...[Sementara di tempat lain]...
Di kantor Mr. Mikhail biasa bekerja, ada telpon berdering di mejanya.
"Aku harap bukan Alfredo" Levine sedikit ragu sebelum diangkat, "ya, dengan manajer Werise disini" Levine mengangkat telponnya.
"Mr. Mikhail, sekarang sudah memasuki musim panas. Apakah perusahaan ini akan ada acara lagi menanti?" seorang yang sepertinya juga sesama sponsor berbicara kepada Levine.
"Aku berencana untuk liburan dengan keluargaku. Berharap saja mereka semua mau untuk diajak."
"Ya itu keren. Tetapi perusahaan kami sedang mencari co partnership dalam sponsor untuk video game yang sedang dikembangkan oleh salah satu perusahaan game terbesar di negara kita."
"Tentukan jadwalnya" perintah Levine.
"Tidak perlu ditentukan kembali. Aku sudah diminta dan sudah diberikan proposal olehnya. Maka kau hanya perlu menandatangani kertas yang akan dikirim lewat alamat fax mu."
"Berapa lama ini akan berlangsung?" Levine sembari mengecek kalender.
"Sekitar 5-6 bulan, malah aku berharap ini akan permanen. Ayolah, jika klien menyukai apa yang kita buat, maka uang akan terus mengalir kepada perusahaan mu dan perusahaan ku" dia menawarkan.
Levine sempat menurunkan telponnya untuk berfikir sebentar mengenai kontrak itu,
"Berikan aku waktu. Kapan maksimal terakhir kali mengisi formulir dan kontrak?" tanya Levine.
"Secepatnya Mr. Mikhail. Jika kau tidak bisa, maka aku akan mencari co partnership yang lain sebagai penggantimu" dia menutup telponnya.
Levine juga menutup telponnya sembari berfikir.
...[KRITTTR KRITTT KRITTT]...
Beberapa saat kemudian, kertas keluar dari mesin fax. Isi dari kertas itu adalah sebuah kontrak untuk menjadi sponsor game yang dikembangkan oleh perusahaan mereka itu. Levine sulit berpikir bagaimana caranya membagi waktu dengan keluarganya.
...[Kembali ke bioskop]...
Sebelumnya aku yang sedang bersantai menikmati film itu sembari ingin makan popcorn, tiba-tiba kakak dan Hana tidur dan bersandar di bahuku seolah merasa tidak bersalah.
"Bodoh, Bodoh, Bodoh. Apakah harus di momen seperti ini????" seketika aku merasakan ketegangan dan membuat wajahku memerah.
"Sagi" sembari berbisik, aku memanggil Sagi.
"Sagi, Sagi!" ia masih tidak mendengarkan.
Sagi dengan santainya suap-suapan popcorn nya dengan Kiera, mungkin ia sedang merasakan asyiknya dengan Kiera sampai-sampai lupa dengan suara temannya sendiri. Seolah dunia hanyalah milik mereka berdua, "Sial!"
Dengan terpaksa, aku menonton dengan posisi yang sangat tidak enak sekali. Aku melirik jam tanganku, film sudah lebih dari 1 jam. Aku harus bertahan dalam posisi ini sampai filmnya selesai.
"Baiklah, sudah waktunya menjadi orang gila" Aku memasang wajah tercengang.
Hal ini membuatku menonton tanpa ketakutan dikarenakan aku hampir kehilangan akal untuk berpikir situasi yang diluar ekspektasi ku ini.
...[Setelah 1 jam kemudian]...
"Huaahhhh, aneh sekali jika kau tidak takut di momen banyak mengagetkan itu" Akira menguap
"Tidur, pulang sana bodoh" aku merespon meski aku sedang menatap dengan tatapan kosong.
Momen itu entah aku harus merasa senang, grogi, trauma, atau menginginkannya kembali.
"Hahahaha, memang apa yang terjadi selama aku ketiduran?" tanya Hana.
"Tidak, jangan pernah tahu" aku mulai berjalan menuju arah pulang.
"Hei tunggu Nico, aku ingin berbicara denganmu" Akira menarik ku.
"Hmm?" aku menoleh.
"Mengenai ayah . . . ." Akira masih tersenyum.
Aku membatalkan niatku untuk pulang duluan.
"Anu Nico, Hana, Sagi, kak Akira. Ibu ku sudah menelpon dan menyuruhku untuk pulang" Kiera izin untuk pulang duluan.
"Eh kebetulan juga, aku masih ada shift malam nanti. Mau pulang bersama?" Sagi menawarkan pulang bersama.
"Apa kau yakin?" tanya Kiera, "memangnya rumahmu dimana?"
"Dari sini hanya belok beberapa blok, lalu masuk gang dan rumahku yang berwarna abu-abu" Sagi menjelaskan.
"Baiklah kalau kalian ingin pulang duluan silahkan" Hana mempersilahkan.
Sagi menarik tangan Kiera, "yasudah kami pulang duluan ya, dadah!" Sagi melambaikan tangan sembari berlari.
"Lepaskan tanganku dasar om-om cabul" Kiera memukul bahu Sagi, "Aww!!"
Setelah mereka pergi, tersisa kami bertiga yang juga berencana untuk pulang.
"Huh, Hana rumahnya dimana?" tanya Akira.
"Rumahku ada di . . . ." Hana menatapku dengan wajah grogi,
"Dia tetanggaku, kami bersebalahan" sembari menunjuk Hana.
"Astaga," Hana terkejut, "apakah ini alasanmu mengapa kau ingin tinggal sendiri? pasti kau sudah berbuat sesuatu dengannya kan? apa yang sudah kau lakukan dengannya?" Akira memojokkan.
"Jangan bodoh. Kami belum saja sebulan kenal." aku memalingkan wajah, "ya meski belum selama itu sudah pernah . . ."
"Ayo pulang, Nico" Hana menarik ku.
"Hei hei, dia adikku!" Akira menarik tanganku juga.
"Dia kan bersebelahan denganku, memangnya rumahmu dimana?" tegas Hana.
"Meski aku bukan tetangganya, setidaknya aku masih memiliki hak untuk bertemu dengannya. Karena dia adalah adikku" Akira memeluk bahuku.
"Karena adikmu bukan berarti perlakuan mu itu seperti bermain boneka dengannya!" kini Hana ikut-ikutan memeluk bahuku.
"Hufff" aku menghela nafas.
Aku mulai berjalan menarik mereka berjalan menuju apartemen ku.
"Eh?" mereka berdua kebingungan.
"Apakah kita baru saja diculik olehnya?" tanya Hana.
"Sok asik dih" Akira mengulurkan lidahnya dan menarik kantung matanya.
Disaat mereka bertengkar untuk diriku, aku membuat pikiran dan tujuan hidupku sendiri secara tidak langsung disaat keadaan dan situasi ini, "Persetan dengan kehidupan, aku hanya ingin rebahan di kasur. Aku ingin bermain game, aku ingin makan cemilan di kulkas ku, aku ingin . . . ."
"Nico, kamu pilih siapa!?"
...[PTAKKKK]...
Aku melepaskan pelukan tangan mereka, "aku memilih Cristiano Ronaldo" sembari berjalan memasukkan tanganku ke dalam saku kantung celana ku.
"Hei tunggu" Akira dan Hana mengejar dari belakang.
...[Sesampainya di depan pintu apartemen]...
"Oh ternyata dia ada di sebelah situ" Akira menahan tawanya.
"Kenapa kau tertawa?" heran Hana.
"Tidak, tidak ada."
"Huuu, seleb aneh" ejek Hana.
"Kau tidak akan pernah bisa masuk ke dalam apartemen miliknya, wleee" ejek Akira.
"Meski aku tidak pernah masuk ke kamarnya, tapi dia pernah masuk ke dalam kamarku, wleee" kali ini Hana yang mengejek.
Lalu dia langsung menutup pintu dan masuk ke dalam apartemennya setelah saling mengejek.
"Nico . . . ." dengan nada geram.
Aku sudah masuk ke dalam apartemen dan mengunci dari dalam sembari menahan pintu dari dalam.
"HEI, NICO, BUKA PINTUNYA! JELASKAN APA MAKSUD DIA TADI?!"
...[Beberapa saat kemudian]...
Aku dan Akira sudah duduk di ruang tamu sembari menjamunya dengan teh.
"Ahh, adik yang baik" puji Akira.
"Jelaskan dan pergi. Aku sedang menikmati kesendirian ku. Besok juga sudah sekolah, memangnya kamu tidak?" gentak ku.
*Sluurrrpppp
"Baiklah dengarkan. Mungkin kita memang akan jarang bertemu, tapi ini hanya sekedar memperingatkan" akhirnya kakak mulai berbicara serius.
Aku duduk berhadapan dengannya sembari menikmati teh. Akira mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan ku suatu foto.
"Huh?" aku sangat terkejut setelah melihat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments