"Woi, sekali ini aja bisa ngga lo terima gue?"
Tama sengaja menahan tangan Rani agar ia tak melarikan diri. Ini bukan masalah taruhannya dengan Sky juga Radith, urusan hati lebih penting dari segalanya.
Yah, ia juga tidak tau kenapa ia gagal pada misi yang telah ia buat sendiri. Padahal sebelumnya ia hanya iseng seperti biasa, tanpa tau hatinya berkata kalau ia tak bisa melepas Rani lagi.
"Lepasin!" kata Rani meronta.
Ia benar-benar benci pada Tama sekarang setelah dengar dari Sky kalau ia hanyalah bahan taruhan mereka agar selalu tertawa. Jadi dengan kata lain semua kebaikannya selama ini tak ada artinya, dan menjadi bahan lelucon Tama dan ketiga temannya itu.
"Lo emang sempat jadi bahan taruhan gue dan _"
Parrrrrr
Ucapan Tama terpaksa terhenti karena wajahnya terkena tamparan taman Rani yang mendarat sempurna. Bukan rasa sakit yang ia rasakan melainkan rasa malu karena sekarang mereka tengah berada di pinggir lapangan tenis yang pastinya banyak wanita yang sedang menonton pertandingan tenis.
"Gue ngga mau ketemu lo lagi."kata Rani tegas.
Namun jangan panggil namanya Tama kalau masalah sekecil itu membuatnya kabur. Ia memang membiarkan Rani pergi kali ini, tapi otaknya sudah merencanakan hal yang begitu licik dan akan di pertunjukkannya nanti di dalam kelas.
Rani kembali ke kelas karena ia merasa harus belajar dahulu sebelum materi kimia akan diajarkan. Ia bukan tergolong siswi yang pintar, meski ia juga bukan orang bodoh. Tapi menurutnya membiasakan diri belajar sendiri akan membuatnya tenang begitu mendapatkan pelajaran dari guru pembimbing nantinya.
"Hai, sendirian lagi yah."
Dengan santainya, Tama meletakkan tas nya di meja Rani. Yah, gadis yang terkenal intovert dan jarang bergaul itu memang selalu duduk sendirian. Bukan katana tidak ada yang mau duduk sebangku dengannya, hanya saja siswa-siswi di kelas ini menyerah mendekatinya karena ia bisa membuat semua orang di sekitarnya beku mendadak.
Dan tak perlu ditanyakan lagi, Rani mendapatkan firasat tidak enak kalau Taka sudah seperti ini. Otaknya segera menginformasikan kalau sebentar lagi akan ada masalah besar yang kemungkinan memecahkan planet Jupiter yang sudah lembek karena tekanan batu setan.
"Ngapain lo?" katanya tajam.
"Lo punya mata kan? ya_"
"Pindah!"
"Why?"
Rani bangkit dan berniat pindah. Namun, Tama malah menutup jalannya keluar dengan kursinya yang sengaja dimundurkan agar tak ada celah untuk Rani keluar. Dengan kesal, Rani naik ke atas meja dengan tujuan akan melompat.
"Kalian gitu... gue mah menang banyak" kata Tama mengedipkan sebelah matanya sambil menatap rok gadis itu.
Mau tak mau Rani turun juga dan bertahan dalam penjara yang sangat mematikan ini.
"Gitu dong, lo cantik kalau alim." kata Tama membelai rambut Rani yang langsung ditepisnya.
Pelajaran kimia yang hanya 2 jam mata pelajaran, terasa setahun bagi Rani yang tak bisa fokus. Tama memulai tingkah anehnya yang selalu membuatnya gagal fokus. Mulai dari menarik buku paketnya dengan alasan ia lupa bawa buku, menciumnya kalau ia hanya diam tak menyahut ucapannya sampai Rani benar-benar ijin ke toilet yang kemudian disusul Tama.
"Astaga."
Begitu kagetnya Rani saat mendapati Tama disana saat ia membuka pintu toilet. Bulu kuduknya meremang sembari otak kecilnya memikirkan hal aneh yang mungkin terjadi.
"Lo ngapain disini? Lo ngga liat itu toilet wanita?" kata Rani marah.
"Itu toilet Pria bukan?" kata Tama menunjuk toilet yang sebelah.
"Tapi_"
"Mau kembali ke kelas, atau kita_"
Tanpa menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Tama, Rani memilih pergi dan kembali ke kelas. Namun, langkahnya kembali terhenti saat di persimpangan menuju lorong kelas ia melihat sosok Azka disana.
Azka bukan hantu. Lalu kenapa Rani terlihat begitu takut?
Dengan santainya dan bibir yang tersenyum, Azka menghampiri Rani yang mematung. Tampaknya melihat Azka lebih menakutkan daripada harus sebangku dengan Tama.
"Ran, kamu_"
"Minggir."kata Rani pelan dan bergetar.
Jelas terlihat ia sedang menunduk menatap lantai karena ia tak ingin orang lain tau kalau ia hendak menangis. Bahkan tangannya yang biasanya dengan santai menampar orang yang mengganggunya tampak lunglai tak berdaya dan hanya meremas ujung rok nya bertanda ia sedang gugup.
"Aku mau minta maaf soal hari itu, Ran. aku tau aku_"
"Beb, kamu kok masih disini? katanya mau balik ke kelas duluan?" Tama tiba-tiba merangkul bahu Rani dengan santainya seakan mereka adalah sepasang kekasih.
"Akh, tadi_"
"Oh, kamu nungguin aku ya?" potong Tama sambil mengelus rambut panjang Rani yang terurai.
"Dia_"
"Oh, ada temen kamu juga ya beb?"
Lagi-lagi Tama memotong ucapan orang disekitarnya. Dengan santainya ia bahkan menggenggam tangan Rani, dan dibiarkan gadis itu begitu saja.
"Hay, tanpa gue kasih tau pun lo pasti dah nebak kalau kita itu pacaran. Gue tipe cowok yang posesif dan ngga suka cewek gue punya temen cowok. Tapi tenang, gue ngga akan pernah marahin cewek gue katana gue lebih suka ngebunuh semua cowok yang nekad ngedeketin dia."kata Tama datar dan penuh ancaman.
Azka terlihat menelan ludah sukar karena ia dipenuhi emosi sekarang. Bisa-bisanya Rani menolaknya hanya katana cowok seperti itu tanpa memikirkan apa yang telah dirinya lakukan selama bertahun-tahun mereka menjadi sahabat baik.
"Lo ngerti kan maksud gue?" kata Tama menepuk bahu Azka.
"Mending kita masuk yuk."ajak Rani.
Keduanya kemudian berlalu meninggalkan Azka yang terdiam mematung. Serasa tak percaya kalau Rani bisa jatuh cinta pada lelaki lain selain dirinya. Dan jika pun itu benar, ia tak akan menyerah dan akan selalu mencari celah agar Rani tetap menjadi miliknya tak perduli bagaimana caranya.
Tetttttttttt
Bel panjang bertanda istirahat ke dua mengagetkan Rani karena sadar tangannya masih dalam genggaman Tama. Ia segera menarik dan berniat pergi begitu saja. Tapi, Tama malah menahan dan mencegahnya pergi.
"Tau terimakasih ngga?" katanya.
Rani menunduk."Iya, Makasih."katanya pelan.
"Bayarannya?"
"Hah?"
"Gue yakin lo bukan cewek yang suka dikasih gratisan." pancing Tama.
"Mau apa sih lo?"
"Jadi pacar gue?"
"Gila lo." tolak Rani.
"Yah, ngga da ruginya juga, semut hitam. Lo mau sampai kapan dikejar-kejar Azka mulu?" katanya.
Rani terdiam, dalam hati ia membenarkan ucapan Tama juga. Tapi memilih Tama sebagai pacar bohongan bukan cara yang tepat karena ia tau setiap orang yang namanya ada kaitannya dengan nama 'Rani' semuanya pernah menjadi pacarnya Tama. Haruskan ia juga menjadi korban?
"Lo tuh sama ngeselin nya ama Azka tau ngga?" balas Rani.
"Beda."
"Dimananya?"
"Gue lebih ganteng."
"Basi."
"Gue malah ngga minta bayaran. Masa lo ngga mau sih? itung-itung sebagai bayaran juga karena udah ngejadiin lo bahan taruhan."kata Tama lagi.
"Kenapa ngga minta maaf aja sih?"
Tama tersenyum."Cowo tuh kalau minta maaf, ngga akan pernah berubah. Next time juga diulang lagi, buat apa minta maaf?" katanya.
Rani terpukau antara terpesona atau apalah namanya. Yah, pikirannya melayang ke arah Azka yang selalu meminta maaf tapi selalu melakukan hal yang sama.
"Ngelamun apa sih?" Tama menepuk bahu Rani.
"Kalau gue jadiin lo pacar sewaan, lo mau dibayar berapa?" tanyanya.
"Kabulin 1 permintaan gue setiap harinya selama gue jadi pacar bohongan lo."katanya tanpa mikir.
"Hah?"
"Tenang. Gue ngga akan minta yang aneh-aneh kok," kata Tama dengan senyuman khasnya.
"Contohnya?"
"Ntar juga lo tau."
Rani tampak berfikir. Yah, ia sadar kalau ia memang butuh seseorang juga untuk membantunya menyelesaikan Novel genre romance yang sedang di tulusnya. Novel yang selama ini dibuatnya dengan bantuan Azka, meskipun ia tak merasakan ada hal yang bisa dikategorikan istimewa.
"Kenapa sih susah banget nerima gue jadi pacar lo?" kata Tama membuyarkan lamunan gadis itu.
"Na + HCL jadi apa?"
"Garam dapur." kata Tama bingung.
"Rasanya?"
"Asin bego. Trus hubungannya ama pertanyaan gue apa?"
Rani menatap Tama tajam."Garam kalau dibanyakin, bukannya asin lagi. Tapi Pahit!"
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments