Kakakku = Harga Diriku

Melihat Rani yang mendadak menangis membuat semuanya bingung dan dengan terpaksa mengantar gadis itu pulang. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rani sepanjang perjalanan sehingga teman-temannya juga tak ada yang berani bicara. Semuanya diam seakan ada hal yang mengerikan di depan sana.

"Kamu kenapa, Sayang?" Mita tergopoh-gopoh menyambut Rani yang dipapah Laura dan Nadia.

"Makasih guys, kalian bisa pulang sekarang."kata Rani singkat.

"Masuk dulu kak."saran Alaska mewakili Mamanya yang kemudian memapah Rani masuk ke dalam rumah.

Keempat sahabat Rani saling bertatapan dan akhirnya memilih berpamitan saja karena malam juga sudah semakin larut.

"Kenapa Ran?" Mita membaringkan tubuh Rani di ranjang.

Bukannya menjawab, Rani malah menangis dan memeluk Mama tirinya itu sambil meminta maaf. Sontak saja hal itu membuat Mita bingung dan tak mampu bertanya ataupun bertidak lagi selain membalas pelukan Puteri-nya dan mengusap rambutnya.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 3 pagi, Namun Rani tak bisa memejamkan matanya meski hanya sedetik. Perlakuan kasar Azka selalu terbayang di pelupuk matanya, membuatnya ketakutan setengah mati dan menggigil. Ditengah kekalutannya itu, Ia membuka laci meja riasnya dan mengeluarkan sebotol kecil obat anti depresan yang dulunya di konsumsinya sebelum ia benar-benar mencintai Tama. Ia mengeluarkan pil kecil dan memasukkan kedalam mulutnya dan menelannya dengan air yang selalu disampingnya.

Namun Rani kaget saat ada orang yang merebut gelas itu dari tangannya secara tiba-tiba. Orang yang tak lain adalah Alaska, menatap wajah kakak tirinya itu dengan mata sendu.

"Siapa?" katanya pelan tapi tajam.

"Kenapa lo bisa masuk?"

"Jawab gue, Ran!" bentaknya.

Rani menghela nafas."Bukan urusan lo," katanya hampir tak terdengar.

"Lalu siapa? Tama si brengsek itu?"

"Kenapa jadi nyalahin Tama?"

"Dia bisa nyakitin lo sesuka hatinya, Ran. Tapi selama Gue, Laudy, Mama dan Papa tau... dia ngga akan aman tak perduli seberapa keras dirinya."kata Alaska.

Deggggg

ucapan pemuda yang sebentar lagi akan lulus SMA itu membuat hari Rani panas dan sadar kalau ia telah melakukan kesalahan besar. Bisa-bisanya ia menganggap kalau ia sendirian di tengah keluarga yang sangat menyayanginya ini.

"Maafkan gue, Alaska."bisiknya menunduk.

Alaska menyentuh bahu kakaknya dengan lembut."Kasi tau gue siapa yang ngelukain lo."pintanya.

"Yang pasti dia bukan Tama."

"Lalu?"

"Gue masih sanggup nahan sendirian."

"Ok."

Alaska mengangguk beberapa kali meskipun Rani tidak tau apa yang ada dalam pikiran remaja 17 tahunan itu.

*

"Siapa?"

Tatapan tajam Alaska membuat Al bergidik ngeri. Meskipun secara umur ia lebih tua dari Alaska, namun ia adalah junior di akademi ini. Yah, sekali tendang saja Alaska pasti mampu membuatnya tersungkur tak berdaya karena pemuda ini sangat terkenal dengan tendangan berputarnya yang bisa mematahkan rusuk lawannya seketika.

"Lo tau siapa kan, Bang?" ulang Alaska.

"Azka."

kalimat yang keluar dari mulut Al membuat mata Alaska melebar. Ia mengenal Azka karena Rani sudah berteman dengannya sejak SD dulunya. Ia juga tau Azka menyukai kakaknya, meskipun Rani selalu menganggap hubungan mereka hanya sebatas teman biasa.

' Bagaimana mungkin ia membuat Rani sedemikian trauma?' batinnya.

"Gue cuma mau bilang itu, Alaska. Lo ingat kan ucapan lo barusan? sekarang jangan nanya apa-apa lagi ke gue."kata Alsky mencari jalur aman.

"Thank's bang."Alaska mengangguk sambil menepuk bahu Al dan kemudian pergi.

Dengan kecepatan tinggi, Ia menuju universitas tempat Azka berkuliah. Tak perlu menunggu waktu lama karena Azka tampak keluar dengan teman-temannya dari dalam sana. Dirinya yang masih mengenakan seragam sekolah tentu saja menarik perhatian orang-orang sekitar.

"Lo mau _"

Bhukkkkkk

Tanpa berkata-kata, Alaska langsung menyerang Azka Hinga tersungkur beberapa depa ke belakang. Teman-teman Azka bukannya menolong, malah mundur teratur dan kemudian melarikan diri begitu saja karena sebagian tau siapa orang yang sedang mengajar Azka.

Azka mencengangkan kerah kemeja Azka dan memaksanya berdiri." Jangan ganggu kakak gue, kalau lo masih mau hidup."

*

Semenjak itu, tak ada lagi pertemuan antara Rani dan Azka meski secara real maupun maya. Semua orang kembali sibuk dengan aktifitas masing-masing, meski Rani sering mendapatkan undangan dari sahabat-sahabatnya yang tak pernah dipenuhinya karena ia masih sibuk untuk berjuang hidup. Yah, ia tidak dilahirkan dalam segala kemewahan sebagaimana kedua temannya itu. Bukannya orang tua tak memenuhi kebutuhannya, tapi setidaknya ia harus tau diri karena masih ada tanggung jawab membantu pendidikan Laudy dan juga Alaska yang saat ini tengah mempersiapkan diri sebagai Casis tahun ini.

Tapi hari ini, Rani tak bisa melakukan apa-apa karena otaknya terasa sudah memakan hatinya habis. Yah, ia seharian menanti ucapan anniversary dari Tama. Ia akan memaafkan akan memaafkan lelaki itu selama ini, tetapi tak akan memaafkan kalau Tama bisa lupa dengan hari ini. Tapi, hingga malam tiba, ia tak juga kunjung mendapatkan pesan ataupun telepon. Dengan perasaan kesal dan sedih, ia akhirnya keluar rumah menemui Nadia dan Laura yang tengah nongkrong.

"Katanya ngga bisa, kok tiba-tiba dateng?"

Itu sambutan pertama yang diterima Rani begitu mendaratkan bokongnya di kursi empuk milik Laura. Ia diam dan memilih bodoh amat dengan harapan sedikit saja rasa sakitnya itu hilang. Tapi jangan sebut mereka sahabatan kalau mereka tak bisa melihat da merasakan apa yang dirasakan Rani.

"Yang penting kan dia dateng," kata Laura.

"Yah, mumpung Sky dan Alvi ngga ada. "lanjut Nadia.

"Gue ngga da kerjaan di rumah."kata Rani meletakkan ponsel dan tas nya di atas meja.

"Tumben?"

"Yah, otak gue memakan hati gue sendiri. "balasnya pelan.

"Wait, lo bilang apa?"

"Akh, biasa aja Nad. Lo ngga akan ngerti apa yang dipikirkan Novelis."

"Oh, iya. "

"Mumpung lo berdua ada, gimana kalau kita nyobain menu baru cafe gue?" tawar Laura.

"Boleh."balas Nadia yang tak pernah keberatan kalau ditawarkan makan.

"Gue kayaknya ngga deh, Lau."tolak Rani.

"Masa lo tega sih?"

Melihat raut wajah Laura yang memelas, mau tak mau Rani mengiakan. Dan sambil menunggu waiters menyiapkan menu baru itu, ketiganya terlibat dalam percakapan dan perdebatan sebagaimana biasanya. Yah, ketiga orang yang memiliki banyak perbedaan ini kerap ditanya apa yang membuat mereka bersahabat selama ini. Nadia, yang dikenal ceria, suka menang sendiri dan juga memiliki mulut yang paling tajam diantara mereka. Penyuka warna kuning ini, kerap berdebat karena tak suka mengikuti trend yang sedang gencar di dunia luar. Laura yang sukanya mengikuti trend dan menganggap kalau warna cerah itu norak, lebih suka berfikir sebel berucap. Da yang terakhir Rani yang pendiam dan kadang Sulut ditebak, ia menyukai warna-warna yang gelap sama seperti selera musiknya yang juga galau.

Namun perbedaan itu tak membuat ketiganya sering bertengkar. Bahkan ketiganya selalu bersikap adil dalam menentukan apapun hingga tak terasa 17 tahun mereka sudah bersahabat. Tak lama menunggu, akhirnya menu kebanggan Laura itu tiba juga.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!