaka untuk Touré ini.
Aku merasa bersalah sekali ketika memulai misi pengintaian ini. Hal ini sudah diluar dari perkiraan ku. Aku harap aku dapat menembusnya dengan apapun itu yang ia minta.
Dikarenakan hari ini aku berniat untuk mengunjungi Touré di rumah sakit, jelas aku tidak mungkin berangkat sendirian. Maka itu aku menghubungi teman-temanku untuk mengajak mereka jalan-jalan, meski secara terpaksa sedikit akibat alasan yang dijelaskan oleh ku.
Mumpung hari minggu, Aku bersama Hana, Sagi dan Kiera menuju rumah sakit tempat Touré dirawat. Kami juga membawa oleh-oleh untuknya, berharap saja jika ia sudah sadar.
...[TOK TOK TOK]...
Aku mengetuk pintu ruangan dan langsung masuk, "Touré apa kabar?" aku menyapanya.
"Nico, Sagi sudah lama . . ." Touré ternyata sudah sadar, tapi . . .
"Oh, kau yang waktu itu" ada V juga disebelahnya yang sepertinya juga mengunjunginya sekarang.
"V? sepertinya kau sangat dekat sekali dengan Touré" curiga ku.
"Apa masalahnya berteman dengan dia? dia adalah orang pertama yang mengajakku berbicara ketika hari pertama!" tegas V.
"Ouh, maaf, tenanglah" aku menenangkannya.
"Kenapa kau tidak duduk kalian semua?" Touré mempersilahkan.
Kemudian kami duduk di sebelah ranjang Touré dirawat. Kami bingung harus memulai topik apa, perlu ada seseorang yang mencairkan suasana.
"Kiera bukan?" tanya Touré.
"Bagaimana kau bisa tahu?" kaget Kiera.
"Kita kan sekelas, dasar aneh" Touré tertawa.
"Benarkah? aku tidak menyadari itu . . . "
"Loh Kiera, kamu kelas 1-C?" tanya Hana.
"I . . . itu benar" Kiera mengangguk.
"Tapi bagaimana kau tidak bisa mengenali V dan Touré?" heran Sagi.
"Aku jarang berinteraksi."
"Itu benar," Touré menyela, "aku memang jarang melihatnya, tetapi aku masih familiar dengan wajah satu ini."
"Oke oke, bagaimana kau bisa mengajak Kiera?" tanyaku pada Hana.
"Dia memaksaku . . . " kata Kiera.
"Ehehehe" tawa Hana.
"Sudahlah, aku senang kok jika kalian berkunjung" Touré mendinginkan suasana.
"Harusnya kau juga tahu alasan kami kesini" kata ku.
Touré mengangguk.
...[Sementara itu di tempat lain]...
Sebuah rumah sederhana terletak di perbatasan kota. Akira, kakak Nico masuk ke dalam rumah itu.
"Aku pulang."
Akira melepaskan sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Ia masuk ke dalam dan pergi ke dapur. Ia membuka kulkas dan melihat banyak makanan. Beberapa makanan diambil olehnya. Tapi ketika ia menutup pintu kulkas,
"Darimana kau Akira?" seorang wanita menegurnya.
"WAAAAAAAAAAAA!" Akira terkejut dan reflek menjatuhkan makanan itu, beruntung saja itu hanyalah makanan ringan yang belum dibuka.
"Pasti dari tempat ayahmu" Jennie menghela nafas.
Jennie dan Levine, adalah kedua orangtuaku yang hubungannya sedang renggang. Bukan sudah cerai, hanya sekedar berpisah rumah saja. Karena keegoisan ayah, ibu meninggalkannya sampai sikap ayah berubah.
Disaat kakakku bingung untuk memilih tinggal dengan siapa, sedangkan aku memilih untuk tinggal sendiri dengan uang penghasilan ku sendiri. Tapi terkadang ayah atau ibu mengirimkan ku uang juga sebagai tambahan uang saku.
Alasan ku mengapa untuk tidak tinggal dengan keduanya adalah agar tidak menyusahkan atau merepotkan mereka. Yang pasti aku sudah bisa mandiri dan memiliki kehidupan masing-masing.
Kembali ke cerita.
"Ibu mengagetkanku tau" Akira kembali berdiri dan memungut makanan ringan yang jatuh tadi.
"Kamu sendiri juga mengagetkan ibu tiba-tiba kamu pulang."
"Memang ibu sedang apa?" heran Akira.
"Lupakan, cepatlah bersih-bersih. Ibu mau ke pasar setelah ini" perintah ibu.
"Iya iyaaa" Akira naik tangga untuk pergi ke kamarnya.
...[Kembali ke rumah sakit]...
"Jadi siapa yang memukulmu?" to the point aku langsung menanyakan Touré.
"Nico . . . . "
"Hah, Nico?" kaget Sagi.
"Eh aku?" kaget ku.
"Tidak tidak, aku belum selesai berbicara. Huh kalian" Touré meluruskan.
"Ayolah jangan membuat situasi menjadi tegang" V menenangkan yang lain.
"Itu benar, ayolah teman-teman" Hana memasang wajah serius.
"T . . . tapi kamu sendiri juga begitu . . . " Kiera takut melihat wajah Hana.
"Apa? ada apa dari wajahku ha--"
...[SRRRRTTTT]...
Tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu ruangan. Semuanya terkejut dan reflek langsung menoleh ke arah pintu.
"Maaf mengganggu, tapi ada hal yang ingin kutanyakan pada Touré. Boleh kah?" seorang polisi masuk dengan partner wanitanya.
"Inspektur Steve dan Miya" aku mengenalnya.
"Loh, kamu adiknya Akira ya? sudah lama tidak bertemu denganmu" Miya juga mengingatnya.
"Bagaimana kamu bisa mengenalnya Nico?" tanya Hana.
"Mereka teman sekelas kakakku."
"Dan sampai sekarang masih sekelas juga." Steve mengangkat kedua jarinya sembari tersenyum.
"Jadi . . . ." seketika Sagi baru sadar.
"Ya, mereka masih kelas 12 dan kakak kelas kita dari sekolah Infamous" penjelasan ku.
"Tepat sekali, Nico. Eh Nico kan namamu?" Miya memastikan.
"Bukan, aku Justin Bieber" canda ku.
"Sudah ganti kah sekarang? dulu perasaan ngakunya Cristiano Ronaldo" Miya mengingat-ingat.
"Hebat sekali masih mengingat hal memalukan seperti itu. Tapi sayang sekali karena kau tidak berkesempatan untuk mengingat masa kecilku ketika kau bermain dengan kakakku" ucapku dengan ekspresi senyum kaku.
"Memang konten apa yang senior buat sampai bisa masuk kelas A?" tanya Hana.
Miya merasa kegirangan. Lalu ia berniat untuk menjawab, "kita sering memb--"
"Ayolah Miya, sudah waktunya serius." Steve menepuk bahunya.
"Hehe lupa. Maaf ya adik-adik."
"Maaf sekali, tapi apakah kalian boleh meninggalkan ruangan ini?" permintaan Steve.
"Oh ya lupa. Baiklah teman-teman ayo, kita keluar" ajak ku.
"Huhh, padahal masih ingin bertanya-tanya lebih lama lagi" keluh Sagi.
"Sabar saja ya tampan, masih ada lain waktu lagi jika ingin bertemu dengannya" ucap Miya.
"Eh?" kaget Sagi, "Nico, kau mendengar dia kan?" Sagi menarik-narik bajuku.
"Sudahlah ayo" aku menarik Sagi keluar.
Teman-teman ikut keluar sampai hanya tersisa mereka bertiga di ruangan itu. Setelah semua orang meninggalkan ruangan, kami semua berniat untuk jalan-jalan terlebih dahulu.
"V, apakah kau mau ikut dengan kami?" ajak ku.
"Maaf sekali, aku masih memiliki pekerjaan. Dadah" V langsung meninggalkan kami.
"Kerja di hari minggu?" heran Sagi.
"Biarkanlah, mungkin menjadi Mecha form" kata ku.
"Mecha form? maksudnya?" heran Sagi.
"Lupakan, ayo kita pergi."
Kemudian aku berjalan keluar dari lobby rumah sakit bersama yang lain. Entah harus kemana jalan-jalan ini.
"Bagaimana kalau ke taman?" saran Hana.
"Boleh tuh" Sagi bersemangat.
"Tapi aku benci taman" kata Kiera.
"Eh kenapa?" kaget Hana.
"Ada hal yang membuatku trauma ke sana."
"Tapi . . . ."
"Kau dengar dia kan?" aku menepuk bahunya Sagi, "ayolah kita pergi."
"Kemana?"
"Ada film apa di bioskop hari ini?" sembari mengecek ponsel.
Semua orang sepertinya setuju saja dengan saranku. Setelah semuanya setuju, akhirnya kami menuju bioskop menggunakan kendaraan umum.
Berharap saja tidak akan terjadi sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi ku disana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
PASYA VOLDIGOD
mntap
2023-03-15
1