"Mau yah, Ran." kata Azka tulus.
"Terima! terima... terima!"
Suasana yang semakin riuh membuat Rani terpaksa menunduk karena ia merasa malu dan sakit sekaligus. Hanya anak kecil yang tidak mengerti apa maksud dan tujuan dibalik buket bunga itu, dan itu adalah hal terberat bagi Rani.
"Terima dong." kata Laura menyenggol lengannya.
"Daripada lo nungguin Tama."sambung Nadia.
Hal itu membuat Rani tidak nyaman dan terpaksa menerima buket bunga itu dari tangan Azka. Alhasil, siutan semakin menjadi dan mengakui kalau mereka sekarang pacaran. Yah, Rani tau dan sadar apa yang tengah ia lakukan meskipun saat ini hatinya masih kosong menanti orang yang tak kunjung hadir.
"Makasih, Ran." kata Azka penuh dengan senyuman kemenangan.
"Iya,"
Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Rani sambil ia menunduk menatap lantai yang serasa ikut menertawakan dirinya. Kehidupan memang sudah berbeda sekarang. Laura yang bermimpi mempunyai kafe dapat mewujudkannya dalam jangka 1 tahun, Nadia yang ingin kuliah ke luar Negeri kini tengah menyelesaikan S1-nya di Jerman. Dan benar saja apa yang dikatakan Sky tadinya, tak masuk akal kalau Tama tak ada waktu libur karena Nadia saja bisa pulang meski berkuliah di luar Negeri.
Tapi, apakah pencapaian Rani selain bertahan hidup?
Suasana di dalam cafe sama sekali tak menarik bagi Rani. Padahal itu momen yang jarang terjadi, karena mereka punya kesibukan masing-masing dan sangat menghargai waktu. Tapi jiwa kosongnya tak mampu berdamai, memaksanya keluar menikmati dinginnya malam. Yah, sekarang Ia terpukau menatap bintang-bintang yang juga ceria menemani sang malam.
Mendadak hati Rani semakin galau menyadari kalau bintang-bintang itu juga ikutan menertawakan dirinya sama seperti sahabat-sahabat baiknya itu. Tiba-tiba, Ia merasa ada pelukan hangat dari belakang. Pelukan yang terasa asing dan sama sekali tak sesuai ekspektasi Rani. Hal itu membuat Ia segera berbalik dan menampar sosok yang memeluknya itu dengan keras. Siapa sangka, Azka yang mengira hubungan mereka telah berkembang kini mendapat perlakuan seperti itu.
"Kamu ngga nyaman yah? maaf," katanya memegang pipinya yang memanas.
"Maaf, gue_"
"Ngga papa, Sayang. Kita bisa ngelakuin semuanya perlahan kok,"
"Sayang?"
"Kamu mau panggilan yang_"
"Kita emang harus ngomong, As."potong Rani.
"Kalau ini ngga ngomong, berarti kita lagi ngapain?"
"Gue tau dan sadar kalau rasa gue cuma buat Tama doang. Dan gue masih kuat nunggu dia pulang, ngga perduli sampai kapanpun. Untuk bunganya, gue letakin di kursi dan lo bisa ambil sendiri nantinya." katanya.
Kata-kata itu membuat Azka mendadak tercengang tak percaya. Jujur, 15 kali ia melakukan hal yang sama dalam kesepian, selalu mendapatkan penolakan dari Rani. Tapi, tadina ia sempat senang karena mengira ia berhasil, tapi apalah yang didapat nya kini?
"Kamu mabuk yah?"
"Gue ngga lagi bercanda, Az."
"Ran, lo ngga ngeliat gue tulus? Apa yang mau lo harapin dari Tama? Penantian lo ibaratkan menghitung bintang di langit yang ngga akan pernah berakhir karena_"
Parrrrrrr
Ucapan Azka berhenti takkala ia mendapatkan tamparan ke dua dari Rani. Wanita muda itu menatapnya tajam seakan ia bisa menelannya hidup-hidup. "Lo bisa ngejelekin gue, tapi tidak dengan Tama. Gue tau dan sadar apa yang gue lakuin dan ngga perlu lo ajarin."katanya tajam.
"Gue akan nunjukin kalau ucapan gue bener." balas Azka.
"Gue tau dan sadar apa yang gue rasakan, Az. "
"Apa kurangnya aku, Ran?"
"Lo sempurna di mata orang yang tepat, Azka. Maafin gue karena gue bukan orang yang tepat." Rani beranjak pergi karena berfikir itu cara yang tepat membuat suasana seimbang.
Yah, ia takut semakin lama ia berdebat dengan Azka semakin banyak luka yang ia ciptakan baik untuk dirinya maupun Azka. Ia memilih menyerah karena butuh waktu sendirian menanti Tama dalam kesepian.
Jangan sebut namanya Azka jika ia bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Ia berfikir cukup sudah penantiannya selama ini, dan Ia tak akan membiarkan Rani lepas kali ini. Ia mencengkram tangan Rani, dan menahan langkah gadis itu.
"Az, Please _"
Ucapan Rani terhenti karena bibirnya disumpal bibir Azka yang menciumnya dengan kasar. Sontak saja membuat gadis itu kaget sekaligus marah. Bagaimana tidak, selama berpacaran dengan Tama ia tak pernah mendapatkan perlakuan menjijikkan seperti ini.
Dengan keras Rani mendorong Azka sehingga tanpa sengaja bibirnya berdarah akibat ulah Azka. Kesempatan ini tak disia-siakan Rani untuk kembali masuk dan meminta bantuan kepada sahabat-sahabat nya di dalam sana. Tetapi belum sempat ia melangkah, Azka menarik kakinya sehingga ia tersungkurnya.
"Lo pikir lo_"
"Woiii, Lo gila?"
Al berlari menghampiri mereka dan segera menendang tubuh Azka yang hendak berdiri. Sontak saja tindakannya membuat Azka kembali tersungkur.
"Lo jangan ikut campur."katanya marah.
Al menarik kerah baju Azka dan memaksanya berdiri. "Hanya binatang buas yang memperlakukan lawan jenisnya dengan kasar. Bahkan seekor burung Merak saja tau cara membuat pasangannya terpesona."kata Al marah.
"Lo ngga_"
"Lo pikir Tama akan maafin lo kalau tau perlakuan lo ke wanitanya."potong Al.
Mendengar nama Tama, entah karena takut atau bagaimana Azka melarikan diri seketika setelah memakai dirinya sendiri. Tinggal Rani yang kesulitan berdiri karena ia merasa ngilu di pergelangan kakinya.
"Lo ngga papa?" Al memburu gadis itu dan membantunya berdiri.
"Engga kok, makasih yah."Rani meraih tangan pria itu agar membantunya berdiri.
"Beneran? kaki lo keseleo tuh."
"Ngga papa."
Dengan susah payah, Rani berusaha bangkit meskipun air mata jatuh menetes di pipinya. Ia tiba-tiba teringat sosok Tama yang dulunya selalu bersikap kasar padanya namun tak pernah membuatnya terluka. Semakin kesini, semakin ia merindukan Tama saja.
"Bibir lo...."
Rani menepis tangan Al yang hendak mengusap darah di bibirnya. "Ngga papa." katanya.
"Masuk ke dalam susah lewat pintu depan, Ran. Gimana kalau gue panggil Laura dulu biar pintu darurat dibuka aja."saran Al.
"Gue mau pulang."kata Rani memelas.
"Tapi_"
"Antar gue pulang sekarang, Al."pintanya.
Mau tak mau Al menelepon kekasihnya agar keluar sejenak. Dan begitu mendengar soal Rani, ketiga temannya langsung keluar dan kaget bukan main melihat kondisinya.
"Lo kenapa sih?" Nadia membersihkan pasir yang menempel di luka lutut Rani akibat ulah Azka.
"Dia _"
"Gue cuma terpeleset doang."kata Rani menatap tajam Al seakan memberikan kode agar tidak berkata apa-apa.
"Yah, ada cowok yang nyerempet dia." Kata Al mendukung ucapan Rani.
"Kita masih dulu yah, bersihin_"
"Antar gue pulang, Lau." pinta Rani.
"Tapi_"
"Gue mohon ke lo semua. Antar gue pulang, Please."
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments