"Aku akan mengatakan ini sekali saja. Kau dapat bertanya sepuasnya, karena mungkin kita akan jarang bertemu kedepannya nanti" Akira mulai bicara serius.
Aku mengangguk dan bersiap mendengarkan.
"Sekolah ini Infamous, tidaklah seperti yang kau kira Nico."
"Maksudmu?" bingungku.
"Jika kau berpikir sekolah ini untuk meningkatkan popularitas dan followers segala macam tentang sosmed, itu semua salah."
"Jelaskan."
"Besok, hari Senin. Minggu ke 2 akan dimulai. Nico, lihatlah sekitarmu, jangan berharap kau akan memiliki banyak teman seleb atau influencer yang kamu pikir mereka baik dalam sosmed."
Aku masih mendengarkan.
"Alasan pemerintah membangun sekolah ini bukanlah untuk mengembangkan bakat para murid."
"Jangan bilang . . . . . "
"Ya, pemerintah hanyalah ingin sekolah itu menjadi pusat perhatian bagi orang lain. Dimana ia mencari banyak sponsor agar dana terus mengalir ke rekeningnya."
"Aku sudah menduga ini"
"Tapi janganlah bersikap mencurigakan. Tetaplah untuk mengikuti kegiatan dan hari-hari di sekolah ini. Kakak sebenarnya tidak ingin kamu masuk sekolah ini."
"Mengapa?"
"Sebelum itu, apa alasanmu sekolah di sana?" tanya Akira.
"itu . . . .eum . . . .rahasia" aku tidak mungkin akan menjawabnya.
Karena jelas tujuanku masuk ke sekolah itu adalah untuk menjadi paling terkenal di dunia setelah melampaui followers kakakku sendiri. Dan mungkin saja aku akan mendapatkan gelar-gelar lain seperti menjadi seleb termuda terpopuler di dunia, bahkan lebih dari itu.
Aku sendiri memiliki kemampuan yang akan ku perlihatkan ke semua orang bahwa aku lebih hebat dari mereka. Karena jika saja aku lemah dan bodoh di sana, pemerintah tidak peduli denganku. Mereka pasti hanya mementingkan popularitas ketimbang nasib murid itu sendiri.
Mengapa kelas 1 sampai 3 itu banyak sekali kelas, bahkan dari kelas A sampai Z?
Jelas saja, karena tidak mungkin murid-murid tidak mempromosikan sekolah itu di sosmed mereka masing-masing. Itulah pemerintah, mereka memanfaatkan murid-murid untuk menaikkan popularitas sekolahnya agar menjadi sorotan media sosial, maupun secara virtual ataupun sosial.
"Akan ku peringatan sekali saja Nico, suatu saat kau akan menguak rahasia sekolah itu."
"Memang ada apa di sekolah itu?" tanyaku.
"Nico . . . ." Akira menghela nafas, "apa kau percaya dengan rahasia busuk sekolah Infamous?"
Entah seketika tubuhku mendadak gemetar. Tanpa kusadari, dari balkon sepertinya Hana mendengar percakapan kami sedari tadi. Mungkin aku lupa menutup pintu balkon juga.
Tetapi aku masih tidak menyadari keberadaan Hana, karena kupikir ia sedang di kamarnya atau sedang menonton sinetron yang biasa ia tonton itu. Maka itu aku menghiraukan keberadaannya karena kupikir ia tidak mungkin akan melakukan hal itu.
...[Sementara itu]...
Sagi masih mengantarkan Kiera untuk pulang. Di jalan mereka sempat mampir ke beberapa toko untuk membeli cemilan, setelahnya mereka lanjut berjalan menuju rumah mereka.
"Sampai kapan kau akan mengikuti ku, Sagi?" Kiera sedikit risih.
"Kiera, mungkin kita memanglah tidak terlalu dekat. Tetapi setidaknya izinkan aku untuk mengantarkan mu sampai rumahmu" Sagi memelas.
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika sudah sampai rumahku? aku yakin kau akan melakukan hal yang bejat."
"Pikiran yang bodoh, untuk apa aku melakukan hal segila itu?"
"Huh, mencurigakan" Kiera sedikit berjalan lebih cepat dari Sagi.
"Kini kau menjauhiku?"
Kiera menghiraukan apa yang dikatakan Sagi.
"Take to a higher level, Sagi" lalu Sagi menarik tangannya Kiera.
"Ehh" Kiera terkejut ketika melihat tangannya dipegang oleh Sagi.
Wajahnya mendadak tersipu-sipu. Entah apa yang dirasakan oleh Kiera, tetapi seketika membuatnya kembali teringat masa-masa ketika ia dirundung SMP dulu.
"Maafkan aku, Sagi."
Kiera melepaskan genggamannya dan lari entah kemana.
"Kiera!" Sagi bingung antara harus mengejarnya atau tidak.
Kiera berlari sambil menangis menuju rumahnya. Ia berlari melalui gang-gang kecil sampai . . .
...[BRUGGGG]...
"Utututu, lihat! gadis ini sepertinya tersesat."
Kiera tidak sengaja bertabrakan dengan preman yang sedang menongkrong di gang-gang kecil itu.
"Maaf, maaf. Aku sedang terburu-buru" Kiera mencoba meloloskan diri dari keadaan ini.
Preman itu menarik tangan Kiera yang hendak melarikan diri, "tidak semudah itu kau melewati kawasan kami, gadis manis."
"AAAAA LEPASKAN!!" Kiera mencoba melepaskan genggamannya.
"Enaknya kita apakan dia bos?" salah satu temannya berniat hal bejat.
"Tidak kok, kami hanya ingin mengajaknya bermain saja" Preman itu mulai mencoba-coba melakukan pelecehan.
"Sagi dimana kau? Sial, aku menyesal meninggalkan Sagi" Kiera hanya bisa berpikir tentang Sagi saja.
"Ayo kita bermain nona."
Ketika salah satu preman mencoba ingin menyentuh Kiera, seseorang datang berlari dengan cepat.
...[DUGGGGGG]...
Datanglah Sagi yang penuh emosi langsung melompat dan menendang tangan preman itu sekeras mungkin.
"Akhhh, bedebah!" preman itu kesakitan.
"Bos, orang itu!" ia menunjuk Sagi.
Sagi berbalik menatap mereka dengan tatapan tajam. Hal itu membuat preman-preman itu sedikit gemetar, tetapi tidak menghilangkan rasa takut mereka.
"Kiera, kau tidak apa-apa?" Sagi mengusap air mata Kiera.
Kiera tidak bisa berbicara apa-apa, ia hanya bisa memandangi Sagi yang terlihat keren itu.
"Tetaplah di belakangku oke? jangan kemana-mana" Sagi mengelus kepala Kiera, seketika wajah Kiera mendadak memerah.
Preman yang risih itu tidak tahan dengan gaya Sagi yang sok keren.
"Apa kalian takut? cepat serang mereka!"
Beberapa preman maju dan hendak menyerang Sagi. Dengan reflek yang sepertinya sudah terbiasa dengan pertarungan, Sagi langsung menendang kepala mereka satu-persatu dengan tendangan roundhouse kick.
...[BRUGGGG]...
Preman-preman terpental sampai dibuat tidak sadarkan diri. Bos dari mereka yang melihatnya dibuat kesal oleh Sagi karena bawahannya dibuat kewalahan oleh satu orang saja.
"Sialan" preman itu merobek bajunya agar terlihat kuat dihadapannya.
"Ibumu membelikan baju itu untuk kau pakai loh, bukan untuk disobek" Sagi memanasnya.
"KEMARI KAU BOCAH!"
Preman itu mulai memukul Sagi berkali-kali. Tetapi Sagi dengan mudahnya dapat menghindari serangan itu. Sagi sengaja tidak menyerang balik, ia menunggu momen yang pas untuk merubuhkannya dalam sekali tendangan.
Kiera dari belakang memandangi Sagi yang bersikap keren dihadapannya, hal itu membuat Kiera mendadak tertarik dengan Sagi.
"Ayo, 2 pukulan lagi" Sagi sudah bersiap.
"Dasar! Anak! Sialan!"
Ketika preman itu sudah membuat 2 pukulan yang tidak mengenai Sagi, sudah waktunya Sagi untuk menyerang balik dengan serangannya.
"Setidaknya cobalah untuk menyentuhku, dasar tua bangka!"
Sagi menendang premannya dengan butterfly kick ke arah wajahnya.
...[BRUGGGG]...
Preman itu terpental sampai ia tidak sadarkan diri. Sekarang semua preman sudah dibuat Sagi tidak sadarkan diri dengan tendangan tendangan nya itu. Setelah beberapa saat, polisi datang membawa preman-preman itu untuk dibawa ke kantor polisi.
Ternyata Kiera sempat melaporkan polisi untuk kejadian itu. Alhasil, sekarang Sagi sudah berhasil menyelamatkan Kiera dari kejadian tadi.
Tetapi karena kejadian itu, Sagi sekarang akan mengikuti kemana Kiera akan pergi. Kiera mulai berjalan menuju rumahnya setelah diperbolehkan untuk pergi oleh polisi.
Sagi tetap mengikutinya kemana pun sampai ia telah sampai dirumahnya. Selama di jalan Sagi sempat ingin bicara, tapi ia urungkan sampai Kiera bicara.
"Sagi, maafkan aku" Kiera memegang tangan Sagi.
Sagi belum menjawab.
"Aku sangatlah menyesal. Aku tidak ada niatan untuk menjauhi mu. Aku hanya seketika mengingat kejadian tahun lalu ketika kau mengenggam tanganku."
"Kau tidak perlu minta maaf Kiera. Aku seharusnya yang minta maaf, karena aku gagal membuat perjalanan pulang mu aman sepenuhnya." Sagi mulai bicara.
"Aku juga berterima kasih karena kamu sudah menolongku sebelumnya. Jika tidak ada kamu, mungkin aku sudah . . . . "
"Ssshhhtttt, tidak-tidak. Jangan dipikirkan lagi Kiera." Sagi menatap wajah Kiera, "sekarang, izinkan aku untuk melindungi mu setiap saat. Boleh?" senyum Sagi.
Kiera semakin dekat dengan Sagi, "dengan senang hati, Sagi" ia bersandar di bahu Sagi.
Ketika sudah sampai di rumah Kiera, Sagi sempat shock setelah melihat rumah Kiera.
"Kenapa Sagi? maaf, jika rumahku biasa-biasa saja" Kiera merendahkan diri.
"Tidak tidak, aku bukan terkejut karena rumahmu. Tapi . . . ."
Kiera bingung apa yang dimaksud dengan Sagi.
"Baiklah, aku akan pulang." Sagi mendadak meninggalkan Kiera.
"Sagi! tunggu!" Kiera keheranan, "ada apa dengannya?"
Sagi meninggalkan Kiera, tetapi ia tidak seperti sedang mengarah keluar dari komplek.
"Ini rumahku, Kiera" Sagi ternyata terkejut karena selama ini rumah mereka berhadapan.
"Apaaaaa?????" Kiera samanya juga terkejut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments