1/2 bubuk + 1/4 air + 1 sendok gula

"Hay, "Nathan menghampiri gadis yang bermain di kolam ikannya sambil merenungi perjalanan hidupnya yang lumayan rumit.

"Nath," balas Rani bangkit.

"Ngapain sih?" Nathan mengulurkan sebuah bungkusan pada Rani.

"Harusnya gue nanya balik dong. Ngapain ke sini?" kata Rani menyambut bungkusan itu.

"Khusu buat ketemu ama lo."

Rani memeriksa isi bungkusan itu." Kok banyak amet sih?" katanya mengeluarkan bubuk cokelat.

"Kan kamu suka."

"Ya ampun, Nathan. Gue suka dulu, bukan sekarang." balas Rani dengan mata kaget.

Yah, ia tak menyangka Nathan mengingat kebiasaan masa mudanya sampai detik ini sementara Tama sendiri sudah melupakannya atau memang tak pernah mau tau malahan. Akh, kenapa ia jadi suka membandingkan Tama dan Nathan?

"Jadi, lo mau apa? ntar gue_"

"Uda nemuin Tama?"

Nathan berdehem." Udah." katanya.

Yah, ini salah satu fakta yang kurang disukai Nathan. Setiap kali ia bertemu Rani, selalu saja Tama yang menjadi pokok permasalahannya. Dengan berat hati, ia harus menerima Fakta kalau ia kembali kalah seperti sebelumnya.

"Gimana kabarnya?"

Jelas terlihat embun yang sebentar lagi akan menjadi hujan di mata Rani. Nathan menepuk bahu gadis itu, dengan harapan ia bisa menjadi obat meskipun hanya sampai Tama kembali.

"Ran, lo dipanggil Papa."

Alaska muncul tiba-tiba dengan tangan di saku celana. Dari raut wajahnya tampak hal yang sangat penting mengganjal di sana. Ia sedikit tersenyum ke arah Nathan sambil mengangguk hormat.

"Bisa kan gue pinjam Rani bentar?" katanya.

"Ya_"

"Harus sekarang?" potong Rani.

Alasaka mengangguk cepat." Harus!" katanya.

Mau tak mau Rani mengikuti langkah adik bungsunya itu meskipun moodnya masih kurang baik untuk bersilaturahmi. Yah, ia tau tadinya Papanya kedatangan tamu dan itulah alasan kenapa ia berada di kolam ikan itu.

"Pa," Sapanya begitu tiba di ruang tamu.

Alaska mendaratkan bokongnya di kursi dan mengeluarkan handphone, yang artinya mode jangan ganggu telah diaktifkan. Yah, sikap ini hadir hanya saat Alaska merasa ada yang mengganjal di hatinya dan membuatnya marah.

"Ran, ini anak teman Papa. " kata Yosef mengenalkan tamunya.

"Hay, gue Rani." kata Rani mengulurkan tangannya yang tak kunjung disambut oleh makhluk didepannya.

"Dia Geomerdo IyanFauzi. "

Fatwa mengenalkan tamunya sebagai perwakilan. Yah, ia mengenal Geo yang tidak suka berbicara dengan wanita sehingga Papanya meminta bantuan Yosef untuk mencairkannya.

"Oh bisu." kata Rani bergumam.

"Sariawan kali," sambut Alaska tanpa melepas tatapannya dari ponselnya.

"Mulai hari ini, Geo akan tinggal di rumah ini sampai _"

"Tamu, tamunya Papa kan? jadi terserah Papa mau sampai kapan dia disini. Kita akan diam selama itu ngga ngeganggu kita. Iya kan Ran?" kata Alaska tiba-tiba.

"Alaska!" bentak Yosef.

Yah, ia lumayan kaget karena Alaska berani berucap seperti itu di depannya. Alaska anak yang dibesarkan sendirian oleh Mita karena Yosef sibuk bekerja. Apakah itu salah satu alasan kenapa ia seperti ini?

Bukannya meminta maaf, Alaska malah beranjak pergi tanpa sepatah katapun. Bahkan saat Yosef memanggilnya sekalipun, ia tak perduli dan tetap pergi. Melihat hal itu, Rani mengejar adiknya itu dan menarik ponselnya begitu didapatinya.

"Lo gila? itu harga diri Papa yang lo injak-injak. Lo bisa ngga suka ata ngerasa kurang kasih sayang dari Papa tapi jangan didepan tamunya." kata Rani marah.

Alaska merebut ponselnya kembali dengan tatapan kesal. "Otak lo yah dimana bego?" katanya pergi dengan kesal.

Alaska melarikan diri ke kamarnya dan menutup pintu keras sampai bunyinya terdengar sampai luar rumah. Rani menghela nafas panjang karena mencoba membatasi dirinya. Yah, Ia mengenal Alaska yang dibesarkannya bersama Mita. Lelaki yang penuh tanggung jawab dan sangat menyayanginya meskipun mereka dilahirkan dari wanita yang berbeda. Pasti ada yang tidak beres jika Alaska bertidak seperti itu.

Rani melangkah menuju kamar Alaska dan mengetuk pintunya beberapa kali meski tak kunjung mendapatkan balasan. Akhirnya ia membuka pintu kamar yang memang tida dikunci itu.

Di meja belajarnya, Alaska terdiam seakan tak mendengar ada orang yang masuk atau memang sengaja tak mendengarnya.

"Masa sih kamar cowok keren yang katanya primadona sekolah berantakan kaya gini." kata Rani meraih jaket yang terletak di ranjang Alaska.

Bukannya menjawab, Alaska menyumpal telinganya dengan earphone seakan ia terganggu dengan kehadiran Rani. Melihat hal itu, Rani menepuk bahu adiknya itu, dengan harapan suasana beku itu dapat mencair.

"Lo marah ya ama gue?" katanya.

"Buat?"

"Gue cuma ngga mau Papa kecewa ama lo, Alaska. lo_"

"Lo tau apa yang direncanakan Papa?"

Alaska memutar kepalanya menghadap kakaknya itu meski sorot matanya masih menyimpan kemarahan. Rani mengusap kepala adiknya itu selayaknya anak kecil yang sedang ngambek karena lupa di bawakan permen.

"Apa sih?"

"Papa ingin lo nikah ama Geomerdo."

Deggggggg

mendadak tangan dan kaki Rani bergetar hebat bersamaan dengan jantungnya yang hampir berhenti berdetak. Meski sulit dipercaya, ia tau Alaska tak mungkin berbohong padanya. Seketika pandangannya berkunang-kunang sampai ia kesulitan menjaga keseimbangan. Ia hampir tersungkur jika Alaska tak menahan lengannya.

"Lo bercanda kan?" katanya .

Alaska menuntun kakaknya itu duduk di ranjang, dan mengambilkan segelas air putih." Papa bilang ngga ada gunanya lo nungguin bang Tama. "katanya.

"Gue harus ngomong ke Papa." kata Rani bangkit.

"Jangan sekarang!"

"Al,_"

"Lo tau kan siapa Papa? Bokap Geomerdo punya kuasa atas pekerjaan Papa, dan mahar lo nantinya bisa buat Papa jadi orang terkaya se Indonesia." kata Alaska sedikit melebih-lebihkan.

"Papa tau hubungan gue ama Tama sejak awal. Kenapa jadi _"

Rani tak mampu menyelesaikan ucapannya, ia malah menangis da seketika merutuki nasibnya. Yah, ia tau Papanya sudah pernah memintanya putus dari Tama, meskipun hal itu ditanggapi Rani hanya sebatas candaan semata.

Alaska memeluk kakaknya dan membiarkannya menangis di dadanya. "Gue akan ngelakuin apapun yang lo minta, Ran." bisiknya.

Hari-hari selanjutnya, hubungan Rani dan Geomerdo tak ada tanda-tanda mendekat. Keduanya membisu dan tak pernah bicara satu sama lain meskipun dalam situasi terjepit sekalipun. Yah, semenjak tau rahasia Papanya, Rani sengaja menjaga jarak dari Geo.

Hingga suatu pagi, ia menyaksikan Geo memasukkan Setengah sendok bubur cokelat pemberian Nathan ke dalam seperempat air dan ditambah dengan satu sendok gula. Jujur, Rani merasa familiar dengan kebiasaan itu meskipun ia tidak ingat dimana ia pernah menemui orang seperti itu.

Karena terlalu asik melamun, tanpa sadar Rani menyenggol gelas dan jatuh hingga Geomerdo menoleh. Sejenak keduanya saling bertatapan sebelum sama-sama membuang muka dan melangkah ke arah yang berbeda.

Sepertinya menyatukan keduanya dalam ikatan pernikahan adalah hal yang paling mustahil.

*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!