Berminggu-minggu sudah berlalu. Masa sekolah sudah kembali berjalan. Ini adalah hari pertamaku masuk ke sekolah yang paling terkenal di dunia, yaitu sekolah selebriti sosial media.
Seragam yang dipakai untuk sekolah ini sangatlah berbeda dari sekolah lain. Dimana seragam sekolah ini terkesan elit dan terlihat mahal. Tentu saja ini diberikan gratis khusus murid sekolah ini.
Sehari sebelum sekolah, aku mengecek daftar murid, dan ternyata aku masuk dalam kelas 1-A. Sekolah ini memiliki banyak fasilitas, dimulai dari kolam renang, lapangan basket, lapangan bola, lapangan futsal, lapangan tenis, sampai lapangan badminton. Di dalam gedung sekolah banyak ruangan yang memiliki ruangan khusus ekstrakurikuler juga.
Ketika aku baru saja melangkah memasuki gerbang sekolah. Banyak wanita memandangiku dengan wajah malu-malu, seperti mereka sedang membicarakan diriku. Aku berjalan menuju gedung sekolah sembari menggunakan headphone, aku mendengarkan lagu yang berbagai macam jenis. Aku menggendong tas ku yang isinya hanya buku tulis dan pensil, sedari dulu aku selalu membawa ini dengan tas milikku.
Mungkin kalian sedikit bertanya-tanya, berapa followers ku? bagaimana aku bisa masuk sekolah ini? lupakan.
"Hmp" aku menatapi gedung sekolah yang besar.
Kemudian aku berjalan dan masuk ke dalam. Aku langsung pergi ke kelas untuk mengklaim bangku pojok belakang dekat jendela. Siapa yang tidak mau duduk di spot terbagus di kelas? aku lah orang beruntung yang berhasil menaklukkan kursi belakang dekat jendela.
Kemudian aku duduk dan mengambil hp ku dari dalam tas. Setelah itu aku menyalakan hp dan membuka aplikasi sosmed yang banyak digunakan orang di seluruh dunia, aku melihat beranda yang dipenuhi dengan berita tentang sekolah ini.
Kemudian seseorang datang dan duduk di depanku, "Oh, hai" dia menyapaku dari depan.
Awalnya aku tidak mendengar karena aku masih menggunakan headphone yang masih ditelinga. Ditambah musik yang ku putar juga sangat tinggi volumenya, sehingga aku tidak sadar orang-orang di sekitar ku.
"Eum halo?" dia melambaikan tangan.
Lalu aku sadar orang itu sedang berbicara kepadaku.
Dengan cepat aku membuka headphone ku dan meresponnya, "maaf, kau berbicara kepadaku?"
"Oh iya, tidak. Aku hanya menyapa saja" dia kembali melambaikan tangannya.
"Oh ok, halo juga" aku memegang kepalaku.
Kemudian dia kembali berbalik ke mejanya. Aku juga menggunakan headphone ku kembali.
Sembari menunggu bel masuk, semakin banyak orang juga yang masuk ke kelas seiring berjalannya waktu. Terkadang aku merasa seperti banyak wanita yang membicarakan ku. Tapi aku hanya mengabaikannya, aku beranggapan bahwa aku hanya GeEr saja.
Kemudian seseorang duduk di sebelah kananku. Aku rasa itu wanita, tetapi penampilannya rada familiar.
"Eh, Nico?" ternyata benar itu Hana.
Entah mengapa, aku bisa mendengar suaranya. Padahal volume headphone ku sangat tinggi, apakah dia berteriak?
"Loh, Hana?" aku melepas headphone ku.
"Wah, kebetulan sekali kita bisa satu kelas."
Aku awalnya tidak percaya jika itu adalah Hana, tetapi setelah aku mencubit tanganku sendiri, aku sadar bahwa aku sedang tidak bermimpi.
"K . . . keren, kupikir kau tidak bersekolah disini."
"Ya, aku diterima beberapa minggu sebelumnya" Hana menjelaskan.
Aku menanggapinya dengan mengangguk.
...[KRINGGGGGG]...
Bel masuk berbunyi, semua orang sudah duduk di tempat mereka masing-masing.
"Mohon bantuannya ya, Nico."
"Mohon bantuannya juga, Hana" wajahku memerah sedikit.
Beberapa saat kemudian, wali kelas kami masuk ke dalam kelas. Ia adalah guru wanita, dari yang ku amati, kurasa ia kisaran berusia 30 an.
"Semuanya selamat pagi. Saya adalah wali kelas 1-A, yaitu kelas ini. Kalian bisa memanggil saya Bu Ellie. Ibu berharap agar kelas ini menjadi kelas yang terbaik dari yang lain" Bu Ellie menjelaskan.
"Siap bu!" semua orang menanggapinya.
"Baiklah, hari ini kita akan memperkenalkan diri kalian masing-masing."
Kemudian ada seseorang yang mengangkat tangan, "Apakah harus menyebutkan berapa followers nya juga?"
"Tidak. Aku rada sedikit benci murid yang suka pamer" jawab Bu Ellie.
Kemudian masing-masing orang memperkenalkan diri, dimulai dari paling depan pojok sampai pojok belakang.
Semua orang sudah memperkenalkan diri, aku tidak terlalu memperhatikan dan mengingat nama-nama mereka. Yang ku ingat adalah Hana seorang.
"Namaku adalah Hana, Kimi Hana. Mohon bantuannya" Hana memperkenalkan diri di depan kelas.
Berikutnya giliran ku untuk memperkenalkan diri. Setelah Hana kembali ke bangkunya, kini aku yang maju ke depan untuk memperkenalkan diri.
"Terakhir. Silahkan perkenalkan dirimu" Bu Ellie mempersilahkan.
Kemudian aku menghela nafas, "Perkenalkan, namaku adalah Nico, Mikhail Nico. Mohon bantuannya" aku memperkenalkan diri.
"Mohon bantuannya jugaaaa!!!" para wanita di kelas lebih bersemangat menyapaku.
"Baiklah Nico, kau boleh kembali duduk."
"Terima kasih" kemudian aku berjalan kembali menuju tempat dudukku.
Setelah duduk, Hana sedikit berbicara kepadaku.
"Sepertinya kau populer di kalangan wanita" kata Hana.
"Ah tidak. Apa yang spesial dariku?" aku menoleh ke wajahnya.
"Kau tampan . . . . "
Aku sedikit terkejut, kata-kata itu entah mengapa membuat hatiku berdegup.
"Mungkin menurut mereka" Hana meluruskan.
"Oh, ya mungkin" seketika aku berganti ekspresi menjadi datar.
...[KRINGGGGG]...
Beberapa jam telah berlalu, bel istirahat sudah berbunyi. Aku kembali mengambil hp ku untuk kembali bermain sosmed. Tetapi orang yang berada di depanku kembali berinteraksi dengan ku.
"Hei, kau ingin makan siang bersama, eum Nico?" dia mengajak ku.
Aku melihatnya sembari mengingat-ingat kembali siapa namanya, "Boleh, eum . . . ."
"Sagi, namaku Youshido Sagi. Apa kau lupa?" dia kembali memperkenalkan diri.
"Oh maaf, aku tidak memperhatikan beberapa orang tadi" aku menggaruk kepalaku.
"Ya tidak apa-apa, setidaknya aku masih dikenal di sosmed."
"Kalau boleh tahu, berapa followers mu di sosmed?" tanya ku.
"Wahahahahha" dia tertawa.
Aku diam saja dengan wajah datar.
"Followers ku tidak banyak. Hanya 1,2 juta saja" dia pamer.
"Keren" aku bertepuk tangan.
"Bagaimana dengan followers mu? apakah kau masih di bawahku? jika iya, maaf sekali."
Aku tertawa, "rahasia" aku mematikan ponselku.
"Ayo, kita makan siang" aku kembali mengajaknya.
Kemudian kami sama-sama makan siang di kantin sekolah. Tetapi sebelum itu aku sempat berpikir, Hana makan siang dimana ya?
Yah, pasti dia sudah punya kehidupan nya sendiri. Aku tidak berhak untuk mengatur kehidupannya. Lagipula kami juga belum terlalu dekat.
...[KRINGGGGG]...
Beberapa jam telah berlalu. Bel pulang sudah berbunyi, sudah waktunya untuk pulang ke rumah. Hari pertama di sekolah ini ternyata tidak buruk juga, ditambah sangat jauh dari keburukan ekspektasi ku mengenai sekolah ini. Padahal sekolah ini hanyalah sama seperti sekolah umum biasanya, namun sekolah ini hanya lebih elit dan memiliki berbagai aturan.
Setelah aku keluar dari gerbang sekolah, aku berjalan menuju arah pulang. Beberapa saat kemudian seseorang menepuk bahuku, dan itu sedikit membuatku terkejut.
"Nico!" ternyata itu adalah Hana yang menyapaku.
"Oh, Hana. Hai" aku melepaskan headphone ku.
"Mau pulang bersama?" dia mengajak ku.
Seketika aku kembali sadar jika ia adalah tetanggaku, "Oh tentu saja. Kita bersebelahan kan?"
"Ya, aku masih mengingat dimana kau berjoget-joget di balkon mu."
"Sial, jangan diingatkan kembali" wajahku merah malu-malu.
Lalu kami sama-sama berjalan sampai apartemen kami. Setelah sampai, kami masuk ke dalam lift untuk ke atas.
Di dalam lift, aku bingung apa yang harus dibicarakan. Sehingga momen ini sangatlah canggung. Daripada diam saja, aku mencoba membuka topik.
"Kalau boleh bertanya Hana, bagaimana kau bisa masuk sekolah itu?"
"Aku memang sengaja ingin masuk ke sekolah itu" jawab Hana.
"Apa yang membuatmu ingin masuk ke sekolah itu?"
"Tidak ada sih, aku hanya ingin mengembangkan dan mengasah kemampuanku untuk sosmed ku."
"Memangnya berapa total followers mu?"
"Rahasia" Hana menolak untuk menjawab.
"Ya, itu benar. Kadang jangan pernah memberitahu rahasiamu kepada orang lain" aku memberikan saran.
Lalu kami berdua sama-sama kembali diam. Bukan karena bosan, melainkan sama-sama bingung mencari topik.
"Nico" ia memanggilku.
"Ya?" aku merespon dan menatap wajahnya.
"Apakah kita bisa bertukar kontak?"
"Oh tentu" kemudian aku memberikan kontak ku kepadanya.
"Memang untuk apa?" tanyaku.
"Ya, karena kita bersebelahan, aku ingin kita mengakrabkan satu sama lain" jawab Hana.
Wajahku memerah, tetapi aku mencoba untuk tidak terpengaruh.
Setelah itu kami sudah sampai di lantai atas. Lalu kami sama-sama keluar dari lift dan menuju kamar masing-masing.
"Baiklah, sampai jumpa lagi Nico" dia melambaikan tangannya.
"Kau juga, Hana" aku melambaikan tangan kembali.
Kemudian kami sama-sama masuk ke dalam kamar untuk merapikan diri. Setelah itu aku berbaring di kasur sembari merenung. Sampai akhirnya aku tertidur dan sudah siap untuk hari esok.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments