Kesuksesan Dirimu= Kekalahan Untukku

Perlahan tapi pasti, jari Rani bergerak menekan tombol vc. Kali ini Ia akan mengalahkan keegoisannya sendiri demi rasa rindu yang tak bisa ditahannya lagi. Tapi Ia harus menelan ludah pahit saat Tama menolak panggilannya.

Rani melempar ponselnya sembarang tempat dan membaringkan dirinya di atas ranjang. "Apa yang Ia lakukan?" katanya berfikir keras.

Tok...tok...tok,

"Rani! Tidur ya?" Mita mengetuk pintu Rani pelan.

"Masuk aja, Ma."

"Kamu keluar yah, ada tamu."

"Siapa?"

"Teman sekolah kamu katanya."

Rani bangkit dan membuka pintu "Bilang Rani lagi ngga da yah,Ma."pintanya.

Mita menggelengkan kepala."Mama yakin kamu pasti senang nemuin_"

"Rani cuma mau istirahat aja."potong Rani cepat.

Mita merangkul bahu Rani dan menuntunnya pergi. Meski dengan langkah malas, Rani mengikuti juga langkah Mamanya. Alangkah terkejutnya Ia melihat sosok yang harus ditemuinya tersenyum dengan senyuman khas yang membuatnya mabuk kepayang. Yah, disana ada Tama yang baru saja menolak vc darinya.

Air mata jatuh begitu saja dari matanya sembari Ia menghampiri lelaki itu.

"Kamu_"

Ucapan Rani terhenti terhenti saat Tama memberikan hormat padanya. "Kita berhasil, Ran."katanya dengan senyuman full.

"Aku tau."

Secepat mungkin Ia menjatuhkan diri dalam pelukan Tama. Orang yang sebentar lagi akan mengajarinya tentang sakitnya hubungan LDR. Tanpa diberi tau sekalipun, Rani tau peran utama kini digantikan sudah.

"Kaki kamu baikan?" kata Tama saat mereka berbicara di ruang tamu Rani.

"Hah? Emang kami aku kenapa?" tanya Rani bingung.

"Sakit apa engga aja jawabnya Ran. "

"Engga." kata Rani mencoba mengikuti alur yang diciptakan Tama meskipun ia sendiri bingung maksudnya.

"Sanggup jalan denganku?"

"Kemana?"

"Ke ujung dunia."

Rani tersenyum."Kencan?" godanya.

"Enggak. Yang benar tuh Bunuh diri."kata Tama sewot.

Rani tertawa." Ya udah, aku siap-siap yah."katanya bangkit.

"Ga pakai lama yah."

"2 jam."

Mereka akhirnya keluar rumah setelah pamitan pada Mita. Tempat tujuan mereka adalah taman bunga milik Tama yang selalu menjadi tempat kencan paling romantis buat mereka. Lokasi yang sangat lebar dengan bermacam-macam jenis bunga yang mekar dan harum, memberikan sensasi tersendiri bagi pasangan muda ini meskipun mereka lebih suka bermain dengan ikan-ikan di dalam kolam. Tapi kali ini, suasana tampak sepi seakan tak ada orang yang sedang menyusuri taman itu.

"Mau berhenti sebentar?" tawar Tama.

"Boleh."

Tama menarik tangan Rani agar duduk di rumput Jepang yang terpotong rapi. "Aku akan pergi Ran."katanya.

"Berapa lama?" balas Rani cepat.

"4 tahun."

Rani memalingkan wajahnya."Selamat, Tam. Aku belum mengucapkannya tadi," katanya.

Tama memegang wajah gadis itu dan memintanya menghadap padanya. "Ini semua karena kamu, Sayang. "kata Tama mencium kening gadis itu dalam.

Rani mencoba menikmati meski air matanya semakin deras. Ia juga bingung kenapa Ia bisa se cengeng ini. Padahal sebelumnya Tama yang lebih sering dibuatnya menangis tanpa alasan yang jelas. Melihat hal itu, Tama kembali memeluknya semakin erat seakan enggan untuk dilepaskannya. Sama seperti Rani, Ia juga takut dengan hubungan LDR. Tetapi demi mimpi dan cita-cita mereka berdua, Ia akan mencobanya.

"Ran_"

"Jangan lupa makan yang banyak yah. Jaga diri di sana, dan_" Rani menggantung kalimatnya dan memilih mengusap air matanya.

"Kok nangis? Kamu_"

Rani mencegah Tama berucap dan menutup mulutnya dengan tangannya. "Kalau aku bilang jangan pergi, kamu ngga kan pergi?' tanyanya.

"Aku akan menurutimu."kata Tama yakin.

"Bagaimana dengan mimpiku?"

"Mimpi dan cita-cita ku adalah kamu, Ran. Aku ngelakuin semuanya demi kamu juga,"

Rani kembali memeluk kekasihnya semakin erat. "Pergilah, Sayangku. "bisiknya.

"Jangan menangis. Aku tak akan pergi kalau kamu seperti ini,"

"Aku menangis karena begitu bahagia." balas Rani.

Tama merangkul bahu gadis itu dan menyenderkan ya di dada bidangnya. Yah, sekarang ia sedang berusaha mencuri momen karena ia tau ia akan kesulitan mencari kesempatan seperti ini.

"Oh ya, aku lupa bertanya. Bagaimana dengan kuliahmu?" kata Tama menatap lekat wajah gadis yang sedang memejamkan mata dalam pelukannya.

"Aku gagal."

"Benarkah?"

Itu bukan ekspresi yang diharapkan Rani dari seorang kekasih yang ia dukung selama ini. Sama sekali tak ada raut kaget seperti orang-orang lainnya mengingat Rani sang bintang sekolah yang tidak lulus SBMPTN.

"Kamu senang?" balas Rani bingung.

Tama mengangguk cepat."Tentu saja."katanya yakin.

"Why?"

"Artinya kamu tak perlu seperti ibu-ibu lainnya yang sibuk dengan kerjaan sampai lupa anak dan suami."katanya.

"Siapa bilang aku ibu-ibu?"

Dahi Rani berkerut bertanda ia tidak suka apa yang keluar dari mulut Tama. Dengan gemes Tama mencubit puncak hidung kekasihnya itu sambil tersenyum lebar.

"Kamu hanya perlu menungguku pulang, Ran."katanya.

"Kenapa membatasi mimpiku kalau kamu sendiri ingin meraih mimpimu?"

"Aku tidak membatasi mimpi kamu. Tapi dengan tulus hati aku akan selalu berdoa dan meminta agar kamu gagal." kata Tama lagi.

Tama cemberut."Kamu jahat. Egois!" katanya sok marah.

"Emang. Tapi kamu suka kan?"

"Dulu."

"Hah?"

Rani bangkit dan berlari cepat hingga Tama terpaksa ikutan berlari mengejar langkahnya. Yah, momen itu akan menjadi kenang-kenangan yang mereka rindukan setelah ini.

"Selamat berjuang, Kekasihku." bisik Rani saat Tama berhasil memeluk tubuhnya.

*

Lo dateng sendirian? cowo lo mana?"

itu kata-kata pertama yang didengar Rani begitu Ia menginjakkan kaki di kafe milik Laura ini. Yah, ini tahun ke 2 Tama mengikuti pendidikan dan pastinya jarak yang terbentang di antara mereka semakin jelas terlihat bersamaan dengan sibuknya Tama.

"Pakai nanya lagi. lo kan tau cowoknya sibuk ama Negara. Mana ada waktu ngebucin kaya kita,"sahut Nadia mewakili Rani.

"Yah, sibuk sih bisa aja. Tapi gue ragu dia ngga pulang, apalagi ni kan akhir tahun."

Alsky yang berlebel sebagai pacar Laura merangkul bahu kekasihnya itu dan sengaja memamerkan kemesraan di depan Rani. "Jangan-jangan Tama punya cewek lain, Ran. lo kan tau cowo paling ngga tahan ama yang namanya LDR-an. "katanya.

"Hah?"

"Makanya aku ngga mau jauh dari kamu, Sayang."katanya menanggapi wajah seram Laura.

"Bener sih, Ran. Apalagi sekarang kan lo ada di level yang berbeda ama Tama. Lo yakin dia bakalan setia ama lo?" sambung Laura.

"Emang Rani ada di level berapa?"

Tiba-tiba semua mata mengarah pada sosok yang datang dengan buket mawar putih itu. Azkara yang merasa tak diundang, duduk disamping Rani dan hanya tersenyum pada gadis itu.

"Lo yang ngundang Azka?" tanya Nadia pada Laura.

"Aku."balas Raditya yang berlebel sebagai pacar Nadia.

"Nuduh gue tanpa tanya cowok lo."balas Laura.

"Yah, kan Rani sendirian. Masa sih dia cuma liatin kita doang, "kata Radith.

"Apaan sih, gue kan ngga _"

"Gue emang dateng buat lo, Ran."potong Azka.

"Daripada nunggu Tama, mending kan lo ama_"

Sky sengaja menggantung kalimatnya dan memilih berbicara dengan bibirnya yang dimancungkan ke arah Azka. "Kesempatan langka, bro."katanya oada Azka.

"Nih, buat kamu."Azka menyodorkan bunga itu pada Rani.

Cieeeeee

Sifat kekanak-kanakan mulai muncul diantara mereka. Dan karena keributan yang diciptakan

*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!