Rani masih larut dalam buku yang dibacanya. Yah, gadis yang dijuluki sebagai manusia 2 alam dengan dua pribadi yang berbeda ini seringkali mendapat perhatian dari banyak orang terutama kaum Adam meskipun dia dikategorikan sebagai gadis yang tak cantik. Hanya saja aura yang terpancar dari dirinya membuat semua orang penasaran padanya. Banyak gadis yang mengatakan kalau ia ditemani oleh khodam atau hal mistis mainnya. Tapi selama ini Rani malah mencoba bergaul dan baik pada semua orang kecuali Tama yang ia ketahui memiliki banyak wanita yang akan membuat semuanya menjadi rumit.
Satu hal yang selalu menarik perhatian, adalah senyuman yang selalu sama setiap hari sampai tahun ke dua ia menempuh pendidikan di SMA Sint Fatwa. Apakah masalahnya dengan senyumannya?
Bukan tentang senyuman, melainkan sikap dingin dan najis yang kadang ia tunjukkan saat ia sedang membaca dan sendirian seperti ini. Yah, belakangan ini beredar gosip kalau ia memang ketergantungan obat penenang yang menunjukkan kalau ia ada masalah dengan mental. Tapi sejauh ini, ia masih saja bergaul seperti biasa dengan teman-temannya meskipun mungkin hanya dia sendiri yang tak berasal dari keluarga kaya di sekolah ini.
Kembali ke sosok yang berjalan memutari lapangan basket, ia begitu terkejut saat melihat Rani di sebrang. Ia mengucek mata beberapa kali berusaha memastikan kalau tak ada masalah dengan penglihatannya, sehingga ia tak salah mengenali orang.
"Rani gimana_"
Kata-katanya berhenti saat sosok Rani mengangkat wajahnya dan menatap pemuda itu dengan tatapan bingung.
"Akh, sorry. Gue pikir lo temen gue," kata Pemuda itu lunglai
Yah, sekilas ia merasa kalau Rani yang ada dalam angannya mirip dengan perawakan Rani yang tengah membaca buku sendirian ini. Tapi setelah melihat wajahnya, mereka terlalu berbeda satu sama lain.
"Okh, ga papa kok." balas Rani tersenyum tipis sebelum ia melanjutkan bacaannya.
Pemuda yang tak lain adalah Jonathan Alaska itu pergi dengan langkah lunglai penuh kekalahan. Sudah bertahun-tahun lamanya, tapi ia masih saja berpikiran kalau Rani masih hidup meskipun ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kejadian yang sebenarnya. Rani yang tak sadarkan diri dengan tubuh yang penuh darah dan luka. Tak ada kemungkinan gadis itu kembali hidup meskipun dalam keadaan cacat.
Lagi-lagi, langkahnya berhenti karena kaget saat melihat sosok Tama yang menunggunya di depan sana. Sosok yang sama sekali tak bersahabat, dan menyimpan banyak dendam.
Melihat Nathan berhenti, Tama maju dan akhirnya mereka saling melangkah dari arah yang berbeda. Bagi Nathan ini adalah kesempatan langka yang ia miliki, dan bersyukur karena akhirnya Direktur menepati janjinya. Tapi bagi Tama,ini adalah aib yang harus dihindarinya dan menyesal kenapa Tuhan masih memberikan mereka waktu bertemu satu sama lain.
"Lo ngga lupa kan? kita ngga bisa hidup berdampingan satu sama lain!" kata Tama dengan tatapan yang fokus ke depan seolah ia begitu enggan menatap wajah Nathan.
"Sudah_"
"Di dalam 1 hutan, ngga boleh 2 raja." potong Tama lagi.
"Tam, kita udah lama ngga ketemu. Masa_"
"Pilih pergi atau lo akan mati di tangan gue."
Usai berkata seperti itu, Tama melanjutkan langkahnya dengan amarah yang masih memuncak meninggalkan Nathan yang terpukau sampai kesulitan bernafas. Ia tau mengapa Tama marah padanya, meski ia sendiri juga tak bisa memakluminya begitu saja karena ia sendiri juga tidak tau dimana Rani berada saat ini. Fantasinya mengatakan kalau Rani masih berada di suatu tempat dalam keadaan hidup, meskipun matanya melihat sendiri gadis itu terbujur kaku.
Namun semakin kesini ia semakin ragu dengan dirinya sendiri dan menyesal meminta Fatwa mempertemukan mereka kembali. Yah, Tama benar adanya. Seharunya mereka terpisah satu sama lain dan menjalani hidup dengan baik.
karena terjebak di lamunannya, lagi-lagi Nathan begitu penasaran dengan sosok Rani yang sedang berjalan ke arahnya. Ia menahan lengan gadis itu saat melintas di sampingnya, dan tentu saja membuat Rani semakin bingung. Ia yakin pemuda itu memang punya maksud tertentu dan bukan hanya kebetulan.
"Kapan lo ulang tahun?" katanya.
"Hah?"
"Warna kesukaan lo apa? Lo pernah_"
"Lo gila?"
Bukannya dijawab, Rani malah membalas dengan pertanyaan yang membuat Nathan seketika tersadarkan. Yah, mereka memang dia orang yang berbeda. Rani yang ia kenal, tak pernah mengatainya gila ataupun aneh sekalipun pertanyaan nya sama sekali tak masuk akal.
Tak hanya berhenti di situ, Rani menepis tangan Nathan dengan mata yang melebar penuh kesinisan. Tampaknya ia tersinggung karena tindakan Nathan atau mungkin ia menganggap pemuda itu memang sudah gila.
"Lo kenal Tama sejak dulu?"
Nathan sepertinya belum menyerah. Ia akan mengesampingkan harga dirinya demi masa depannya. Yah, ia juga ingin tau apa yang terjadi sebenarnya pada malam itu.
"Kenapa ngga sekalian tanya gue kenal ama lo?"
"Nah, itu pertanyaan selanjutnya "
Rani mendadak kesal. "Kalian kenapa sih? Selalu aja nganggap gue dan kalian itu saling kenal. Apa karena wajah gue terlalu pasaran sampai kalian ngga bisa ingat siapa yang asli dan palsu? atau kalian emang gak bisa ngelupain _"
"Setiap tingkah Lo dan fostur tubuh lo mirip dengan orang di masa lalu kita, meskipun wajah kalian itu jauh berbeda." potong Nathan.
Rani menghela nafas panjang yang berat. "Gue ngga mau bahas hal ini lagi karena jujur gue keganggu. Gue ngga kenal lo berdua, dan kita emang gak pernah punya hubungan satu sama lain. Jelas??" katanya.
Dengan sangat terpaksa Nathan mengangguk."Maafin gue," katanya.
"Dasar aneh!"
Rani melangkah melanjutkan jalannya dengan mood yang buruk. Mungkin inilah hari terburuk yang pernah ia lalui semasa hidupnya. Untuk pertama kalinya ia menyesal sekolah di Sint Fatwa yang memang menjadi tujuan utamanya. Yah, Tama memang tidak salah tentang pertemuan pertama mereka.
Mereka bertemu di acara olimpiade tingkat SMP yang bertepatan di sekolah Tama yang dulu. Saat itu, ia muntah darah dan membutuhkan pertolongan karena sudah mengidap TBC sejak dulu.
Masih jelas teringat oleh Rani, kala itu ia meminjamkan Hoddie miliknya ke Tama agar pemuda itu tidak telanjang dada karena kemejanya yang berlumuran darah.
Lalu kenapa ia mengatakan tak mengenal Tama?
Ia membenci dan menyesali pertemuan itu setelah tau siapa sosok Tama yang sebenarnya. Yah, setengah gadis yang mempunya hubungan nama dengan kata 'Rani' merupakan korban perasaan Tama yang tak pernah serius dengan wanita.
Tentu saja hal itu membuat Rani ragu karana ia memiliki nama yang sama dan kemungkinan besar ia juga akan menjadi korban Tama.
Yah, ia tak ingin membiarkan dirinya terjebak dalam perasaan seperti itu.
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments