P Atau 4P

"Kenapa bengong?" Bu Dina sebagai wali kelas sekaligus guru pengampu Fisika menatap aneh pada Tama.

"Akh, ngga papa buk."kata Tama menunduk meskipun saat ini bibirnya ingin sekali tersenyum.

"Ya sudah, sekarang duduk di_"

"Depan boleh ngga Bu? kebetulan saya minus." potong Tama menunjuk bangku kosong di sebelah Rani.

"Ya sudah, duduk disana aja." balas Bu Dina.

"Dia anak pak Fatwa." Bu Sintia yang mengantar Tama memberikan informasi.

Wihhhhhh

Serentak seluruh siswa bersorak. Bisa ditebak bagaimana kehidupan Tama setelah ini Karana pasti banyak kemungkinan yang akan terjadi. Mulai dari teman yang sok baik karena ingin menikmati kekayaan keluarga Tama, sampai orang yang enggan berteman dengannya karena mereka tak sefrekuensi. Tapi tampaknya kemungkinan pertama lebih banyak ketanah Sint Fatwa identik dengan manusia pintar dan juga kaya sejak lahir.

"Hay, lama ngga ketemu." Tama menyodorkan tangannya begitu tiba dibangku Rani.

"Hay, tapi ini pertemuan pertama loh."balas Rani menyambut uluran tangan Tama ramah.

"Tapi_"

"Lo ngga liat pelajaran masih berlangsung?" kata Rani cepat.

Tama menelan ludah.'Okay, masih banyak waktu ' hiburnya dalam hati.

Ia mulai menyimak pelajaran sambil sesekali mencuri pandang dan bahkan menatap lekat-lekat wajah di sampingnya yang jelas risih dan tak nyaman. Tapi mungkin ia tak punya waktu cukup buat bicara ke Tama.

Begitu bel istirahat berbunyi, Tama menghela nafas karana merasa ini waktu yang tepat bicara dengan gadis itu.

"Maaf, lo minggir bentar deh gue mau lewat."katanya.

"Mau kemana?"

"Perpustakaan."

"Buat apa?"

Lo nanya?"

mendengar hal itu, mendadak wajah Tama memerah. Kandidatnya sebagai penggoda nomor satu luntur lah sudah. Bagaimana mungkin ia bertanya hal yang begitu bodoh, membuat Rani pasti berfikiran aneh tentangnya.

"Maksud gue, lo_"

Tanpa menunggu Tama selesai bicara, Rani keluar dari kolong meja. Hal itu membuat Tama melongo tak percaya kalau gadis yang ia bayangkan seperti ini. Tapi semuanya malah membuatnya semakin penasaran dan ingin memperjuangkan gadis itu.

Ia segera menyusul gadis itu ke perpustakaan. Namun sialnya, begitu banyak orang disana hingga ia harus berjalan-jalan mencari sosok itu. Alhasil, banyak mata yang memandang marah padanya karena suara sepatunya meskipun pada akhirnya mereka menundukkan kepala takut begitu tau siapa yang membaut rusuh.

seterkenal itukah diri Tama di sekolah ini?

Ini semua membuatnya semakin tidak nyaman meskipun ia bebas melakukan apa saja. Mau tak mau ia akhirnya menyerah dan berniat keluar.

"Lo ngikutin gue?" tiba-tiba sosok Rani berdiri di depannya saat ia berbalik ingin keluar.

Tama yang kaget hampir saja tersungkur kalau ia tak memiliki telapak kaki yang kuat. Senyuman diwajahnya semakin jelas karena berhasil menemukan gadis impiannya itu.

"Lo kemana aja sih selama ini? masih ingat kan janji lo ke gue?"

"Janji apaan?"

"Lo lupa atau benar-benar lupa sih?"

"Lo ada masalah mental?"

Pertanyaan Rani membuat Tama mendadak diam membisu. Wajah yang dilihatnya di sekolahnya dulu mirip dengan gadis ini dan hatinya mengatakan kalau mereka adalah orang yang sama. Tapi mengapa sikapnya sangat jauh berbeda?

"Lo beneran ngga_"

Lagi-lagi jantungnya berdegup kencang saat lihat name tag yang menempel di almamater gadis itu. Ia tak percaya kalau ia benar-benar jatuh pada nama yang selama ini ia jadikan mainan.

"Gila." Rani pergi begitu saja.

"Algiant Agathara Frani."gumamnya dalam hati.

Tiba-tiba senyuman sinis yang penuh makna muncul di sudut bibir Tama. Entah apa yang dipikirkan olehnya sampai ia bisa seperti itu. Selanjutnya ia bertekad akan menikmati pembelajaran untuk memberikan gadis itu pelajaran kalau benar-benar sudah melupakannya.

Pelajaran selanjutnya salah Kimia yang dibawa Bu Dina. Seperti biasanya pembelajaran Bu Dina selalu diiringi dengan pemaparan materi oleh siswa dan ia akan meninggalkan kelas sampai 1 jam pelajaran meski ia mengawasi mereka dari CCTV. Tujuannya, ingin memberikan waktu pada siswa untuk saling menghargai satu sama lain. Mereka bisa belajar meskipun di depan mereka hanya ada teman mereka dan bukannya guru pembimbing. Tepatnya Kali ini giliran Rani yang memimpin diskusi.

"Ada pertanyaan teman-teman?" katanya begitu menyelesaikan materi tentang tekanan Hidrostatis.

Tampaknya semua siswa kagum dengan penjelasan gadis itu sehingga tak ada seorang pun yang mengacungkan jari. Hal itu membuat otak Tama memanas berusaha mencari kesalahan gadis itu meskipun sulit ditemukan.

"P itu apa sih?" katanya tanpa mengacungkan jari.

"Jelas semua ya?" kata Rani mengacuhkannya.

"Yang benar itu 4P bego."

Serentak seisi kelas menatap aneh ke arahnya. Tama yang merasa tidak ada yang salah, berdehem karena mengira dialah yang paling tampan sehingga menjadi pusat perhatian.

"Mimpi lo?" kata Rani dengan tatapan dalam seolah ia kasihan pada Tama.

"4P dimananya sih?" kata Riana yang duduk tak jauh dari Tama.

"Sekolah elit, otak lo_ Aduhhh masa sih itu aja ngga ngerti?" kata Tama sok keren.

"Yang benar bukan 4P, Tam_"

"Lo bisa bedain Fosfor ama Tekanan Hidrostatis kan?" potong Rani.

"Ya bisa_"

Saat ini Tama menyadari kalau ia salah arah. Bisa-bisanya ia menganggap pelajaran saat ini dikuasainya sementara ia tak pernah belajar selama ini. Ia bahkan tak tau 4P itu adalah Fosfor.

"Kenapa?"

"Ya elah, semua lo ributin. Sama aja kali," katanya membela diri.

"Lo itu salah dan ngga mau ngaku lagi. Kehidupan elit, umur tua tapi otak_" Rani menunjuk kepalanya sendiri.

"KOSONG!" lanjutnya.

Serentak semua siswa mulai berbisik satu sama lain. Hal itu tentu saja membuat Tama mendadak marah dan bangkit seketika.

"Lo tau kan lo semua berurusan dengan orang yang_"

"Kenapa? mau ngadu ke bokap? cemen banget sih." potong Rani.

Secepat itu juga, Tama meninju meja dan keluar dari kelas. Ia benar-benar sangat malu dan menyesal atas keputusannya mengikuti pelajaran. Tapi ia berjanji tak akan membiarkan Rani hidup damai karena semua yang ia lakukan padanya.

"Gue ragu lo orang yang sama ."bisiknya.

Bagi Rani, ini sungguh di luar dugaan. Ia tak menyukai Tama tanpa alasan dan itu bukanlah dirinya. Melihat wajah Tama yang merah padam, membuatnya merasa bersalah dan berniat mencari Tama saat jam istirahat.

"Gue mau ngomong ama lo." Tama menahan tangan gadis itu saat istirahat tiba.

"Ngomong apa lagi sih?"

Niat yang tadi Rani rencanakan sama sekali tak berjalan mulus. "Mau bilang kalau Fasfor itu _"

"Salah gue ke lo tempo hari apa? kok jadi cari masalah ke gue?"potong Tama.

"Gila, kenal aja baru."

"Lo yakin ngga kenal gue?"

Rani tampak berfikir sejenak dan kemudian tersenyum sinis. "Narsis lo berlebihan."katanya meninggalkan Tama.

Tama berniat mengikuti gadis itu tapi ia malah melihat Rani yang diseret oleh seorang siswa dari kelas lain.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" kata Tama dalam hati.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!