Rani!"
Panggilan Mita yang sengaja di keraskannya membangunkan Rani dari lelapnya. Yah, semalaman ia menagis dalam keadaan mabuk sampai ia terlelap begitu lama. Alhasil, kepalanya pusing dan tenggorokannya kering.
"Masuk aja, Ma."katanya enggan bangkit dari kasur.
Mita masuk dan geleng-geleng kepala melihat kondisi Puteri tunggalnya itu. Ia mendekati Rani dan kaget saat menyentuh keningnya. "Kamu demem yah? Kok panas banget?" katanya.
"Masa sih?"
"Kita ke dokter sekarang!" kata Mita membantu anak gadisnya itu bangkit.
Tanpa penolakan karena memang tak sanggup lagi, Rani menurut saja. Bahkan ia tak mampu berjalan sendiri tanpa bantuan sang Mama. Ia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri karena bisa-bisanya sakit hanya karena Tama yang sudah melupakannya itu.
"Mama, masih jauh yah?" kata Rani setengah berbisik saat mereka menuju rumah sakit.
"Sabar yah, Sayang."Balas Mita mengusap rambut Puteri-nya itu lembut.
"Yang kuat yah, Ran."Alaska juga ikutan mayun melihat keadaan sang kakak.
"Kamu yang cepet dong nyetir _"
Uekkkkkk
Ucapan Mita terhenti saat Rani kembali muntah. Tanpa sadar air matanya jatuh karena tak tega melihat keadaan Rani yang selama ini selalu berlagak kuat. Tak berapa lama kemudian, mereka tiba dan segera pertolongan buat Rani.
"Mikirin apa sih dia sampe ngga makan?" kata Alaska sembari menunggu hasil pemeriksaan Rani.
"Mama juga ngga tau, Al. Kamu kan tau Rani orangnya gimana," balas Mita sama cemasnya.
Mereka langsung memburu saat Dokter keluar.
"Gimana Dok?" sambut Mita.
"Ia harus dirawat inap karena asam lambung yang semakin parah. Mungkin Rani tidak mengisi lambungnya beberapa hari ini, sehingga suhu tubuhnya naik." terang sang Dokter.
"Ngga bisa dirawat di rumah yah, Dok?"
"Bisa aja. Itu mungkin lebih baik mengingat Rani yang juga kesulitan beradaptasi dengan rumah sakit,"
"Makasih, Dokter. "
Saat membawa Rani pulang dengan Dokter Dika, tanpa sengaja Alaska melihat sosok Tama di karidor rumah sakit. Sontak ia memanggil karena tidak tau Rani tak ingin menemui orang itu. Alhasil, Rani mendadak bisa berlari dan memasuki mobil secepat mungkin.
Karena sikap itu, mereka akhirnya melupakan Tama dan pulang. Alaska melihat jelas Rani menangis sepanjang jalan, meski ia juga melihat keajaiban terjadi. Rani yang tadinya enggan membuka mata, kini menatap jalanan sambil menangis. Baik Mita maupun Alaska, tak ada yang berani bicara.
Tapi Alaska semakin bingung saat melihat Tama menunggu mereka di depan pintu. Ia sekerikaemberikan kode pada Mita meminta persetujuan apa yang harus dilakukan. Dan melihat tatapan Mita, ia tau kalau ada hal yang harus dibahas Rani dan Tama.
Rani begitu kaget begitu turun dan mendapati sosok Tama disana. Ia ingin pergi namun ditahan oleh Mita. "Jangan ngelukain diri kamu sendiri, Ran."bisiknya sambil geleng-geleng kepala.
Ia menggandeng tangan Alaska dan mengajaknya masuk meski ia tau itu bukan waktu yang tepat membiarkan Rani menemui Tama. Tapi, mengingat Tama tidak punya banyak waktu dan banyak hal yang harus mereka bincangkan, Mita tetap meninggalkan Rani. Untung saja tadinya Rani sudah meminum obat dan ia bisa bertahan sedikit lebih lama menunggu dokter Dika datang.
"Ngapain lo?" kata Rani membuang mukanya.
"Kamu sakit?" Tama berniat memegang bahu gadis itu.
"Bukan urusan lo." kata Rani menepis tangan Tama.
"Ran_"
"Adek lo gimana? Aman?"
"Adek siapa sih? Kok kamu_"
"Gue ngga mau diganggu Tam, gue butuh istirahat." kata Rani melangkah masuk dan melewati Tama begitu saja.
"Ran, kamu kenapa sih?"
Ucapan Tama yang satu ini mampu membaut Rani membeku. Ia kesulitan melangkah dan mengharuskan tubuhnya berbalik. "Lo nanya gue kenapa? "katanya mulai menitikkan air mata.
"Kok nangis?"
"Lo ngga tau gue nungguin berapa jam cuma buat nunggu lo ngucapin aniversary? Dan pas gue telpon lo ngomong_ akh..."mendadak Rani kesulitan bernafas karena menangis.
"Ran, kamu_"
"Jangan sentuh gue. Mending sekarang lo pulang dan urus adek lo." kata Rani berbalik lagi dan ingin masuk.
Tapi lengannya malah ditahan Tama."Ran, aku sama sekali_"
"Diam!"
Begitu berteriak keras, Rani mendadak pusing dan ambruk begitu saja. Yah, fisiknya sudah terlalu lelah melewati batas dan ada.
"Rani! Ran... bangun!"
Dengan panik Tama menggendong tubuh yang terkapar didepannya itu dengan cemas. Satu hal yang ia tau, Rani mengkonsumsi doxepin saat ia galau berat dan banyak masalah sampai harus di rawat inap dulunya karena over dosis.
Melihat Tama yang menggendong Rani, membuat Alaska yang sedang minum kaget bukan main. Segera ia memburu membantu Tama membaringkan Rani di kasurnya. Tak kalah kaget, Mita juga langsung memburu mereka dengan wajah pucat karena takut Rani kenapa-napa.
"Dokter Dika sedang dalam perjalanan."katanya.
"Kita harus membuat siuman dulu, Tante."saran Tama berniat melepas kaos kaki yang digunakan Rani.
Namun tangannya ditahan Alaska."Jangan sentuh kakak gue, "katanya tajam.
"Al, dia_"
"Gue bilang jangan ya jangan!" teriaknya keras.
"Alaska!"
Kali ini Mita yang membentak putra bungsunya itu. Ia tau Alaska tak pernah suka kalau Rani disakiti. Tapi ia juga Tau Tama dan Rani punya urusan yang tidak mereka ketahui, sehingga ia tak ingin ada orang yang terlibat kemungkinan akan membuat situasi semakin ribet.
"Kamu tunggu Mama di luar!" perintahnya.
"Tapi_"
"Keluar Al!"
Mau tak mau, dengan langkah berat Alaska melangkah keluar kamar Rani sambil menatap tajam Tama seakan ia ingin menelan pemuda itu hidup-hidup.
"Permisi," Dokter Dika muncul.
"Dia tiba-tiba pingsan, Dok." terang Mita tentang kondisi Rani.
"Tenang, saya akan memeriksanya segera."kata Dokter Dika.
Ia mulai menyiapkan peralatannya seperti jarum suntik untuk menginfus dan juga menarik darah, membuat Tama mendadak ngeri. Ia bahkan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika jarum itu sempat mengenai tubuh Rani mengingat gadis itu sangat phobia terhadap jarum suntik dan darah.
"Kalau ngga kuat, mending tunggu di luar aja."kata Mita menepuk pundak Tama.
"Ya udah Tante, Tama tunggu di luar."pamitnya.
Begitu menutup pintu, Tama mendapati tatapan maut dari Alaska yang berjalan menuju ruang tamu. Seperti mendapatkan kode, Tama melangkah mengikuti Alaska dan duduk disana. Tampaknya tekanan darah Alaska kembali normal, sehingga ia memilih berbicara tanpa menggunakan fisik.
"Lo suka ama Rani?" katanya tajam.
Tama mengangguk."Banget," katanya yakin.
"Gue ngga tau apa yang sedang ada diantara kalian, tapi... lo tau kan bang, gue ngga akan tinggal diam kalau Rani tersakiti gara-gara lo? "katanya.
"Maksud lo?"
"Gue tau lo sibuk, bang. Tapi... setidaknya lo tau cara buat Rani yakin kalau lo masih Tama yang ia kenal. Jangan gantung dia sampai dia ngelakuin hal bego, setidaknya lo bisa buat dia yakin tentang hubungan kalian."
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments