"Masih ngambek?"
Tama merangkul bahu Rani masih setia menatap langit malam meskipun hanya semilir angin yang menemani tanpa pasukan bintang.
Rani menepis tangan Tama." Enggak. Buat apa juga?" katanya sewot.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat di pipinya. Sontak membuat wajah sawo matang itu bersemu merah. Untung saja, wajah Rani tidak putih sehingga rona wajahnya tak terlalu jelas.
"Kalau gini masih marah?" goda Tama.
"Tau caranya minta maaf ngga sih?" bentak Rani.
"Aku kan bilang ke kamu bahwa hanya laki-laki pecundang yang selalu meminta maaf. Jika laki-laki mengatakan maaf, ia akan mengulangi kesalahan yang sama semudah ia meminta maaf."kata Tama.
Rani perlahan tersenyum."Sok romantis loh."katanya melangkah pergi.
"Ran, Please _"
"Apaan sih, aku mau tidur. kamu ngga liat dah larut malam? udah, sana pulang." Kata Rani menepis tangan Tama yang menahan langkahnya.
Tanpa perduli lagi, ia ingin masuk karena takut harga dirinya akan hancur lebur jika berdekatan terus dengan kekasihnya itu. Yah, Rani yang selalu menjunjung tinggi egoisnya dan tak ingin Tama tau kalau ia sedang kalah dan dikuasai rasa nyaman.
"Besok aku mau balik, Ran."
Deggggg
Begitu mendengar ucapan itu, mata Rani melebar bersamaan dengan jantungnya yang berpacu cepat. Selalu saja seperti ini setiap kali Tama mengatakan kembali.
Padahal baru saja satu Minggu mereka bersama melewati sedikit hal. Masih sangat banyak hal yang ingin Rani lakukan bersama orang itu, tapi ia tau posisinya sekarang bukanlah prioritas pertama lagi. Ia mencengkram erat bagian dalam saku celananya, berusaha tegar dengan bibir yang tersenyum.
"Oh, baguslah."katanya berusaha sedatar mungkin.
Namun, Tama merasakan dengan jelas tekanan suara Rani yang hampir menangis. Ia mendekati gadis itu dan memaksanya berbalik. Dugaannya benar, Rani terlihat sekuat tenaga menahan air matanya.
"Kesabaranmu adalah_"
"Kamu tau berapa kali aku sudah mendengarnya? "potong Rani.
"Ran_"
"Ini kali ke 4 aku mendengarnya, sampai aku benar-benar hafal semuanya."
"Maksud aku_"
"Aku ngga pernah ngeluh kok, Tam. Kamu berjuang disana, aku disini. Syukur kalau kamu ingat siapa yang menemanimu dari nol. Kalau engga juga aku ngga apa-apa."katanya.
"Ran, kamu kok ngomong gitu?"
"Laudy belum ngomong pulang, Tam. Kamu pikir aku bego?" kata Rani.
Tama menelan ludah. Ia ternyata melupakan kalau Ia dan Laudy belajar di Akademi yang sama. Yah, ia memang tak langsung pulang ke Akademi karena masih ada hal yang harus ia urus. Tapi mengatakan hal itu pada Rani, Ia harus mencari waktu yang tepat.
"Ran, Aku_"
Tinnnnnnnn
Senyuman Rani kian sinis melihat Mama Tama menjemputnya bersama seorang gadis cantik yang belum pernah dikenalnya. Dan ia melihat jelas raut wajah kaget di mata Tama. Entah ia kaget karena Mamanya datang atau kaget melihat orang yang bersama Mamanya.
"Mau pergi kan?" kata Rani.
Tanpa di duganya, Tama meraih tangannya dan menariknya menuju mobil Mamanya. Hal itu membuat Rani sedikit tersanjung katana mengira Tama berniat mengenalkannya pada Mamanya.
"Tam_"
"Ma, Tama ijin nginap malam ini."potongnya cepat sebelum Mamanya bicara.
"Kamu gimana sih? kamu liat kan Rania udah datang. " balas Mamanya.
"Hay, lo pacarnya Tama yah?"
Gadis di dalam mobil itu tersenyum dan turun bersama Mama Tama. Ia menyodorkan tangannya dengan niat baik ingin berkenalan dengan Rani.
"Yah, Lo ngga salah."kata Tama menggengam tangan Rani.
"Tante" Rani menyalimi Mama Tama dengan hormat.
"Tante lama loh, ingin ngomong dengan kamu. Besok ke rumah deh bareng Tama," kata MamaTama menyambut uluran Tangan Rani. Terpaksa gadis yang bernama Rania menarik tangannya kembali.
"Akh, Besok kan_"
"Aku ngga jadi pulang."potong Tama.
Entah kenapa, Rani merasa sangat janggal dengan situasi ini. Tama yang berdiri disini bukan orang yang ia kenal selama ini, hangat dan mudah bergaul. Tama membeli mengalahkan baru es di pegunungan Alpen. Bahkan ia sangat erat menggengam tangannya, tanpa memperdulikan dirinya yang merasa sedikit tak nyaman.
"Ini sepupu aku, namanya_"
" Pacar lo agak kurang sopan yah, Tam."potong Rania.
"Lo ngga da hak ngomongin soal pacar gue."
"Hei, kita cuma bercanda doang. Lo kok gitu sih," kata Rani berusaha menahan emosi Tama.
Ia tau betul ekspresi itu dan hanya pada saat tertentu ekspresi itu keluar. "Tante, Rania.... masuk dulu gih. "katanya mempersilahkan.
"Akh, udah malem. Tante tunggu kamu besok aja, kita masak dan perawatan bareng oke?"
"Okay Tante, Rani usahakan datang kok."katanya .
"Ya udah, Tam. Kamu baik-baik ya ama calon mantu Mama."kata Mamanya mengedipkan sebelah matanya.
Namun di saat seperti ini pun, Tama masih saja dingin bak karang es. Bahkan setelah Mamanya pulang pun ia tetap tak berubah.
"Lo nginap sini bang?" kata Laudy yang baru mau masuk kamar
"Numpang yah."
"Siap."
"Lo mau langsung tidur?" kata Rani lembut.
"Enggak."
Rani sengaja melemah karena tau ini bukan situasi yang baik ia menantang Tama. Inilah kebiasaan Tama jika ia punya masalah yang sangat besar, tangannya pasti tak bisa berhenti bergerak.
"Udah, Tam."Pinta Rani menggenggam tangan Tama.
"Gue_"
"Gue ngerti kok."
"Tapi kamu ngga tau apa yang aku maksud, Ran." Tama menatap gadis itu dalam.
"Apapun itu."
"Ngga boleh gitu dong."
Tama menghela nafas. Rasanya memang sangat berat melebihi segala hal yang selama ini ia sembunyikan dari Orang tuanya.
"Rania_"
Rani tiba-tiba memeluk Tama erat."Udah, ngga usah dilanjutin. Aku ngga mau dengar."katanya.
Tama membalas pelukan gadis itu sambil mengusap rambutnya lembut. "Maafin aku, Ran." bisiknya.
Ini adalah kali pertama Tama meminta maaf bertahun-tahun mereka saling mengenal satu sama lain. Rani tau mungkin sesuatu yang besar akan segera terjadi. Tapi, ia memilih seperti ini tanpa tau apa-apa dengan harapan ia bisa memiliki Tama seutuhnya suatu hari kelak.
"Kamu kok ngga mau tau apa yang mau aku katakan?" kata Tama saat menemani Rani menulis.
"Emm, ini kan bukan kali pertama... jadi aku dah cukup kenyang kok."balas Rani .
"Maksud kamu?"
Rani berhenti sejenak."Aku ngga takut walaupun semua gadis suka ke kamu, asalkan kamu bisa jaga hati... aku ngga papa kok."katanya.
Tama memeluk lagi wanita itu. Ia tau inilah sosok Rani yang ia kagumi dulu. Sosok yang begitu dewasa meski kadang terlihat misterius, dan sulit ditebak.
"Udah, sana ke kamar Laudy aja. Ntar dia nungguin kamu loh." kata Rani menyuruh pacarnya itu segera tidur.
"Nanti."
"Kapan?"
"Ya udah, aku pergi deh."
"Night, Sayangku. "
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments