Paling Tampan

"Huahhhh" aku menguap dan meregangkan badan setelah bangun dari tidur.

Aku melihat jam digital di atas meja yang sudah menunjukkan pukul 07:01.

"Masih ada 1 jam lagi."

Lalu aku membereskan kamar dan membersihkan diri, tidak lupa juga untuk gosok gigi, mandi, dan sarapan. Setelah semuanya beres, barulah aku menggunakan seragam untuk sekolah dan segera bersiap-siap.

Setelah itu, aku keluar dari apartemen dan mengunci pintu. Namun setelah aku berbalik badan,

"Oh, selamat pagi Nico" itu adalah Hana yang kebetulan lewat menyapaku.

"Selamat pagi juga Hana" aku menyapa balik.

Aku juga baru ingat jika Hana satu sekolah denganku, ditambah ia juga sekelas denganku.

"Kau juga ingin berangkat?" Tanya Hana.

"Oh tentu. Sudah biasa aku seperti ini" jawabku.

"Mau berangkat bersama?" Hana mengajakku.

Aku terdiam sebentar, lalu seketika aku sadar kalau dia baru saja mengajakku untuk jalan bersama.

"Eh, a . . .eum . . .oke. Boleh" dengan sedikit malu, aku menerima tawarannya.

Lalu aku berangkat ke sekolah bersamanya, tapi sesaat di lift ia membuka topik.

"Aku masih penasaran dengan followers mu Nico" Hana masih mempertanyakan.

"Sebegitu nya kah kau ingin tahu?"

"Soalnya aku tidak pernah melihatmu di sosmed manapun" Hana keheranan.

Aku terdiam sebentar, lalu melihat ke atas untuk menjelaskan. "Aku tidak memiliki followers, melainkan subscribers."

"Loh, memang berapa subscribers mu?" Hana masih menanyakan.

"Sudah kubilang rahasia," aku sedikit risih didesak terus olehnya.

"Huhhh" Hana menghela nafas sebagai tanda putus asa.

Lalu aku menatap wajahnya yang imut itu, "atau mungkin suatu saat aku akan memberitahumu."

Hana menoleh balik, "beneran?"

"Jika aku ingat" aku menoleh ke cermin lift.

"Akan kuingat terus sampai kau risih."

Aku tersenyum.

Kemudian kami sudah sampai di depan lobby apartemen, lalu kami keluar dari gerbang untuk berjalan ke sekolah. Sekolah dari sini tidak terlalu jauh, tetapi juga tidak terlalu dekat. Yang pasti aku lebih suka berjalan kaki ketimbang menggunakan kendaraan umum.

"Apakah boleh membawa mobil ke sekolah?" tanya ku kepada Hana.

"Kalau tidak salah untuk bulan pertama ini dilarang untuk membawa kendaraan pribadi dahulu" Hana mengingat-ingat.

"Hmm" aku mengeluh sedikit.

"Memangnya kenapa? kau punya mobil? kau bisa mengendarainya?" tanya Hana.

"Di tempat parkir, aku memakainya hanya saat bepergian jauh saja. Jika ingin belanja bahan-bahan dan stok, aku lebih baik berjalan kaki. Itung-itung olahraga juga." Jawab ku.

Hana bertepuk tangan.

"Tidak tidak, menurutku itu masih biasa" aku menurunkan tangannya Hana.

"Itu bagus loh, berbeda denganku yang lebih sering menggunakan kendaraan umum."

"Jangan dibiasakan, nanti kau jadi pemalas" saranku.

Hana menanggapinya dengan mengangguk.

Beberapa saat kemudian ketika kami sedang berjalan, ada beberapa wanita di seberang jalan yang melihat kami berdua sedang jalan.

"Lihat lelaki yang disana, dia sangat tampan sekali." entah aku yang salah dengar atau bagaimana, "apakah perempuan yang disana itu pacarnya? sial, aku iri dengannya."

"Apa orang yang di seberang jalan sana sedang membicarakan kita?" tanya Hana.

"Aku harap tidak. Aku lebih suka dipuji oleh seseorang yang dekat denganku saja." jawabku.

"Eum . . . oke."

Selang waktu kami sudah berada di sekitar gerbang sekolah. Dari sini kami dapat melihat beberapa orang yang terkenal di depan gerbang,

"Siapa orang yang disana baru turun dari mobil?" aku menunjuk salah satu perempuan yang turun dari mobil setelah diantar oleh supirnya.

"Rea Manabe, nama sosmed nya @rea_vlog. Dia adalah seorang gadis yang terkenal di sosmed dengan video vlogging yang ke berbagai macam tempat. Followersnya di sosmed sudah mencapai 4 juta. Dan dia adalah teman sekelas kita." Hana menjelaskan.

"Keren, kalau yang disana?" aku menunjuk salah satu lelaki yang sedang dikerumuni beberapa wanita.

"Oh, kalau itu kalau tidak salah si Leo Heisenberg. Nama sosmednya adalah @itsleo, ia memiliki 3,4 juta subscribers di sosmednya. Ia adalah seorang gamer yang terkenal saat ini." Hana kembali menjelaskan.

Aku mengangguk, kemudian aku berniat untuk menanyakannya lagi, "Sudahlah, ayo kita masuk ke kelas."

Hana menarik tanganku dan mengajaknya ke kelas.

Sampai di kelas, aku bertemu dengan mereka yang memiliki followers dan subscribers tinggi. Aku berniat untuk berinteraksi dengan mereka, namun seseorang menarik ku.

"Yo Nico, selamat pagi" ternyata itu adalah Sagi.

"Sagi? selamat pagi juga" aku menyapa balik, "ada apa denganku Sagi?"seketika aku lupa tujuanku untuk berinteraksi dengan mereka.

...[KRINGGGGG]...

Bel masuk berbunyi, semua orang sudah masuk ke kelas masing-masing.

"Baiklah sudah bel, nanti lagi kita berbincang-bincang."

"Oke" lalu kami sama-sama kembali ke tempat duduk.

Kini aku bisa melihat beberapa seleb sosmed yang lain lebih jelas lagi. Mereka jika di kelas ternyata sifat nya biasa saja, tidak terlalu mencari perhatian, tidak terlalu suka berinteraksi juga, atau dia ingin seseorang berinteraksi dengannya?

Ketika guru sudah masuk, Leo mendadak izin ke toilet. Dari yang kulihat wajahnya, ia seperti sangat takut.

Bu Ellie memulai pelajaran, "Baiklah semuanya, buka buku catatan kalian. Kita akan---"

Aku masih kepikiran dengan apa yang terjadi dengan Leo di toilet, lalu aku mencari cara untuk menyusulnya.

Kemudian aku mengangkat tangan, "Ahh ibu maaf, perutku sangat sakit. Sepertinya aku terlalu banyak makan pedas semalam" aku mencari alasan untuk ke toilet.

"Cepatlah, pelajaran sudah dimulai" Bu Ellie akhirnya mengizinkan.

"Segera Bu" dengan cepat aku pura-pura memegang perutku dan langsung lari menuju toilet.

Hana yang di sebelahku sebelumnya sempat kebingungan dengan apa yang terjadi denganku. Tapi ia lebih memilih untuk menghiraukannya, karena pelajaran sudah dimulai.

"Hey, apakah kau dekat dengan Nico?" Sagi bertanya kepada Hana.

"Bukan saatnya untuk bertanya" Hana mengabaikannya.

Kemudian Sagi sedikit kecewa, ia berbalik ke mejanya lagi untuk mengambil buku.

...[Sementara itu di toilet]...

Leo sedang berdiri bercermin sembari mencuci tangan di wastafel. Wajahnya terlihat sangat cemas ketakutan seperti sangat depresi. Aku yang diam-diam mengamatinya dari luar toilet, kemudian aku ikut masuk untuk mencoba berinteraksi dengannya.

"Oh, wow. Kau pasti Leo Heisenberg" aku pura-pura mengenalnya.

Leo masih menundukkan kepala ke wastafel, kemudian ia langsung mengelap tangannya yang basah, lalu pergi dengan cepat.

Aku masih mencoba untuk berinteraksi dengannya, "Hei, apa kau--" aku yang sadar jika hp nya tertinggal, kemudian langsung ku pungut untuk kuberikan. "Hei ponselmu tertinggal."

Dan hp nya otomatis menyala setelah ada notifikasi dari ponselnya. Secara tidak sengaja aku membaca apa yang ada di notifikasi itu.

"Berikan!" ia langsung mengambil hp nya dengan cepat secara terburu-buru.

Aku terkejut setelah melihat apa yang ada di notifikasi dia, "Hei tunggu sebentar!" aku menarik bahunya.

Ia berhenti, namun tidak berani untuk berbalik badan.

"Kau . . . . " ia sedikit melirik, "sedang diteror ya?" tebak ku.

Leo sangat terkejut, kemudian ia membungkuk dan jongkok memeluk dirinya sendiri. Beberapa saat kemudian ia menangis, "iya, tolong aku" wajahnya sangat ketakutan sekali dan panik.

Wajahku berekspresi tidak percaya jika seseorang yang terkenal dan tampan seperti dia diteror oleh seseorang yang tidak menyukainya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!