Untuk Kali Ini

...[Keesokan harinya]...

Sekarang sudah hari jumat. Seperti biasanya aku sudah berada di dalam kelas dengan mendengarkan musik di telinga menggunakan headset ku. Tapi kali ini aku juga masih kepikiran menunggu laporan dari Touré hasil pantauan semalam.

Aku juga masih scroll beranda sosmed ku mencari hiburan, namun tetap saja kepikiran dan tidak sabar menunggu jawaban dari Touré.

"Kemana orang ini?" aku juga menunggu pesan yang belum dibalas darinya.

Lalu Sagi datang ke dalam kelas dengan terburu-buru menghampiriku, "Nico! Nico!" lalu ia langsung menopang tangannya di mejaku sembari terengah-engah.

Kemudian aku melepas headset ku, "Apa yang membuatmu lari-lari begitu?" aku merasa ada yang tidak buruk.

"Mengenai Touré . . . . ." Sagi memegang pundakku.

"Ada apa dengan Touré?" Hana di sebelah ikut nimbrung setelah membaca buku.

"Tenanglah Sagi, ceritakan dengan baik-baik dan jelas" aku menenangkan Sagi dan melepaskan tangannya dari pundakku.

"Hufff . . . " Sagi menghela nafas, "dengar baik-baik."

Kami berdua sama-sama mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh Sagi.

"Touré ditemukan tidak sadarkan diri dengan kepala bercucuran darah dari kepalanya dia." Sagi memasang wajah cemas.

Kami berdua sama-sama shock, "Lalu bagaimana keadaannya sekarang!?"

"Sshttt . . . " Hana menutup mulutku dan menyuruh berbicara pelan-pelan.

"Sekarang ia sedang dirawat di rumah sakit kota ini. Namun ia masih belum sadar sampai sekarang." Sagi menjelaskan.

"Apa yang membuatnya berdarah?" tanya ku.

"Polisi mengatakan jika ia menemukan senjata tajam di sebelah kepala Touré itu sendiri."di

"Lokasi . . . . jangan bilang . . . ."

Sagi mengangguk, "ya, di sekitar rumah Leo."

Aku sedikit shock dengan kejadian itu, membuatku tidak bisa berhenti kepikiran apa yang telah ku perbuat kepadanya. Membuatku menyesal untuk melaksanakan misi ini jika ujung-ujungnya bisa saja dibayar dengan nyawa seseorang.

"Nico, tenanglah. Setelah pulang sekolah kita akan kesana" Hana menenangkan.

"Sepertinya aku tahu siapa yang melakukan ini" aku memandang wajah mereka berdua, "ini pasti ulah V."

"Kau yakin akan menangkap seseorang tanpa bukti?" Sagi menegaskan.

"hmm" aku mengangguk, "aku akan pancing dia untuk berbicara."

...[Setelah pulang sekolah]...

Kami bertiga sedang pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Touré yang sedang dirawat di sana. Kami pergi ke sana dengan jalan kaki. Kami juga membawa oleh-oleh untuk diberikan kepada Touré nanti.

"Jadi, kemungkinan besar adalah . . . ."

"Ya, bisa jadi pelaku sudah mengetahui kalau Leo sedang diincar" teori ku.

"Yang kadang kupikir mengapa Leo sering diincar itu adakah hubungannya dengan . . ."

"Eh, siapa itu?" tiba-tiba Sagi menunjuk seseorang.

Dia menunjuk ke arah gang di sebelah kiri dimana ada seorang murid wanita yang sedang dirundung oleh 4 murid laki-laki. Dari seragamnya, dia berasal dari sekolah kami juga. Kami yang melihatnya itu pun, aku dan Sagi menghampiri mereka.

"Hey! Hey!" aku berteriak memanggil mereka.

Mereka melihat ke arahku semua. Aku masih berjalan mendatanginya bersama Sagi. Mereka semua masih diam dengan wajah penuh emosi.

"Tch, kelas A" salah satu orang mengetahui kami.

"Dari kelas mana kalian?" aku bertanya dengan serius.

"E" salah satu orang lagi menjawab, "kau seharusnya tidak ikut campur urusan ini."

"Selama kalian dari sekolah kami, maka jangan harap seseorang tidak bisa ikut mencampuri urusan kalian" jawab Sagi.

"Diam lah. Aku tahu followers kalian jutaan, tetapi ini memang urusan kami."

"Apakah dengan cara perundungan?" tanyaku.

"Hahahaha, kita sedang tidak merundung siapa-siapa kawan" lalu salah satunya merangkul orang yang dirundung sebelumnya, "lihat kan? kami ini berteman bukan? kan? kan?"

"I . . . I . . . iya" wajahnya terlihat terpaksa.

...[BUGGGGG]...

Sagi menendang tangan orang itu yang merangkulnya.

"Akh, apa apaan--"

"Jangan bodoh. Kau sedang dalam masalah besar jika beraninya hanya dengan wanita" Sagi terlihat penuh emosi.

"Tck" dia memegangi tangannya.

Lalu Sagi menarik wanita itu dan dibawanya, "Ayo Nico. Kita lanjutkan ke tujuan kita."

Aku mengikutinya saja sembari melihat ke belakang. Mereka masih melihat kami, ekspresi wajahnya entah sedang marah, kesal, atau takut.

Setelah dibawa keluar dari gang, Hana sudah menunggu disana sedari tadi, "Apa yang membuat kalian lam--"

Hana melihat seorang gadis yang digenggam oleh Sagi, "Loh Kiera?"

"Hana . . . "

"Loh kalian berdua saling kenal?" aku melihat mereka berdua.

"Dia adalah teman SMP ku. Kebetulan dia juga masuk SMA yang sama denganku, sayangnya tidak sekelas saja."

"Namaku Kiera, Fiona Kiera" dia memperkenalkan diri.

"Oh, panggil saja aku Sagi. Dan dia Nico" sembari menunjukku.

"Kau sepertinya--" Sagi baru sadar jika tangannya masih digenggam sedari tadi, "Eh, maafkan aku!" Sagi melepaskannya.

"Oh tidak, tidak apa-apa" Kiera tersenyum.

"Ayo kita lanjut jalan" Hana mulai berjalan.

Sembari kami berjalan, kami berbasa-basi mengenai sekolah dan Kiera itu sendiri.

"Bagaimana kau bisa dirundung oleh mereka?" tanya Sagi.

"Aa--" Kiera belum menjawab,

"Karena dia menolak cinta salah satu murid yang merundung nya tadi itu" jawab Hana.

"Bagaimana kau bisa tahu?" aku heran.

"Karena itu bukan pertama kalinya dia dirundung sebelumnya" jawab Hana sembari melihat kepada kami.

"Tunggu, jadi itu masalahnya?" Sagi keheranan, "pantas saja mereka tidak ingin ada orang yang ikut campur dengannya."

"Tapi aku sebelumnya menyelamatkannya dengan membuat mereka babak belur sebelumnya."

"Lalu kenapa kau tidak melawan ketika diserang oleh berandalan waktu itu?" tanyaku.

"Mereka menggunakan senjata!!!!" Hana memukul bahuku.

"Iya iya terserah."

Lalu sampailah kami di rumah sakit yang tidak jauh dari sekolah lokasinya.

"Baiklah, Kiera. Kau harus ikut, karena pulang sendiri itu berbahaya" Hana menariknya.

"Eh, eum I . . . iya" Kiera menerima saja.

Kemudian kami masuk ke dalam, kami menanyakan kamar Touré dirawat. Setelah itu kami pergi ke lift untuk ke atas.

...[TINGGG]...

Setelah sampai di lantai 7, kami masuk ke kamar 7014, yaitu kamar Touré.

"Permisi, kami masuk" sembari mengetuk dan menggeser pintu.

Setelah kami semua masuk, kami sangat terkejut karena ada seseorang yang menemani mereka.

"V?"

"Oh, temannya Touré?" itu adalah V.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!