Ketika di dalam ruangan Touré dirawat, kami melihat V yang berada di sebelahnya.
"V?"
"Oh, temannya Touré?" tanya V.
Aku masih mencurigai kalau dia sendiri yang menghantam kepala Touré sampai berdarah.
"Bagaimana keadaannya?" aku mencoba melupakannya terlebih dahulu.
"Belum sadar. Dokter mengatakan jika mungkin dia bisa saja sadar beberapa hari kemudian" V menjelaskan.
"Ya tidak apa-apa. Kami hanya sekedar mengunjunginya" kata Sagi.
Setelah Hana menaruh oleh-oleh dimeja nya Touré dirawat. Kami berniat untuk pulang.
"V, apa kau juga ingin pulang?" tanyaku.
"Ya, ini juga sudah jam 5" V mengecek jam tangan.
"Baiklah, ayo kita pulang. Mungkin nanti dari keluarganya ada yang mengunjunginya" kata Sagi.
"Ayo, Kiera" Hana mengajak Kiera.
Setelah semuanya keluar dari ruangan. Aku ingin bertanya kepada V mengenai Leo. Tetapi karena ini masih di rumah sakit, aku hanya menunggu momen saja.
Setelah keluar dari rumah sakit, aku menarik V.
"V, bisa ikut sebentar?" tanya ku.
"Aku tidak punya uang"
"Aku tidak butuh recehan. Ikut aku sebentar" lalu V secara terpaksa harus mengikuti jalan kami pulang.
"Apa yang kau lakuk--"
"Tunggu Nico. Jika ingin bicara, kita harus mencari tempat santai. Bukan disini, hanya bikin dia tegang nanti" Sagi membisikkan ku.
Lalu aku mencari tempat yang santai dilihat, dan kami menuju kafe yang dekat dari sini. Kami duduk di lantai 2 balkon, sementara Hana dan Kiera sedang memesan minuman untuk kami.
"V, apa yang kau lakukan semalam?" aku mulai menginterogasinya.
"Bermain game konsol semalaman bersama teman online ku."
"Bagaimana kau bisa kenal Touré?"
"Aku hanya ingin berteman dengannya. Lagipula ini juga belum seminggu tetapi sudah ada kejadian yang menimpanya seperti ini . . . . aku jadi merasa ikut bermasalah."
"Kau dari kelas C juga kan? sama seperti Touré?" Sagi ikut bertanya.
"Ya, followers ku belum sampai jutaan. Tetapi beberapa orang sudah tahu channel sosmed ku."
"Oke kembali ke pertanyaan. Apakah kau mencurigai seseorang?" tanya Sagi.
"Maksudmu?"
"Apakah kau mencurigai seseorang yang menghantam Touré?"
"Tidak . . . sebenarnya karena aku ingin dekat dengannya bukan berarti aku melihat sekitarnya."
"Baiklah, sepertinya itu sudah cukup bukan?" Sagi bertanya kepadaku.
"Apa yang kau ketahui dengan Leo?" tanyaku.
"Leo? tidak kenal. Dia selalu dikerumuni banyak wanita, jadi aku tidak terlalu peduli dengannya."
"Tapi kemarin ketika istirahat kau sempat berada di sekelilingnya bukan?"
"Benarkah? aku tidak memerhatikan seseorang. Aku malah mencari Touré di sekitar, tapi tidak menemukannya."
"Itu benar. Jika V berada di bawah, berarti tidak mungkin dia bisa memantau kami dari atap. Yang pasti orang yang sedari tadi melihat dan mendengar pembicaraan kami ketika di atap itu, bukanlah V" pikirku.
"Baiklah kau bebas sekarang" aku selesai menginterogasinya.
"Apa aku boleh pulang? aku masih memiliki pekerjaan."
"Silahkan"
Lalu dia beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan kafe. Hana berpapasan dengannya sembari membawa minuman untuk kami, tetapi ia berjalan sendiri.
"Loh Hana, dimana Kiera?" tanya Sagi.
"Pulang. Dia sudah ditelpon oleh ibunya" Hana duduk dan menaruh minuman.
"Pulang sendiri?" tanya Sagi kembali.
"Begitulah"
Dengan cepat Sagi bersiap-siap dan ingin menyusul Kiera, "aku tidak ingin dia kenapa-kenapa lagi, maaf teman-teman." Sagi pergi meninggalkan kami, tetapi ia tetap mengambil minumannya.
"E . . . eum dadah?" Hana melambai kepadanya.
Dan akhirnya kembali lagi kepada kami berdua. Disini kami malah merasa canggung. Karena yang kami rasakan disini rasanya seperti, "seperti kencan!" kami berdua berpikir seperti itu.
"Baiklah, aku bisa mengatasi ini" lalu aku memberanikan diri, "Yah semuanya sudah pergi."
"Sekarang tersisa kita berdua" kata Hana.
"Sebentar . . ." aku berpura-pura mengikat tali sepatu, "Waaaaaaaaaaa, bodoh jangan mengatakan hal itu!!" aku berteriak dalam hati dengan wajah merah.
Lalu aku kembali mengangkat badan dan bersikap tenang, "Ternyata minggu pertama di sekolah ini tidaklah buruk."
"Ya, bertemu teman baru dan teman lama."
"Kenapa kau bisa sekolah di sana?" tanya ku.
Dia melirikku, lalu kembali menunjukkan kepala dengan tersenyum sembari minum minuman yang dibelinya tadi.
"Baiklah, aku tidak tahu berapa kali kau bertanya seperti itu. Kali ini aku akan mengatakannya . . . ." Hana mulai bicara.
"Berapa kali? bukankah ini pertama kalinya?" heran ku.
"Simple saja. Karena gratis" jawab Hana.
"Aku tahu gratis. Tetapi hanya karena itu saja?" bingung ku.
"Tidak. Aku juga masuk ke sekolah seleb ini untuk mencari orang yang kontennya sama denganku."
"Ouh, itu saja toh." aku tidak berekspresi apa-apa.
"Dan juga pasangan masa depanku" dia melirik wajahku.
Aku menatap matanya kembali. Momen ini adalah dimana hatiku seketika bergetar. Dengan cepat berpikir, aku kembali tenang dan berbicara hal lain.
"Keren, keren, keren" aku juga minum.
"Bagaimana denganmu? kenapa kau sekolah di sekolah seleb itu?" Hana bertanya kepada ku kembali.
Aku bingung diantara harus mengatakannya atau tidak.
"Tidak usah dijawab jika privasi" Hana menarik kembali pertanyaannya.
"Tidak Hana . . . ."
"Eh?" dia kembali melirikku.
"Memang, tujuanku ini sangat privasi. Tetapi jika untukmu, aku akan mengatakannya sedikit" kata ku.
Hana menggeser kursinya dan mendekat di depanku.
"Seseorang yang kukenal berasal dari sekolah itu juga" Hana mengangguk, "hanya itu yang bisa ku beritahu."
"Lalu kenapa kau kegirangan ketika kau diterima di sekolah itu?" tanya Hana.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau saat itu aku diterima?" heran ku.
"Karena disaat aku juga diterima pada saat itu, kebetulan kau berteriak di sebelah dan membuatku ingin keluar dari balkon" Hana tersenyum kembali mengingatnya, "Dan disana lah, aku tertawa melihatmu melakukan dance karena kegirangan mungkin?"
Dalam hati, entah aku harus senang atau malu. Dan aku mulai menjelaskan kembali,
"Hana, apa kau kenal siapa aku?" tanya ku.
"Secara sosmed tidak. Tetapi secara langsung seperti ini, sepertinya kita sangat dekat mungkin?"
"Ya ya memang dekat" wajahku sedikit memerah dan mencoba tenang, "maksudku apa kamu pernah mendengar suaraku di suatu channel sosmed?"
"Hmm?" Hana kembali mengingat-ingat, "sepertinya pernah, namun aku lupa channel apa itu."
"Baguslah, untuk menjaga identitas ku." aku menghela nafas.
"Lalu bagaimana kau bisa masuk kelas A, dasar aneh!?" dia menarik kerah ku dan mendorongnya kembali.
"Sudah kubilang rahasia, R-A-H-A-S-I-A. Oke?" jawab ku.
"Tapi kau tahu kan kalau kelas A itu adalah kelas yang paling tinggi? pasti followers atau subscribers mu 1 juta atau bahkan lebih?" heran Hana.
"Tunggu, jadi kelas Z itu . . . ."
"Ya, mereka adalah orang-orang yang masih memiliki sekitar 1000-5000 followers atau subscribers."
Seketika aku menjatuhkan sedotan dari mulutku karena terkejut.
"Eh, kau baru tahu?" tanya Hana kembali.
"Ya, aku baru tahu jika sistemnya adalah seperti itu."
"Seharusnya kau sudah membaca informasi nya ketika pendaftaran formulir bukan?"
"Tidak, kakakku mengatakan kalau kelas Z itu dari 1000-10.000 subscribers atau followers"
kata ku.
"Sama saja bodoh, huh" Hana kembali duduk, "tunggu sebentar" seketika Hana menyadari sesuatu.
"Ehhhhh?" kami berdua sama-sama terkejut.
"Kau baru saja bilang kakakmu?" Hana terkejut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments