"Kok bisa ke Magelang?" Tama memeluk Rani dari belakang.
Yah, ia begitu bahagia saat mendapat kabar Rani menjenguknya ke Magelang dengan alasan karena pesannya sering tak mendapat balasan. Gadis yang dipeluknya itu berbalik dan membalas pelukan kekasihnya itu erat.
"Ngga senang yah?" godanya.
"Senang banget malah. " Tama mengecup kening kekasihnya itu yang kemudian ingin dilanjutkan nya ke bibirnya.
Tapi Rani memalingkan wajah bertanda ia menolak. Yah, merasa tidak nyaman dan aneh tentunya karena Tama yang ia kenal sebelumnya lelaki yang sangat menghargai dirinya dan tak pernah melewati batas yang sudah ia buat.
"Aku ngga nyaman." kata Rani dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
"Maaf." balas Tama melepaskan pelukannya dan malah menggengam tangan Rani erat.
Keduanya senyum-senyum sendiri entah memikirkan apa, sambil menikmati senja yang mulai memancarkan keindahan. Yah, momen yang dulunya sangat disukai keduanya sampai menanti bintang ataupun satelit yang kebetulan lewat.
"Nginap kan?"
Rani melebarkan senyumannya." Iya dong." ancamnya.
"Aku nikahi sekarang mau?"
"Emang bisa?"
"Kenapa engga?"
"Ya udah, gas lah."
Keduanya kembali tersenyum bersamaan lagi karena tau mood mereka hanya sampai tahap bercanda saja. Beginilah kalau bertemu, mereka akan lebih banyak diam dan menikmati waktu dalam kesunyian seolah mereka bisa berbicara dari hati ke hati satu sama lain.
"Libur yah?" kata Rani lagi.
"Seminggu."
"Kenapa ngga pulang aja?"
Tama merangkul bahu Rani dan mencium puncak kepala gadis itu. "Toh, kamu yang nyamperin aku."katanya.
"Kalau aku ngga datang?"
"Aku aja keliling Jawa tengah selama seminggu ini."kata Tama mengalihkan pembicaraan.
Yah, Rani menginap di salah satu rumah saudara jauhnya dan memutuskan berlibur beberapa hari agar suasana hatinya agak sedikit membaik. Ia berharap Tama memberikan dirinya komitmen untuk penantian panjangnya yang punya banyak kendala.
Hari semakin larut, hingga langit gelap menyelimuti suasana. Yah, malam ini seakan enggan bersahabat dengan para bintang. Atau memang sengaja memberikan kesan yang sempurna pada pasangan muda ini.
"Gelap yah," kata Rani menatap langit malam.
"Okh, ada salip selatan!" pekik Tama.
"Masa sih?" Rani mengikuti arah mata Tama, namun yang dilihatnya hanyalah awan hitam bertemankan langit malam.
"Beneran loh."
"Mana?"
Saat sedang asik-asiknya menatap langit mencari rasi bintang kesukaannya itu, Rani tanpa sadar kalau ia sedang di prank oleh Tama. Yah, Tama mengeluarkan sebuah kalung dengan mainan rasi bintang selatan dan membentangkannya di depan mata Rani begitu wanita itu menatap ke arahnya.
"Ada disini." katanya.
"Tam, kamu_"
"Aku menabung 2 tahun penuh buat beli ini Ran. Aku bertekad akan memberi kamu hadiah dari hasil sendiri, tanpa harus meminta uang dari Mama. "kata Tama.
"Sebenarnya ngga perlu loh,Tam." balas Rani terharu.
Yah, banyak sekali barang-barang mahal yang diberikan Tama padanya selama ini. Tapi semuanya memang hasil dari jerih payah orang tuanya yang pastinya dengan mudah bisa dibeli Tama. Tapi kali ini, mendengar ucapan Tama matanya berkaca-kaca.
"Kok nangis? ngga suka yah? Aku masih punya sedikit tabungan lagi, kalau kamu mau kita bisa pilih _"
Rani memeluk pemuda itu erat. "Makasih, Tam. Makasih udah mencintaiku seperti ini." bisiknya.
Tama mengusap rambut gadis itu "Beneran suka?" katanya.
Rani mengangguk."Suka banget."katanya.
"Boleh aku pasangkan?"
Rani melepas pelukannya dan mengangguk. Moment yang akan dikenangnya sepanjang hidupnya, adalah malam Tama menghadiahkan dirinya sebuah kalung di bawah langit malam yang gelap.
"Cantik."puji Tama mengecup puncak kepala gadis itu lagi.
Rani menyentuh rasi bintang di kalung itu dengan senyuman tulus yang hanya dihadiahkan pada Tama. Yah, senyuman yang terbit semenjak ia mencintai Tama dulu dan masih bertahan hingga kini. Ia begitu senang sampai lupa mengangkat wajahnya dan terus menatap mainan kalung itu.
"Ran_"
"Em?"
Begitu mengangkat kepalanya, didepannya Tama berdiri dengan kotak perhiasan berisikan dua buah cincin yang sangat indah menurut Rani. Sontak saja matanya membesar karena tak bisa percaya hal ini akan terjadi apalagi pada malam segelap ini. Yah, tanpa adanya ikatan cincin sekalipun, ia percaya Tama akan menepati kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Menikahlah denganku, Algiant Agathara Frani." kata Tama meraih sebuah cincin dan menyodorkan pada Rani.
"Kamu bercanda?" balas Rani tak percaya.
"Menikah memang pekerjaan sekali, Ran. Tapi pekerjaan itu adalah tanggung jawab seumur hidup karena memutuskan menetap di suatu hati adalah pilihan yang sulit. Aku ngga mau bertele-tele lagi karena aku sudah memikirkannya beribu kali sehari, dan tetap saja kamu adalah bintang kehidupan yang tak pernah bisa aku lepas." kata Tama penuh dengan perasaan.
"Aku hanya ingin kamu memikirkan hal ini sekali lagi, Tam. Aku sangat mencintaimu, tapi tak ingin kamu menderita hanya karena memaksakan diri mencintaiku seumur hidup. Seorang gadis yang lahir dari keluarga biasa dan tak punya masa depan seperti yang orang-orang harapkan. "kata Rani mencoba menguji ketahanan Tama.
Tama melirik cincinnya dan kemudian memandang lekat wajah Rani. " Aku tak akan menerima kamu apa adanya, melainkan menggenggam erat tanganmu dan berjalan bersamamu menggapai hal yang tidak bisa kamu terima dari dirimu. "balasnya.
"Bagaimana jika keluargamu menolaknya?"
"Aku akan membantumu meyakinkan keluargaku."
Rani tersenyum. Yah, sosok Tama yang seperti inilah yang ia cintai. Selalu menyukai tantangan dan bukan mengatakan hal-hal yang umum dikatakan pasangan lain.
"Aku sampai di titik ini, hanya karena kamu, demi kamu dan juga bersama kamu." kata Tama lagi.
Rani menganggukkan kepalanya. "Aku mau menikah dengan kamu, Atanasius Sint Fatwa." katanya.
"Really?"
Rani mengangguk, dan mengulurkan tangannya yang kemudian dipasangkan Tama sebuah cincin yang sangat indah.
Kemudian, Rani melakukan hal yang sama juga hingga keduanya menjadi couple selayaknya orang yang baru saja bertunangan.
"Aku akan menyelesaikan pendidikan secepatnya, dan melamar kamu pada orang tuamu." janji Tama.
"Bukannya kamu punya aturan untuk menikah?"
Tama mengangguk."Aku akan mengikatmu dalam ikatan pertunangan." katanya.
"Aku akan menunggumu." balas Rani.
"Okh, beneran ada rasi bintang." seru Tama lagi.
"Bercanda lagi yah?"
Ia memutar arah kepala Rani menatap langit yang mendadak banyak ditemani para bintang. Dan benar saja, disana terpancar cerah 4 bintang yang membentuk salip.
"Aku ngga bohong kan?" ujar Tama.
"Indah ya." komentar Rani tanpa melepaskan tatapannya dari sana.
"Kamu tau ngga kenapa itu disebut salip selatan?"
Bukannya menjawab, Rani malah menatap lekat wajah Tama seolah ingin menebus segala kerinduan yang ia pendam selama ini.
"Jika Mimosa, Gacrux , Deltacrus , Alpha Crux ditarik garis lurus ke_"
"Maka ia akan mengarah bagian selatan" potong Rani.
"Benar," kata Tama tersenyum.
"Ini ke 5007 kali kamu bilang hal yang sama. "
Yah, memeriksa bintang dan satelit adalah hobby mereka sejak awal pacaran dengan teleskop yang dimiliki Tama.
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
agasaka
a ga ngrti jdul jdul novelmu tor dri bab awal k ahir ini ga ngrti maap jdi a skif skif
2023-03-17
1