- + - = Semu

Rani menatap rumpun mawar yang sebentar lagi akan semerbak menunjukkan ke anggunnya. Ia menyodorkan tangan menyentuh mahkota mawar ungu yang dulunya ia terima dari Tama. Ia menghela nafas panjang menyadari kalau semua ini bukan tentang mawar.

Mendengar helaan nafas Puteri-nya yang sangat berat, Mita mendekati Yusuf dan menunjuk Rani dengan matanya. Pasangan itu segera mendekati Rani sambil memeluknya erat.

"Ma, Pa."kata Rani kaget diperlakukan seperti itu.

Yusuf membelai rambut anak gadisnya itu tanpa bicara. Membuat Rani mendadak merasa sesak dan akhirnya menitikkan air mata yang pastinya akan berujung dengan tangisan. Yah, ini memang momen langka semenjak ia memasuki usia 17-an. Bukan kenapa, Papanya punya tugas luar yang tak bisa ditinggalkan. Jadi ia mungkin tak punya banyak waktu buat Rani.

"Papa kaget, Puteri Papa benar-benar udah dewasa."kata Yusuf ikutan sendu.

"Rani kecil yang dulunya selalu ngeselin." Lanjut Mita mencubit pipi gadis itu.

"Semakin besar, ia semakin_"

"Pa...pa bilang Rani jelek?" kata Rani terbata.

"Kamu udah ngga imut lagi." Yusuf tersenyum dalam.

"Mama dan Papa lebih suka kamu kaya Rani yang dulu. Yang manja dan ngga pernah mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri. Bukan maksud Mama kamu ga boleh jadi dewasa, cuma yah...lebih baik kamu jangan mendam sendiri Ran."kata Mita yang diiringi anggukan kepala Yusuf.

Rani mengeratkan pelukannya berusaha terbenam dalam dada lebar kedua orang tuanya. Yah, mereka benar adanya. Rani juga capek bersikap dewasa seperti ini.

"Tama jahat ke Rani."Isak gadis itu.

"Rani jahat ngga ke Tama?"

Rani terdiam dan malah menangis sampai Mita kewalahan menenangkannya. Sosok anak kecil yang manja kembali muncul, dan itulah diri Rani yang sebenarnya.

"Dasar manja."

Laudy dan Alaska yang tiba-tiba muncul berkacak pinggang denga raut wajah yang sengaja dibuat-buat. Yusuf dan Mita malah mengeratkan pelukannya dan Rani nyengir sambil tersenyum bangga.

"Iri? bilang bos."

Rani kembali tersenyum disambut tawa keluarga romantis itu. Meksipun ia tak bisa melepas Tama pergi, setidaknya ia bisa tertawa setidaknya sebelum melepasnya pergi.

"Tama tipe yang hanya bisa mencintai satu wanita dalam hidupnya. "kata Yusuf saat Rani menatap langit malam itu.

"Papa sok tau"

"Kemanapun dia pergi, selama Rani masih ingat dia dengan benar... Ia tak akan bisa lepas dari Rani."kata Yusuf yakin.

"Kok papa yakin banget?"

Yusuf menghela nafas dan tersenyum lembut."Papa juga seperti itu waktu masih muda. "

Suara itu bukan suara Yusuf. Mita datang menyodorkan gelas pada Rani dan Yusuf. "Kamu udah sadar kalau kamu cinta ama Tama?" katanya pada Rani.

"Masalahnya, Rani bingung kita lagi ngapain?"

"Ngapain aja terserah. Kesabaran Rani, buah perjuangan Tama. Jangan sampai Rani menyesal hanya karena masalah sepele," balas Yusuf.

*

"Kamu ngga punya pesan buat aku?" kata Tama tepat sebelum pesawatnya lepas lending.

Rani hanya mampir tersenyum patah. "Aku menarik kata-kataku. Sekarang, kamu harus bilang kalau ngerasa ada hal yang aneh." katanya.

"Maksud kamu?"

"Tam, "

Rania yang tiba-tiba datang memecahkan keseriusan Tama dan Rani. Ia datang bersama bocah usia kurang dari 4 tahun, yang tampaknya sangat familiar di mata Rani meskipun ia tak tau dimana ia melihatnya.

"Aku kesana dulu yah. Mau ngomong ama Laudy juga," kata Rani memberikan mereka ruang dan waktu.

"Rani kenapa ngga datang? Tante nungguin loh seharian." Mama Tama menghentikan langkahnya.

"Rani sakit, Ma. "potong Tama.

"Sekarang mau kemana? Sibuk yah?"

Mama Tama tampaknya berusaha mencuri waktu Rani entah apa yang ingin ia bicarakan. Yang Rani yakini, ini pasti lebih dari sekedar perawatan dan juga acara masak memasak.

"Rani mau ngucapin_"

"Laudy juga pulang hari ini, Ma."

Lagi-lagi Tama memotong ucapan Mamanya seakan ia tak ingin memberikan waktu bagi Rani dan Mamanya. Melihat situasi itu, mau tak mau Rani terpaksa mengalah karena tak ingin Tama pergi dengan raut cemberut.

"Lain kali, Rani pasti datang kok Tan."katanya tersenyum.

"Tante tunggu yah."

Rani mengangguk dan pamit pergi. Tapi sebenarnya ia hanya mencoba menghilang dan membiarkan Tama menyelesaikan apapun masalahnya dengan wanita itu dengan harapan semuanya akan baik-baik saja.

"Liatin apa sih?"

Alaska yang melihat kakaknya terpukau menghampiri Rani sambil mengikuti arah tatapannya. Tama tampak sangat akrab dengan bocah yang dibawa Rania, meskipun ia tampak membenci kakak ataupun mungkin Ibunya itu.

"Lo ngga punya firasat tentang hubungan mereka?" kata Alaska.

Rani menggeleng." Gue malah mikir," katanya.

"Kalau sebatas mantan, kenapa harus ada anak kecil? kalau itu anak Tama, kayaknya makin ngga mungkin."katanya.

Rani melangkah pergi dan kemudian diikuti Alaska. Tak pernah disangka oleh Rani itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Tama dalam masa pendidikan Tama. Sisa waktu pendidikan, Tama tak pernah menemuinya lagi dan Ia semakin susah dihubungi dengan alasan sibuk.

Tapi selama itu, Rani berusaha memantapkan diri agar pondasi yang ia bangun selama ini tidak hancur di tengah jalan. Yah, Ia akan berjanji menunggu sampai kepastian itu ada.

Sementara itu, di Akademi Militer Tama berjuang mati-matian dengan harapan Ia bisa pulang dengan prestasi dan segera menghalalkan Rani begitu ia lepas dinas kelak.

"Lo ada pacar?"

Hari itu, seorang alumni yang baru lulus datang dan menghampiri Tama yang duduk di pinggir lapangan untuk mengisi waktu senggang yang diberikan pada mereka.

"Lebih dari seorang pacar, Bang."jawabnya sambil mengulurkan tangan untuk memberikan salam.

"Lalu?"

"Aku begitu mencintainya sampai ingin mati rasanya. Sepertinya latihan fisik di sini, tak ada apa-apanya daripada rasa rindu yang aku tahan, bang."kata Tama menatap lurus ke depan seakan ia bisa membelah alam semesta.

"Dia pasti wanita yang hebat."

"Dia semua hal yang aku harapkan."kata Tama yakin.

"Biasanya orang yang menemani dari nol ngga akan bisa bertahan sampai kita sukses. Wanita itu sifatnya mudah bosan dan tak akan pernah bisa menjalani hubungan LDR."

"Abang seperti menyinggungku." balas Tama.

Yah, ia sadar dan tau selama ini dialah yang selalu menyakiti Rani meskipun ia tidak benar-benar sengaja. Orang pertama yang membuat Rani menangis adalah dirinya. Orang yang membuat Rani sakit juga dirinya dan Orang yang selalu membuat Rani melemah dan juga marah.

"Jika kamu benar-benar bisa bertahan katana dia, jangan pernah menyia-nyiakannya. "Kata sang atasan menepuk bahu Tama.

"Siap!"

Tama menanamkan kata-kata itu dalam hati. Yah, selama ini ia selalu menghitung sisa hari ia bisa bersama Rani lagi. Bukan sebagai kekasih, tapi ia berharap lebih dari itu.

*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!