Cinta = Kalah

Waktu berlalu begitu cepat, namun Rani masih saja diam dengan mata tertutup. Ia masih memilih bermain dengan alam mimpinya dan membiarkan Tama yang sangat ia rindukan itu menunggu dengan wajah cemasnya yang membuat penampilannya semakin menggemaskan saja.

Perlahan ia meraih tangan gadis itu dan mengecupnya dalam menyatukan perasaan dengan Nadia Rani. Yah, ia merasa sangat sakit melebihi latihan yang ia terima selama ini.

"Kenapa kamu masih cantik walau dalam keadaan tidur?" gumamnya pelan.

Perlahan pintu kamar terbuka, muncul Mita dengan nampak yang berisi makanan. Ia tau sedari tadi Tama menolak makan, dan mungkin saja belum makan sedari pagi.

"Tam, kamu makanlah dulu. Rani pasti baikan kok," kata Mita menaruh nampan itu di meja samping Rani.

"Entar aja ,Tante." tolak Tama.

Tatapannya tak beralih dari Rani. "Kenapa ia belum juga bangun?" gumamnya.

Mita menghela nafas panjang."Dokter Dika kasih dia obat tidur. jadi mungkin bangunnya ntar lagi," katanya.

"Tante tau kan dia sering minum Doxepin?"

Mita mengangguk."Itu tidak terlalu berbahaya kok, Tam."katanya lagi.

Selanjutnya mereka hanya diam membisu sampai Mita pamit keluar. Tama terus memandangi wajah itu sampai tak sadar ia juga terlelap di samping Rani.

Sekitar pukul 8 malam, Rani membuka matanya dan merasakan tubuhnya sangat segar. Hanya saja ia kaget mendapati jarum infus yang menempel pada tangannya. Seingatnya ia baik-baik saja meski terjebak dalam mimpi yang begitu membingungkan.

"Akh, gue sampai berhalusinasi lo nungguin gue."desisnya melihat Tama yang tertidur di sampingnya.

Ia menarik tangannya dari genggaman Tama, dan tersadar kalau ia tak sedang bermimpi. Begitu kagetnya ia sampai nekat menepuk keras bahu Tama hanya untuk memastikan ia dalam keadaan sadar.

"Ran, kamu dah bangun?" kata Tama bangus seketika.

"Hah?"

Rani semakin bingung dan kaget. "Lo...."

"Kamu ngga lupa ingatkan kan?"

"Gila."

Begitu kesadarannya terkumpul, Rani menepis tangan Tama dengan raut wajah tajam. Seketika ucapan Tama di telepon membuatnya marah, dan tidak ingin berbicara dengan pemuda itu lagi.

"Ngapain lo?" katanya tajam.

"Ran, kamu ngga ngerasain sakit lagi? aman?" katanya memegang pipi Rani.

Rani langsung menepis tangannya dan berniat keluar kamar karena ia tau percuma meminta Tama pergi. Namun sebelum ia menunju pintu, Tama lebih dulu mengunci pintu kamar itu mencegah gadis itu pergi.

"Lo mau apaan sih?" kata Rani ketus.

"Kamu."

"Gue jijik dengarnya."

"Tangan kamu berdarah, Sayang." Tama meraih tangan Rani yang berdarah karena bekas jarum infus.

Rani yang awalnya sengaja membiarkan karena ingat Tama takut pada darah. Tapi sungguh di luar dugaan, Tama malah menempelkan plester luka pada tangan Rani dengan santai.

"Nah selesai."katanya tersenyum.

"Gue mau lo pergi dan ngga usah kembali lagi "katanya.

"Kenapa harus pergi kalau kamu disini?" balas Tama memeluk Rani namun langsung ditepisnya.

"Pergi!"

"Enggak."

"Aku teriak loh." ancamnya.

"Silahkan. Lo tau kan kamar ini kedap suara? Dan kalaupun enggak, palingan gue hancur di tangan Alaska." kata Tama menyimpan kunci di saku celananya.

Rani memilih diam dan kembali berbaring di kasurnya sambil memejamkan mata berharap kalau ia cuek Tama akan menyerah. Tapi, rasa panas hatinya membuatnya tak bisa tenang. Ia berbalik kesana kemari sampai ia benar-benar kesal sendiri.

"Mau lo apa sih? Ngapain datang? " katanya.

"Kok nanya sih?"

"Sama, temenin adek lo yang...."

Cup!

Kecupan di bibirnya membuat Rani diam seketika. Seingatnya Tama yang ia cintai itu sangat menghargainya sebagai wanita. Ia tak pernah melakukan hal lebih selain berpegangan tangan, berpelukan dan mengecup keningnya saat mereka akan berpisah. Tapi kali ini, ia berani mengecup bibir ranumnya.

"Kamu jangan cemburu, Sayang." Tama merapikan rambut panjang Rani yang lumayan berantakan.

Bahkan dengan beraninya, Tama naik ke ranjangnya dan berbaring di samping gadis itu sambil memeluk tubuh Rani erat membuat Rani semakin bingung akan hatinya sendiri. Yah, ia tak mampu menolak tapi hatinya mendadak bingung takut Tama yang sekarang bukan orang yang ia cintai.

"Kemarin aku emang lagi nunggu telpon seseorang." kata Tama mengangkat kepala Rani dan meletakkan di atas lengannya.

"Pacar lo?" kata Rani hendak berbalik agar wajahnya jauh dari wajah Tama.

Namun Tama menahannya, dan memaksa wajah mereka hanya berjarak 5 centi saja. Sangat dekat sehingga Rani bisa merasakan nafas kasar Tama dengan jelas. Semakin ke sini, semakin harinya tak beraturan. Ia tak bisa memastikan kalau ia sedang marah.

"Namanya Rani Kalvari. Dia salah satu siswa tingkat 1 yang selalu minta bantuan aku. Aku kasian ama dia dan selalu bantu_"

"Karena namanya Rani?" potong Rani.

Suaranya terdengar penuh kecemburuan karena ia tau Tama tak akan pernah bisa menahan rasa penasarannya pada orang yang bernama Rani. Yah, itu salah satu alasan dulu kenapa hubungannya dengan Tama dulunya penuh kekerasan dan kebencian.

"Dengar dulu, Ran."Tama membelai belakang kepalanya.

"Lo kan suka ama yang namanya Rani."

Tama tersenyum."Hanya kamu. Rani-ku yang paling cantik dan tabah."katanya mengecup puncak kepala Rani.

"Gombal."

"Bener."

"Gara-gara dia kamu sampai lupa kan ama hari anniversary kita."

Raut wajah cemberut Rani membuat Tama semakin gemes. Ia menarik kepala Rani agar terbenam di dada bidangnya.

"Anniversary apaan sih?"

"Oh lupa, gue kan bukan _"

"05 Oktober 2016, hari ulangtahun Rani-ku yang berbarengan denganku, aku mengutarakan isi hatiku. Namun, sayangnya aku ditolak. " potong Tama.

"Maksud_"

Ia membungkam Rani dengan jarinya. " Setiap hari sampai November habis, aku selalu mencoba meski aku selalu di tolak. Dan... 23 Desember 2016, tepat 5 tahun kemarin aku juga ditolak. "

deggggg

Akhirnya Rani tersadarkan akan hal itu. Yah, Tama berbicara apa adanya. Bagaimana mungkin ia lupa apa yang ia lakukan 5 tahun lalu. Dengan wajah memerah karena salah ingat, ia merapatkan wajahnya ke dada bidang Tama.

"25 Desember 2016, akhirnya aku berhasil memenangkan hati Rani yang selalu membuatku bahagia meskipun ia begitu posesif dan kadang membuatku berat untuk pergi. Aku berhasil meyakinkan dia kalau aku tak seburuk apa yang ia pikirkan. Dan karena kasihan, akhirnya ia membiarkan aku menduduki tahta cinta dalam hatinya di tanggal yang super cantik itu. "katanya lagi.

"Udah deh, aku mau tidur."

Rani yang malu akan tindakannya sendiri memilih bersembunyi dalam pelukan Tama. Yah, ia terlalu capek mempermasalahkan siapapun yang dekat dengan Tama karena ia lebih ingin menikmati waktu yang ada bersama Tama.

"Jangan ngambek lagi yah."Tama mencium puncak kepala gadis itu dalam.

"Makanya jangan susah dihubungi."

"Kamu kan tau aku_"

"Sibuk. Ngga bisa diganggu, latihan hp ditahan dan lain sebagainya. Tapi kamu ngga pernah ngasih aku jaminan kalau kamu itu hanya buat aku." potong Rani.

"Jaminan seperti apa? aku pasti kasih kok,"

"Nanti."

Rani semakin mengeratkan pelukannya seakan ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu meski hanya sejenak saja.

*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!